Mem-blog-kan Catatan di Sosial Media


Is it time to “reblog” your posts on social media instead of vice versa? 😛

Sekarang memang dunia serba terbalik. Kalo dulu orang merilis tulisan di blog untuk kemudian dibagikan ke Facebook (FB) atau media lainnya, kini kita sampai di zaman saat orang lebih suka posting ke FB duluan sebelum akhirnya ditulis ulang di blog atau kalau Twitter, biasanya tweets bersambung itu dijadikan satu blogpost dengan bantuan aplikasi chirp 😀. Saya sendiri entah kenapa belakangan sering menulis status atau caption foto yang panjang-panjang di FB, padahal menulis blog aja jadi basbang* berkali-kali. Rasanya lebih natural aja menulis lapanta** di FB disertai dengan foto-foto terkait, mengeset waktu dan lokasi, dan bisa men-tag orang lain pula.. one-stop self-expressing banget kan? Hehehe. Don’t you feel the same?

Selain itu, bagi saya, tidak ada rasa bersalah jika tulisan yang saya keluarkan di FB itu bersifat suka-suka, tanpa riset, tanpa rambu-rambu, tanpa berpikir diksi, dan seterusnya. Berbeda dengan ketika saya menulis di blog. Sejak awal, saya sebenarnya cukup idealis untuk membuat tulisan berbobot di blog yang tidak sekedar cerita pengalaman dengan gaya bahasa diary. Sesederhana apa pun kejadian atau pemikiran yang saya tulis, saya selalu mencoba mengaitkannya dengan informasi yang tersimpan di otak atau yang baru dicari. Pokoknya, prinsip saya, harus ada ‘nilai’ yang diberikan ke setiap tulisan, entah itu dengan mengutip berita terkini, menyarikan statemen pakar, menyampaikan hasil riset, mengacu ke Alquran/Hadis, membagi ilmu bermanfaat dari acara TV (di Jepang bagus-bagus lho programnya :smile:), dan lain sebagainya. Namun, pada kenyataannya, ternyata masih susah memaksa diri untuk rutin memproduksi tulisan serius nan santai semacam itu *alasan*😮.

Ohya, ada satu faktor lain yang ‘mengekang’ saya menulis bebas lepas di blog, yakni kecintaan saya terhadap seni berbahasa dan tata cara penulisan ala bahasa terkait, misalnya kalo bahasa Indonesia aturannya pakai EYD. Saya ini paling nggak bisa lihat tulisan yang subyek predikatnya nggak jelas, punya kalimat majemuk tanpa konjungsi, pakai imbuhan yang salah, dan sebagainya. Udah mendarah daging, makanya ketika menulis pun, jadi hati-hati banget😎. Ada sedikit cerita yang saya tuangkan di sini. Saya ingat betul beberapa penulis, yang pernah saya dengar atau baca langsung tipsnya, punya resep menulis serupa, yaitu tulis saja, mengalir apa adanya, jangan pedulikan nanti gimana respon pembaca, nanti gimana kalo salah, dan kecemasan-kecemasan lainnya. Nah, itulah yang saya rasakan ketika menulis di FB. Saya tidak merasa seperti “menulis’ yang sesungguhnya sebagaimana saat menghadapi tampilan Wordpress ini sehingga kata-kata saya bisa mengalir lancar tanpa banyak berpikir. Di Twitter lebih mudah lagi karena saya jadi bisa memotong-motong kalimat seenaknya. Bukankah yang sulit dari menulis diantaranya adalah merangkai kalimat demi kalimat dan membentuk plotnya?🙄

So, what more reason can I say? AudienceYes, we need audience to get feedback! Let’s say.. good input, answers, experience sharing, even attention.

Dari mana kita dapat semua itu? Kalo dulu, zaman blog baru booming, sekitar tahun 2006-2007, masih banyak teman saya yang asik ber-blog ria dan saling mengunjungi. Seru sekali kalo baca diskusi kami di blog pada masa-masa itu. Biar gimana pun, tulisan di blog yang pembahasannya lebih detil sebenarnya lebih mengasyikkan untuk dikomentari ketimbang tulisan pendek di FB. Namun, kembali lagi ke tren tadi.. sekarang, teman-teman saya berkumpulnya ya di FB dan kawan-kawannya, jadi lebih cepat mendapat respon jika beropini lewat sana😛. Memang ini nggak bisa dipukul rata di semua negara, tapi paling tidak orang Indonesia, sebagai pengguna FB terbesar keempat di dunia, punya alasan itu.

Anything else? Well, don’t forget the adage “a picture can say a thousand words“.

FB dan media sosial lainnya rata-rata menonjolkan sisi vision-nya. Ini era multimedia, man.. ini juga zaman ketika Apple telah merubah persepsi dunia tentang interface. Teks belakangan, yang penting foto, gambar, atau video dulu. Instagram aja ada yang dipakai blogging kok sama orang, entah lewat teks di foto atau di caption-nya😀. Mereka pun terus berimprovisasi menciptakan ‘wajah’ yang kira-kira disukai pengguna. FB, misalnya, beberapa kali mengubah layout foto yang baru saja dipublikasikan. Yang dulunya hanya bisa memilih upload photo atau update status, kini penggunanya bisa menulis status disertai beberapa foto sekaligus (lihat contoh screenshot di bawah)

facebook status multiphotos

Nah, wajar kan kalo pola pikir orang jadi terbalik seperti yang saya sampaikan di awal? Paradigma orang di masa mendatang bisa jadi bergeser bukan blog ke social media, melainkan social media ke blogBuat para developer, siap-siap aja nih karena kebutuhan aplikasi yang memfasilitasi fungsi itu bakal dicari-cari kedepannya. Sekarang masih sulit lho cari aplikasi yang bisa embed FB post ke blog (isu privasi FB juga sih :cry:) atau program keren untuk automatic post dari satu account ke account lain seperti *FT** (rahasia ah, ntar pada ikut-ikutan pakai, lagi :lol:).

sign

———————————————————————
*basbang: singkatan dari “basi banget”
**lapanta: singkatan dari “laporan pandangan mata”

Leave a comment

11 Comments

  1. Kalo posting di socmed berasa gampang kak. Aplgi smnjak ada mobile app-nya :p

    Reply
    • Betul, betul, betul.. lupa menyinggung soal mobil-mobilan😛 Mobile app-nya blog belum maju soalnya ya, Bhell.. masih bikin malas posting. Hehehe.

      Reply
  2. Artikel yang membangun kesadaran akan menulis, salut d untuk EYD…salam kenal

    Reply
  3. Artikel yang membangun kesadaran akan menulis, salut d untuk EYD…salam kenal

    Reply
  4. lutfianasari

     /  May 22, 2013

    Ga, cmiiw😛
    ‘blog’ karena dia hanya terdiri dari 1 suku kata, nulisnya apa bukan jadi: menge-blog ?
    soalnya, misalnya kata ‘bom’, sesuai eyd seinget pelajaran bhs indonesia sma, jadi mengebom, hihi~
    *gatau pasti, cm berdasarkan ingatan awang2😛

    Reply
    • Betul, Lutepi.. kalo satu suku kata untuk mengubah kata benda ke kata kerja, dibutuhkan imbuhan “menge~”, tapi istilah “mem-blog-kan” yg kupake di judul ini artinya “memasukkan ke blog” atau “menjadikan dia masuk blog” kaya memolisikan, merumahkan, dsb. bukan menge-blog yg artinya “melakukan kegiatan blogging” hehehe. Semoga bisa dimengerti ya ^_^

      Reply
      • lutfianasari

         /  May 22, 2013

        oh gitu ta karepmu.. haha😀
        iya makasih dibales pisan di sini, pdhl baca juga ng facebook, ehehe😛

        Reply
  5. Menurutku microbloging itu bukan menulis, ahaha.. Microbloging itu cuma mengetikkan percakapan.. Apa yang pengen diucapin, langsung aja diketik😛
    Kalau boleh jujur ya, aku penentang kultwit. Males sih baca tulisan serius bersambung di twitter, ngebacanya kebalik pula. Kalau udah niat bikin tulisan panjang, mending sekalian nulis artikel, linknya ditaruh di twitter. I love the old style😀

    Reply
    • accidentally, ngelike comment sendiri.. orz

      Reply
      • haha, Restya my pal.. iya aku inget kok dirimu antikultwit.. ancen meksa sih, aku yo males ngikutin kultwit, mending nungguin rangkumannya di blog orang😛 masih inget ga ada blogger yg nulis ttg Jokowi dan Ahok pas 100 hari kerjanya dari tweets jurnalis MetroTV? nah, yg kaya gitu itu asik buat dibaca.. bahasanya udah bahasa blog, nggak sekedar copy-paste kaya chirps ustaz-ustaz yg kadang dimuat di situs PK*😆

        Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: