Dari Tumbangnya Sony dkk. sampai Made in China


Pembicaraan di telepon dengan Papa pagi ini, entah bagaimana awalnya, membawa kami ke obrolan seputar berita bangkrutnya beberapa perusahaan elektronik Jepang hingga fenomena viralnya produk Cina (glek.. serius amat yak?)🙄. Akibatnya, banyak hal yang pernah saya baca, dengar, bahkan alami sendiri, berseliweran dalam pikiran dan memicu untuk menuliskannya di sini. Tulisan ini tidak akan banyak membahas hasil penelitian (karena udah buaanyak yang bahas sampai eneg! :razz:), tapi lebih berupa rangkuman, tanggapan, dan ‘petunjuk’ ke artikel lain yang bisa Anda baca-baca.

Sony, Sharp, dan Panasonic yang Nyaris Wassalam

Papa: “Papa baca di koran katanya perusahaan-perusahaan Jepang itu pada bangkrut ya? Sony, Sharp, Panasonic..”

Yoi, bos-bos tiga perusahaan itu pastinya lagi galau sekarang karena udah positif rugi dan harga sahamnya jatuh, sebagaimana dituliskan oleh mas Yodhia, seorang alumni Texas A&M University yang jadi konsultan di bidang kinerja perusahaan, dalam artikel yang kemudian populer ini. Sudah dua bulan lalu memang tulisan itu, tapi baru belakangan Sony dkk. yang sedang menggantungkan nasibnya ke pemerintah Jepang ini, dapat kepastian dari menteri keuangannya kalo mereka nggak bakal dibantu dengan kucuran dana. Sebenarnya, ada dua perusahaan lain juga yang disebut mas Yodhia, yaitu Sanyo dan Toshiba. Yang pertama udah duluan kolaps dan dibeli sama perusahaan Cina “Haier” tahun lalu meskipun baru sebagian produknya. Yang kedua baru diprediksi tapi mudah-mudahan ehem, jangan dulu deh.. suami saya masih kerja di sana soalnya😀. Memang menurut cerita suami, Toshiba ini termasuk perusahaan global Jepang yang udah beberapa kali catatan keuangannya defisit, sedangkan perusahaan yang mampu menjaga kasnya surplus atau sekedar ‘aman’ itu bisa dihitung dengan jari, atau bahkan jari sebelah tangan. Toshiba juga masih merekrut karyawan dari luar Jepang (suami saya lewat jalur ini) meskipun mulai tahun ini mereka tidak mengadakan pelatihan bahasa Jepang di negeri asal karyawan demi penghematan. Kelihatan lah ya kalo sedang sulit:mrgreen:

Papa: “Kalah mereka sama perusahaan IT, apa-apa kan sekarang udah ada di handphone, dengerin musik, kamera, tinggal pakai handphone. Sony kan bikinnya walkman, TV gitu. Dulu padahal sampai orang Amerika sana kalo dirumahnya nggak ada produknya Sony itu belum keren.”

Papa lalu menyebut Apple dan Samsung (ya, kita semua udah mafhum). IT di sini maksud Papa lebih ke arah software atau cyber gadget kali ya. Sony, Sharp, dan Panasonic sebenarnya udah mulai mengejar ketertinggalan, setidaknya mereka punya handphone juga kok. Namun, tidak bisa dipungkiri fakta itu benar, bahwa sekarang giliran mereka dikalahkan raksasa-raksasa baru setelah 30-an tahun lalu mereka yang bikin frustasi companies di Amrik. Mereka telat masuk ke ranah teknologi yang lebih mutakhir. Sama halnya seperti Microsoft yang telat masuk ke industri mobile dulu, jadinya kalah tenar sama Apple dan Android. Bisa jadi memang sekarang adalah masanya industri telekomunikasi yang berjaya. Misalnya aja Softbank, satu dari tiga perusahaan telekomunikasi terbesar di Jepang, justru baru aja dengan pedenya membeli Sprint, perusahaan seluler Amrik yang nasibnya sedang di ujung tanduk.

Anyway, penyebab hancurnya Sony dkk. tentu saja bukan semata-mata ketinggalan dari pesaingnya, lalu pelanggan meninggalkan mereka. Sisi kultural rupanya juga ikut memainkan peran. Nah, ini menarik, karena nyambung sama curhat-nya suami tentang sikap-sikap orang Jepang yang tidak dimengertinya, ie. kenapa begini? kenapa begitu?. Menarik kedua, masih di tulisan yang sama, mas Yodhia tadi mencoba merincinya, padahal dia sendiri tidak bekerja di Jepang. Menurutnya, kultur kerja yang disinyalir turut andil dalam kegagalan tadi adalah mementingkan konsensus (kalo kata orang Sunda teh namanya “musyawarah mupakat” :razz:), budaya senioritas (yang senior yang bertahta), dan… yang ketiga ini saya tambahkan alur begini:
Jepang adalah bangsa yang workaholic >>
bisa kerja itu gengsi.. harga diri! jangan heran banyak kasus bunuh diri akibat nggak punya kerja >>
tua pun tak masalah asal masih dianggap “berguna” dengan bekerja >>
usia pensiun adalah 65 tahun >>
selama belum pensiun dan dipecat serta masih kuat kerja, ya tetap kerja, wong udah PW (Posisi Wueenak), walaupun udah lupa-lupa ingat >>
penduduk tua 50% ke atas = generasi jadul, bosnya udah sepuh-sepuh, bo! = inovasi kurang😮

Suami pernah cerita, ada seorang tenaga ahli di kantornya yang sebenarnya udah pensiun, tapi ditarik lagi, padahal kerjanya aja udah pakai alat bantu pendengaran dan badannya bungkuk😦. Sebagai tambahan info, Anda bisa baca teks di gambar dari teman saya di FB ini.

perbedaan kultur kerja di Jepang VS Eropa

 

Lalu, apa hubungannya dengan Made in China?

Papa: “Lagian Jepang itu yen-nya terlalu kuat sih, jadi kurang menguntungkan buat industri. Beda sama Cina, ekonominya bisa terus berkembang, bahkan sekarang jadi nomor dua di dunia.”

Ternyata statement ini yang membuat kami akhirnya membahas made in China🙂. Berbicara tentang redupnya eksistensi perusahaan Jepang memang tak lepas dari “siapa penggantinya”. Salah satunya ya Cina ini, yang bahkan diprediksi IMF (2011) akan mengalahkan Amrik 14 tahun lagi! Lihat grafik yang saya dapat dari kuliah Regional Strategy Studiesini.

perbandingan GDP tiga negara dan prediksi Cina terhadap Amrik

Yen emang nilainya stuck di situ-situ aja.. nggak bisa naik lagi bukan karena nggak maju melainkan sudah tinggi. Harga minuman botol dari tahun 80-an sampai sekarang masih sama: 100-an yen. Itulah sebabnya di sini bunga bank paling banter 2%, jadi udah syar’i dengan sendirinya😀. Berbagai macam mesin pun bisa membaca uang dan mengeluarkan kembalian otomatis karena bentuk uangnya nggak ganti-ganti. Beda dengan uang rupiah yang hampir tiap tahun kaya slogannya Jawa Pos: Selalu ada yang baru!

Papa: “Pemerintah Cina itu yang sejak dulu bikin peraturannya bagus. Selain pintar ambil alih teknologinya, mereka juga bisa jual barang tiruannya ke pasar. Mereka bisa bikinin dengan harga yang diminta pasar”
Saya: “Iya, katanya perusahaan asing yang mau buka cabang atau pabrik di sana harus mau terbuka kan, nggak boleh ada rahasia-rahasiaan. Makanya kaya perusahaan Jepang yang banyak bangun pabrik di sana malah sekarang disalip perusahaan Cina”
Papa: “Bukan itu aja.. bla bla bla”

Diskusi kami berlanjut. Ternyata peraturan yang dimaksud Papa itu mengarah pada kebijakan pemerintah Cina yang menciptakan iklim baik bagi pertumbuhan industrinya. Kata Papa, dulu ada seorang tokoh Amrik (nah, kan..saya lupa jabatannya, padahal disebutkan >.<) yang sampai meninjau pabrik di Cina saking penasarannya kenapa kualitas barang buatan Cina sama, tapi kok harganya bisa murah. Jawabannya ada dua hal (ini yang disebutkan Papa aja ya):

  1. Produksi massal
    Prinsip industri kan semakin besar jumlah produk yang dibuat maka semakin rendah biayanya
  2. Minimalisasi pengerjaan di pabrik
    Home industry (industri rumahan) memegang peranan kunci dalam hal ini. Material yang kecil-kecil atau sifatnya mendasar adalah ranah pekerjaan mereka. Mereka tinggal menyerahkan ke pabrik, kemudian pabrik yang akan merakitnya. Tentang poin kedua ini, saya jadi ingat, dulu guru saya bercerita pengalamannya berkunjung ke Cina. Ia dibuat terheran-heran ketika menyusuri sebuah kampung yang di tiap rumahnya ada kegiatan membuat ban, spion, rantai, dan komponen motor lainnya. Kira-kira seperti itulah gambaran home industry di sana. Setelah mencari-cari, alhamdulillah sudah ada yang pernah menulis lebih lengkap tentang ini. Silakan menuju TKP mas Bair yang alumni UGM ini: Rahasia di Balik Kesuksesan Produk Cina. Kendati data di tulisan tersebut belum yang terbaru, pemaparannya sangat menarik untuk disimak. Saya baru tahu juga ada yang namanya Township and Village Enterprises (TVEs), yaitu sebuah bisnis swasta daerah yang bermula dari industri pedesaan buatan pemerintah Cina.

Ngomong-ngomong, kita kan udah tahu sama tahu ya kalo mau made in China yang murah resikonya ya tanggung sendiri. Jangan menuntut kualitas bagus seperti harga produk “normal” deh. Ada barang, ada rupa, tapi namanya bawaan manusia sih kalo lagi kepepet atau buat barang yang nggak terlalu signifikan ya carinya yang murah😆. Di Jepang yang pengawasan kualitas produknya ketat sekali ini pun, produk Cina masih luar biasa banyaknya dan harganya tetap murah. Yang paling well-known pastinya toko 100 yen (hyaku en sho-pu). Isinya kebanyakan made in China meskipun diyakini desain produknya tetap berasal dari Jepang. Beberapa produknya bisa diintip di sini. Untuk produk yang ‘serius’ dan bakal dipakai lama, saya dan suami kalo belanja selalu ngecek dulu buatan mana, termasuk yang beli online, harus diselidiki dulu. Hehe. Ada kalanya kami bercanda dengan dibuka celetukan “Cina sih..” kalo sengaja beli yang buatan Cina, tapi kemudaian mendapati ‘kelucuan’ kualitasnya. Apa mau dikata, itu tandanya lagi berhemat. Meskipun demikian, produk-produk made in China yang harganya masih wajar, nggak kebangetan murahnya, bisa berumur sebagaimana mestinya kok😉.

Baiklah, begitu kurang lebih ulasan hasil obrolan saya dengan Papa, semoga bermanfaat! *elap keringat*

sign

Leave a comment

9 Comments

  1. wah diskusi sama papanya berbobot sekale.. ^^ cool.. inspiring!
    sebagai manusia yg belajar dan akan bergelut dengan dunia perprodukan saya terus terang bingung dgn kondisi chaos ini. ya, we can make predition but what will happen in the future,,, gonna be so unpredictable, and it happens rapidly. so scary… T.T
    peradaban manusia memang sedang menuju puncak2nya, dan kan runtuh seruntuh2nya *gatau dari mana bayangan ini muncul.. haha..
    menurut Teh Ega, sebagai bangsa yang ‘slalu ngikut’ kek Indonesia ini bagusnya kek mana? mengejar ketertinggalan? sedang manusianya semakin tertinggal secara moral dan etika? *wawancaradgnWNI🙂

    Reply
    • halo, mister R1, maaf baru balas. hehe, itu aja masih dilanjut dgn topik perpolitikan >.< kata seorang ulama besar, kalo kita sulit buat ngejalanin dua hal yang sama-sama penting, jangan tinggalkan keduanya, tapi tetaplah istiqamah dan lebih fokus ke salah satunya. dalam hal ini, berarti kita tetap harus mengejar "ketertinggalan" sembari memberlakukan peraturan yang tegas dan kongkrit bagi perusahaan asing demi membentengi industri dalam negeri, misalnya menaikkan pajak, mewajibkan tranparansi (kaya contoh Cina di atas), membatasi jam kerja dan gaji minimum karyawan, dll. kalo soal ketertinggalan moral dan etika, itu tentu saja jadi tugas kita semua, baik para profesional maupun bukan. di sini kan kita lebih ngomongin hal yang sifatnya teknis dan praktikal, tugas para profesional atau mereka yang punya keilmuan di bidang-bidang terkait, sedangkan moral dan etika itu nilai universal yang dipahami setiap orang🙂

      Reply
  2. mau bahas dlu soal yang made-in-china, aku dsni kalo belanja barang2 especially baju; sensi banget kalo ada made in China atau Indonesia. pdhal brand European retails yg famous itu :)) so aku prefer enggak ngebeli baju itu pdhal modelnya oke *lebay*

    yg aku baca dr postingan kk ini, jepang secara struktural organisasi perusaannya lbh cenderung ke arah “hanya pimpinan yg membuat keputusan” ya, pdha secara market itu kan terus berubah & super cepet banget berubahnya, IMHO kykny perusahaan2 itu harus mulai memberikan kuasa ke bawahan2nya jg u/ membuat keputusan. which will make a faster decision and more innovative.

    Reply
    • same here.. tapi ga pake sensi sih aku😛 lha merek-merek global kaya Ikea, GAP, H&M, Uniqlo, dll. gitu kan emang produknya buatan mana-mana, apalagi negara dunia ketiga kaya kita-kita ini. maklum, gaji tenaker murah meriah. hehe.

      terkait Jepang, pas banget, Bhel! begitu kira-kira gambaran singkatnya. buat naik posisi ke yg lebih tinggi aja buat Japanese butuh 7-8 tahun, sedangkan yang asing bisa lebih lama lagi. coba buat sampai tingkat manajer departemen atau chief deh, butuh berapa tahun tuh, apalagi kalo yang tua-tua nggak habis-habis :))

      Reply
  3. wah artikelnya bagus banget , jadi inspirasi aku dan membuka wawasan nih

    Reply
  4. bunuh kristus nato!

    Reply
  5. sony kok masuk yah, kan produk kwalitas tinggi kwkwkwwkwk papa nya salah itu

    Reply
  6. edy

     /  September 25, 2015

    jepang itu sudah lewat masanya, dah lempar handuk, korea pemain kecil, sekarang ini pertarungan antara amerika dan china; olimpiade, matematika, sains, super komputer, angkasa luar, rudal, kapal induk, jet tempur, pokoknya proyek besar, amerika sedang dikejar china. jepang cuma menang di penjualan mobil toyota. yang lain sudah lewat.

    Reply
    • Makasih tambahannya, mas Edy. Jepang memang cenderung protektif dengan pengembangan teknologinya, kurang terbuka dengan intervensi negara lain dan membatasi ‘kepintaran’-nya keluar dari negerinya, plus mereka adalah tipe bangsa yang nyaman di tanah sendiri, jadi tak banyak yang ngebet melancong ke luar lalu ‘besar’ di negara orang.. tapi di negara mereka sendiri, menurut saya dan banyak orang yang sudah ngicipin Jepang dan negara-negara maju lainnya, tetap paling hebat teknologinya..terasa hidup di sana super nyaman dan praktis terbantu kecanggihan mesin2
      layanannya.

      Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: