Autumn Trip to Hokkaido


Konnichiwa! Hisashiburi ne, minna-san🙂 *

Di hari terakhir bulan kedua tahun ini, Yokohama tiba-tiba menghangat sampai di atas 20oC (menurut jam di atas rak buku saya :razz:), padahal kemarin-kemarin masih diselimuti hawa dingin yang menusuk tulang, termasuk meskipun di dalam ruangan. Mungkinkah pertanda musim semi sudah di depan mata? Mungkin aja sih soalnya beberapa teman udah upload foto-foto dengan bunga ume atau sakura di FB. Yang jelas, saya merasa cepat sekali waktu berlari, padahal belum juga saya menelurkan satu tulisan baru di bulan ini (penting banget)😀.

Oke, langsung aja ya.. ada alasan kenapa saya tiba-tiba membawa cerita kadaluarsa ke sini. Selain alasan ‘telur’ di atas tentunya. Bukan typo kalo saya nulis “autumn” karena emang cerita ini adalah semacam review perjalanan saya tahun lalu, saat musim gugur, ke Hokkaido, pulau paling utaranya Jepang. Ada dua trip lain yang sudah berlalu dan beberapa trip lagi yang insyaallah akan saya lewati tahun ini, jadi menunda dokumentasi trips yang lalu hanya akan menambah tumpukan PR dan beban otak yang harus kerja keras buat memory mining. Hehehe..

First of all

Catatan perjalanan itu penting, lho, pemirsa, karena suatu saat Anda atau orang lain akan membutuhkannya sebagai referensi. Contohnya aja semalam saya dan suami jadi main tebak-tebakan saat harus mengingat “Dulu pas ke Hokkaido, kita sampai bandara jam berapa ya?” karena satu dan lain hal (halah, template abis). Alhasil, kami berdua nggak ada yang ingat pasti meskipun udah cari clue dari foto sebelum naik kereta ke agen bus bandara. Nah, walaupun kelihatannya narsis banget di stasiun aja foto-foto, ternyata foto itu penting kan dalam menyusun kronologi cerita, wkwkwk:mrgreen:. However, tetap yang paling penting dan harus disiapkan jauh sebelum trip itu ada dua: (1) niat (2) itinerary (rencana perjalanan).

Contoh "niat" - karena pengen ke Hokkaido, saya beli buku panduan ini di tahun sebelumnya dan memasukkan "pergi ke Hokkaido" ke dalam daftar Harapan 2012 :grin:

Contoh “niat” – karena pengen ke Hokkaido, saya beli buku panduan ini di tahun sebelumnya dan memasukkan “pergi ke Hokkaido” ke dalam daftar Harapan 2012, terus berdoa ke Allah😀


Di antara niat dan itinerary, tentu kita harus lakukan juga ikhtiar dulu agar niat kita bisa terlaksana. Dalam kasus saya, pergi ke Hokkaido merupakan niat yang nggak murah, terutama transportasi pulang-pergi yang normalnya ¥20000++ (one way) jadi total biaya dua orang bisa sampai ¥80000++! Mak.. setara dengan harga tiket Jepang-Indonesia. Salah satu tips berhemat yaitu mata dan telinga harus peka dengan promosi dari perusahaan transportasi😛. Biaya selama di tujuan pun sebenarnya nggak sedikit, tapi tinggal kita mau ke mana aja dan gimana tidurnya, mau ala backpacker atau anggota DPR.. upss! Hihi. Ndilalah bulan Mei 2012 saya dibolehin Allah nikah dan suamiku mau bersama menemaniku mewujudkan niat ini (co cwitt..), jadi hanya berselang beberapa hari setelah wedding, perburuan tiket murah langsung kami eksekusi yang akhirnya terhenti pada promosi Air Asia seharga ¥20918 buat pulang-pergi dua orang!!! Lumayan.. banget. Maskapai LCC (Low Cost Carrier) memang baru aktif di Jepang tahun lalu bersamaan dengan dibukanya bandara LCC pertama di Naha, jadi semuanya (Peach, Air Asia, Jetstar) masih gencar bikin promosi untuk penerbangan domestik. Yang sulit adalah mengepaskan masa promosi dan jadwal liburan, tapi kalo pesannya jauh-jauh hari sebelumnya seperti kami, masih banyak waktu untuk berpikir, misalnya merencanakan cuti dan menargetkan kerjaan beres sebelum itu. Yes, that was we did!

Day 1 (21 Sept 2012)

Sisi nggak enaknya naik pesawat murah itu jam berangkat atau sampainya ‘luar biasa’, kalo nggak pagi sekali ya sangat malam. Pagi itu kami harus naik kereta pertama, pukul 05.02, karena pesawat berangkat pukul 07.30 dari Narita Airport yang sekitar 2-3 jam dari rumah door to door. Kami pilih naik bus YCAT dari Yokohama-eki (eki = stasiun) karena kalo full naik kereta jelas tidak terkejar. Bus ini sangat bisa diandalkan, jalur yang diambilnya memotong, jadi cuma 85 menit udah sampai bandara. Lucky us, YCAT lagi promosi juga! Penumpang di bawah 25 tahun dapat 1/2 harga, jadi berdua cuma ¥4000. Alhamdulillah🙂. Singkat cerita, jam sembilan kurang udah bisa foto-foto di Shin-Chitose Airport.

"Welcome to Hokkaido" tapi pose tetap Indonesia style

“Welcome to Hokkaido” tapi pose tetap Indonesia style

Bandara utama di Hokkaido ini nge-“mall” banget. Lebih semarak toko-tokonya dibandingkan Narita. Pemerintahnya benar-benar berhasil menghadirkan aura “Hokkaido sebagai tujuan liburan” sejak turis menginjakkan kaki pertama kalinya di bandara. Bukan karena kami datang terlalu pagi kalo saya nggak lihat orang sebanyak di kota mana pun selain Tokyo yang pernah saya kunjungi, melainkan kepadatan penduduk di sini emang paling rendah di Jepang (60-an orang per km2). Hokkaido bisa dibilang banyak desanya lah daripada kotanya, jadi kalo nggak ikut tur dari agen perjalanan kaya gini, harus siap menghadapi tantangan kereta dan bus yang sedikit dan jarang. Yihaaa, selamat berpetualang deh pokoknya. Inilah gunanya itinerary dibuat.. dan ditaati! Biar nggak terlena sama waktu dan menyesal kemudian.

Tujuan pertama kami adalah looking around isi bandara yang kodenya CTS ini. Sebenarnya banyak arena menarik di sini, tapi kalo masih pagi di bawah pukul 10.00 belum semuanya buka. Huhuhu. Kalo Anda ke sini, langsung aja menuju Smile Road. Ada rumah coklat Royce Chocolate World yang terkenal di sini. Konon, ke Hokkaido belum lengkap kalo belum belanja jajanan bermerek Royce dan Shiroi Koibito. Hati-hati aja sama komposisinya karena muslim punya pantangan. Nggak jauh dari Smile Road, ada Doraemon Wakuwaku Skypark. Baiknya ke sana kalo punya anak kecil aja sih atau kalo Anda belum pernah ke Museum Fujiko Fujio😮.

Royce Chocolate World dan toko coklat didepannya. Belum dibuka nih, lagi dibersihin petugas :D Ohya, di dalamnya nggak boleh foto-foto.

Royce Chocolate World dan toko coklat didepannya. Belum dibuka nih, lagi dibersihin petugas😀 Ohya, di dalamnya rumah coklat nggak boleh foto-foto.

Berhubung mengejar tiga spot di Furano, tujuan kedua kami, eksplorasi bandara ditunda ke hari terakhir, nanti saat akan pulang ke Tokyo. Kenapa ke Furano? karena di sana ada pengalaman langka yang bisa didapat, yaitu:

  • berkunjung ke pabrik keju dan praktek bikin keju sendiri
  • ke peternakan kuda dan menunggang kuda
  • naik balon udara

Seru, kan? Kalo Anda pernah belajar bahasa Jepang dari buku “Minna no Nihongo”, mungkin masih ingat ada satu bab yang berulang kali mengasosiasikan Hokkaido dengan kuda karena ada dialog tentang itu. Bisa dibilang saya adalah salah satu ‘korban’nya karena sejak belajar di bab itu chemistry saya dengan Hokkaido langsung muncul. Hihihi. Untuk ke Furano, kami ke Sapporo-eki dulu karena busnya dari sana. Koper kami simpan di loker yang tiap bloknya ditandakan dengan gambar binatang berbeda-beda. Kawaii! Meskipun lucu-lucu, cara mengunci loker ini ternyata agak nyeleneh dan sukses bikin bingung. Lupa gimana detilnya, yang jelas kita pegangnya kertas, bukan kunci.

Selama di Hokkaido, semua kereta yang kami naiki punya kursi kaya bus, nggak ada kursi gandeng kaya angkot. Mungkin karena penduduknya sedikit ya bisa kaya gitu. Yang keren, tidak seperti kereta-kereta ibukota, ada tempat sampah disediakan di dekat pintu.

hokkaido-trip-sapporo-eki

suvenir serba ungu di Furano, diambil dari warna bunga lavender

Begitu tiba di Furano, sensasi countryside kaya kampung halamannya Toru di film Tokyo Tower langsung menyergap. Nggak kelihatan kaya daerah tujuan turis, tapi saya seketika terkesan dengan warna ungu yang di mana-mana. Ternyata daerah ini terkenal dengan lavender-nya. Eh, bunga secara umum juga ding soalnya di sini banyak lahan pembibitan bunga. Kalo mau lihat, jangan lupa cek dulu jadwal-jadwal mekarnya bunga yang ingin dilihat ya! Anyway, meskipun terlihat desa, pusat informasi turis tetap ada dong di dekat stasiun. Referensinya lengkap! Setelah ambil beberapa brosur, kami menyewa sepeda dan mencari makan siang. Ohya, seperti yang udah saya singgung di atas, kalo ke Hokkaido tanpa ikut tur berarti bersiaplah mikirin transportasi dari A sampai Z sendiri. Pilihan ideal sih menyewa mobil, tapi kalo cuma berdua ya mending public transport aja lah, lagipula tak punya SIM juga😆. Mau berhemat? Pakai sepeda kaya saya dan selamat berjuang menaklukkan jalanan yang naik turun di daerah antah berantah ini. Hahaha.

hokkaido-trip-furano

snapshots di Furano, mulai tourist information center sampai jembatan icon-nya

Tarik, Maaang!

Tarik, Maaang!

Setelah menggenjot sepanjang 3,4 km selama 1/2 jam (cek estimasi waktu dan jaraknya di sini), tiba juga kami di pabrik keju. Ah, indah sekali pemandangan di kanan kiri kami selama perjalanan itu.. perpaduan sawah, gunung, dan rumah-rumah klasik. Saya juga sempat curi-curi lihat pabrik bawang bombay yang bikin saya bengong. Excited sekali lihat gudang super besar yang isinya berpuluh-puluh kotak besi penuh bawang bombay. Rupanya persawahan dan gudang bawang bombay itu masih berlanjut setelah tempat saya ngintip tadi. Balik lagi soal cheese factory.. dari jalan besar, kami harus belok kanan menaiki tanjakan yang sangat tajam untuk mencapai pabrik. Sampai sini kaki udah nggak sanggup, jadi kami tuntun aja sepedanya😀. Ada pasangan turis bersepeda lain bareng kami juga, bedanya karena mereka bawa sepeda gunung, mereka bisa tetap naik sepedanya, udah terlatih juga sih kayanya >_<

Butter making experience

Di tengah hutan-hutanan itu, tampaklah tulisan chi-zu koubou (chi-zu = cheese, koubou = studio) yang dari namanya aja bisa ditebak ini emang bukan pabrik betulan skala industri gitu, tapi cuma ‘pabrik-pabrikan’ untuk memfasilitasi pengunjung belajar tentang pembuatan keju dan teman-temannya seperti butter dan ice cream. Ada juga pilihan untuk praktik bikin pizza dan roti di gedung lain dalam area itu. Dari awal memang niat bikin keju, tapi ternyata perlu waktu sejam dan itu pun keju yang nggak perlu proses berhari-hari membuatnya dan hanya tahan seminggu. Kalo nggak salah, jenis yang dibuat di sini mascarphone cheese. Kami akhirnya memilih butter yang lebih cepat prosesnya. Lihat video ini sebagai gambaran cara bikinnya.

Perah, Neeeng! Berat lho, ciyusss..

Ohya, biaya courses di sini untuk butter/ice cream ¥680, sedangkan lainnya ¥850. Hasilnya boleh dibawa pulang, tapi pengalaman udah pasti lebih penting dari “oleh-oleh”, kan😛. Lucunya, di sini ada patung sapi yang bisa “dimainkan” kalo kita masukin koin ¥100. Recommended banget buat dicoba, terutama kalo Anda belum pernah merasakan memerah susu sapi. Gyuu gyuu gyuu gyu gyu! Jepang emang jagonya bikin simulasi. Bahan dan bentuk (maaf) payudara sapi itu dipikirkan sedemikian rupa sehingga tenaga yang kami keluarkan seperti memerah sapi beneran. Fiuh, saya jadi salut sama peternak sapi perah yang sehari-harinya ‘menambang’ susu. Wkwkwk. Area pabrik keju ini nyaman sekali untuk beristirahat. Halaman rumput didepannya luas dan bersih, jadi jangan sia-siakan untuk.. numpang salat! Hehe, maklum di desa, sejauh mata memandang, hamparan sawah, kebun, dan hutan yang mendominasi.. kagak ada mall yang biasa orang kota incar sebagai tempat salat.

Foto memori di depan pabrik keju. Papan namanya bikin feels like Holland, kan!

Foto memori di depan pabrik keju. Papan namanya bikin feel like Holland, kan!

Belum puas di pabrik keju, kami harus mengejar agenda berikutnya, yaitu menuju ke tempat joki. Saat itu udah hampir jam tiga sore, padahal kami juga harus tiba di tempat balon udara sebelum senja. Ya, atraksi balon udara tersebut memang dipaskan agar pengunjung bisa menikmati pemandangan sunset dari atas balon udara. Untuk menuju ke tempat naik kuda ini, kami harus mengayuh sepeda di atas jalan berkerikil besar (atau berbatu kecil? :razz:) yang lebarnya tidak seberapa dan diapit hutan di kanan kirinya. Disinilah saya pertama kalinya lihat tupai, di habitatnya pula. Seru!!! Sayang, nggak berhasil motret karena larinya.. eh manjat pohonnya cepat sekali. Sayangnya lagi, harapan untuk melihat kuda Hokkaido yang diceritakan di Minna no Nihongo secara langsung harus pupus karena mereka sedang tutup😥. Garuk-garuk tanah, deh.. untungnya kekecewaan itu terobati saat di perjalanan pulang kami menemukan kebun bunga matahari! Kebetulan rencana melihat hanabatake (sebutan untuk kebun bunga di Jepang) berulang kali gagal saat musim panas. FYI, di Jepang setiap musim panas biasanya perkebunan bunga matahari pada “open house”, jadi kita bisa jalan-jalan dan foto-foto di dalam kebun bunga matahari yang kadang bisa lebih tinggi dari manusia. Benar-benar bonus yang indah dari Allah, padahal untuk kunjungan ke Furano ini kami sengaja skip agenda ke hanabatake karena saat itu kebanyakan masih kuncup.

Kesempatan Bollywood-an, gan.. :mrgreen:

Kesempatan Bollywood-an, gan..:mrgreen:


Waktu kosong akibat gagalnya agenda berkuda kami manfaatkan untuk mampir ke shopping center di sekitar situ, namanya Furano Marche. “Marche” berasal dari bahasa Prancis yang artinya walking. Entahlah apa nyambungnya. Pas masuk sini, gubrak deh.. kebanyakan hasil tani atau kebun juga. Sasaran mereka mungkin turis-turis bermobil yang bisa memborong sayuran dan buah dalam kemasan besar-besar itu. Namun, produk-produk yang dijual di sana emang khas Furano dan tidak dijual di tempat lain. Kalo Anda ke Furano, disanalah tempat paling lengkap buat beli oleh-oleh, mulai suvenir, makanan jadi, bahan mentah, sampai bibit-bibit bunga ada.

Menjelang gelap, kami kembali ke stasiun untuk mengembalikan sepeda. Biaya sewa sepeda dihitung per jam (¥200/jam). Kenapa nggak naik sepeda juga ke tempat balon udaranya? karena lumayan jauh dan lebih pelosok lagi. Hihihi. Taksi-taksi di Hokkaido 40-50% lebih murah daripada taksi ibukota, jadi jangan khawatir bokek kalo terpaksa harus naik taksi. Singkat cerita, kami sampai di lokasi balon udara bersamaan dengan krunya. Hore, kesempatan langka nih bisa lihat step by step balon dikembangkan untuk mengudara. Entah mereka molor atau emang nggak pas-pas banget sama sunset, ujung-ujungnya sih kami naik saat langit sudah mulai menghitam. Hahaha. Naik balon udara ternyata jauh dari keriangan yang dikesankan dari lagunya mbak Sherina. Yang ada, saya lebih banyak takutnya! Oke, sebut aja saya norak atau apa lah, tapi saya emang takut ketinggian😦. Meskipun demikian, atraksi ini insyaallah aman dan patut Anda coba karena balonnya nggak dilepas sama sekali. Masih ada tali yang dikaitkan ke tanah dan penumpang hanya lima menit di atas. Jumlah penumpangnya pun dibatasi hanya enam orang beserta seorang kru. Selain ketinggian, saya sebenarnya juga takut dengan tabung gas dan api di atas kepala kami yang berfungsi untuk mengembangkan balon, yang.. bisa aja meledak setiap saat! Oh, rupanya begitulah cara kerja balon udara. Sebelumnya, saya nggak terbayang sebesar itu resikonya.

Terbang dengan balon udaraku

Terbang dengan balon udaraku


Kesimpulannya, banyak ‘kegagalan’ rupanya agenda di Furano ini. Mulai dari bikin keju yang berubah jadi bikin butter, berkuda yang diganti lihat hanabatake dan shopping, sampai melewati sunset di bawah balon udara (seharusnya di atas alias pas naik balon). Akan tetapi oh akan tetapi, berhubung judulnya “honeymoon”, bagi saya nggak ada alasan buat mengabaikan semangat “enjoy aja”, apalagi banyaaak banget pelajaran berharga yang saya dapat dari setiap agenda kami. Ingin rasanya saya lanjutkan cerita ke hari berikutnya, tapi semakin panjang tulisan konsekuensinya semakin banyak foto dan semakin lama loading selesai😀. Hihihi. Well, saya sambung di tulisan selanjutnya ya..
Furano-eki (富良野駅)

Furano-eki (富良野駅)


Thanks for reading!
—–
* Halo! Sudah lama (tak berjumpa) ya, teman-teman🙂 #Japanese

signature

Leave a comment

13 Comments

  1. Wah, klo mau main ke Hokkaido mesti nanya-nanya nih sama Ega:)

    Reply
    • boleh banget, mbak Fety.. kalo bisa ntar takbantu kasih referensi. insyaallah referensinya masih ada, walaupun saya sendiri nggak bisa ngalamin semuanya, hihihi.

      Reply
  2. Reblogged this on EGA ♥ AISAR and commented:

    “Bulan madu” pertama di Jepang.. hehehe

    Reply
  3. yang terpenting kita berusaha yg terbaik, pasti akan jadi lebih baik semuanya

    Reply
  4. titi

     /  April 10, 2013

    Jadi inget waktu aku di Toki shi, Tajima Japan

    Reply
  5. Sha

     /  October 24, 2014

    Salam.

    Saya dari Malaysia, sedang carian info untuk ke Furano, makanya udah jumpa blog ini. Bisa nga’ share info lokasi bikin butter nya?

    Iya, mau nanya jugak, makanan apa yang bisa dimakan? Jika ada makanan atau restaurant yang bisa saya kunjungi ketika di Furano. Muslim biasanya, agak susah mau cari makanan.🙂

    Saya nunggu reply ya! Makasih.

    Reply
    • Salam, Sha. Lokasinya di sini: http://www.furano-cheese.jp, stasiunnya Furano. Dari stasiun ke lokasi cuma bisa naik taksi / nyewa sepeda kaya saya. Di Furano, sayang sekali kami susah cari makanan yg meyakinkan.. udah muter-muter nggak nemu juga, akhirnya makan soba pas balik ke stasiun (bisa dilihat di foto) yang rasanya standar banget😛

      Reply
  6. Hai, Ega! nanya referensi tempat makan yang halal donk di furano, tokyo, osaka😀

    Reply
  7. Reblogged this on kuclucktoshare.

    Reply
  8. Wida

     /  March 4, 2016

    Hi Ega! Mau tanya.. Naik balon udaranya di Furano di area mana? Nama tempatnya apa?

    Reply
    • Hai, Wida! Maaf telat bales.. waduh, saya juga lupa, tapi rasanya cuma ada satu tempat di Furano deh untuk servis ini.

      Reply
  9. dhekadana

     /  August 23, 2016

    saya dari indonesia, numpang nanya kalo dari hokkaido ke tokyo bisa naik kereta?soalnya manfaatin jrpass. terima kasih.

    Reply
    • bisa2 aja, tapi kalo pake JR Pass jadi lebih lama waktu tempuhnya karena kereta yg bisa dinaiki terbatas. Coba cek website Jorudan buat cari keretanya apa, cuma harus tahu nama stasiun asal dan tujuannya (cek di Google Map). Misal perginya dari stasiun Hokkaido ke stasiun Tokyo.

      Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: