Mudik 2012: 10 Hari, 8 Kota (Part 2 – Tamat)


Tulisan ini merupakan kelanjutan dari bagian pertama. Ya, ya, ya.. emang kelamaan sih rilisnya, jadi maaf ya kalo agak basi >.<

Day #2 (2012/08/13): Bandung (BDG) and see the twins

Mumpung dekat dari Jakarta, hari kedua kami menyempatkan diri main ke Bandung. Bandung adalah kota kenangan bagi kami karena di sinilah kami dipertemukan dan melewati banyak kegiatan bersama (ehem..). Namun, motivasi utama bukan untuk napak tilas masa-masa itu.. maybe someday😀. Ada keluarga paman (kakak ibu) yang tinggal di sana dan dulu saya pernah tinggal di rumah mereka setelah lulus kuliah. Mereka baru saja pindah rumah dan cucu barunya yang kembar dari Depok sedang ada di sana. Jadi, saya pengen lihat dua-duanya, rumah dan keponakan kembar. Kalo kemarin di JKT perjalanan lancar, di BDG justru kami langsung stres.. MAACEET! Sebal juga karena kami dapat taksi yang sopirnya berlagak bego nggak tahu sikon lalu lintas dan malah nanya mau lewat mana.

Sejak di JKT, kami udah sepakat, “Jangan milih taksi selain BB!”. Sesampainya di BDG, dalam kondisi jalan ramai, travel menurunkan para penumpang-yang-tidak-ikut-sampai-agen di dekat pangkalan taksi. Kata sopir saat ditanya, “Taksinya cuma di sini aja”, dan seorang penumpang travel lain yang tampak lebih berpengalaman dari kami pun tanpa babibu langsung ambil taksi di situ. Saya masih ngotot mau naik BB, tapi nggak ada satu pun yang kelihatan ada di situ tau sekedar lewat. Akhirnya si bos ambil keputusan tanya, “Pakai argo kan, Pak?” dan dijawab, “Iya, Mas”. Okelah, kami naik taksi merk lokal itu, yang saya tahu masih satu di antara yang masih bisa dipercaya di BDG. Nyatanya, pakai argo bukan berarti Anda aman. Ada faktor lain yang perlu Anda waspadai: mental sopir taksi yang kaya sopir angkot, kejar setoran, cari rute sepanjang dan semacet mungkin and poor us.. we got such driver! Alhasil, kami harus melototin GPS di hape sambil menggali ingatan yang tersisa samar-samar tentang kota ini demi ‘memaksa’ sopir ke jalan yang benar🙄.

Singkat cerita, kami sampai di tujuan dengan selamat, tapi sedikit kesal. Haha. Di rumah bude, kami lebih seperti melepas penat saja. Tidak ada makan-makan atau minum-minum (ya iyalah puasa :razz:), tapi foto-foto dan masak-masak teuteuppp ada. Bude ini paling jago masak di keluarga saya, jadi kami dibekali banyak sekali untuk buka, sahur, dan lebaran! Alhamdulillah.

Bandung (dari kiri atas ke bawah): demam hijabers udah nyampe ponakan saya yang balita, gendong keponakan kembar dan foto bareng bude serta sepupu, keponakan kembar dan kakak-kakaknya

Pertanyaan: Udah pantes belum yak gue nggendong bayi? #lupakan

Day #3 and #4 (2012/08/14 ~ 2021/08/15): Cepu and silver marriage anniversary of my parents

sebagian dari cara kami killing time di bus: foto dengan pose ala ローラ

Bandung-Cepu yang biasanya 12 jam kali ini jadi tiga jam lebih lama, tapi capeknya langsung hilang begitu lihat rumah dan papa mama. Welcome home! Inilah hari ketiga saya membawa suami ke rumah. Sebelumnya, kami hanya sempat menikmati kebersamaan di sini seusai pesta pernikahan dan keesokan harinya. Karena hanya akan dua hari di rumah, begitu sampai saya segera mengumpulkan barang bawaan ke kota berikutnya dan ke Jepang. Sebagian besar udah dibelikan mama. rainbow cakeOhya, begitu buka kulkas, yang pertama saya temuin adalah.. jeng jeng: Rainbow cake!. Ya Allah, emang segitu booming-nya yak..

Suamiku taksuruh jadi tukang ojek ke sana kemari. Hari pertama kami belanja keperluan sehari-hari di Bravo Supermarket dan kuliner Bakso Kumis *sst, waralaba bakso ini dulu terkenal sekali di wilayah Jawa Tengah*. Asal tahu aja, sampai sekarang, setelah tiga tahun di Jepang, suami masih selalu pakai sabun, odol, deodoran, dan sampo dari Indonesia. Saya sendiri fokus ke stok dapur meskipun sambil mikir seribu kali dulu biar belinya cuma yang susah ditemukan di Jepang aja. Karena meskipun jauh lebih mahal, beberapa bahan masih bisa diusahakan beli di Jepang. Jadi, nggak boleh tergiur dengan harga! Aduuuh, senangnya, belanja kebutuhan setahun cuma sekitar 3000 yen!

Kring.. kring.. (telepon bunyi, mama yang ngangkat)
“Halo? oo mbak ”
“Aduh, maaf ya, lagi sibuk di dapur ini.”
“Masak-masak nih lho.. kan besok ulang tahun perak”
“Hehe, nggak kok.. buat ta’jil di masjid, lagi kebagian giliran”

Saya yang dengar pembicaraan di atas langsung sadar.. besok kan 15 Agustus! Ternyata secara kebetulan, kami pulang di saat papa mama memperingati ulang tahun perak pernikahan mereka. Wah, harus bikin kejutan nih! Praktis, malam itu saya dan suami lembur bongkar-bongkar album foto lawas di gudang demi mengumpulkan keping-keping perjalanan cinta papa mama dari mulai pacaran sampai yang terbaru. Cailaa. Terinspirasi dari album kumpulan ucapan “Selamat Menikah” dari teman-teman Toshiba ini, kami pun membuat album foto dengan format serupa. Moment berharga itu kemudian “dirayakan” dalam sebuah syukuran dadakan di warung ikan maknyus ini. Gurameee.. I’m in love! Duh, kenapa ikan ini nggak ada di Jepang yak😐. Syukuran tersebut akhirnya sekaligus jadi pengganti makan-makan saya dengan keluarga di hari lebaran. Alhamdulillah.

Syukuran ulang tahun perak “Papa-Mama”

Day #5 (2012/08/16): Surabaya (SBY), got ready to the real “mudik”

Pagi-pagi, pukul enam, kami berangkat ke SBY. Di sinilah perjalanan mudik kami yang sesungguhnya dimulai. Nantinya di sana kami akan bergabung dengan keluarga kakak dan akan bertolak bersama ke Linggapura, tanah leluhur keluarga suami saya, di mana seluruh keluarga besar suami merayakan lebaran setiap tahunnya. Saya belum pernah berlebaran sejauh ini dari rumah sebelumnya, jadi saya exciting sekali!

hadiah lebaran dari kakak di SBY

Ada bagian yang mungkin sepele bagi sebagian orang, tapi cukup berkesan buat saya. Begitu sampai di SBY, saya dikasih bingkisan kado sama mbak Tutiek, istrinya kakak ipar. Saya heran dan bertanya, “Ini hadiah apa?”, lalu kata suami, “Biasa..”, oh rupanya itu hadiah lebaran! Di kemudian hari, saat kami sudah berkumpul lengkap dengan kakak-kakak di Linggapura, setiap keluarga membagi-bagi hadiah lebaran untuk anggota keluarga yang lainnya. Ada yang bawa kaos lucu-lucuan khas daerahnya, ada yang bawa busana muslim, ada yang bawa baju sehari-hari.. baik ukuran dewasa maupun anak. Waaah! Begitu ternyata. Makin mengertilah saya kenapa sebelum pulang, suami sibuk sekali memikirkan oleh-oleh untuk setiap anggota keluarganya. Apa yang cocok untuk ayah? untuk kakak? untuk keponakan? Senangnya, belum pernah dapat begituan sebelumnya. Di keluarga saya memang nggak ada tradisi ngasih hadiah lebaran. Kalo orang tua beliin baju atau sesuatu yang baru dalam rangka lebaran, ya dikasih aja, nggak pakai dibungkus kertas kado. Selain orang tua, belum tentu juga keluarga yang lain memberi. Ah, yang namanya menikah memang jadi bertemu budaya baru. Saya jadi berpikir sejenak, berarti sudah waktunya dong saya memberi ke adik-adik atau keponakan saya, masa udah nikah dan punya duit sendiri masih nunggu hadiah dari yang lebih tua doang:mrgreen:.

Di SBY ini target kami makan bebek kalo pulang ke Indonesia juga alhamdulillah terlaksana. Yang ada di foodcourt kebetulan cuma Bebek Tengil, jadilah kami pesan itu. Ternyata.. puedes pol, rek, sambele!!!Pedas itu nikmat, tapi kalo terlalu pedas justru kenikmatannya berkurang😀.

status saya di FB sehari sebelum mudik dan foto setelah target makan bebek terwujud🙂

Day #6 (2012/08/17): Surabaya – Cirebon – Brebes – Linggapura

Merdeka!!! Ya, ini hari kemerdekaan. Maka, begitu keluar kompleks hendak menuju Stasiun Pasar Turi, kami berhadapan dengan kemacetan jalan akibat banyaknya orang yang mau upacara bendera. Kereta kami, Argo Bromo Anggrek, berangkat pukul 8.10, sementara saat itu sudah pukul 7.00. Karena ambil jalur normal beresiko, kami ambil jalur alternatif. Syukurlah, 20 menit sebelum jam keberangkatan kami sampai di stasiun. Kami langsung mengantri masuk platform yang aha! diawali dengan pemeriksaan kartu identitas. Jujur saja, langkah perapian manajemen demi mengamankan penumpang ini saya apresiasi sekali. Konon katanya, Dirut PT KAI yang sekarang memang seorang Cina yang pinter, mantan pengusaha, dan gencar melakukan inovasi di berbagai sisi. Selain itu, saya merasa bangga sekali karena kereta yang kami naiki ini kebetulan asli buatan PT INKA, bukan lungsuran kereta Jepang😎.

on the train.. road to Cirebon station

Di dalam kereta itu saya sempat baca majalah yang bahas kuliner Cirebon dan (entah mengapa) saya penasarannya malah sama nasi lengko, padahal kelihatannya sih sederhana banget. Saya memang penggemar makanan yang diguyur bumbu kacang di atasnya😀. Singkat cerita, kami sampai di Cirebon tepat waktu sesuai jadwal. Keren juga nih udah kaya kereta Jepang. Wkwk. Akhirnya.. Hello, Cirebon! Hajimemashite*. Langsung ngiler begitu lihat tulisan-tulisan “nasi lengko” di sekitar stasiun, tapi kami harus segera berangkat ke Brebes untuk jemput saudara, lalu bersama-sama menuju rumah orang tua di Linggapura.

Malam itu adalah pengalaman luar biasa bagi saya. Di Brebes inilah, balada lebaran di desa dimulai! Balada 1Bahan mentah, buah-buahan, dan sebagian kebutuhan rumah dibeli di “kota” untuk dibawa ke “desa” sehingga dalam perjalanan Brebes-Linggapura itu mobil kami super penuh kaya gudang berisi amunisi senjata dan bikin saya harus mangku panci besar berisi sayur daun ketela yang masih panas😆. Pokoknya selama perjalanan, dari enam orang yang turut, cuma pak sopir aja yang bisa ngelurusin kaki karena di bawah kakinya kosong. Suasana tambah dramatis saat melihat keluar, jalanan sudah mulai padat oleh pemudik dan sepanjang tepi jalan ramai orang mengerumuni pedagang kaki lima.

Day #7 (2012/08/18): Linggapura, or you may misspell as “Singapore”😛

Linggapura. Di sinilah saya menjalani ‘orientasi’ sebagai anggota baru keluarga besar suami saya. Terus terang, memang inilah salah satu alasan kami untuk pulang kali ini. Mumpung masih pengantin baru, mumpung saudara-saudara masih hangat memorinya akan moment pernikahan kami, dan mumpung saudara sekandung suami bisa datang lengkap tanpa kurang satu anak pun🙂. Konon, suami kakak nomor dua sudah 12 tahun nggak bisa kumpul pas lebaran karena selalu pas kebagian jadwal jaga (baca: dokter).

Linggapura. Saudara-saudara baru saya itu ternyata kerap memplesetkannya dengan sebutan singgapur (dari kata ‘Singapore’). Nah, tapi lucunya, secara kebetulan kalo kita masukkan kata kunci “Linggapura” di Google Maps, kita akan ditanya “Did you mean: Singapore?” Hihihi.

persawahan di belakang rumah Linggapura

Desa ini bisa dibilang terletak di kaki gunung Slamet sehingga hawanya sejuk bahkan cenderung dingin. Tak banyak yang saya tahu tentang daerah ini karena belum sempat berkeliling, tapi seperti di desa pada umumnya, harus sabar menunggu sinyal seluler dan GPRS😉. Seperti layaknya desa juga, daerah ini cocok sebagai tempat menghabiskan masa tua Anda. Malam itu, alhamdulillah saya masih sempat melihat fenomena yang saya anggap sebagai balada ke-2: di tengah gelapnya jalan desa, penduduk rupanya masih melestarikan tradisi takbiran sambil membawa obor dan alat klotekan. Selain itu, rumah kami juga diserbu anak-anak yang minta angpau atau disebut mecing oleh penduduk setempat. Jumlahnya banyaaak sekali. Mungkin hampir 100 orang😯.

Day #8 (2012/08/19): “EID MUBARAK!” Linggapura version

Alhamdulillah, masih ketemu lebaran lagi. Bangun pagi itu saya masih surprised karena mendapati wajah-wajah ‘yang tidak biasa’ saat di luar sana takbir hari raya berkumandang. Shalat ied pun nggak kaya biasanya. Balada ke-3: Kalo biasanya saya, mama, dan adik dandan spesial sejak pergi ke lapangan, kali ini kostum kami ke tempat shalat cukup mukena saja🙂. Masjidnya terletak hanya beberapa meter dari rumah dan khusus untuk wanita, termasuk imam dan khatibnya! Sementara jamaah pria shalat di masjid lain yang lebih besar persis di depan rumah.

Masih dengan (sedikit) kebengongan sebagai anak bawang, seusai shalat ied seluruh jamaah, yang kebanyakan lansia, tanpa dikomando langsung membentuk barisan untuk bersalam-salaman. Subhanallah, di situlah saya merasakan kehangatan atas persaudaraan sesama muslim. Walaupun belum saling kenal, dalam suasana lebaran yang menuntut hati kita bersih, berjabat tangan dan saling melempar senyum seperti itu sangat menenenangkan.

suasana seusai khutbah ied di masjid dan kunjungan ke rumah salah satu ustadz senior ponpes milik kakek

Agenda selanjutnya adalah sowan atau berkunjung ke rumah sesepuh di sekitar masjid yang pernah dan masih berafiliasi terhadap pondok pesantren milik kakek suami, yaitu Ponpes Yanuris Linggapura. Mereka adalah para mantan murid kakek yang kemudian melanjutkan estafet kegiatan mengajar sampai menjadi ustadz hingga sekarang. Yang tertua udah usia 96 apa 98 tahun gitu, hampir seabad deh pokoknya (lihat foto di bawah). Subhanallah.

Sekembalinya dari berkeliling desa, kami mendapati saudara-saudara lain udah ‘curi start‘ foto-foto di depan rumah. Kami pun bergabung dengan mereka, dilanjutkan salam-salaman di dalam rumah.

foto dengan keluarga besar suami setelah shalat ied, sebagian keluarga belum datang karena baru berangkat ke tanah leluhur ini setelah shalat ied di daerahnya masing-masing

Nah, dua moment terakhir tadi, foto dan salaman, pasti standar banget. Di semua keluarga pasti juga ada. Jadi sepertinya tidak menarik diceritakan. Hihihi. By the way, tetap ada “kegiatan yang sebenarnya standar tapi beda” bagi saya. Kalo biasanya di keluarga saya makan-makan itu sepulang dari shalat ied, di keluarga suami tradisinya makan sebelum berangkat ke masjid karena hendak mengamalkan sunnah😀.

dibeli.. dibeli.. kelapa muda fresh from the oven tree!

Ketupat dan sambal goreng kikil menjadi menu favorit saya hari itu. Ah, lama nian tak jumpa ketupat di hari-H lebaran. Siang harinya selain makanan utama yang spesial disediakan juga minuman spesial kelapa muda. Ini dia balada yang ke-4: mau minum es kelapa muda aja harus mecah dan ngeruk kelapa sendiri😮. Maha Adil-nya Allah adalah.. justru untuk hal yang sulit didatangkan dari kota dalam jumlah besar seperti kelapa muda ini, pohonnya sudah tersedia di belakang rumah! Tinggal dipanjat aja.

Malamnya, balada ke-5 terjadi. Di sana, boro-boro ada tempat gaul di luar rumah, tempat belanja agak lengkap kaya supermarket aja susah, terlebih karena lebaran pasar-pasar tutup. Alhasil, saat ada kesempatan untuk melarikan diri dari ‘kejenuhan’ itu, anak-anak muda bersemangat turut serta! Haha. Ketika saya, suami, kakak ipar dan suami kakak ipar, punya kesempatan ‘kabur’ ke kota (baca: Purwokerto), kami dapat titipan belanjaan dan kuliner banyak sekali sampai-sampai baru tiba di rumah lagi tengah malam, jadi orang-orang yang nitip makan malam udah ketiduran:mrgreen:. Gubraks..

Day #9 (2012/08/20): Tegal, the 8th city

Dalam tradisi keluarga suami saya, ada dua pertemuan keluarga setiap lebaran, yaitu keluarga kakek-nenek suami a.k.a. Bani Romas (nama belakang suami juga pakai ini) yang selalu bertempat di rumah mereka yang kini ditempati oleh ayah mama mertua saya dan keluarga besar generasi diatasnya lagi (baca: buyut suami, kakek-nenek ayah mertua saya), Bani Hasan, yang diadakan bergilir di rumah anak-anak Bpk. Hasan tersebut, biasanya di hari kedua lebaran. Jadi, wajar kalo sesama cicit masih saling kenal dan menjaga hubungan. Menarik sekali.. tentu bukan hal mudah untuk bisa menyatukan keluarga sebanyak itu dan konsisten mengadakan pertemuan setiap tahunnya. Agenda lain yang saya kagumi dari mereka adalah rapat keluarga membicarakan yayasan dan ponpes peninggalan sang ayah di hari kedua lebaran. Meskipun kedua hal ini yang saya tunggu-tunggu, yaitu pertemuan keluarga sebuyut dan rapat keluarga sekakek, kami harus rela melewatkannya karena ternyata keduanya diundur pelaksanaannya hingga hari ketiga lebaran, bertepatan dengan kepulangan kami ke Jepang.

Nah, di hari H-1 kepulangan ke Jepang ini keluarga ‘kecil’ saya dan keluarga kakak, yang tidak bisa ikut bersilaturahmi ke rumah keluarga di Tegal keesokan harinya, mendahului family tour di kota teh poci yang punya slogan “Laka-Laka” ini.

Kunjungan demi kunjungan ke rumah bibi, bahkan bibinya mama yang usianya sudah kepala delapan, menyadarkan saya bahwa betapa bahagianya jika saya tua nanti dikunjungi oleh anak-anak muda di keluarga saya walaupun sebenarnya mereka belum kenal saya (hanya tahu dari orang tua mereka), belum hapal, atau tidak terlalu dekat kepada kita.

Wisata kuliner Tegal: tahu pletok.. biasa aja sih cuma tahu dikasih tepung kanji. Ini salah satu toko ang terkenal: Randualas di Kec. Slawi.

Tak lupa kami mampir ke pabrik tahu pletok, sedangkan pulangnya mampir beli soto tegal yang nggak kalah terkenalnya sama teh poci. Saya yang nggak doyan soto biasa (yang warna kuning itu) aja merasa pas dengan cita rasanya:mrgreen:.

Day #10 (2012/08/21): Cirebon and Jakarta, duo of the great closing!

Subuh-subuh, dengan sangat berat hati kami meninggalkan keriuhan kumpul keluarga di Linggapura demi kembali ke tanah rantau (halah) malamnya. Begitu beratnya sampai saya dihantui mimpi tentang suasana lebaran di tengah keluarga berminggu-minggu lamanya. Apa boleh buat.. kangmas nggak bisa ambil cuti banyak-banyak dan kebetulan liburannya pas seminggu sebelum lebaran. Ah, masih syukur bisa mudik.. banyak kawan di Jepang pengen pulang tapi nggak bisa.

penampakan nasi lengko di depan stasiun

Oke, kembali ke TKP..
‘Ngidam’ saya akan nasi lengko akhirnya terpenuhi pagi ini di Cirebon. PUAS!!! Oh, ternyata isinya hampir sama kaya nasi pecel, tapi rasanya beda karena (mungkin) bumbunya pakai kucai dan tauco. Selain nasi lengko, di Cirebon juga populer nasi jambal, semacam nasi rames yang biasanya berformat prasmanan (self service).

Hari terakhir ini temanya adalah “wisata kuliner” dan “fenomena dunia sempit”😎

Cuma numpang sarapan di Cirebon, kami bertolak ke Jakarta dengan Cirebon Express, kereta eksekutif yang tidak sebagus Argo Bromo, Turangga, atau Sembrani😛. Tujuan utama kami selama jeda waktu menunggu pesawat di Jakarta adalah.. jeng-jeng: ke masjid Istiqlal. Aduh, jangan diketawain ya, tapi suer saya belum pernah ke sana, jadi saya ngotot mau ke sana, mumpung masih tersisa bau-bau relijius abis Ramadan-Lebaran😆. Eh, kami naik bajaj lho! Soalnya dekat banget sama stasiun Gambir tempat kami turun kereta.

Wisata rohani Jakarta: Masjid Istiqlal😀

salah satu dari tiga teman yang ketemu nggak sengaja di Jakarta, @lukmanprananto

Di Istiqlal, kami ketemu @lukmanprananto, junior Indonesia suami di perusahaan, lalu kami sepakat cari lunch bareng. Benar kata orang-orang bahwa kondisi lalu lintas Jakarta yang paling baik adalah saat lebaran. Jalanan betul-betul lengang walaupun bagi saya jumlah orangnya masih aja banyak.. ini terasa misalnya pas ngantri busway. Lunch kali ini penuh perjuangan. Yang ngidam gantian suami saya😆. Gara-gara di Tegal diceritain tentang sate Batibul, kangmas bela-belain ngajak makan di Food Temptation, Mal Kelapa Gading, di mana ada cabang sate kambing yang konon singkatannya “BAwah TIga BULan” ini. Syukurlah saya, @lukmanprananto, dan calonnya @asriniar nemu juga menu yang cocok, bahkan bisa dibilang kami kewalahan milihnya. Luar biasa food court satu ini.. pilihannya super banyak dan enak-enak!

Sayangnya, ada prosedur pembayaran yang “kelihatan keren tapi sebenarnya licik” di food court ini. Di beberapa gerai, pembeli diwajibkan membayar dengan saldo di kartu voucher. Kartu voucher ini konsepnya mirip dengan kartu pintar untuk naik transportasi di Jepang. Jadi kita beli kartu di stand penjualan voucher dengan saldo minimal, lalu membawa kartu itu ke gerai makanan yang kita inginkan sebagai alat bayar. Susahnya, biar saldo nggak bersisa, kita harus memilih menu dengan harga yang jika dijumlah menyisakan nilai paling kecil, tapi nggak boleh kurang dari Rp 5000,00! Ck, ck, ck. Sepertinya saldo minimal lima ribu tersebut dihitung sebagai biaya pembuatan kartu. Haha, nggak mau rugi banget ya?

Anyway, petualangan kami harus berakhir dulu. Setelah makan, kami kembali ke stasiun untuk naik bus menuju bandara. Pas mau naik bus itu, kami ketemu lagi sama kenalan. Kali ini senior yang pernah menjabat sebagai ketua KM ITB, bung @zulkaidaakbar. Belum selesai sampai di situ, di dalam pesawat pun kami ketemu sama @rezasyahrizal, teman sefalkutas dan seangkatan saya sekaligus junior kangmas di perusahaannya, sama halnya seperti @lukmanprananto. Jauh-jauh datang dari Jepang hanya sebentar pun, masih ketemu juga dengan kawan-kawan itu. Dunia yang terlalu sempit ataukah teman saya yang terlalu banyak karena saya terlalu gaul? Hehehe.  Entahlah.. yang jelas, seperti yang pernah saya kicaukan di @creativega, mudik tahun ini benar-benar sukses mengurangi kebetahan saya tinggal di Jepang dan mulai memikirkan apa rencana selanjutnya😉.

signatureblog

Leave a comment

8 Comments

  1. udah kayak judul konsernya Noah ya :))
    btw, aku cuma liat foto2nya soalnya tulisannya panjang banget😄

    Reply
  2. Rika

     /  September 26, 2012

    pilihan yg salah utk bumil membaca ini. jd kepengen kulinernyaaaa…….hiksss

    Reply
  3. Komentar dari FB:
    Indah Kusumawati: Asik bacanya, Ga…seru!🙂 Aku tertarik kasih comment soal harga aje gile yg kamu sebut ttg depstore M itu. Sejak pulang aku paling males ke situ, Ga. Udah harganya gak jauh beda sama Uniqlo tp kualitasnya sekelas shimamura…:) Jd bikin aku ternyesel2 gak “borong” di uniqlo sblm pulang, terutama buat ABG-ku😀
    Rininda Ulfa: long journey banget y Ga… haha.. Laka-laka city nya itu oh.. btw pulang jepun bawa endhog asin gak?? hihiii…
    Surani Ningsih: Airline murah emang mengecewakan ya Ga.. aku juga mendingan mencari yang nyaman dan aman. selain seatnya yang belum tentu “aman”, jamnya juga suka di ujung2.. maaf ya waktu itu sampai kehabisan kereta karena saking malamnya sampai ke Jepang.

    I do enjoy your story *meski bacanya panjaaaang*🙂

    Reply
  4. maghfiroh

     /  January 8, 2015

    salam kenal,saya juga dari linggapura sekarang tinggal di batam,mambaca tulisan di atas hampir2 mirip ceritanya kalo saya pulang kampung,,saya suka bacanya seru ceritanya,, walau kejadiannya th2012 dan sekarang th2015,,mengingat kan sy pada kampung halaman,,,dalam foto sy kenal beberapa orng,,rumah sy tak jauh dr rumah yg ada dlm foto,sukses deh buat mbak,..

    Reply
  1. Mudik 2012: 10 Hari, 8 Kota (Part 1) « .:creativega:.

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: