[Diary Haji] Hari #5 – Tertahan di Jalan, lalu Kehilangan


Jumat, 11 Oktober 2013 (6 Dzulhijjah 1434H)
Sambungan dari cerita hari ke-4: [Diary Haji] Hari #4 – Ziyarah dan Istirahah (Bagian 1: di Mekkah)

Judulnya kali ini mengacu ke cerita milik suami yang ditimpa kemalangan. Apakah ini hanya cobaan yang sifatnya sunatullah  ataukah sengaja Allah berikan demi menghukumnya? Hanya Allah  semata yang tahu :D So, mari kita mulai kronologisnya…

Tak ada firasat bahwa hari ini akan begitu berat dijalani. Pagi ini, kami masih dapat salat Subuh beratapkan langit seperti biasanya, bahkan saya sampai menyesal nggak bawa kamera karena ada satu misi yang belum kesampean juga: mengabadikan azan dari Masjidil Haram. Meskipun manusia mulai tumpek blek di masjid, tetap saja suasana gelap menuju terang selalu syahdu di rumah Allah ini. Gosip yang beredar di maktab tadi adalah: kalo mau Jumatan berangkatnya jam 10 alias dua jam sebelumnya.

Selain itu, rupanya para ibu berniat beli abaya bareng sesuai penawaran mbak Komang yang lebih dulu belanja dan ngasih sinyal ke penjualnya kalo dia akan bawa teman-teman sekamarnya andai dapat diskon. Haha.. Pemilik Sariraya ini selain jiwa pedagangnya jalan, jiwa konsumennya pun terasah baik:mrgreen:. Saya yang paling nggak bisa (baca: suka bingung, lalu nggak jadi beli) belanja fashion tentu saja menyambut suka cita tawaran bergabung dalam ‘barisan’.. eh.. rombongan perindu abaya, ding! Daripada habis waktu buat milih ntar, terus nggak tahu toko mana yang pas juga, ditambah besok udah ke Mina, apalagi begini.. lagiupla begitu.. ah, sudahlah, kebanyakan alasan. Intinya sih emang pengen beli gamis ala cewek-cewek Arab yang suka bikin saya waswas itu (soalnya cantik-cantiiikkk >_<)😆.

Just two days before the official start of the hajj, around one million faithful performed Friday prayers at the Grand Mosque as the cleric who officiated called for a peaceful and quiet hajj. See more at: http://www.vanguardngr.com/2013/10/muslim-pilgrims-throng-mecca-hajj/#sthash.x4juWyvw.dpuf

Vanguard hari ini menulis: “Just two days before the official start of the hajj, around one million faithful performed Friday prayers at the Grand Mosque as the cleric who officiated called for a peaceful and quiet hajj.”

Ambulance tried to pass across the crowd after Friday prayer in 2013 hajj pilgrimage period

Ambulance tried to pass across the crowd after Friday prayer in 2013 hajj pilgrimage period

Bin Dawood langganan kami selama di Mekkah, letaknya di lantai 1 Abraj Al-Bayt mall

Bin Dawood langganan kami selama di Mekkah, letaknya di lantai 1 Abraj Al-Bayt mall (Sumber foto: www.bindawood.com)

Berhubung bosan dengan menu yang tipe itu-itu aja, misalnya ayam 1/2 ekor dan nasi biryani / bukhori, selepas Subuh kami mampir ke Bin Dawood lagi. Kali ini bukan roti yang kami cari seperti sebelumnya, melainkan.. jeng-jeeeng.. Indomie cup! Heran juga, di supermarket super lengkap ini, mie yang bentuknya cup cuma ada merk kebanggaan orang Indonesia ini. Kira-kira satu rak berukuran 1×2 meter isinya Indomie cup semua😯. Pantas aja dari mulai di bandara Jeddah saya lihat orang-orang banyak banget yang makan itu. Sempat saya berpikir kenapa nggak ada di Indonesia, tapi setelah ngecek ke profilnya, Indomie cup ternyata cuma nama lain dari Pop Mie yang dikenal di negara kita😀.

Rasa Indomie cup agak lain dengan Pop Mie. Jauh lebih tasty! Semua rasa yang kami coba bumbunya nendang banget: tomato, beef, dan vegetable. Paling seger sih yang tomato menurut saya. Semuanya masih baik-baik saja hingga kami pulang, makan mie cepat-cepat, dan berpisah untuk beristirahat di kamar masing-masing. Karena belum bisa salat juga, saya berencana nggak ikut suami Jumatan dan menyusul teman-teman yang mau belanja seusai waktu salat Jumat. Masih ada waktu sekitar tiga jam lagi. Saya mengisinya dengan mencuci baju kotor yang tersisa sebelum meninggalkan Mekkah besok malam.

King Abdul Aziz gate Masjid Al-Haram dipotret dari depan Abraj Al-Bayt mall

King Abdul Aziz gate Masjid Al-Haram dipotret dari depan Abraj Al-Bayt mall

Salat Jumat yang Bikin Trauma

Semua yang saya sampein di sini diceritakan suami setelah kejadian.. Suami sejak kemarin sudah mulai kena gejala awal pilek dan batuk. Mukanya kelihatan lebih pucat dan inginnya lebih banyak tidur. Menjelang pukul 10.00 pun dia tidur, lalu terbangun saat tinggal seorang teman sekamarnya yang belum berangkat Jumatan. Saat itu, jam baru terlewat sedikit dari angka 10, tapi teman-teman lain rupanya sudah lebih dulu pergi. Ia pun berangkat dengan teman itu, seorang pemuda Mesir bernama Ali. Ketika keluar, massa sudah membludak hingga di jalanan depan apartemen kami. Suami saya dan kawannya pastinya nggak nyangka kalo mereka bakal gagal mencapai masjid kendati sudah berangkat sedini itu. Tanpa alasan yang mereka tak pernah tahu, jalan menuju masjid ditutup mulai dari sekitar apartemen kami hingga ke pelataran masjid.

Karena udah sering kami nemu hal semacam itu kalo di masjid, suami dan temannya pun menunggu seperti ribuan orang lainnya. Entahlah ratusan, ribuan, atau lebih dari itu.. yang jelas jumlah jemaah pada hari Jumat masa haji diperkirakan mencapai satu juta manusia. Akan tetapi, ditunggu setengah jam, satu jam, dan seterusnya jalan belum juga dibuka! Orang-orang mulai gusar, apalagi aksi diskriminasi dipertontonkan di depan mata mereka. Para petugas yang menutup jalan itu masih memperbolehkan pria-pria berpakaian khas Arab (jubah dan kain penutup kepala) masuk. Kesal sekali suami dibuatnya. Sudah bela-belain berangkat awal, jalan ke masjid pun tak bisa, jadi shaf terpotong dari dekat masjid sampai dekat apartemen kami.

Kepadatan jalan seusai Jumatan. Bisa dibayangkan betapa sulitnya mencari shaf salat.

Kepadatan jalan seusai Jumatan. Bisa dibayangkan betapa sulitnya mencari shaf salat.

Menurut penuturan suami, selama kurang lebih dua jam itu, sejak pukul 10 hingga waktu salat, dia berdiri di bawah panas terik siang ini😦 Selain itu, dia juga punya kerjaan ekstra megangin sajadah buat melindungi seorang nenek tua yang renta tanpa kursi roda bersama dengan massa lain yang sama-sama tertahan. Tak ayal, sepulang Jumatan itu suami langsung tepar.. kasihan, mana lagi nggak enak badan. Pengalaman Jumatan itu bikin dia ngambek dan tak semangat berangkat cepat untuk salat Ashar sampai akhirnya untuk ketiga kalinya dia pasrah salat di jalan lagi :(( Astaghfirullah, semoga asykar(petugas)nya nggak dosa bikin orang trauma ke masjid😀

Ashar salah (prayer) in the middle of street

Ashar salah (prayer) in the middle of street

Tempat salat Ashar suami persis di depan Nahdi Pharmacy yang saya ceritakan di tulisan lalu. Kami datang lagi ke situ. Kebetulan saya lagi butuh suplemen penambah zat besi, abis badan kok rasanya lemes dan pusing aja dari pagi. Kadang emang ada saat-saat anemia gitu sih kalo pas menstruasi. Walaupun haid kali ini nggak jelas beneran menstruasi kaya biasanya atau cuma flek aja, ngaruh juga ternyata ke badan saya. Apotek belum buka saat kami tiba, jadi bersama calon pembeli lain menunggu sang pemilik kembali dari salat. Inilah gambaran lain perniagaan di Arab. Selain buka sejak sehabis Subuh, tiap waktu salat mereka juga menutup toko atau mengemas dagangan untuk sementara.

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, dan itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.” (Q. S. Al Jumuah: 9)

Kunjungan kedua ke Nahdi Pharmacy, setelah ini ada tiga kali lagi kunjungan ke sini :D

Kunjungan kedua ke Nahdi Pharmacy, setelah ini ada tiga kali lagi kunjungan ke sini😀

Suplemen penambah darah (zat besi) yang saya beli

Suplemen penambah darah (zat besi) yang saya beli

Menembus Lautan Massa Demi Abaya

5.23 - shopping abaya

Suasana pertokoan di Abraj Al Bait ketika saya sedang jalan menuju toko abaya, diambil pasca salat Jumat (sekitar pukul 14.00)

Perjalanan dari apartemen ke masjid yang seringnya makan waktu 15 menit kali ini saya selesaikan 3x lipatnya, 45 menit! Masyaallah.. tentu saja saking luar biasa banyaknya manusia yang tumpah ke jalan raya. Mereka hendak kembali ke maktabnya masing-masing seusai salat Jumat, jadi saya yang melawan arus jelas lebih susah jalannya. Seharusnya saya berangkat bareng temen yang ikut Jumatan aja tadi. Benar-benar bukan ide bagus keluar saat peak hours seperti itu, bahkan saat saya sudah di jalan, suami nelepon..

Suami: “Ega jadi mau beli abaya? Rame banget lho jalannya, mendingan nggak usah deh.”
Saya: “Yah, aku udah di jalan nih..”
Suami: “Udah sampe mana emang?”
Saya: “Perempatan” (perempatan yang udah setengah jarak tempuh)
Suami: “Nggak balik aja? aku aja susah jalan nih.”
Saya: “Nggak bisa, udah janjian, lagian tanggung udah sampe sini.”
Suami: “Ya udah, hati-hati ya..”

Saya lihat ada SMS dan telepon dari teh Armel nanyain saya di mana. Si teteh dan teman-teman yang mau barengan cari abaya sedang makan siang tanpa para suami. Saya baru tahu kemudian kalo mereka dan suaminya masing-masing juga kebagian salat Jumat di jalan, padahal berangkatnya lebih awal dari suami saya. Ck.. ck.. ck.. Nah, berhubung udah dekat masjid dan mau ngejar salat Ashar di masjid, suami mereka nggak pulang atau jalan-jalan dulu, tapi langsung cari shaf di dalam masjid, sementara para istri ber-shopping ria.. ahaha.

Ekspresi emak-emak yang semangat berburu abaya :D

Ekspresi emak-emak yang semangat berburu abaya😀

Singkatnya, saya akhirnya ketemu sama teman-teman yang abis makan di Safa tower. Katanya sih tarif makanan atau barang di sana lebih murah dibandingkan towers lain. Saya sendiri dan suami belum pernah nyobain ke sana. FYI, ada tujuh towers di kompleks Abraj Al-Bait ini, yaitu Hotel tower, Hajar tower, Zamzam tower, Maqam tower, Qibla tower, Marwah tower, dan Safa towerBenar juga sih.. soalnya saat nunggu teman-teman datang tadi saya sempat berkeliling dan kaget, harga abaya di tower utama (pertokoan bawahnya Hotel Tower kayanya) berkisar antara SR 600 hingga SR 2000 (1,8 – 6 juta rupiah), sedangkan abaya yang kami incar berdasarkan rekomendasi mbak Komang aja cuma SR 100-an. Herannya, banyak juga lho jemaah haji Indonesia yang ngantri di toko-toko abaya berkelas itu.. Hmm.

Ketujuh towers saling terhubung sehingga pengunjung bisa menyeberang dari satu tower ke tower lain tanpa harus keluar gedung. Begitu pun kami kali ini, menyeberang dari pertokoan, di bawah tower yang ada jam raksasa bertuliskan lafal Allah itu, ke Safa tower. Bener juga.. pertokoan di Safa tower terlihat lebih ramah bagi kalangan menengah ke bawah.. kaya saya😮. Analoginya, kalo pertokoan di Hotel tower itu Paris van Java mall , maka Safa tower ini kaya Bandung Trade Center. Err.. maaf, ini cuma yang pernah tinggal di Bandung aja kali’ yang ngerti😀

Lanjuttt.. setelah naik turun eskalator dan muter-muter di Safa tower, nyampe juga kami di toko tempat mbak Komang ngeborong abaya. Rupanya dia lupa, bingung rasanya toko itu di sini.. di situ.. tapi beda, sampe banyak istighfar, sampai nelpon suaminya (yang juga lupa :D). Syukurlah akhirnya ketemu, padahal kami sudah lewat toko ini dua kali sebelumnya. Fiuhhh..

Toko abaya yang kami tuju

Toko abaya yang kami tuju

Dari hasil diskusi ditambah terjun langsung ke lapangan, ada sedikit tips milih abaya:

  •  Abaya dengan kain yang los tanpa jahitan di lengan berarti buatan asli Saudi, begitu pun sebaliknya. Abaya jenis ini susah untuk dirombak kalo ukurannya kurang pas.
  • Nggak semua model cocok buat semua orang, jadi sebaiknya coba dulu di tokonya sebelum menetapkan pilihan. Ini kerasa banget pas kami nyobain abaya punya mbak Komang rame-rame di kamar. Tiap model bersesuaian dengan postur tubuh tertentu.
  • Pastikan udah ada perjanjian dengan pemilik toko apakah boleh ditukar kalo ada cacat atau ukuran yang kurang pas. Satu hal yang perlu dicatat adalah tidak ada kamar pas dan/atau cermin di toko fashion. Rata-rata mereka membolehkan pembelinya mencoba di rumah, tapi kalo ada apa-apa belum tentu semua berani ngasih jaminan. Sekali lagi, harus dipastiin dulu apakah ada kesepakatan bersama antara pembeli dan penjual.
  • Kalo milih yang bordiran, perhatikan kualitas jahitannya. Kalo milih yang bermanik-manik, perhatikan apa ada manik yang lepas. Semaksimal mungkin carilah yang kondisinya terbaik daripada harus kembali ke toko untuk menukar.
  • Jangan ragu untuk menawar! Bahkan tawarlah sampai setengah harga jika mungkin. Kalo udah mentok, biasanya jawaban antara dua: ‘Halal, insyaaAllah’ (dikasih/nyerah) atau ‘Mafi faedah’ (untungnya hanya sedikit, artinya nggak dikasih)
  • Pedagang di Arab ramah-ramah dan dermawan. Mbak Komang yang beli abaya di 2-3 toko berbeda (saya lupa pastinya) dikasih bonus buat tiap abaya yang dibeli berupa manset dan beberapa shawl. Berharap hal yang sama, saat kami beli abaya pun iseng nanyain ada nggaknya bonus dan tahunya.. dikasih manset juga! Lumayan, kan? so, bertanyalah!
Abaya umumnya berwarna hitam, tapi bahannya nyaman dipakai di udara panas

Abaya umumnya berwarna hitam, tapi bahannya nyaman dipakai di udara panas

Pengalaman beli abaya dan Feroglobin siang ini mengajari saya tentang mudahnya berbelanja di Arab, setidaknya di daerah yang senantiasa kedatanngan jemaah haji / umrah seperti Mekkah ini.

Selain bahasa Inggris, mereka juga rata-rata bisa berbahasa Indonesia (bukan Melayu lho, tapi beneran bahasa Indonesia :P). Pertama, saya terheran-heran kenapa mbak Komang berhasil nawar harga abaya secara signifikan. Nggak cuma buat satu baju pula, tapi sampai empat potong (dan masih nambah di hari selanjutnya). Ternyata semua itu dituntaskannya dengan para abang penjual melalui bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Oalah.. pantesss.. Setelah lihat sendiri saat beli abaya tadi, barulah saya tahu kalo perbendaharaan kata para pedagang lumayan luas, nggak sekedar kata-kata sederhana seperti kalo kita baru awal-awal belajar bahasa asing gitu. Nggak ngerti deh mereka belajarnya khusus dikursusin / dilatih atau hanya otodidak, tapi kalo otodidak kok rasanya sulit dipercaya bisa macam-macam istilah yang mereka tahu. Walaupun tiap hari emang ada orang Indonesia yang belanja ke toko mereka lho, ya..🙄

Kedua, saat kami beli Feroglobin, dengan bahasa Inggris sepotong-potong saja apotekernya juga udah paham. Tahu apa yang suami saya katakan? Hanya kata kuncinya: for period with increasing blood. Superrr! Langsung dia ngerti dan ngambilin obat penambah darah itu dooong.. kata suami, “Asyik ya di sini, kalo di Jepang mana mungkin bisa ngomong gitu tadi.” Haha..😀 Begitulah kurang lebih gambaran kemudahan belanja di Arab. Selain komunikasi verbal dengan pedagang, bahasa Inggris juga hampir selalu dicantumkan di kemasan produk atau papan reklame yang mereka pasang.

Tawaf Dadakan Membawa Cobaan

Malam setelah salat Isya’ suami memanggil saya. Saya agak kesal saat itu karena dia belum ngasih kabar sejak pergi Maghrib-nya. Wajahnya kelihatan serius dan bajunya basah kuyup. Waduh.. ngapain aja dia? pikir saya. Di depan kamarnya, kami bercakap-cakap setengah berbisik. Lagi-lagi akan saya tampilkan teks aslinya😀

Suami: “Aku tadi thawaf, tiba-tiba pengen aja” (baca: tawaf sunnah)
Saya: “Bagus dong” (tumben nih orang, biasanya jarang-jarang ngelakuin hal ‘ekstra’ kaya gini.. haha)
Sambil berpikir, mungkin karena sorenya ada email kurang menyenangkan dari Umich, kampus yang sedang diincarnya.
Suami: “Gomen ne bajunya jadi basah kuyup”
Saya: “Ya gapapa, kan tinggal dicuci”
Suami: “Tadi aku bisa nyentuh Hajar Aswad dan berdoa di Hijr Ismail”
Saya: “Ohya? Deket banget dong sama ka’bah tawafnya?”
Suami: “Iya.. terus tapi pas udah selesai aku baru sadar.. sabukku udah nggak ada………..”
Saya:  “Sabuk bukannya isinya barang-barang berharga? Dibawa semua?”
Suami mengangguk pelan.. daaan bisa ditebak akhirnya gimana. Kami berdua berjalan lunglai ke dalam kamar. Menyembunyikan kesedihan di depan teman-teman sekamar suami yang sedang dinner bareng istri-istriya.

Barang-barang berharga yang hilang itu meliputi dua batang HP, uang baru ngambil dari ATM siangnya sebesar SR 2000, dompet dengan kartu-kartu ID, kompas, dan sabuk kain ihram.  Saya masih nggak percaya. Biasanya saya yang teledor, tapi kali ini malah suami yang sembarangan. Sabuk untuk kain ihram yang diberi agen Mian memang bagus sekali. Suami tetap memakainya meskipun tidak sedang berihram, termasuk saat tawaf sendiri ini. Dalam kondisi berdesakan dengan orang sebanyak itu, di dekat ka’bah pula, besar kemungkinan sabuk terlepas dari pinggang. Namun, dengan khilafnya suamiku itu membiarkan sabuknya lekat di dada. Belakangan saya baru tahu kalo bukan hanya sabuknya saja yang hilang, melainkan sandalnya juga! Walaaah… sandal FILA bagus tapi murah yang dibeli di Amazon setelah riset berjam-jam dan baru dipakai seminggu itu? Astaghfirullah, emang ye.. apalah arti sebuah sandal bermerk di hadapan Allah. Kayanya lagi diingetin begitu.. (u_u”)

Sebagai pertolongan pertama, suami menghubungi emergency call kartu kredit yang aktif 24 jam. Ohya, selama di Arab, buat komunikasi Arab-Jepang atau Arab-Indonesia, kami pakai aplikasi Smartalk, lebih murah dari Skype dan ada nomor fix-nya, jadi orang bisa nelepon kita balik.  Kartu kredit bisa diblokir tanpa kesulitan. Untungnya, sebelum berangkat haji, suami berinisiatif menduplikat kartu kreditnya dengan nama saya. Jadi, dua kartu kredit diambil dari satu rekening yang sama. Berikutnya, kami berpikir tentang residence card alias KTP Jepang yang hilang. Gawat sekali sepertinya.. bisa-bisa nggak bisa masuk lagi ke Jepang nih. Setelah ngecek ke situsnya, kalo KTP kita hilang, kita bisa nunjukin bukti re-entry permit di paspor (bentuknya stiker). Qadarallah.. bukti sakti itu tertempel di paspor lamanya suami dan paspor lama ketinggalan nggak dibawa :(( Suami pun bilang, nanti kalo sampai Jepang, saya pulang ke rumah dulu aja buat ambil paspor lamanya, sementara dia mungkin ditahan di bagian imigrasi. Imigrasi oh imigrasi.. baru saja sebulan lalu kami juga berurusan dengan mereka saat ortu saya tertahan karena tidak bisa menunjukkan tiket kembali ke tanah air😀

Sejenak bisa bernapas lega saat urusan kartu beres, tapi.. gimana dengan nasib dua smartphones itu? Duh, lebih sedih kehilangan data kayanya daripada barang😛 Nggak habis pikir saya, kok bisa-bisanya bawa iPhone 5 dan Android ke tengah pusaran manusia tawaf itu (”-___-) Ketika dihubungi, keduanya nggak aktif. Kami udah pasrah aja kalo barang-barang itu jatuh ke tangan orang lain. Suami melakukan usaha preventif dengan cara memformat seluruh data Dropbox-nya dari iPhone dan mengamankan identitasnya. Ada caranya buat biar pas orang yang nggak punya privilege ke Dropbox kita itu saat buka Dropbox nggak bisa lihat apa pun karena file-nya sudah ‘dihilangkan’ secara virtual dari iPhone, tapi di situsnya sih masih bisa dilihat. Gimana caranya? go googling! Hehe..

Melihat kami sibuk ngurus ini itu, teman-teman yang lagi dinner pun bertanya. Suami ceritakan kejadiannya. Banyak yang memberikan simpati dan sekaligus bergidik, takut ngalamin kejadian yang sama. Setelah dirasa urusan udah beres, saya pun kembali ke kamar untuk tidur. Sementara itu, ternyata suami masih ngobrol sama teman sekamar asal Mesir yang bersama melewati derita saat Jumatan tadi.. wah, suami berjodoh lagi rupanya dengan si Ali ini. Ali yang ngerti bahasa Arab itu (ya iyalah orang Mesir…) menyarankan kami untuk datang ke kantor Lost and Found masjid karena dia pernah kehilangan barang juga dan ketemu di sana. Dituliskannya nama kantor itu dalam bahasa Arab, yang kemudian menjadi petunjuk penting kami di keesokan harinya.

"Lost and found office" dalam bahasa Arab (kayanya sih.. sotoy juga.. haha) yang ditulisin brother dari Mesir. Jazakallah khair!

“Lost and found office” dalam bahasa Arab (kayanya sih.. sotoy juga.. haha) yang ditulisin brother dari Mesir. Jazakallah khair!

Ada satu lagi yang perlu diceritain. Soal uang yang juga hilang itu.. sebelumnya kami nggak banyak nyetok uang riyal. Pas berangkat, kami cuma bawa SR 300, itu pun hasil pemberian dari paman saya, sedangkan yang dari dompet kami sendiri masih dalam dolar, 100 USD. Di Arab, kami baru menukar dolar itu. Pengeluaran terbesar adalah untuk membayar hadyu untuk saya dan suami (SR 350/ekor/orang). Dengan pertimbangan bahwa kami akan ke Mina serta tarif penarikan uang yang lebih tinggi jika di atas tanggal 25, siang ini kami sengaja ngambil rada banyakan, lalu tidak seperti biasanya, suami nggak mau nyerahin semuanya ke saya, tapi cuma 1/3-nya dan sisanya disimpan di dompetnya. Belakangan dia menuturkan saat itu dia pikir saya orangnya ceroboh, suka ngilangin barang, jadi biar dia aja yang megang.. eeeh, tahunya malah kualat😛

Ya Allah.. terima kasih telah menegur kami hari ini. Ampunilah dosa kami ya Al Ghoffur.. aamiin.

Bersambung ke cerita hari ke-6: Sabtu, 12 Oktober 2013 (7 Dzulhijjah 1434H)

Leave a comment

3 Comments

  1. Bismillah.. Ka Ega, perkenalkan Saya Bella (IF ITB 2011). Senang membaca tulisan-tulisan di blog Ka Ega^^

    Oh ya ka, mau tanya.. *tapi diluar topik postingan ini.

    Ka Ega tau siapa admin Aggregator blog Gamais? Saya juga lumayan aktif di Gamais, pengennya aggregator itu diberdayakan lagi.. terimakasih sebelumnya

    Reply
  1. [Diary Haji] Hari #6 – Pelajaran tentang Syukur | .:creativega:.
  2. [Diary Haji] Hari #4 – Ziyarah dan Istirahah (Bagian 1: di Mekkah) | .:creativega:.

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: