Tentang Mengabaikan Informasi


Setelah soal khamr, ini adalah sebuah refleksi lainnya dari pengalaman hidup di Jepang. Sering terlintas di benak saya, kenapa ya bangsa kita tidak terbiasa membaca dan menulis informasi? Saya ngomong begini bukan berarti mengecualikan diri sendiri didalamnya, justru karena saya termasuk yang pernah kena batunya, bahkan sampai sekarang! Meskipun demikian, saya bisa merasakan bahwa setahun setengah di sini membawa perubahan besar dalam cara pandang saya terhadap informasi. Yang dulunya tak acuh, kini malah mencari-cari.

Dulu saya pernah baca ada blogger Kompasiana yang nulis tentang lautan informasi di sini, tapi nggak ketemu juga dicari. Malah nemunya artikel ini: Repotkah Bila Kita Sempatkan Baca?. Nah, rupanya udah ada yang mewakili menulis jeritan hati ini (halah).

Kembali ke laptop..

Singkat cerita, saya jadi ingat tentang  perkara ini karena tadi abis melayani pelanggan yang nggak ngerti-ngerti meskipun udah dijelasin berkali-kali lengkap dengan referensinya serta data baik kualitatif maupun kuantitatif. Sebenarnya nggak cuma kali ini aja, tapi seriiing banget. Selama berperan sebagai customer service di bisnis sendiri, pertanyaan yang paling sering saya terima adalah tentang hal yang sebenarnya sudah tertulis di website atau email. Kadang kala, saat ditanya sudah baca atau belum, mereka bilang sudah, tapi nggak ngerti. Ya kalo gitu udah pasrah aja kita… hehe.

Akan tetapi, di lapak lain, misalnya FB, juga terjadi fenomena demikian. Ada foto diunggah, udah dikasih caption, tetap ada yang nanya tentang hal yang udah dijelasin di caption. Di grup beasiswa, sering kali ada anggota baru masuk, belum mempelajari apa-apa, langsung nanya hal yang ‘lugu’, padahal kalo mau usaha dikiiit, persis di post sebelumnya baru aja dijelasin. Ya yang gitu-gitu deh..

Cuma, masalahnya bukan hanya soal membaca, melainkan menulis juga. Misalnya kalo kita lihat di produk-produk makanan tradisional seperti sambal pecel atau keripik sanjay (contoh yang ada di depan mata :grin:), di situ ada kode depkes, malah ada label halal MUI, tapi herannya kok nggak ada tanggal kadaluarsa. Jenang Kudus yang merknya paling terkenal dan dapat banyak penghargaan aja nggak nulis tanggal kadaluarsa di kemasannya! Ini jadi dilema tersendiri saat saya mau ngasih oleh-oleh ke teman-teman asing di sini, apalagi orang Jepang. Kadang-kadang malah komposisinya aja nggak ditulis lengkap kan.. coba cek makanan Indonesia di rumah Anda, ada nggak yang di komposisinya ditulis “…, dll.” alias dan lain-lain? entah apa  :eek:.

Contoh di atas hanya sebagian kecil yang saya ingat. Tentu masih banyak contoh lainnya yang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari.

Terlepas dari kebiasaan di atas hanya milik sebagian orang atau emang salah satu mental bawaan penjajahan Belanda (lho?)😆, yang lebih berharga untuk kita renungkan di sini adalah bagaimana kita bisa mencontoh Jepang dari sisi penyediaan informasi dan kepedulian masyarakat terhadapnya. Kita sudah sering dengar tentang sikap mereka menghadapi bencana yang tidak terlepas pada taatnya mengikuti panduan dari pemerintah. Ketika di sini, kita akan ketemu sendiri dengan meluapnya informasi di mana-mana, baik secara visual maupun audio. Orang Jepang bilang mesin-mesin mereka itu “cerewet” karena terlalu banyak ngomong, jadi mereka suka risih dengar informasi yang diulang-ulang. Bayangkan kalo tiap hari naik bis yang sama, naik kereta yang sama, naik lift yang sama, masuk ke toilet yang sama pula dan semuanya ada rekaman informasinya! Pasti eneg banget. Kalo kaya saya yang nggak ngerti bahasa Jepang sih fine-fine aja, malah senang bisa buat belajar:mrgreen:. Kalo beli barang juga suka geleng-geleng. Produk sekecil atau seremeh apa pun, selalu ada tulisan informasinya (selain merk), entah cara menggunakan, cara menyimpan, atau cara membuang. Contoh gampangnya aja nih, sumpit atau sendok plastik sekali pakai yang biasanya dapat gratis kalo kita beli makanan aja, ada petunjuk cara membuka kemasannya!

Ohya, berkat informasi yang lengkap juga, di sini meskipun sulit menemukan makanan minuman halal, kita banyak terbantu dengan tersedianya daftar alergen di restoran-restoran (yang populer) atau untuk produk-produk tertentu. Daftar alergennya bukan hanya bahan yang lazim menimbulkan alergi pada banyak orang saja, tapi juga yang jarang-jarang ketemu kasusnya seperti alergi buah-buahan atau sayuran tertentu.

Lho, kok malah jadi ngomongin makanan ini.. wkwk. Ya sudah, demikian sekilas info!

Leave a comment

4 Comments

  1. Yoiii, padahal mendapat informasi adalah hak setiap org. Tp menuntut hak tanpa usaha/menjalankan kewajiban itu adalah penjajahan! Hehe.. Nice post Ga..

    Reply
  2. Terima kasih atas konten dan info yg menarik dan menginspirasi….thk u

    Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: