Teori Marketing vs Syariat Islam


    Entah mimpi apa saya malam itu, tapi tiba-tiba ada pertanyaan “berat” lagi dari teman. Setelah tips masak tanpa MSG lahir dari hasil chatting di FB, inilah tulisan lain yang berasal dari ‘kesibukan’ serupa😀. Berhubung lagi malas riset tentang topiknya, langsung aja percakapannya saya salin di sini, kecuali EYD-nya saya betulkan.

    Pertanyaan teman:

    Saya tahu jawabannya bisa di dapat di Quran, tapi saya lagi butuh jawaban cepet, dan saya emang belum selesai baca Quran, karena tiap ayat musti mikir, jadi lama. Jadi, saya baru kali ini baca-baca tentang marketing, dan saya baru tau, ternyata ada banyak teori, dan beberapa adalah teori yang menyebutkan hal-hal seperti:

    – amati gerak-gerik pesaing -> matikan lawan
    – analisa kelemahan pemimpin -> serang
    – tunggu lawan lengah, tusuk dari belakang, lalu lari

    OK, jadi, apakah teori-teori tersebut bisa diterapkan oleh seorang Muslim? (maksud saya, kayak kita mau bilang, “apa hak orang mematikan orang lain? sebenarnya apa tujuan dia menang? untuk apa dia menang dengan membunuh yang lain? apakah ‘pihak’ yang menjadi tujuan kemenangannya itu, mengharuskan dia untuk membunuh orang lain dulu untuk kemudian menang, dan semakin dekat dengan ‘pujaannya’ (tujuan kemenangannya) itu?”)

    OK, untuk mempersingkat intinya saya pengen tanya beberapa hal:
    1) Apakah seorang muslim bisa menerapkan setiap teori yang ada di buku marketing?
    2) Karena buku marketing dijual bebas, maka bagaimana sikap seorang muslim dalam menghadapi orang yang menerapkan hukum-hukum di buku marketing?
    3) “Berlomba-lombalah dalam kebaikan”, what is that mean?
    4) Apa pendapat Ega tentang zuhud?

    Terimakasih. Terimakasih. Terimakasih.

    Maaf kalo sempat aja.  Thank you Ega.

    Jawaban cupu saya (definitely will update it later after the deeper learning >_<)

    Hihi, ***** nih kritis amat sih.. nanyanya ke aku yang bukan pakar, pula! Hati-hati ntar sesat nggak dijamin ya😛. Ini kayanya kalo aku jawab pertanyaan-pertanyaanmu bisa jadi tulisan blog sendiri🙂.

    Sekedar komentarku…

    TENTANG TEORI
    Pertama, semua orang bisa bikin teori, termasuk teori marketing. Aku nggak terlalu paham sama yang kamu maksud, tapi teori-teori itu pasti cuma dari sumber tertentu, kan? nggak semua pakar punya pendapat yang sama, jadi nggak bisa digeneralisir “teori marketing” sejalan atau nggak sama syariat alias aturan Allah dalam hubungan vertikal (habluminallah), diagonal (habluminalam), dan horisontal (habluminannas). Eh, ngomong-ngomong, yang dikasih tanda panah itu (matikan lawan, serang, dsb.) interpretasi kamu sendiri atau gimana?

    Bersaing dalam perdagangan itu nggak dilarang syariat, asalkan jujur, sudah. Barang jelek jangan dijual terlalu tinggi dan dibilang bagus, ada cacat jangan ditutupi, dsb. Itu kan yang dicontohkan Rasulullah SAW. Harus transparansi dengan kualitas barang ke pembeli.

    “Ada tiga orang yang kepadanya Allah tidak akan berbicara pada Hari Kebangkitan, kearahnya Allah tidak akan melihat, yang tidak Allah sucikan dan mereka mendapat azab yg pedih” | “Siapakah mereka?” | “Seorang dari mereka adalah orang yang menghasilkan penjualan dengan cepat dari suatu barang dengan sumpah palsu” (HR. Muslim)

    “Para pedagang pada Hari Kebangkitan akan dibangkitkan sebagai pelaku kejahatan, kecuali mereka yang bertakwa, jujur, dan selalu berkata benar.”

    Kedua, analisis kelemahan pemimpin juga dibolehkan, makanya demo itu dibolehkan untuk mengingatkan pemimpin kembali ke jalan yang benar atau memberi masukan perubahan ke arah yang lebih baik, tapi tentunya dengan cara yang benar, misalnya tidak merusak alam dan tidak menzalimi orang lain.

    Poin ketiga aku nggak ngerti maksudmu (yang “tusuk-tusukan” dan seterusnya itu serem amat.. culas gitu kesannya, haha), yang jelas monopoli itu dilarang. Jadi kalo pun kita bersaing, kita masih punya batasan bahwa kita nggak boleh mematikan usaha saingan-saingan kita demi bisa memonopoli. Beda ya dengan monopoli karena emang belum ada pihak lain yang mampu jual barang/servis kaya kita atau hajat hidup orang banyak yang harus dikelola negara (halah, kaya UUD aja).

    “Barang siapa melakukan monopoli, maka dia seorang pendosa” (ini ada di buku Ensiklopedi Muhammad tapi sumbernya cuma ditulis angka yang kayanya mengacu ke sisipan indeks gitu dan nggak kebawa ke Jepang >_<)

    JAWABAN PER POIN PERTANYAAN

    Lanjutan, langsung jawaban ke poin:

    1) Apakah seorang muslim bisa menerapkan setiap teori yang ada di buku marketing?
    Jawaban: Tentu tidak. Panduan kita cuma quran dan hadis, jadi selama teori atau hukum yang dibuat manusia nggak bertentangan dengan keduanya, kita bisa ikuti, dan sebaliknya. Yang perlu diingat, panduan quran hadis itu bukan berarti kita baca doang ayat atau hadisnya terus ditelan mentah-mentah, tapi harus baca tafsirnya atau kalo mau gampang ya ikutin aja kesimpulan-kesimpulan yang udah dirumuskan para ulama. Tinggal baca buku-buku fikih. Mereka kan landasannya quran hadis juga dan udah ada ijtihad untuk hal-hal serupa yang tidak secara langsung tersebut di quran hadis

    2) Karena buku marketing dijual bebas, maka bagaimana sikap seorang muslim dalam menghadapi orang yang menerapkan hukum-hukum di buku marketing?
    Jawaban: Sikapnya idem kaya poin 1, makanya belajar Islam itu penting

    3) “Berlomba-lombalah dalam kebaikan”, what is that mean?
    Jawaban: Gampang aja, maksudnya berlomba untuk paling banyak dan paling cepat berbuat baik dengan orang lain (bukan cuma sesama muslim, tapi semuanya)

    4) Apa pendapat Ega tentang zuhud?
    Jawaban: Zuhud itu sikap tidak cinta dunia, tapi menurutku bukan berarti tidak berusaha mencapai prestasi di dunia. Allah justru suka orang yang kerja keras, Rasulullah SAW juga bukan orang yang sembarangan dalam bekerja, prestasi beliau dan para sahabat di dunia nggak main-main. Contoh zuhud yang nggak bener: (1) orang dagang, tapi pasrah doang biar dagangannya laku, cuma nunggu pembeli datang, nggak jemput bola, nggak promosi, nggak bikin inovasi, dsb.; (2) mahasiswa aktivis yang gencar banget dakwah, tapi dia cuek sama prestasi akademisnya, nggak usaha lebih keras buat memperbaiki nilai, dsb. Zuhud paling mudah digambarkan dengan nasihat (entah dari hadis atau apa) terkenal ini: “Letakkan dunia di tanganmu, bukan di hatimu”.

    Mudah-mudahan bisa menangkap pendapatku, hehe. Mohon maaf lahir batin kalo tidak memuaskan.

    Wallahu’alam bish shawwab.
    Image

     

    Leave a comment

    2 Comments

    1. aset yang paling berharga dalam diri kita adalah karakter kita

      Reply
    2. Thanks! info yang sangat menarik..

      Reply

    Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s

    %d bloggers like this: