[Diary Haji] Hari #1 – Talbiyah Pertama


Senin, 7 Oktober 2013 (2 Dzulhijjah 1434H)
Pendahuluan: [Road to Hajj] Misi Besar 2013: Haji

Alhamdulillah, hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. ワクワクしたんだ!(deg-degan deh..)🙂. Rasa deg-degan ini terasa sejak hari berganti, saat tengah malam itu kami belum bisa tidur juga karena masih packing. Saya teringat pesan seorang senior yang juga haji dari Jepang beberapa tahun silam bahwa yang namanya berangkat haji itu bagaikan pergi berjihad (lebih spesifiknya: berperang) karena mungkin kita tak kembali lagi. Cerita beliau yang disapa “Assalamu’alaykum” oleh suara misterius di stasiun juga terlintas lagi di benak saya. Akankah kami mendapatkan pengalaman ‘spriritual’ serupa? jujur, meskipun sedikit bergidik, saya ingin mengalaminya lho.. sepertinya dianggap spesial sekali andai dibegitukan sama Allah, begitu pikir saya waktu itu, bahkan selama haji juga masih selalu menanti-nanti. Okelah, itu cerita nanti saja.. sekarang mari kita berangkat ke bandara dulu! 行きましょう。。


Seperti biasa, bukan #ea5512 namanya kalo berangkat tidak giri-giri alias mepet-mepet:mrgreen:. Dari rencana awal habis Duhur langsung berangkat, kami baru keluar rumah jam 1-an siang. Di Yokohama yang hanya berjarak satu stasiun dengan kereta limited express dari rumah kami, seperti biasa pula, kami naik bus YCAT langganan. Kalo mau lebih cepat sampai bandara Narita, Tokyo, bus ini emang recommended banget karena tinggal tidur dan beres, tanpa harus gonta-ganti kereta (norikae). Jalur yang diambil pun ‘jalan tikus’, makanya bisa dijamin 80 menit sampai. Begitu bus bergerak, langsung terngiang-ngiang kalimat talbiyah dari video-video yang kami tonton menjelang hari keberangkatan itu… subhanallah, udah kerasa aura hajinya.

Labbaik allahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik, innal hamda wa ni’mata, laka wal mulk laa syariikalak

Saya lantunkan kalimat talbiyah itu pelan-pelan sambil mengingat gambaran ritual-ritual haji dalam video itu. Sempat khawatir juga dengan nasib saya di tanah suci nanti ketika teringat masa-masa berantem dengan suami selama ini, bahkan saat di bus pun masih ada saja cekcok. Memang yang namanya setan itu selalu berusaha menghancurkan kerukunan suami istri. Ada aja yang bikin salah satu tersulut emosi. Syukurlah, seperti biasa kami mudah untuk akur lagi. Tumben juga nggak ada yang tidur.. mungkin karena ada rasa tegang juga😉. Sepanjang jalan saya sibuk baca-baca kosakata sederhana dalam bahasa Arab juga. Lumayan buat belanja (lho??? awas jangan melenceng niatnya :razz:)

Di Narita, pukul 15.30 JST, antrian di depan counter Korean Air, airline yang akan kami naiki, sudah mengular, tapi kebanyakan mata-mata sipit dan bekas operasi plastik gitu.. eh, nggak ding😛. Pada ke mana yak rombongan kami? Kayanya sih mereka udah pada beres check in soalnya kami aja kebagian kursi sisa. Nggak bisa milih yang berdua dekat jendela, tapi berempat di tengah. Ya sudahlah.. Sambil menunggu boarding, kami berkeliling mencari “teman” sambil cari makan. Sebenarnya udah makan sih, tapi ngebayangin mau pergi dua minggu kayanya bakal kangen deh sama masakan Jepang.. jadinya pilihan kami jatuh ke soba (mie Jepang abu-abu)! Hehehe. Teh sobacha-nya juga entah kenapa terasa nikmat sekali… Oh!!!

Hati-hati dengan Bagasi

Nah, perkara bagasi ini penting diingat untuk teman-teman yang mau berhaji. Saat briefing terakhir, kami dipesan agar siap mental kalo bagasi kita hilang atau nyasar entah ke mana karena banyak kasus lalu semacam itu yang akhirnya koper / tasnya tidak bisa ditemukan lagi saking sudah sulitnya dilacak. Kalo pun kita minta pertanggungjawaban ke bandaranya, kita mungkin akan disuruh masuk ke gudang lost and found-nya di mana di situ tumpukan barang sudah menggunung dan membuat kita malas untuk mencari. Rada lebay deh suami saya pas niruin kata-kata dan ekspresinya orang agen saat cerita tentang itu.. Yah, pokoknya intinya mah kita harus rela kalo bagasi kita nggak ketemu pas di bandara Jeddah. Terus, gimana dong? Akhirnya saya ngikut saran suami agar dalam mengatur barang bawaan bukan lagi memisahkan berdasarkan kepemilikannya, melainkan tergantung tingkat kepentingannya. Waduh, susah dong! Emberr.. lebih ribet sih, tapi benar juga dipikir-pikir. Jadilah koper yang kami masukkan bagasi hanya satu, berisi barang-barang yang sekiranya kalau hilang bisa dibeli lagi di lokasi, sedangkan koper yang berisi barang-barang utama seperti perlengkapan ihram, kami bawa ke kabin.

Ready to go! Bawaan kami cukup simpel: 1 tas ransel untuk tiap orang, 1 koper ukuran kabin berisi barang-barang penting, dan 1 koper besar di bagasi berisi barang-barang yang "ikhlas jika hilang" :razz:

Ready to go! Bawaan kami cukup simpel: 1 tas ransel untuk tiap orang, 1 koper kecil dibawa ke kabin berisi barang-barang penting, dan 1 koper besar disimpan di bagasi berisi barang-barang yang “ikhlas jika hilang”😛 Di kedua koper kami tempel stiker berisi alamat maktab di Mekkah (kanan atas)

 

Salah Lihat Jam Berangkat

Makan soba semangkuk besar lumayan makan waktu juga. Pukul 16.30, kami menuju boarding gate. Di kepala suami saat itu, pesawat akan berangkat jam setengah enam. Perasaan saya sih di tiketnya tertulis jam lima, tapi nggak pede mau ngeyel karena seringnya ingatan saya yang payah😦. Begitu duduk di pesawat, kaget bener dah nggak sampai sepuluh menit udah take off. Ternyata jadwal terbangnya emang pukul 17.00! Gubraks.. anehnya, nama kami nggak dihalo-halo tuh. Hmm.. ya Allah, syukurlah nggak ketinggalan pesawat.

Foto dulu sebelum berangkat, mumpung background-nya bagus :P (Location: Close to S2 Gate / South Wing Departure Terminal 1, Narita Airport)

Foto dulu sebelum berangkat, mumpung background-nya bagus😛 (Location: Close to S2 Gate / South Wing Departure Terminal 1, Narita Airport)

 

Memperhatikan Batas Miqat

Bagi jemaah haji yang berniat tamattu’ (umrah dulu sebelum haji) seperti kebanyakan muslim zaman sekarang, hal pertama yang harus kita perhatikan begitu lepas landas adalah memperhatikan batas miqat.

Kita harus paham di mana miqat kita dan di mana kita akan mengucapkan niat ihram kita. Baiknya sih jangan asal ngikut ketua rombongan aja, tapi harus punya ilmunya. Ada lho soalnya anggota rombongan kami yang kain ihramnya malah disimpan di bagasi karena nggak ngerti harus ganti dalam perjalanan.

Benar tidaknya lokasi niat ihram kita menentukan sah tidaknya ibadah umrah kita (termasuk wajib umrah dan haji). Bagi jemaah yang lewat udara dari daerah timur dengan tujuan Mekkah seperti Indonesia dan Jepang, miqat berada di Qarn al-Manazil atau Dhat Irq (sebelum Jeddah). Rombongan kami kemarin memberi opsi berikut:

  1. Langsung berpakaian ihram dari rumah
  2. Ganti baju ihram di Korea, niat ihram di Riyadh
  3. Ganti baju dan niat ihram di Riyadh

Namun, jangan heran kalo di bandara Jeddah kita masih menemukan banyak jemaah yang belum ganti ke ihram.

Suasana transit di Korea.

Suasana transit di sekitar prayer room Incheon International Airport (ICN), Korea. Sebagian anggota rombongan kami mengawali ihram di sini meskipun masih ada satu kesempatan lagi, yaitu saat pesawat mengisi bahan bakar di Riyadh.

Kebanyakan dari rombongan kami memilih opsi yang kedua, mengikuti bapak pembimbing, termasuk kami. Untuk itu, kain ihram pria kami bawa ke kabin, sedangkan baju ihram wanita langsung dipakai dari rumah.

Kerjasama Pertama Agen dengan Maskapai

Agen haji kami, Mian International Travel, konon biasanya bekerja sama dengan Cathay Pacific (Hongkong) untuk membawa jemaahnya berumrah / berhaji. Namun, kali ini, mereka mencoba bekerjasama dengan Korean Air untuk rombongan haji dari Jepang (catatan: mereka juga membawa jemaah dari Hongkong dan tinggal di maktab yang sama seperti kami). Semua baik-baik saja, cuma saat pulang dengar-dengar agen harus melobi pihak maskapai agar dibolehkan membawa air zamzam di bagasi.

(Kiri) Korean Air lumayan juga lho pelayanannya buat perjalanan sepenting haji. "Moslem meal"-nya tasted good and complete, compared to China or Japanese airlines'. (Kanan) Paspor saya dan suami, sengaja dikasih sampul pakai warna ngejreng biar eye-catching saat dikumpulkan dan ditumpuk sama yang lain. Ini saran Papa dari manasik haji di Indonesia karena katanya ada kasus yang dibaginya sambil dilempar-lempar gitu saat pengembalian. Alhamdulillah, tidak ada kendala dengan disampul kaya gitu dan paspor saya tetap sehat wal afiat. Hoho.

(Kiri) Korean Air lumayan juga lho pelayanannya buat perjalanan sepenting haji. “Moslem meal”-nya tasted good and complete, compared to China or Japanese airlines‘😀 (Kanan) Paspor saya dan suami, sengaja dikasih sampul pakai warna ngejreng biar eye-catching saat dikumpulkan dan ditumpuk sama yang lain. Ini saran Papa dari manasik haji di Indonesia karena katanya ada kasus yang dibaginya sambil dilempar-lempar gitu saat pengembalian. Alhamdulillah, tidak ada kendala dengan disampul kaya gitu dan paspor saya tetap sehat wal afiat. Hoho.

 

Penerbangan Terlama dan Terjauh

Perjalanan haji ini mencatat penerbangan terlama dan terjauh bagi kami berdua sepanjang hidup (caila…).

Garis hijau di atas menunjukkan rute perjalanan haji kami secara garis besar. Nomornya menunjukkan urutan, jadi kami ke Mekkah dulu baru ke Madinah. (foto diambil dari layar pesawat)

Garis hijau di atas menunjukkan rute perjalanan haji kami secara garis besar. Nomornya menunjukkan urutan, jadi kami ke Mekkah dulu baru ke Madinah. (foto diambil dari layar pesawat)

Di dalam pesawat, kegiatan saya dan suami selain makan dan tidur adalah menghafalkan lagi doa-doa yang diperlukan sembari membaca-baca buku panduan haji. Acuan utama kami adalah buku “HAJI: Falsafah, Syariah, dan Rihlah – Meraih Haji Mabrur yang Cumlaude” karangan pak Asep Zaenal Ausop, koordinator kuliah Agama Islam di ITB yang sudah puluhan tahun jadi pembimbing jemaah haji dari Salman. Isi bukunya cukup rinci dan mudah dipahami, serta menyertakan opsi dari berbagai mazhab.

Kalimat talbiyah pun mulai saya ucapkan lagi pelan-pelan begitu pesawat bergerak dari Seoul menuju Riyadh. Kali ini hati mulai berdesir-desir.. ya Allah, selamatkan perjalanan kami.

…Wahai Allah, mudahkanlah perjalanan ini bagi kami dan dekatkanlah jaraknya bagi kami. Wahai Allah, Engkaulah teman dalam perjalanan dan pengawas bagi keluarga. Wahai Allah, aku berlindung dengan kebesaran-Mu dari kesulitan perjalanan, dari pemandangan yang mengerikan, dan dari bencana harta, keluarga, dan anak setelah kami..

Begitulah cuplikan doa dalam perjalanan yang diriwayatkan dalam kitab Shahih Muslim dan baru saya ketahui dari buku kumpulan doa untuk haji dan umrah itu. Masya Allah, begitu miskinnya ilmu yang kumiliki.. mudah-mudahan Engkau berkenan menambahkan ilmuku selama haji dan setelahnya.

Bersambung ke hari kedua:Selasa, 8 Oktober 2013 (3 Dzulhijjah 1434H)

Leave a comment

1 Comment

  1. [Diary Haji] Hari #2 – Ketika Mulai Diuji Kesabaran Yang Lebih | .:creativega:.

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: