[Diary Haji] Hari #3 – Menikmati Kota Mekkah Sebelum Penuh Sesak


Rabu, 9 Oktober 2013 (4 Dzulhijjah 1434H)
Baca juga cerita hari sebelumnya: [Diary Haji] Hari #2 – Ketika Mulai Diuji Kesabaran Yang Lebih

Sacrifice (Pengorbanan)

Saya menangis terisak karena gagal salat* (Subuh) di Masjidil Haram lagi setelah sebelumnya cuma kebagian salat Maghrib di jalan raya. Penyebabnya sama pula, jalanan macet karena sudah dipenuhi shaf-shaf jemaah yang shalat di jalan itu dan azan keburu berkumandang saat kami masih terjebak di kerumunan para “perindu masjid”. Suami pun menenangkan saya, mengelus-elus kepala kaya saya ini masih bocah. Sebagai hiburannya, saya minta kami tetap melanjutkan perjalanan ke masjid dan berdiam di sana hingga waktu Duha.

Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1.000 salat di masjid lainnya selain Masjidil Haram. Salat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100.000 salat di masjid lainnya (H. R. Ahmad dan Ibnu Majah)

Apartemen kami, Jawharat Al Quds, ditempati oleh rombongan haji agen Mian dari Jepang dan Hongkong

Apartemen kami, Jawharat Al Quds, ditempati oleh rombongan haji agen Mian dari Jepang dan Hongkong

Baru kemudian hari itu saya tahu bahwa memang tidak semudah itu, misalnya berangkat setengah jam sebelum waktu salat tiba seperti saya, untuk bisa salat di masjid terbesar di dunia itu. Ah, iya juga.. pasti saking begitu banyaknya yang pengen salat di sana, tak cukup 15 menit untuk jalan cepat ke masjid, lalu 15 menit menjelang azan sisanya dihabiskan untuk mencari shaf yang masih kosong. You need more more sacrifice, man! Jangan disamain kaya pergi ke masjid belakang rumah di kampung meskipun kali ini Masjidil Haram juga menjadi “masjid dekat rumah” selama di Mekah😛. Alhamdulillah, bangunan tempat tinggal kami yang bentuknya lebih tepat disebut apartemen, Jawharat Al-Quds,  hanya berjarak sekitar 750 meter dari masjid sehingga masih bisa berikhtiar salat lima waktu di sini diselingi 2-3 kali pulang.

Masjidil Haram dan Sekitarnya

Ketika umrah di hari sebelumnya, perkenalan kami dengan Masjidil Haram yang agung ini hanya sebatas lokasi tawaf, yaitu ka’bah dan shaf salat disekitarnya, dan lokasi sa’i, yang disebut Mas’a. Sebelum dan setelah umrah itu, belum sempat kami berkeliling mengeksplorasi sudut demi sudut masjid.. (halah).

Mas'a

Mas’a

Di kunjungan kedua ini, saya penasaran banget dengan lantai teratas yang beratapkan langit itu. Entahlah.. mungkin karena di gambar-gambar Masjidil Haram bagian ini selalu terekspos. Semakin siang, masjid semakin ditinggalkan para jemaah salat Subuh atau yang mabit di sana malamnya. Kondisi jam-jam segini, tak lama setelah sunrise, enak buat menikmati masjid, tapi lebih enak lagi kalo udah sarapan dan perut kenyang :mrgreen:.

Kami menunggu eskalator di dekat Ismail Gate. Eh? eskalatornya turun semua. Ada operator dengan pakaian khas Arab di situ yang cuek aja meskipun antrian orang yang mau naik udah mengular. Ketika ditanya, dia hanya menjawab, “Wait..wait..!”. Waaah.. kapan digantinya nih arah eskalator. Tiba-tiba.. dok, dok, dok, dok, dok! Seorang jemaah kulit hitam tinggi besar mendobrak dinding eskalator dengan kerasnya sebagai bentuk protesnya ke operator tanpa berkata-kata. Si operator pun kaget, lalu serta-merta mengubah arah eskalator jadi naik!!! Wow.. keren.. terbantu sekali. Kulihat ekspresi orang-orang sangat lega bisa segera naik dan berterima kasih secara tidak langsung ke orang Afrika itu. Orang-orang ini memang kadang membantu kami melawan asykar yang suka bersikap seenaknya, tapi kadang juga nyebelin kalo udah mau menang sendiri. Kalo badannya kecil sih nggak apa-apa.. masalahnya, posturnya besar dan tinggi semua.. langganan jadi korban lah ini badan-badan kecilnya orang Indonesia😀

Tas selempang dari agen yang kami bawa ke mana-mana kalo keluar rumah

Tas selempang dari agen yang kami bawa ke mana-mana kalo keluar rumah

Setelah naik eskalator tiga kali, sampailah kami di lantai teratas itu. Lantainya belum sepenuhnya dikeramik, jadi batas antara sepatu dilepas dan dipakai tidak terdefinisi dengan jelas. Jangan coba-coba nggak bawa sajadah di sini kalo nggak mau nyium lantai yang habis diinjak orang. Yaiks! Ohya, sebenarnya tiap ke masjid ini, mau di mana pun kita dapat shaf, sebaiknya selalu bawa sajadah biar higienis😮 dan karena memang nggak ada sejengkal pun lantai Masjidil Haram yang dilapisi sajadah, seingat saya. CMIIW. Mumpung ingat, saya tulisin yah barang-barang yang perlu dibawa ke masjid:

  • Sajadah –> bawahnya yang nggak mudah menyerap air kalo bisa
  • Buku kumpulan doa (+ catatan titipan doa kalo ada)
  • Notes dan pulpen –> ada kalanya kita butuh mencatat sesuatu
  • Botol air minum –> di-charge air zamzam tiap kosong
  • Ponsel –> penting kalo terpisah dari pasangan / rombongan
  • Wadah air wudhu portable –> bisa disemprotkan ke badan
  • Tas yang muat untuk menampung semua barang di atas

Kenapa mukena, sarung, mushaf, tasbih, dsb. nggak saya tulis? karena kalo pun ketinggalan semua itu juga masih bisa survive di masjid🙂 Mushaf banyak tersedia di dalam masjid, jadi sifatnya opsional untuk dibawa. Untuk mukena, pengalaman saya sih hampir nggak terpakai karena baju yang saya bawa sengaja yang bisa langsung dipakai untuk salat. Lagipula, hanya muslim dari Indonesia saja yang lazim pakai mukena putih-putih itu. Muslim dari negara lainnya sih biasanya pakai baju yang nempel di badan.

Menjalani ibadah haji berarti membiasakan diri kita untuk siap salat setiap saat. Oleh karena itu, sebaiknya selalu pakai busana muslim yang menutup aurat dengan baik sesuai syariat.

Kembali ke lantai atas..
Kami mengambil tempat di belakang maqam Ibrahim dan shaf yang nggak jauh dari arena tawaf. Kalo pagi atau malam masih okelah di sini, tapi kalo siang mending salat di dalam ruangan. Panas mataharinya nggak nahan soalnya.. hehe. Kekhusyukan tilawah pagi itu terusik oleh suara riuh dari atas kami. Kawanan burung hitam! Mereka kayanya lagi tawaf juga, bedanya yang diitari bukan ka’bah, tapi Abraj Al-Bait towers😛

Kawanan burung

Kawanan burung “bertawaf” mengitari komplek bangunan Abraj Al-Bait Towers, diantaranya Mecca Royal Hotel Clock Tower (di post sebelumnya saya sebut sebagai “Zamzam Tower” sebagaimana orang kita biasa mengenalnya :P), yang kini menjadi menara tertinggi ke-3 di dunia.

3.42 - Abraj Al-Bait clock face

Jam terbesar di dunia, Abraj Al-Bait clock face

Di depan mata, kami bisa menikmati kesibukan orang bertawaf di jalur yang konon panjangnya 1 km itu (di jalur terdekat dengan Ka’bah hanya sekitar 200 meter). Mereka yang memilih tawaf di atas mungkin cari aman, biar nggak berdesakan. Banyak juga jemaah dengan kursi roda memilih jalur di situ. Biar lambat asal selamat, biar panjang asal selesai. Hehe. “Wisata” rohani pagi itu saya tutup dengan Al Ma’tsurat pagi dan salat Duha. Eh, ditutup dengan foto-foto, ding..😆. Kedepannya, lokasi itu jadi tempat favorit kami kalo salat di Masjidil Haram.

Suasana tawaf di pagi hari ba'sa Subuh dilihat dari lantai teratas Masjidil Haram

Suasana tawaf di pagi hari ba’sa Subuh dilihat dari lantai teratas Masjidil Haram

Potret ka'bah dari lantai teratas, kain kiswah hitamnya sengaja ditutup dengan kain putih agar tidak disalahgunakan oleh orang-orang yang mengkultuskannya. Konon, banyak jemaah, terutama dari Indonesia, yang masih terkotori oleh hal-hal berbau syirik, sehingga terobsesi untuk meraih kain itu, bahkan merobeknya untuk dibawa pulang :roll:.

Potret ka’bah dari lantai teratas, kain kiswah hitamnya sengaja ditutup dengan kain putih agar tidak disalahgunakan oleh orang-orang yang mengkultuskannya. Konon, banyak jemaah, terutama dari Indonesia, yang masih terkotori oleh hal-hal berbau syirik, sehingga terobsesi untuk meraih kain itu, bahkan merobeknya untuk dibawa pulang🙄

Menyempatkan diri foto-foto seusai shalat Dhuha di lantai teratas Masjid Al-Haram. Untungnya dibela-belain nyempetin foto karena setelah hari itu ternyata kondisinya nggak memungkinkan buat jeprat-jepret (rame banget, bo!).

Menyempatkan diri foto-foto seusai shalat Dhuha di lantai teratas Masjidil Haram. Untungnya dibela-belain begitu karena setelah hari itu ternyata kondisinya nggak memungkinkan buat jeprat-jepret (rame banget, bo!).

Dari semua masjid yang kami kunjungi selama di Arab (masjid-masjid lainnya akan diceritakan di tulisan-tulisan mendatang), hanya di Masjidil Haram bisa salat bersebelahan dengan suami karena memang area pria dan wanita tidak jelas batasnya. Nggak kebayang juga sih kalo masjid seluas itu harus mendefinisikan batasan shaf pria dan wanita, pasti akan susah sekali.  Akan tetapi, shaf-shaf di dekat ka’bah, lantai 1, sama saja seperti masjid lain, dipisah pria VS wanita, yang diatur oleh para petugas berpakaian khas Arab (gamis dan sorban). Saya dan suami pernah kena usir, tuh.. makanya kami lebih nyaman mengambil tempat di lantai teratas yang saya ceritakan tadi.

Going Mall Has Never Been As This Morning!

Nabi mencontohkan tidak tidur lagi selepas Subuh. Beliau berdiam di masjid hingga matahari terbit, lalu beranjak memulai pekerjaan tanpa tidur dulu. Teladan itu kemudian populer di masyarakat kita dengan ungkapan “Kalo tidur lagi nanti rezekinya dipatuk ayam”, menandakan bahwa ayam saja bisa bangun pagi. Ajaran ini, meskipun tak tertulis hukumnya, masih dilestarikan masyarakat Arab hingga kini. Pagi ini, saya pertama kali mengetahuinya secara langsung. Karena nggak dapat tempat di dalam masjid, kami salat di dalam pertokoan gitu, di gang-gang antartokonya. Selepas salam, saya dibuat kaget oleh suara pintu kerek terbuka persis di kiri saya. Oh, rupanya toko-toko langsung pada buka.

Sebelum pulang ke rumah kami cari sarapan dulu di Abraj Al-Bait. Seumur-umur pergi ke mall, tak pernah sepagi saat kami berada di Mekkah. Kebiasaan mencari rezeki seusai Subuh itu tak pandang level, baik pedagang kecil maupun mall-mall besar, semua segera sibuk melayani konsumen. Inilah salah satu hal yang saya cintai dari kota kelahiran Kanjeng Nabi kita tercinta😉

3.1 - sarapan pertama di mekkah

Tips beli makan di Arab: Jangan tertipu papan menu di tokonya karena nggak selalu yang dipajang di menu itu tersedia dan nggak selalu pula yang tersedia itu tertulis di menu! Nah, lho.. foto di atas nih contohnya, menunya bertema “fast food” / “junk food” / whatever you call it, tapi ujung-ujungnya yang kami dapati hanyalah nasi biryani dan kawan-kawannya plus (tentu saja) ayam goreng! Oooh..

3.11 - makanan di Arab

Dua kali makan ayam dan nasi doang tanpa sayur bikin saya gatel juga nyari warna-warni sayur / buah. Alhamdulillah, sarapan pertama di Mekkah yang cukup sederhana ini cukup berkesan dengan kehadiran “rujak buah” :))

Rujak buah rupanya belum cukup memuaskan hasrat makan buah dan jus pelangi ini sangat menggiurkan.. slurrpp!

Rujak buah rupanya belum cukup memuaskan hasrat makan buah. Eeeh, kok ndilalah kelihatan aja nih jus pelangi.. langsung beli deh!

Manajemen Waktu Sangat Penting

Pengalaman nggak dapat tempat di Masjidil Haram karena terjebak shaf orang salat di jalan pada Subuh pagi itu membuat kami tersadar bahwa diperlukan strategi khusus untuk mencapai shaf-shaf di dalam masjid. Sekembalinya dari salat Dhuha itu, sebelum masuk kamar masing-masing, kami janjian ketemu lagi pukul 10.30 buat berangkat salat Duhur bareng. Kamar kami hanya dipisahkan oleh beberapa kamar dan pintu masuk ke wilayah wanita, tapi dihubungkan oleh lorong yang sama. Asyiknya lagi, suami saya dan suami teman-teman sekamar saya juga menempati kamar yang sama sehingga memudahkan kami untuk berkoordinasi. Teman sekamar ini penting didiskusikan bersama saat pembagian kamar.. jangan buru-buru gabung bikin kelompok. Dalam kasus rombongan kami (baca: yang saya tahu orang Indonesia, nggak tahu lainnya :P), para istri yang disuruh masuk kamar dulu ngasih tahu ke para suami tentang anggota kamarnya. Alhasil, di maktab kami jadi ada dua kamar yang dihuni jemaah wanita asal Indonesia, yang berasosiasi dengan dua kamar jemaah pria Indonesia. Hahaha.

Balik lagi ke salat Duhur..
Saya cuma sempat tidur sebentar nggak pake nyenyak sampai waktu yang disepakati dengan suami. Pukul 10.30 itu saya telepon suami untuk bersiap, lalu sekitar setengah jam kemudian kami sudah berangkat ke masjid. Waktu Duhur masih sejam lagi, persis tengah hari waktu setempat. Ternyata butuh waktu cuma sepuluh menit untuk sampai masjid (catat: saya jalannya cepat :P), kemudian sepuluh menit lagi untuk mencari shaf kosong. Alhamdulillah, dapat tempat leluasa.. Akankah kebiasaan bertahan di hari-hari berikutnya? Simak kisah selanjutnya😛 Di sinilah manajemen waktu sangat penting diterapkan karena waktu kita akan banyak dihabiskan untuk pulang-pergi masjid, ditambah aktivitas normal manusia lainnya seperti makan, mandi, boker, pipis, tidur, belanja, dan sebagainya. Kalo kebanyakan tidur, dijamin deh bubar semua tuh jadwal.. apalagi kalo kejebak kerumunan massa. hehe.

Tamu Tak Diundang

Sorenya, sebenernya udah kesenengan dapat tempat enak pas salat Duhur dan mau lanjut salat Ashar, tapi feeling saya mengatakan saya mending pulang dulu. Suami yang tadinya mau nganter saya minta tinggal di masjid saja karena azan tinggal bentar lagi dan doi kan wajib, bo, salat jamaah di masjid. Nggak kaya saya yang wanita ini.. tsssaahh.. Di maktab, saya terbelalak kaget. Flek coklat. Ditunggu sampai senja masih keluar. Ternyata saya mens lagi.. obat penunda mens itu tampaknya kurang maksimal bekerja.

Saya shock dan sedih nggak bisa nemenin suami ke masjid lagi..

Bersambung ke hari keempat: Kamis, 10 Oktober 2013 (5 Dzulhijjah 1434H)


* Kata “salat” ditulis tanpa huruf “h” dalam bahasa Indonesia, ejaan asli Arab-nya adalah shalat

Leave a comment

2 Comments

  1. [Diary Haji] Hari #4 – Ziyarah dan Istirahah (Bagian 1: di Mekkah) | .:creativega:.
  2. [Diary Haji] Hari #2 – Ketika Mulai Diuji Kesabaran Yang Lebih | .:creativega:.

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: