Alternatif Pengganti MSG


Belum lama ini ada seorang teman SMA saya, yang sudah lama tidak saya kontak dan mengontak saya (nah, bingung kan..), mengirim pesan ke inbox saya dan minta tips memasak tanpa MSG. Dalam curhatnya, dia bilang selama ini kalau nggak pakai MSG kurang pede dengan rasanya.. kalau-kalau kurang “nendang”. Sekarang dia mau tobat, maunya nggak pakai MSG, tapi rasanya tetap kuat. Tentang rasa yang “nendang” ini, katanya penting banget buat ibu-ibu😀. Ada benarnya sih, kebetulan suami saya juga termasuk orang yang kritis soal rasa, tapi di sisi lain dia adalah pemakan segala dan makannya selalu lahap meskipun saya masak yang seadanya. Dengan membandingkan postur tubuh suami saya dan suami teman saya ini, sepertinya sih mereka punya kecenderungan yang sama soal makan-memakan😛.

Perlu dicatat MSG ini lebih mengarah pada bumbu instan yang kita kenal sebagai vetsin, yang biasanya harganya murah meriah, bahkan jauh lebih murah dibandingkan kalau kita pakai ‘bumbu-bumbu yang benar’. Saya pernah sedikit menyinggungnya di sini. Dari harganya saja udah nggak masuk logika jadi harusnya kita berpikir.. zat-zat kimia apa saja yang terkandung dalam vetsin sehingga bisa menghasilkan rasa sedahsyat itu meskipun hanya sejumput? Bahan-bahan dari alam langsung merupakan pilihan terbaik untuk menjaga kesehatan kita atau paling tidak meminimalkan penyakit. Selain itu, bahan olahan juga masih bisa jadi alternatif karena meskipun sebagian masih mengandung MSG, kadar MSG-nya tidak sebesar vetsin dan memakainya pun tidak setiap hari.

Silakan diintip sedikit tips dari saya tentang alternatif bahan untuk mengganti MSG berikut.

bawang-bawanganBAWANG-BAWANGAN
Maha Suci Allah yang telah menciptakan makhluk dalam keluarga ini. Mereka semua berperan penting dalam masakan. Bawang putih yang ditumis sebentar adalah andalan pertama saya. Duh, saya sukaaa banget aroma bawang putih. Tanpa ditumis pun udah enak si bawang ini, misalnya diulek sampai halus pakai cobek. Kalau mau bentuknya tetap ada, ya dipotong kecil-kecil sebesar ujung korek api. Entah kenapa saya tipe orang yang kurang percaya manfaat ‘daging’ bawangnya terserap maksimal kalau cuma dikeprek😀. Namun, untuk goreng-menggoreng, bawang putih memang harus dikeprek sebelum dicemplungkan ke minyak (baca tulisan ini). Dulu saya kira bawang merah itu lebih memberi rasa karena di resep-resep masakan Indonesia biasanya bawang merah lebih banyak daripada bawang putih, tapi ternyata menurut saya bawang putih lebih bikin gurih walaupun saya sering juga pakai duo bawang putih dan bombay (note: bawang merah sulit diperoleh di Jepang dan mahal). Bawang bombay juga sering saya konsumsi baik sebagai bumbu maupun sayuran. Lho kok sayuran? Iya soalnya lebih suka dipotong besar-besar yang banyak dicontohkan dalam resep-resep masakan Jepang. Hehe. Bagian putih daun bawang kalau ditumis sampai lembek juga bisa berkontribusi pada rasa lho.. manis-manis gimanaaa gitu. Cobain deh😉.

BUBUK-BUBUK AJAIB
bumbu-bubukPengganti MSG yang paling mudah itu sebenarnya adalah gula dan garam. Hanya saja, dua-duanya punya efek samping masing-masing, jadi tetap harus dibatasi takarannya. Kebanyakan garam memicu darah tinggi dan stroke, sedangkan kebanyakan gula memicu penyakit kencing manis. Garam hampir selalu saya pakai, tapi ngasihnya pelit😮. Ohya, garam ini sebaiknya dimasukkan saat masakan hampir matang, sesaat sebelum Anda angkat. Pakai gula kadang-kadang saja dan itu pun mulai berani menaburkannya ke masakan baru-baru ini setelah banyak orang bercerita mereka pakai gula untuk perasa. Merica saya pakai sama seringnya dengan garam. Duet garam dan merica itu ibarat duet bawang putih dan bawang merah/bombay. Teman mereka yang lainnya, yang kadang saya pakai juga dalam bentuk bubuk adalah pala (nutmeg), ketumbar (coriander), paprika, kunyit (turmeric), jinten (cumin), kayu manis (cinnamon), cengkeh (clove), lada hitam (black pepper), dll. Setiap bumbu punya karakteristik tersendiri, jadi masing-masing untuk masakan-masakan tertentu saja. Alternatif dalam kategori ini adalah pilihan kedua setelah bawang-bawangan.

SAYUR/BUAH/DAUN/BATANG
Sejujurnya, saya belum banyak bereksplorasi dengan bumbu dalam kategori ini. Untuk sayur, sejauh ini saya paling pakai tomat , lemon, dan cabai. Tomat mengandung banyak glutamat jadi bisa dibilang inilah “MSG alami”. Dipakai dengan sedikit tumisan saja bisa menambah rasa. Di Jepang, tomat cukup mahal jadi saya nggak selalu punya. Lemon memberikan rasa asam dan efek ‘segar’, biasanya saya teteskan ke sambal. Air jeruk lemon juga bisa menggantikan cuka. FYI, cuka ditengarai sebagai salah satu pemicu kanker kalo terlalu banyak dikonsumsi. Anda bisa juga menyetok jeruk nipis dan jeruk pecel. Untuk buah, saya baru belajar dari orang Jepang. Sebelumnya nggak pernah kepikir masak pakai alpukat, apel, atau ekstrak buah (sebut saja jus), tapi sekarang saya mulai eksperimen ke arah sana. Ya, bahan olahan dari bahan buah saya anggap masuk dalam kategori ini saja lah😮. Kalau ingin masak cepat tapi rasanya enak, coba deh pakai selai jeruk. Jus apel (kalo nggak punya, buahnya diperas aja) juga bisa jadi alternatif menciptakan rasa dalam masakan. Cailah, bahasa ane…

Bagaimana dengan daun? Daun ternyata favoritnya orang Indonesia. Lihat saja ada berapa jenis daun-daunan yang populer dalam masakan kita. Daun salam, daun jeruk, daun pandan, daun kemangi (konon oleh orang londo dikenal sebagai basile), daun kunyit, dan masih banyak lagi. Alhamdulillah, di Jepang saya masih bisa beli daun salam, jeruk, dan pandan, jadi saya selalu sedia di kulkas dan jadi jagoan saya ketika masak resep Indonesia yang agak ‘wow’. Daun jeruk malah sering saya pakai dalam masakan sehari-hari. Masakan jadi lebih sedap, meeen😎. Tentang batang, ini sebenarnya istilah saya untuk bangsa rhizoma seperti jahe, laos, temu kunci, kunir, dan serai. Semua yang saya sebut tadi kecuali kunir juga selalu saya stok di kulkas dan siap dicampurkan ke masakan kapan saja. Informasi yang entah penting atau nggak: orang Jepang suka makan jahe, lho. Resep mereka kerap menyertakan jahe dalam komposisinya. Saya yang dulunya nggak suka jahe pun lambat laun malah jadi suka deh.

KALDU
Untuk mengurangi lemak dan kolesterol yang jahat, saya biasanya memisahkan daging (ayam, sapi, kambing, dll.) dengan lemaknya, tapi tidak membuang kulit, urat, atau tulangnya. Lemaknya saya buang, sedangkan kulit dkk. itu saya rebus bersama masakan untuk mendapatkan kaldunya. Jangan salah, di bawah kulit ayam itu masih ada lemaknya dan tetap padat kaldu yang bisa kita hasilkan. Kalau orang Jepang, mereka punya kaldu yang rasanya khas banget dibuat dari rebusan konbu (sejenis rumput laut), katsuo boshi (bonito flakes), atau gabungan keduanya. Di Indonesia diganti dengan apa ya? padahal katsuo boshi yang di Jepang ini banyak yang made in Indonesia, tapi sepertinya belum lazim digunakan (atau saya yang kuper?). Kaldu tidak terbatas dari daging-dagingan, tapi bisa juga dari ikan atau seafood. Coba deh.. dijamin lebih ‘gleg’ rasanya. Sebenarnya Anda bisa juga pakai kaldu instan, tapi pilih-pilih juga deh ya karena kebanyakan mengandung MSG, termasuk yang di rumah saya >.< Versi instan dari kaldu ala orang Jepang yang dari ikan tadi biasanya dijual dalam bentuk serbuk, namanya dashi.

CAIRAN-CAIRAN AJAIB
bumbu-cairSebenarnya dengan bahan-bahan di atas saja sudah jadi berasa nano-nano kok masakan kita. Namun, biar rasa lebih nendang lagi, masih boleh lah menambah ‘cairan-cairan ajaib’ seperti saus tiram (oyster sauce), kecap manis/asin (yang made in Indonesia ada MSG-nya juga sih coba cari yang paling minimal zat kimianya), kecap inggris (worcester sauce), saus tomat, minyak wijen, cuka.. apa lagi yak? Pokoknya bumbu-bumbu cair semacam itu lah. Dari orang Jepang saya juga belajar menggunakan susu segar dan karamel dalam masakan. Ternyata mantap juga ya.. kadang bahkan santan saya ganti dengan susu. Hehe. Di sisi lain, banyak jenis cairan dalam resep mereka yang nggak bisa saya tiru, misalnya sake, mirin, red wine, white wine, dll. Serius deh, mereka sering banget pakai itu. Ngomong-ngomong, kita harus bersyukur punya kecap manis karena rasanya benar-benar khas Indonesia dan top markotop. Di Jepang, mereka pakai tenmenjan dari Cina untuk mendapatkan cita rasa kecap manis.

Demikian sedikit sharing pengalaman mengakali sentimen saya terhadap MSG😆. Kalau disimpulkan, intinya sih kita harus berani keluar modal lebih demi memiliki stok bumbu-bumbuan yang “normal”, bukan direkayasa sedemikian rupa menjadi butiran-butiran dengan efek seperti sulap😛. Mungkin awalnya akan terasa berat bagi Anda yang baru meninggalkan ketergantungan terhadap vetsin. Bukan hanya yang makan, melainkan juga yang masak. Ada rasa kurang percaya diri yang muncul. Seperti teman saya tadi, setelah dijelaskan tentang ini semua, dia bertanya, “Gimana suamimu membiasakannya?”. Jawaban saya: “Lho, sebenarnya bukan soal suamiku yang harus membiasakan, tapi memang harusnya begitu rasanya. Lihat saja resep-resep dari para profesional, mana ada yang pakai MSG?”. Ya, kan?😉


Previous Post
Leave a comment

33 Comments

  1. Sungguh tips yang patut untuk diterapkan pada para keluarga sehat.
    Kami juga sudah lama say goodbye pada MSG, sebagai bagian dari investasi masa depan.

    Nyari kaldu instan non MSG memang perlu effort, karena gak banyak tempat yg menjualnya. Beli di toko organik, harganya juga cukup lumayan, tapi it’s okey lah daripada membayar harga rumah sakit, cukup fair saya rasa🙂

    Terimakasih pencerahannya, mbak Ega.

    Reply
    • Mas Iwan, makasih support dan sharing-nya.. wah, saya baru tahu kalo kaldu model begitu bisa dibeli di toko organik. Toko organiknya aja belum kebayang.. dulu waktu di Indonesia benar-benar blank soal masakan, termasuk soal belanja bahan untuk dimasak, jadi nggak tahu apa-apa >.< Mudah-mudahan kita bisa sama-sama istiqamah menjaga kesehatan keluarga kita. Aamiin.

      Reply
    • ninien supiyati

       /  May 30, 2014

      Kalau ingin invest masa depan sekalian tinggalkan 3p (penyedap, pengawet, pewrna)

      Reply
  2. weheehee… top postingannya…😀
    aku yo sejak mulai belajar masak sendiri tobat pke MSG… awalnya rasanya masih selalu berasa kurang, tapi lama2 entah mulai terbiasa atau lidah saya yang terbiasa… haha… tapi emang klo cuma kombinasi gula+garam aja ki masih berat rasanya, lebih pede kalau pakai merica… hehe…

    Reply
    • ciee.. belajar masak kanggo persiapan apa, Fa?😛
      untungnya aku dulu ga pernah masak! baru pas di sini aja terpaksa masak, kok ya ndilalah di sini nggak lazim orang masak pake vetsin.. jadi ga perlu tobat, hehe. eh, tapi sempat belajar bentar ding sama bude yg kebetulan antivetsin. betul, Fa, gula-garam aja nggak cukup, harus ditambah hal-hal tersebut di atas

      Reply
      • ha…. yo persiapan buat hidup ga.. karena hidup butuh makan..😄
        dulu pas awal SMA dan awal kuliah kan aku cinta vetsin (lebih tepatnya makanan instan) tapi mpe sekarang masih suka ma mie instan.. walau dah mengurangi…
        Disana kamu jadi lebih jago ya ga masaknya… wohooo… saluuut…😀

        Reply
  3. kalo di jepang banyak macam macam dashi no moto dari ikan, konbu dll. itu MSG bukan ya? krn rasanya kuat banged si. bumbu miso kan instan jg y heheheraan

    Reply
    • setahuku, dr suamiku yg pernah melajarin ttg seluk-beluk MSG di Jepang, di sini itu MSG nggak dibolehin.. jadi entah mereka pakai penguat rasa lainnya atau nggak pakai. cara gampagnya buat tahu bumbu2 instan Jepang mengandung apa aja, ketik kanjinya, cari di search engine, klik yg dr Wikipedia, terus di sidebar kiri pilih yg bahasa Inggris😛

      Reply
  4. great tips😀 saya juga suka masak. salam kenal😉

    Reply
  5. lina

     /  April 12, 2013

    kalo masako atau sejenisnya gmn? Apkah berbahaya juga?

    Reply
    • Mbak Lina, Masako dan sejenisnya (http://goo.gl/aP1vx) bisa digolongkan penyedap rasa juga, jadi bisa mengandung MSG. Sayangnya di link itu ga ada keterangan komposisinya. Sebenarnya sih, kata teman saya yang dosen Kimia, belum ada penelitian yang membuktikan MSG itu berbahaya, tapi memang dimaklumi jika ingin dibuktikan pasti membutuhkan waktu puluhan tahun dan harus ada “kelinci percobaan” yang “dikorbankan” dengan kewajiban mengkonsumsi MSG dalam kadar tertentu. Itu artinya, efek MSG memang baru diketahui setelah sekian lama mengkonsumsinya, nggak bisa penelitiannya instan. Kalo dipikir-pikir, bukan hanya MSG saja yang punya efek buruk bagi tubuh jika dikonsumsi berlebihan dan terus-menerus, melainkan zat-zat sintesis lainnya. Back to nature adalah ikhtiar paling aman.. makanya sebisa mungkin kita pakai bumbu-bumbu alami ya. Hehehe.

      Reply
  6. Terima kasih ya mba ega, sharingnya ‘nendang’ deh layaknya MSG hehe… berguna skali buat saya yang suka masak ‘asal’. Asal berasa :p

    Reply
  7. arigatou sankyu mba Ega.. baru mau mulai belajar masak nih ^^
    -salam kenal juga😉

    Reply
  8. Mo ikut nimbrung ya mbak Ega, di NL lebih sulit lagi cari mie instant no MSG, karena product Jepang, Korea, Vietnam, Thailand, Cina, Hongkong, India, Saudi umumnya pakai MSG, saya hanya temukan satu product buatan Singapore merk KOKA, sedang soal bumbu masakan instant jadi tanpa MSG seperti contohnya merk dari Indonesia “Putri Dapur” kayanya belum ada dijumpai di Nederland, klo tau ada tip lainnya yg manfaat saya mau juga diberitahu Wassalam Ton hobby masak karena ya harus

    Reply
  9. Yuk masak enak + sehat dengan Kaldu Non MSG🙂

    Reply
  10. Iya ya mbak, masak pake MSG itu memang jatuhnya lebih murah dibanding masak dengan rempah2🙂 mana praktis pula, pantes aja emak2 banyak yg doyan masak pake MSG, hehe..

    Reply
  11. Ikut nimbrung ya.
    Setahu saya, belum ada penelitian yang membuktikan bahwa MSG itu berbahaya bagi kesehatan, memang ada penelitian yang menunjukkan bahwa tikus mengalami gangguan ketika diberi MSG, tapi hal itu terjadi karena dosisnya terlalu banyak jauh lebih banyak dibanding jumlah konsumsi manusia (dibandingkan dengan berat badan), jangankan MSG kebanyakan dikasi air saja makhluk hidup bisa mati kok. Ada juga yang menuduh MSG berbahaya karena dulu ada orang muntah2 setelah makan di restoran cina sehingga kasusnya dikenal dengan istilah Chinese restaurant syndrome tapi penelitian lebih jauh menunjukkan bahwa penyebabnya bukan MSG.

    MSG itu merupakan garam natrium dari asam glutamat dimana asam glutamat sendiri secara alami bisa ditemukan pada makhluk hidup, seperti pada tomat, daging, bahkan tubuh manusia bisa memproduksinya sendiri. Perusahaan MSG hanya mengekstaknya saja, dan karena prosesnya rumit tentu harganya cukup mahal. Harga produk kan bukan hanya berdasar pada bahan baku tapi juga biaya proses, iklan, dan distribusi, sama seperti susu skim yang lebih mahal dibanding susu biasa sekalipun bahan dasarnya sama, karena pembuatan susu skim prosesnya memang lebih rumit.

    Tapi ya masalah mau menggunakan atau tidak, itu pilihan pribadi, hanya saran saja, untuk jangan terlalu takut menggunakan produk yang katanya non alami, apalagi takut menggunakan produk hanya karena ada nama kimianya, karena pada dasarnya semua yang ada di alam adalah bahan kimia, vitamin C sering disebut asam askorbat atau air yang sering disebut dihidrogen monoksida (serem banget kan namanya), pun istilah sintetik dan alami kurang begitu mengena karena pada dasarnya manusia juga bagian dari alam sehingga buatan manusia adalah hasil proses alam juga, manusia membuat gula merah tidak ada bedanya dengan lebah membuat madu.🙂

    Btw, saya nyasar disini setelah baca tulisan tentang Jokowi, artikelnya bagus2.
    Sering-sering nulis ya mbak, salam,🙂

    Reply
    • Mas Candra, iya memang belum ada penelitiannya.. saya juga dikasih tahu begitu sama teman yang doktor di bidang kimia Tokyo Univ., Jepang. Bisa dibayangkan betapa repotnya kalo ada penelitian efek MSG pada manusia krn butuh akumulasi bertahun-tahun untuk tahu hasilnya. Pertanyaannya, siapa yang mau jadi kelinci percobaan? hehe. Katanya juga ada batas maksimal (berapa gramnya saya lupa) kadar MSG yang dibolehkan per hari. Malah yang nemuin MSG itu orang Jepang kan ya..padahal mereka sangat ketat dalam pemakaian zat kimia. Eh, di atas saya bilangnya justru MSG (a.k.a. vetsin di Indonesia) itu harganya lebih murah ketimbang bumbu-bumbuan alami. Sebenarnya nggak takut-takut amat sih, hanya tidak suka menggampangkan yang instan-instan atau bahan2 sintetis. Terima kasih support-nya ^_^

      Reply
      • Ada kok yang namanya studi kohort dimana kita bisa tahu pengaruh suatu zat terhadap manusia sekalipun jangka waktunya panjang, tapi ya itu tadi masih belum terbukti. Belum terbukti berpengaruh bukan berarti tidak ada pengaruh, ya memang ada baiknya menghindari risiko.

        Saya sendiri juga berusaha menghindari MSG, tapi bukan atas alasan kesehatan, tapi lebih sebagai bentuk dukungan saya terhadap petani Indonesia. Bawang, lengkuas, sereh, dan bumbu lain kan hasil produk petani kita, dan tidak seperti padi yang hasilnya bisa disimpan di lumbung, bumbu-bumbu itu tidak bisa ditaruh lama, dan kalau bukan kita yang membelinya siapa lagi🙂

        Reply
    • Citty Nur S

       /  February 8, 2016

      Mas candra sudah ada penelitian mengenai efek samping MSG terhadap tubuh manusia, tolong dilihat link ini: https://www.google.co.id/search?site=&source=hp&ei=OGK4Vq6SIdPauQTdoI-ADg&q=what+does+msg+do+to+your+body&oq=what+do+msg+does+&gs_l=mobile-gws-hp.1.0.0i22i30l5.40889.52732.0.54906.27.20.4.2.2.0.1478.7507.0j10j3j2j0j1j0j3.19.0….0…1c.1.64.mobile-gws-hp..3.24.6637.3.BMwS40p01AU

      Reply
      • Eh serius ngasi hasil pencarian Google?😀
        Kasinya link jurnal ilmiah lah. Saya ini kerja di bidang kesehatan, saya langganan jurnal di bidang medis, jadi mbak bisa percaya dengan saya bahwa memang hingga kini belum ada penelitian yang membuktikan bahwa MSG dalam dosis yang wajar tidak berbahaya bagi kesehatan.

        Reply
  12. Iyaaa… (kebanyakan) orang Indonesia memang suka nggak pede kalau nggak pakai MSG. Susahnya kalo nggak sempat masak, warung makan di sekitar rumah biasanya pake MSG.

    Reply
  13. fi

     /  July 3, 2014

    terimaksih banyak untuk infonya yg sangat berguna bagi kami sekelurga.

    Reply
  14. Marni

     /  November 24, 2014

    Saya suka sekali , karena sayapun menghindari msg dan bahan2 kimia lain
    Terimakasih , akan saya bookmark

    Reply
  15. Putri Dapur

     /  April 25, 2015

    Salam Puti Dapur

    Reply
  16. Salam kenal mbak, semenjak hamil dan melahirkan anak pertama, saya dan keluarga memang stop msg. Menggunakan bahan-bahan alami seperti yang mbak sebut juga memang tak kalah enaknya, malah jadi terbiasa. Kapulaga, cengkeh, pala, juga bisa menambah citarasa untuk masak sup.

    Reply
  17. Ilham fakhrudine

     /  June 10, 2016

    Wah bagus.. Jadi inget dulu di Bali ketemu turis Jerman ibu2 bilang di Jerman juga ada kecap dari Indonesia.. Tapi harganya agak mahal.. Dia pake itu karena alergi gandum(atau sejenisnya) yg di kecap merek lain terkandung… Dia bilang kecap bango(di bilang Ban-go) dari Indonesia… . Hahahah

    Reply
    • Hihihi.. thanks sharing-nya, mas Ilham. Keren yach emang kecap kita.. temenku ada yg iseng beli kecap Thailand di Asian market sini (Amrik) karena doi ga nemu kecap kita, eh katanya ga enak banget dan baunya kaya tai kebo (upsss.. hahaha)

      Reply
  1. Teori Marketing vs Syariat Islam | .:creativega:.
  2. Resep Bakwan, Gorengan Tanpa MSG - coklat.org

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: