[Diary Haji] Hari #2 – Ketika Mulai Diuji Kesabaran Yang Lebih


Selasa, 8 Oktober 2013 (3 Dzulhijjah 1434H)
Baca juga hari sebelumnya: [Diary Haji] Hari #1 – Talbiyah Pertama

Hari kedua ini mari kita mulai dengan jam kenol. Penantian sepuluh jam perjalanan, sebagaimana yang kami dengar dari pengumuman di pesawat, serasa sangat panjang.

Kaki sudah capek nekuk, mata sudah bosan merem, dan yang paling mengganggu apalagi kalau bukan “panggilan alam” yang ‘besar’ itu, campuran antara tegang dan kenyang😀

Beberapa kali saya lihat local time di monitor TV pesawat, tapi jamnya tidak bergeser-geser dari pukul 00 sekian menit meskipun sudah lebih sejam dari jam tangan saya yang masih menunjukkan jam Jepang. Sepertinya karena tiap negara yang dilewati punya local time yang beda-beda, waktu pun jadi seperti terhenti.

It’s Time for Ihram!

Mendekati Riyadh, suami beranjak ke toilet agar dapat memulai ihramnya. Eits, ada apa gerangan? Ohoho.. saat ganti dari pakaian biasa ke baju ihram di Seoul itu ternyata dia dan beberapa temannya belum menyisakan hanya dua lembar kain ihram di badannya! Anda tahu kan maksudnya? Hihihi.. Suami curi start ke toilet sebelum pesawat berhenti di King Khalid International Airport, Riyadh untuk diisi bahan bakar. Menurut agen kami, dalam rute penerbangan dari Tokyo ke Jeddah, ada tiga alternatif tempat untuk memulai ihram, yaitu di rumah, Seoul, atau Riyadh.

Suasana ganti baju ihram di Riyadh. PIlihan lokasi terakhir untuk ganti baju ihram adalah di Riyadh, tapi ternyata di sini penumpang yang belum akan turun diminta tetap berada di pesawat. Karena toilet yang tersedia untuk ganti baju terbatas, sebagian berinisiatif membuat

Suasana ganti baju ihram di Riyadh. PIlihan lokasi terakhir untuk ganti baju ihram adalah di Riyadh, tapi ternyata di sini penumpang yang tujuannya Jeddah diminta tetap berada di pesawat. Karena toilet yang tersedia untuk ganti baju terbatas, sebagian berinisiatif membuat “kamar pas” dadakan di pesawat sampai ada yang harus menjelaskan ke pramugarinya😆

Pembimbing kami, Dr. Salimur Rahman, sangat perhatian kepada seluruh jemaah. Di pesawat, beliau sempatkan berkeliling untuk menanyai kami satu per satu apakah sudah salat Magrib dan Isya’, begitu pula saat Subuh. Tak lama setelah seluruh jemaah menyempurnakan pakaian ihramnya, brother Salim, begitu beliau biasa dipanggil, juga memimpin jemaah untuk mengucapkan niat ihram bersama-sama dan mengingatkan tentang larangan ihram. Waaah, udah nggak bisa sayang-sayangan sama suami, nih:mrgreen:. Sambil mengingat-ingat, berikut di antara larangan ihram itu:

  • Seputar pakaian ihram: memakai pakaian berjahit atau pakaian yang lebih banyak dari dua lembar kain, menutup tumit dan kepala (bagi pria), memakai cadar (bagi wanita)
  • Memakai wangi-wangian, termasuk sabun badan, sabun cuci, sampo, dan peralatan body care yang wangi, tapi ada pendapat yang membolehkannya memakai sebelum berihram. Di Jepang ternyata sangat mudah mencari sabun, sampo, dsb. yang tanpa pewangi. Istilahnya 無香料 (mu kouryou) = no fragrance / tanpa pewangi atau lebih lengkap lagi kadang ditulis juga 無着色 (mu chakushoku) = no coloring / tanpa pewarna. Kami sendiri saat membeli di Amazon mencari dengan kata kunci 無添加 (mu tenka) = no additives / tanpa bahan aditif, jadi udah pasti tanpa pewangi dan pewarna.

    Contoh body care tanpa pewangi / pewarna / bahan aditif yang dijual di Jepang

    Contoh body care tanpa pewangi / pewarna / bahan aditif yang dijual di Jepang

  • Merusak tanaman dan berburu binatang
  • Berinteraksi antara suami istri yang menimbulkan syahwat, dari mulai berpegangan tangan sampai berhubungan badan (boleh apa saja asal tidak menimbulkan syahwat)
  • Berbantah-bantahan (jidal)
  • Membicarakan hal-hal kotor/tabu (rafats)
  • Melakukan perbuatan fasik (furuq)
  • Memotong kuku dan mencukur rambut, baik rambut kepala maupun bulu di bagian lainnya😮

Di kemudian hari, ketika semakin banyak mendapat bimbingan beliau dan mengenalnya secara personal, saya dan suami sama-sama mengakui bahwa kami beruntung sekali dikasih pembimbing sebagus bro Salim. Selain bisa empat bahasa, yaitu Arab, Inggris, Jepang, dan Urdu, ilmunya sangat mumpuni, pengalamannya banyak, ramah, dan ringan tangan. Selama berangkat dan pulang, bro Salimlah yang meng-handle penuh jemaah karena Mr. Abror, pemilik agen sekaligus ketua rombongan saat haji, harus lebih dulu dan paling akhir berada di Arab.

Welcome to Saudi Arabia!

Di sinilah latihan kesabaran itu dimulai. Sejak turun pesawat hingga diangkut ke maktab (penginapan), kita akan banyak menunggu dan menunggu. Di briefing terakhir, agen kami sudah memberitahu bahwa menunggu di bandara selama lima jam itu biasa terjadi dan itu benar-benar terjadi. Kami mendarat sekitar pukul 6.00, kemudian baru dijemput sama bus jam sebelas lebih. Ngapain aja sih emangnya? Oke, ada nih foto^fotonya..

Begitu tiba di bandara, antrian demi antrian langsung menyambut kami. Wow! Banyak sekali rupanya administrasi yang harus dilalui. Di setiap check point pun paspor kami ditempel-tempeli entah stiker apa aja.. pokoknya 'rusuh' dah :shock:

Begitu tiba di bandara, antrian demi antrian langsung menyambut kami. Wow! Banyak sekali rupanya administrasi yang harus dilalui. Di setiap check point pun paspor kami ditempel-tempeli entah stiker apa aja.. jadi terkesan rada kotor sih, hee😯

Begitu mendarat, kami langsung diarahkan ke ruang tunggu bandara. Tampilannya mirip kaya boarding room, tapi cuma satu ruangan itu dan ada meja pemeriksaan dokumen jemaah yang dijaga oleh banyak petugas. Di sini, paspor dan bukti vaksinasi diminta untuk mereka cek. Yang mengaku belum vaksin disuruh suntik dulu, entah di mana (mungkin di situ juga ya? maap, saya nggak merhatiin soal ini)😀. Selanjutnya, paspor kami dikembalikan, lalu disuruh nempelin barcode bernomor Arab. Nomor ini acak aja, nggak ada hubungannya sama nomor visa haji kita. Tiap orang dikasih enam stiker dan tiap stiker ada nomor urutnya (1-6). Kami ngikutin instruksi aja di mana dan kapan harus menempel stiker barcode masing-masing.

Di ruang tunggu sebelum masuk imigrasi, kami menemukan panduan kesehatan ini. Ternyata ada anjuran mengenakan masker lho.. ini harusnya bisa menjawab keraguan juga tentang boleh / tidaknya memakai masker ketika berihram.

Di ruang tunggu sebelum masuk imigrasi, kami menemukan panduan kesehatan ini. Ternyata ada anjuran mengenakan masker lho.. ini harusnya bisa menjawab keraguan juga tentang boleh / tidaknya memakai masker ketika berihram.

Contoh simbol toilet / WC di Arab. Yang wanita antara berjilbab dan tidak, hee.

Contoh simbol toilet / WC di Arab. Yang wanita antara berjilbab dan tidak, hee.

Seperti biasa, baru sebentar duduk ‘panggilan alam’ sudah memanggil. Entah kenapa saya selalu punya sindrom ingin mencoba toilet di tempat yang baru -_- Jadilah saya minta diantar suami ke toilet di ruangan itu. Watch out! Iya, di sini saya udah mulai paranoid lihat pria-pria berwajah Arab itu. Ah, kebanyakan dengar cerita negatif sih.. ngomong-ngomong, icon toilet di sana terlihat lucu banget buat saya. Langsung deh jadi sasaran foto. Dari segi kebersihan, Arab nggak beda jauh dari Indonesia, tergantung tempatnya seberapa mampu membayar petugas kebersihan untuk bekerja rajin dan telaten😛. Air selang juga selalu tersedia untuk ‘thaharah’ (nggak tega ngomong c*bok).

Pada sebuah papan besar dan standing banner yang banyak terpampang di ruangan itu disampaikan pesan-pesan untuk jemaah haji meliputi kesehatan dan keamanan. Beragamnya manusia yang datang ke negeri itu membuat resiko penyebaran penyakit menular sangat tinggi, makanya suami menyuruh saya langsung pakai masker sejak di bandara. Sebelum berangkat haji, kami sudah mencaritahu hukum terkait pemakaian masker semasa ihram.

Memang ada perbedaan pendapat seputar masker, tapi kami yakin mengambil pendapat yang membolehkan dengan motivasi utama untuk menjaga fisik agar maksimal dalam beribadah. Saya pribadi menilai masker bukan “penutup wajah” yang dimaksudkan dalam hadis karena bukan bagian dari busana seperti halnya cadar (hanya aksesoris). Hanya saja, dalam buku haji yang saya sebut di tulisan sebelumnya ada pesan bahwa ukuran masker tidak boleh terlalu besar sampai membuat si pemakai sulit dikenali wajahnya. Mungkin “sulit dikenali” itu juga hikmah dari larangan memakai penutup wajah. Wallahu’alam.

Sekitar sejam kami di sini, lalu ada rombongan dari pesawat lain yang baru datang. Kami pun dipersilakan menuju tempat berikutnya, melewati eskalator datar ke lantai bawah. Wow! Sejauh mata memandang, yang kami lihat adalah jemaah haji Indonesia dengan seragam batiknya. Seragam batik? Iya, kebanyakan belum berihram😯. Rupanya itu ruangan imigrasi. Kami mengantri di loket-loket yang cuma berupa bilik kayu dengan petugas berseragam ala militer. Di sini, saya mulai melihat perbedaan perlakuan antara laki-laki dan wanita. Jemaah laki-laki diwawancara dan diambil fotonya, sedangkan jemaah wanita hanya dicek paspornya. Hal serupa terjadi lagi di tahapan pemeriksaan berikutnya. Di negeri muslim ini, dalam hal administrasi, wanita sepertinya memang cenderung lebih dimudahkan daripada laki-laki.

Setelah ambil bagasi (alhamdulillah, koper saya selamat), kami masuk ke tahap administrasi berikutnya, di dekat pintu keluar. Barulah saya melihat deretan petugas yang berpakaian khas lelaki Arab: jubah panjang (thawb), kain penutup kepala segiempat (kuffiyah/ghutrah), dan bando melingkar untuk mengikat kain kepala tersebut (agal). Aha! Tinggal unta dan gurunnya nih..

Proses di meja mas-mas Arab tadi cepat sekali. Hanya sekedar main cap dan tempel label. Sayangnya, kertas bekas label-label tersebut berserakan di bawah mereka sehingga kotor sekali dilihatnya. Yah, baru akan melangkah sedikit keluar bandara aja udah mulai kelihatan nggak proper-nya😛. Sabar.. sabar.. kembali lagi saya teringat pesan Mr. Abror yang kurang lebih begini:

If you are going hajj, don’t compare anythings with those in Japan, but always think that you come from Java etc. so you will never be disappointed.

Lega sekali rasanya saat keluar dari gedung utama itu. Saya pikir kami bisa segera duduk menunggu bus, tapi ternyata penantian belum berakhir. Di luar pintu sudah menanti sebuah tenda sederhana seperti tenda di Arafah yang dijejali jemaah haji. Ada apa ini? Oho, tampaknya ada absensi untuk tiap grup rombongan haji. Paspor kami dikumpulkan ke ketua rombongan, bro Salim, untuk dibawa masuk ke dalam tenda. Heran.. kenapa orang-orang itu pada ikutan masuk tenda, ya? padahal nggak ada instruksi dan udara panas pun mulai terasa. Maklum, sudah lepas dari ruangan ber-AC. Halo, selamat datang 40 derajat plus plus!

Setelah urusan di tenda beres, koper-koper kami diangkut oleh gerobaknya United Agents Office. Di gerobak itu tertulis “Luggage handling charges have been prepaid by your service fees cheque”, artinya biaya pengangkutan bagasi kita itu sudah termasuk dalam biaya haji kita. Ohya, sebagian dari biaya haji tersebut, kalo tidak salah sebesar 70.000 yen (2600-an riyal), digunakan untuk transportasi selama di Arab dan diberikan ke tiap jemaah berupa cek ketika di Jepang. Nah, di sini, baru deh cek itu ditukar dengan stiker tanda bahwa kita sudah membayar biaya transportasi sejak di bandara hingga kembali lagi ke bandara nantinya.

Urutan kegiatan setelah kedatangan di bandara Jeddah yang saya ceritain di atas bisa dibaca lengkap di tautan berikut: “Hajj Practicalities”. Saya nemu pesan menarik juga di halaman terkait. Secara khusus mereka menekankan tentang Patience (Kesabaran).

Patience is a virtue, and more so from the time you land at Jeddah till your departure from the Kingdom of Saudi Arabia. The Saudi Government harbours no ill feelings towards the Hujjaajj. On the contrary, it is continuously upgrading facilities and services for the pilgrims’ ease and comfort. You will encounter odd delays, which can be quite frustrating, leading to fraying of tempers. Please, exercise extreme patience!

Menunggu Bus 2-3 Jam

Alhamdulillah, setelah barang-barang diangkut, kami bisa looking around area luar yang diayomi oleh tenda-tenda besar nan megah (mereka menyebutnya konsep “Tent City”). Sembari menunggu instruksi untuk naik ke bus (kalo busnya udah datang), kulihat macam-macam yang dilakukan jemaah. Ada yang saling kenalan dan ngobrol, cari makan, ke toilet, atau tiduran di kursi. Wilayah itu sudah didesain sedemikian rupa untuk menunggu tampaknya karena disediakan kursi-kursi dan lantai ‘panggung’.

Dan aku menunggu, terus menunggu... begini deh suasana menunggu bus yang akan membawa kami ke maktab di Mekkah. Foto ini diambil di jam ke-4 setelah mendarat. Udah pada salah tingkah sebenarnya nih.. kelaparan dan kegerahan. Hehe.

Dan aku menunggu, terus menunggu… begini deh suasana menunggu bus yang akan membawa kami ke maktab di Mekkah. Foto ini diambil di jam ke-4 setelah mendarat. Udah pada salah tingkah sebenarnya nih.. kelaparan dan kegerahan. Hehe.

Masih suasana menunggu di luar gedung bandara King Abdul Aziz International Airport (KAIA), Jeddah. Untungnya walaupun panas, desain atap yang mirip payung-payung di Masjid Nabawi ini cukup melindungi dari sengatan sinar matahari. (Kiri atas) Kami juga nggak sampai kehausan karena banyak sedekah air minum. Alhamdulillah, mulai merasakan kedermawanan orang Arab. Sebelumnya kami juga dapat buku kumpulan doa gratis dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Dibagi-bagi gitu aja oleh pria-pria tak berseragam.

Masih suasana menunggu di luar gedung bandara King Abdul Aziz International Airport (KAIA), Jeddah. Untungnya walaupun panas, desain atap yang mirip payung-payung di Masjid Nabawi ini cukup melindungi dari sengatan sinar matahari. (Kiri atas) Kami juga nggak sampai kehausan karena banyak sedekah air minum. Alhamdulillah, mulai merasakan kedermawanan orang Arab. Sebelumnya kami juga dapat buku kumpulan doa gratis dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Dibagi-bagi gitu aja oleh pria-pria tak berseragam.

Si kangmas matanya langsung ijo lihat counter operator selular dan lalu benar saja, merajuk mau beli. Dia orangnya memang hobi ngutak-atik segala macem teknologi. Pasti deh udah nggak sabaran mau coba-coba, padahal riyal yang kami bawa sangat terbatas saat itu. Dari Jepang, kami sengaja membawa dolar lebih banyak atas saran agen. Akhirnya dibeli juga deh itu SIM card. Ternyata, tidak semua paket yang ditawarkan operator seluler bisa kami beli. Ada paket khusus untuk mereka yang bervisa haji. Ada tiga operator seluler besar di Arab: STC, Mobily, dan Zain.

Setelah sekitar sejam menunggu macam-macam di imigrasi, kami dibiarkan 'berkeliaran' di luar gedung. Beberapa orang memanfaatkannya dengan berburu simcard lokal, termasuk suami saya. Dari agen, kami sebenarnya sudah dibekali satu simcard per keluarga dengan provider yang sama seperti ketua rombongan (alias si pemilik agen sendiri),

(Kiri atas – tengah) Setelah sekitar dua jam menunggu macam-macam di imigrasi, kami dibiarkan ‘berkeliaran’ di luar gedung. Beberapa orang memanfaatkannya dengan berburu SIM card Arab. Dari agen, kami sebenarnya sudah dibekali satu SIM card per keluarga dengan provider yang sama seperti ketua rombongan. (Kiri bawah) Mobil-mobil feeder di “Tent City”. (Kanan atas) Cara isi ulang pulsa di Arab unik, harus pakai PIN tertentu. (Kanan bawah) Huruf Arab tidak terbaca di HP Samsung yang kami bawa.

Selain beli SIM card, kami juga beli makan. Pengen tahu kaya apa sih makanan Arab yang katanya ayam setengah ekor sudah biasa itu. Ehehe..ternyata benar juga. Kalo nggak bilang pesan yang ayamnya 1/4 ekor, pasti dikasihnya 1/2 ekor karena begitulah porsi standar sana.

Beberapa kali ada gosip bus datang.. bus datang.. tapi tidak jua datang. Namun, kali itu, sekitar pukul 11.00 kami benar-benar dibariskan untuk naik bus. Jemaah perempuan masuk lebih dulu, kemudian baru jemaah laki-laki. Ada satu kebiasaan “nakal” yang kompak dilestarikan sama para istri, padahal nggak pernah janjian satu sama lain. Berhubung bus untuk keluarga dipisahkan dengan yang single, semua wanita tampaknya ingin selalu duduk dekat suaminya. Jadinya, kalo disuruh masuk duluan, masing-masing duduk sendiri, lalu ketika para lelaki masuk, suami-suami itu bisa duduk dekat istrinya. Meskipun sedang ihram, nggak ada yang mau rugi. Hahaha😆. Sementara itu, ketika Mr. Abror sudah ambil alih meng-handle kami, dia selalu berseru “Sisters with sisters!”, tapi kadang tak jua kami indahkan instruksinya..

Perjalanan Jeddah – Mekkah

Kesabaran kami masih diuji ketika di dalam bus pun kami menunggu cukup lama sampai seluruh barang terangkut ke atas bus. Azan Zuhur berkumandang tak lama setelah bus berjalan, tapi kami tidak berhenti. Bus terus melaju membawa kami ke Mekkah yang hanya berjarak satu jam dari Jeddah dalam kondisi normal ini.

Pemandangan

Pemandangan alam khas Arab yang nampak dari kaca jendela bus

Bus yang dinantikan lima jam akhirnya tiba juga. Ada banyak bus dengan penampakan luar yang sama persis, jadi penting untuk mengingat nomor bus kita. Kalo perlu dipotret deh karena belum tentu bus yang kita naiki sama dengan bus yang mengangkut barang kita. Nah, lho.. berabe kan kalo pas sampai maktab ternyata koper / tas kita nggak datang-datang juga.

Bus yang dinantikan lima jam akhirnya tiba juga. Ada banyak bus dengan penampakan luar yang sama persis, jadi penting untuk mengingat nomor bus kita. Kalo perlu dipotret deh karena belum tentu bus yang kita naiki sama dengan bus yang mengangkut barang kita. Nah, lho.. berabe kan kalo pas sampai maktab ternyata koper / tas kita nggak datang-datang juga🙄

Alhamdulillah, orang Arab memang sangat dermawan, apalagi di musim haji, semakin banyak yang berlomba-lomba sedekah ke jemaah haji. (Kiri) Ini hadiah ketiga yang kami terima hari ini selain buku doa dan air mineral saat di bandara. Ada CD, sekardus snack aneka rupa, dan sebotol air zamzam. (Kanan) di antara snack itu ada es kotak ini.. aah, natsukashii (nostalgia), seperti jajanan masa SD.

Alhamdulillah, orang Arab memang sangat dermawan, apalagi di musim haji, semakin banyak yang berlomba-lomba sedekah ke jemaah haji. (Kiri) Ini hadiah ketiga yang kami terima hari ini selain buku doa dan air mineral saat di bandara. Ada CD, sekardus snack aneka rupa, dan sebotol air zamzam. (Kanan) di antara snack itu ada es kotak ini.. aah, natsukashii (nostalgia), seperti jajanan masa SD.

Nyatanya, lalu lintas sepertinya sedang nggak waras, jadi kami baru sampai maktab itu pukul 5 PM! Waduh, waktu Asar saja sudah mau habis, padahal rencana awalnya kami akan menjamak salat Zuhur – Asar di Masjidil Haram. Brother Salim mengajak rombongan untuk salat Magrib di Masjidil Haram dan menunaikan umrah sehabis Isya’ saja karena waktunya lebih leluasa. Semua setuju. Saat itu, saya teringat pesan dari buku:

Jangan berpikir soal bagasi saat tiba di maktab, ikuti saja pembagian kamar dan segera masuk kamar untuk membersihkan badan

Umrah Berdua Saja

Kami berdua terlambat berangkat ke masjid sehingga salat jamaah pertama itu kami jalani di jalan raya. Saya tidak menyangka kalo jalanan itu juga dipakai orang untuk salat. Gimana bisa lewat kalo kaya gitu? Tadinya saya pikir karena mereka udah telat juga kaya saya jadi salat aja di situ, tapi di hari-hari berikutnya saya menyimpulkan kalo orang-orang itu sebenarnya kurang berjuang biar bisa salat di masjid karena kurang sejam dari waktu salat pun udah ada yang menggelar shaf di jalan-jalan. Yang ngebet pengen salat terus di masjid kan jadi terhalang dan lebih lama jalannya.. huhu😥.

Seusai salat, kami buru-buru masuk Masjidil Haram (Masjid Al-Haram). Subhanallah! Terharu rasanya bisa melihat kemegahannya di depan mata. Rupanya penginapan kami berada dekat dari pintu utamanya, nomor 1, yang bernama King Abdul Aziz gate. Didepannya persis ada tower tinggi yang terkenal itu, yang biasa disebut “Zamzam Tower”, tapi sebenarnya nama bangunannya adalah Abraj Al-Bait mall. Kami menentukan titik untuk bertemu seperti pesan agen, kemudian masuk perlahan sambil berdesakan dengan jamaah lain yang ingin merangsuk ke depan Ka’bah.

“Kita mulai umrah sekarang aja gimana? Bisa nggak ya tawaf* sejam?” tanya kangmas. “Eh? Nggak bareng yang lain?”, tanya saya. “Gak papa lah, pada nggak kelihatan juga,” katanya. Kenapa jadi habis Magrib, padahal instruksinya habis Isya’? pikir saya, tapi akhirnya saya mengiyakan. Kami pun tawaf saat itu juga, hanya berdua.

Astaghfirullah, masyaaAllah!
Badan saya sakit semua rasanya berdesakan parah dengan orang sebanyak itu. Sambil dirangkul suami dari belakang, saya terus saja berjalan mengikuti arus sambil berdzikir dan berdoa, berderai air mata, sampai tak tahu kondisi yang terjadi di luar pusaran tawaf itu. Saya pikir memang begitulah perjuangan tawaf. Pantas saja ada yang sampai meninggal terinjak-injak! Tiba-tiba.. segerombolan orang membelah lautan manusia tawaf dan maju terus ke depan ka’bah. Ada apa ini??? saya bingung dan ingin segera keluar, tapi tawaf kami baru lima putaran. Barulah kami sadar bahwa waktu salat Isya’ akan segera tiba sehingga orang-orang yang mengincar tempat mustajab tadi sudah siap-siap. Tidaaaaakkkk.. lemas rasanya saat petugas (asykar) mengusir kami semua untuk keluar dari arena tawaf karena waktu salat sudah tiba. “Aku nggak mau ngulang tawaf! Hiks..,” kataku kepada suami. Suami cuma bisa diam. Dia tahu itu gara-gara ide konyolnya. Waktu sejam tidak cukup untuk berputar tujuh kali dengan massa sebanyak itu.

Mengulang Tawaf

Karena nggak tahu pasti aturannya, kami pun mengulang tawaf selepas Isya’. Yang kami tahu hanya sebatas kalo batal wudhu-nya, tawaf diulang dari putaran terakhir. Misalnya, jika batal wudhu di putaran kelima, maka ia harus mengulang putaran kelima itu dari garis start, yaitu Hajar Aswad, yang juga dilengkapi dengan lampu hijau di atas. Namun, kami tak tahu bahwa harusnya bisa dilakukan hal yang sama jika terpotong oleh salat (baru tahu kemudian dari teman). Ah, lagi-lagi masih kurang ilmu saya.. yasudahlah. Hikmahnya, kami jadi dapat menikmati tawaf yang lebih santai.. tak disangka, ternyata selepas Isya’ itu sepi sampai saya bisa berlari kecil dan melihat jemaah lain sempat mengobrol santai. Beda sekali dengan tawaf pertama abis Magrib tadi. Ramenya minta ampun sampai susah nafas😦.

Tawaf kedua selesai hampir sejam, lalu dilanjutkan sai. Hanya dua ‘kerjaan’ ini aja yang kita lakukan untuk umrah. Mudah, bukan? Tahalul ditandai dengan mencukur sedikit rambut.

Manfaatkan kesempatan tawaf dan sai umrah ini sebaik-baiknya karena biasanya kondisinya masih sepi, belum seramai saat haji. Yang saya rasakan, ketika kondisi sangat ramai, konsentrasi dan kekhusyukan kita bisa berkurang. Haji adalah masalah menata hati menghadapi banyak manusia dengan beragam sifat juga, bukan hanya ibadah dan bermesra-mesraan dengan Allah.

Di arena sai ini, kita bisa mengambil air zamzam, baik yang di galon maupun keran air. Bukit Safa dan Marwah yang didatangi Siti Hajar itu kini sudah seperti simbol saja, bahkan hanya bukit Safa yang masih tersisa batunya. saya pikir masih ada tanah-tanahnya gitu jalurnya, ternyata udah dikeramik semua😀.

Adegan yang sempat terambil saat umrah. (Kiri atas) Akhirnya, zamzam langsung dari sumbernya! Alhamdulillah.. (Kiri bawah) Kami selalu mencari galon bertanda

Adegan yang sempat terambil saat umrah. (Kiri atas) Akhirnya, zamzam langsung dari sumbernya! Alhamdulillah.. (Kiri bawah) Kami selalu mencari galon bertanda “NOT COLD” ini. Di seluruh area pengambilan, air zamzam default-nya dingin. (Kanan atas) Nggak sempat mikir kamera saat tawaf, sayang jepretan ka’bah pertama tertutup tiang. (Kanan tengah) Suasana sa’i di bukit Safa dan Marwa. (Kanan bawah) Lampu hijau di jalur sa’i menandakan pria harus berlari kecil.

Wajah-wajah lelah sekaligus lega seusai umrah. Jam di Zamzam Tower sudah menunjukkan pukul 22.40 waktu setempat. Saat itu, kami sama sekali tidak tahu di mana anggota rombongan lainnya berada.

Wajah-wajah lelah sekaligus lega seusai umrah. Jam di Zamzam Tower sudah menunjukkan pukul 22.40 waktu setempat. Saat itu, kami sama sekali tidak tahu di mana anggota rombongan lainnya berada.

Alhamdulillah, jam sepuluh malam lebih kami sudah menyelesaikan rangkaian umrah. Kami pun berpelukan merayakan usainya masa ihram pertama. Tamattu’ (bersenang-senang) yaa tamattu’🙂.

Orientasi Tempat Belanja

Seusai umrah, kami masih sempat belanja jubah dan sajadah di supermarket Bin Dawood (semua jemaah haji rasanya tahu supermarket ini), berkeliling melihat pertokoan di dalam Zamzam Tower, kemudian makan malam di foodcourt-nya hingga tak terasa sudah tengah malam. Herannya, kami nggak lihat sama sekali satu pun anggota rombongan kami.

Gambaran posisi Masjid Al-Haram dengan mall Abraj Al-Bait (yang juga dikelilingi shopping center lain) dan apartemen tempat kami menginap, Jawharat Al-Quds. Lokasi yang sangat dekat dari masjid dan pusat belanja ini sangat amat kami syukuri.

Gambaran posisi Masjid Al-Haram dengan mall Abraj Al-Bait (yang juga dikelilingi shopping center lain) dan apartemen tempat kami menginap, Jawharat Al-Quds. Lokasi yang sangat dekat dari masjid dan pusat belanja ini sangat amat kami syukuri.

Shopping pertama di Bin Dawood, masih pakai baju ihram :razz: Cari susu coklat lumayan susah karena kebanyakan

Shopping pertama di Bin Dawood, masih pakai baju ihram😛 Cari susu coklat lumayan susah karena kebanyakan “coklat” aja atau “laban coklat” (laban = semacam yogurt cair).

Keputusan untuk umrah sendiri (berdua tanpa menunggu rombongan) ternyata sangat tepat. Alhamdulillah Allah membimbing kami menentukan langkah. Sebab, ketika sampai di penginapan, kami terkejut hanya ada satu teman sekamar kami yang sudah pulang. Sekitar pukul 2.00 tanggal 9 Oktober 2013 itu, barulah teman lain pulang. Ketika kami tanya, ternyata mereka bersama ketua rombongan baru mulai umrah sekitar pukul 22.00 lebih dan ramainya seperti saat saya tawaf habis Magrib itu. Usai shalat Isya’, mereka bukannya langsung tawaf tapi kembali dulu ke maktab untuk makan malam dan tidur, barulah janjian berangkat jam sepuluh malam. Saya, suami, dan sepasang suami istri lain yang sudah pulang duluan bareng kami tadi rupanya sama-sama memisahkan diri dari rombongan.

bersambung ke hari ketiga: Rabu, 9 Oktober 2013 (4 Dzulhijjah 1434H)

Catatan:
* ejaan Arab-nya thawaf dengan huruf tha’, tapi dalam KBBI sudah menjadi kata serapan sendiri dengan ejaan “tawaf” tanpa huruf h

Leave a comment

7 Comments

  1. Waaa seru banget ceritanya super lengkaaap.. Ditunggu cerita selanjutnya gaaa..
    Btw yappari susah ya bawa orang tua dari Jepang sekarang? -_-“

    Reply
    • Uni Novriana (ehm…) makasih udah mampir.. ditunggu ya kelanjutannya. Eh, rencana mo bawa juga? iya, katanya makin ke sini makin susah, malah ada gosip tahun depan non-Japanese rada dibatasin, apalagi ada pemotongan kuota krn renovasi itu sih (di Indonesia aja katanya pemotongan kuota sampai 2016). Kalo di Jepang, pejabat Saudi embassy jg mempengaruhi. Kalo baik, bisa aja dia ngelolosin visa haji buat yg aslinya kurang menuhin syarat, kaya yg terjadi antara 2010-2012 lalu.

      Reply
      • Tadinya kepikiran mau bareng orang tua ga, tapi sendirinya malah belum pasti taun depan (2014) bisa daftar ato gak, soalnya cuti suami rada susah kayaknya😦
        Tapi denger cerita beberapa temen katanya bawa orang tua susah ya, jadi rada keder juga..

        Reply
        • Sou nan da.. sebenernya masih terbuka kemungkinan kalo pejabat visanya tahun depan ganti, atau kalo finansial keluarga Uni cukup outstanding, bisa apply dependent visa buat mereka😀 Kalo soal cuti bisa diakalin pulang duluan sih, Uni.. waktu itu di rombongan kami juga ada pegawai Hit*chi yang nggak dapat banyak cuti, dia pulang duluan seusai masa haji. Bisa juga berangkat belakangan. Pesen tiketnya diatur-atur aja sama agennya.

          Reply
          • Novriana

             /  December 17, 2013

            Waduh, kemampuan finansial pas2an kayaknya bakal susah kali ya😀
            Tapi ntar sambil tanya2 lagi juga deh..
            Kemaren suami total cuti berapa hari Ga? Masyalahnya perusahaan tempat suami kerja sekarang perusahaan baru yang masih kecil dan karyawannya dikit dan “beban” kerjaan suami bikin susah ngambil cuti lama.. Waktu ada conference ke Thailand aja dua hari gurai malah masih kerja remote jadinya -_-

            Reply
  1. [Diary Haji] Hari #3 – Menikmati Kota Mekkah Sebelum Penuh Sesak | .:creativega:.
  2. [Diary Haji] Hari #1 – Talbiyah Pertama | .:creativega:.

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: