[Diary Haji] Hari #6 – Pelajaran tentang Syukur


Sabtu, 12 Oktober 2013 (7 Dzulhijjah 1434H) Sambungan dari cerita hari ke-5: [Diary Haji] Hari #5 – Tertahan di Jalan, lalu Kehilangan

Pencarian Kantor “Lost and Found” di Masjidil Haram

Berbekal petunjuk yang dituliskan Ali semalam, pagi ini setelah salat Subuh berjamaah yang semakin berdesakan, kami mencari tahu di mana letak kantor Lost and Found berada. Dari tempat kami berada, di lantai teratas (lantai 3) yang menghadap ke rukun Yamani dan Hajar Aswad kabah hingga di lokasi sai lantai 1 masjid, tidak ada satu pun papan bertanda “Lost and Found” tampak. Heran juga, tempat sepenting itu kok nggak dipasang penunjuk arahnya. Setelah bingung sendiri, di pintu keluar lokasi sai yang kami duga dekat dengan pintu Marwah, kami bertanya pada petugas (asykar). Ohya, lupa bilang, sebelumnya saat di atas kami sempat bertanya ke asykar juga dan dijawab, “Coba ke arah baab Marwah”, artinya dia juga tidak tahu pasti lokasinya. Asykar kedua, yang kami temui di lantai 1, mengaku kurang tahu dan menyuruh kami bertanya pada temannya yang hanya berjarak beberapa meter darinya. Haiyaaahhh.. kepriben iki, pihak yang udah semestinya jadi tempat bertanya malah gagal paham posisi kantor sepenting itu😐 Asykar ketiga, temennya si asykar kedua, lebih aneh lagi petunjuknya. Kami disuruh jalan ke arahKing Abdul Aziz gate yang jadi pintu masuk masjid kalo kami berangkat dari maktab. Yah, Mas.. kalo jalan itu ane juga tiap hari lewat😛

Karena udah putus asa nanya ke asykar, akhirnya kami mutusin buat nyari sendiri, tapi keterangan dari asykar pertama terdengar agak masuk akal, maka sasaran kami adalah menemukan pintu (baab) Marwah. Sebagai informasi, ada 17 (sumber lain menyebut 18) buah pintu besar dan jika semua pintu dihitung ada total lebih dari 100 buah di masjid akbar ini. Bukan pekerjaan mudah buat nemuin ‘alamat’ aktualnya sekalipun udah bawa peta. Juga, meski kita tahu namanya, belum tentu orang pada ngerti kalo ditanya letaknya di mana. Sempat saya bertanya ke seorang jemaah haji Indonesia yang dengar-dengar maktabnya dari arah pintu Marwah, dijawabnya beliau nggak tahu nama pintunya, tapi ingat kalo pintu yang dimasukinya nomor 27. Memang tiap pintu selain dikasih nama juga dikasih nomor, tapi untuk pintu yang besar aja biasanya yang ditulis di peta, jadi kelihatan nggak ngurut dari 1-18.

Gambaran posisi Masjid Al-Haram dengan mall Abraj Al-Bait (yang juga dikelilingi shopping center lain) dan apartemen tempat kami menginap, Jawharat Al-Quds. Lokasi yang sangat dekat dari masjid dan pusat belanja ini sangat amat kami syukuri.

Contoh gambar tata letak Masjid Al-Haram

Untungnya, ada sedikit informasi yang akhirnya mengarahkan kami ke papan peta masjid. Dalam beberapa hari terakhir keberadaan jemaah haji dari agen Jepang lainnya, yakni Air1Travel, yang baru datang ke Mekkah tanggal 5 Dzulhijjah lalu menjadi topik pembicaraan di rombongan kami. Ada yang ketemu di masjid sama mereka, ada yang sekedar kontak-kontakan, bahkan ada yang sampai main ke maktab mereka dan cari kuliner disekitarnya. Kalo tidak salah inget, teman yang ke sana menyebut-nyebut pintu Marwah dan Safa. Dari situlah kami tahu penginapan mereka berada di balik sebuah bukit setelah melewati sebuah tunnel. Berbekal info tersebut, kami punya ide buat jalan aja ke arah bukit (waktu itu si tunnel belum kelihatan).

Tak terasa akhirnya kami sampai di posisi yang sepertinya sudah “pucuknya masjid” soalnya ada kendaraan-kendaraan besar yang datang dari arah jalan. Takut kebablasan, kami balik arah lagi, mencoba menyusuri sisi lain sampai tampaklah sebuah jalan berkeramik seperti di lantai 3. Subhanallah! Di ujung jalan itulah kami temukan peta masjid.MasyaAllah, bagaimana mungkin peta tempat seluas itu begitu ‘tersembunyi’? belum pernah kami sebersyukur itu nemu peta kayanya. Heu, biasa dimanja dengan timbunan informasi di Jepang sih.. di negeri seperti Arab dan Indonesia sih sebetulnya cari jalan lebih baik mengandalkan para pribumi.

Peta Masjidil Haram yang kami temukan

Peta Masjidil Haram yang kami temukan

Dari peta itulah misteri dimanakah Lost and Found berada terpecahkan sudah. Letaknya ternyata memang benar-benar di pojok dekat toilet wanita. Dengan sebuncah harapan *halah* kami pun langsung melenggang ke sana. Wohoo.. ternyata lokasinya pun sangat tersembunyi, harus naik tangga yang dijaga banyak asykar. Ah, ini sih bikin orang malas duluan ke sana. Tampaknya mereka sengaja ingin menguji kesungguhan hati si pemilik barang. Bisa juga karena memang pelayanan semacam itu tidak dianggap terlalu penting (dan juga sedikit peminatnya) karena toh sudah lazim jemaah haji / umrah cenderung mengikhlaskan barangnya yang hilang ketimbang mencarinya. Sikap khas muslim? Whatever.. Yet, we did so, before Ali suggested us to fight.

Finally.. we found it! Lost and found is located close to women toilet in the east of masjid complex. Sama nggak tulisannya kaya petunjuk yang dituliskan Ali? :D

Finally.. we found it! Lost and found is located close to women toilet in the east of masjid complex. Sama nggak tulisannya kaya petunjuk yang dituliskan Ali?😀

The Result

Ruangan Lost and Found kecil sekitar 2 x 5 meter itu benar-benar ada. Didalamnya terlihat rak bertingkat berisi banyak sepatu, sandal, dan tas, sedangkan di meja panjang yang menempel ke dinding depan ada beberapa container untuk menampung barang-barang hilang yang ukurannya lebih kecil. Benda-benda tak bertuan itu dikelompokkan menurut jenisnya dan bisa diambil di enam jendela pencarian yang tersedia. Terurut dari jendela paling kanan untuk mengambil camera and mobile, identity card, receipt and delivery of Lost and Found, watches and glasses, empty wallet, dan amounts and money. Dua terakhir terdengar lucu, bukan? I’ll tell you later what it means..😉

Suami menghadap Windows No. 1 tempat camera and mobile. Seorang petugas menyambutnya dengan beberapa pertanyaan standar seperti apa yang dicari, di mana dan kapan kejadiannya, serta seperti apa ciri barangnya, kemudian disodorkannya sekeranjang kotak plastik penuh berisi HP berbagai macam merek, kebanyakan warna hitam. Rupanya kami, para empu yang malang, diperkenankan mencari sendiri barang yang hilang.

Jendela-jendela di Lost and Found sesuai jenis barang hilang

Jendela-jendela di Lost and Found sesuai jenis barang hilang

Antrian jemaah di depan jendela-jendela Lost and Found

Antrian jemaah di depan jendela-jendela Lost and Found

Setelah pencarian dari satu jendela ke jendela lain, suami menunjukkan kedua smartphones-nya, sabuk ihram, dan dompetnya. Allahu akbar! Saya sampai sujud syukur saking leganya. Sungguh sulit dipercaya, semua barang suami bisa kembali dalam kondisi baik, kecuali uang di dalam dompet yang baru diambil dari ATM beberapa jam sebelum kehilangan. Alhamdulillah, Ya Rabb.. masih ada kejujuran di hati para tamu-Mu ini. Jangan salah, meskipun banyak orang percaya bahwa berbuat maksiat di tanah suci itu akan dibalas seketika juga, baik di dalam maupun luar Masjidil Haram, masih terdengar saja kasus pencurian, pencopetan, penipuan, dan lain sebagainya selama musim haji. Teman kami lainnya sempat memergoki seorang wanita bercadar di depan masjid sedang merogoh saku celananya. Para pengemis di sekitar masjid juga patut diwaspadai karena sebagian pakai cadar dan mana tau ada yang ngemis sebagai kedok mereka aja buat nyopet.

During peak times the crime rates can be higher. It’s unfortunate that in a place as holy and as rich as Makkah you still have beggars and thieves doing their rounds. (One of tips can be found here)

Yeah, setidaknya dengan pengalaman kali ini kami yakin Lost and Found masih berfungsi sebagaimana mestinya dan entah cleaning service atau asykar yang mengembalikan barang suami ke pihak berwajib, juga masih bisa dipercaya.

Barang-barang suami yang hilang telah kembali. Dompet dan kedua HP berada di dalam sabuk ihram saat hilang. Selain itu, ada uang yang tidak masuk dompet, alhamdulillah masih utuh. Gantungan kunci kompas harga 700 yen juga masih ada :D

Barang-barang suami yang hilang telah kembali. Dompet dan kedua HP berada di dalam sabuk ihram saat hilang. Selain itu, ada uang yang tidak masuk dompet, alhamdulillah masih utuh. Gantungan kunci kompas seharga 700 yen juga masih ada😀

Kita bahas sedikit ya soal misteri jendela empty wallets dan amounts / money tadi. Dua jendela itu masih jadi pertanyaan kami hingga kini. Kenapa sampai harus ada jendela khusus untuk mengambil uang saja dan juga kenapa jendela satunya lebih memilih istilah “empty wallets” (dompet kosong) ketimbang “wallet” (dompet) saja? Apa kalo ada dompet yang hilang berisi uang, lalu uangnya sengaja dikeluarkan oleh petugas? Bagaimana juga memverifikasi orang yang mengaku kehilangan uangnya tanpa ada identitas apa pun pada uang? Pastilah sulit sekali dan rawan disalahgunakan. Suami saya aja waktu ngambil HP diverifikasi dulu sama petugas dengan cara diminta menunjukkan foto pribadinya di album foto HP :green:. Dari situlah didapati nomor identifikasi (lihat gambar di atas) hingga barang lainnya dengan nomor sama bisa diklaim. Nyatanya, uang suami di dalam dompet yang jumlahnya cukup besar (sekitar Rp 3 juta) lenyap dan ketika ditanyakan ke petugas bagaimana cara mengambilnya karena jendela nomor enam itu tertutup rapat, petugas hanya menjawab dengan mengangkat bahunya, tanda tak tahu ke mana uangnya. Oh, Tuhan.. Ya sudahlah, suami bilang, “Mudah-mudahan dimasukin ke kas masjid.” Saya anggap itu jawaban menghibur yang tidak cukup memuaskan…😮

Hikmah Kehilangan

Tak ada satu pun ujian yang dialami anak manusia, kecuali ada hikmah dibaliknya. Begitu pula kehilangan yang kami alami. Saya anggap sebagai teguran yang manis dari Allah. Dari kejadian itu saya belajar jadi lebih ikhlas karena toh Allah membuktikan rezeki ada di tangan-Nya. Sering kan kita dengar nasihat bijak, “Kalo jodoh pasti bertemu, kalo rezeki pasti kembali”. Tentu selain untuk orang, ‘doktrin’ itu juga berlaku buat barang. Kalo barang itu memang sudah jadi rezekimu, pasti dia akan kembali padamu. Caila.. aheyyy.. Pagi ini, karena mencari kantor Lost and Found, kami jadi tahu sisi lain Masjidil Haram yang luasnya 90x lapangan sepakbola ini, sisi yang sangat berseberangan dari arah maktab kami. Saya ambil beberapa foto untuk mengabadikan ‘kunjungan’🙂

Semacam lorong lebar yang entah apa namanya. Arsitektur dinding dan langitnya indah sekali.

Semacam lorong lebar yang entah apa namanya. Ornamen dinding dan langitnya indah sekali.

Pemandangan Abraj Al Bait Tower berpadu dengan alat-alat konstruksi pelebaran masjid dilihat dari lokasi Lost and Found

Pemandangan Abraj Al Bait Tower berpadu dengan alat-alat konstruksi pelebaran masjid dilihat dari lokasi Lost and Found

Kangmas bermain bersama para burung dara pakai sandal karet "Crocs" palsu warna oranye karena sandalnya hilang :laugh:

Kangmas bermain bersama para burung dara pakai sandal karet “Crocs” palsu warna oranye karena sandalnya hilang :laugh:. Gerombolan burung dara ini sangat atraktif, kompak sekali! Di shaf favorit kami di lantai teratas masjid juga sering kami temui, tapi tidak sebanyak di halaman ‘belakang’ masjid ini.

Abraj Al Bait Tower tampak serasi dan dekat dengan hotel di atas bebatuan ini, padahal aslinya keduanya tidak berdekatan. Saking tingginya tower Al Bait hingga bisa dilihat dari seluruh kota Mekkah dan sekitarnya. Sinar matahari pagi memberi efek warna keemasan pada bangunan.

Abraj Al Bait Tower tampak serasi dan dekat dengan hotel di atas bebatuan ini, padahal aslinya keduanya tidak berdekatan. Saking tingginya tower Al Bait hingga bisa dilihat dari seluruh kota Mekkah dan sekitarnya. Sinar matahari pagi memberi efek warna keemasan pada bangunan.

Dari kunjungan ke timur yang bisa dibilang bagian belakang masjid ini, saya juga jadi tahu jalan menuju Aziziyah. Nama kawasan ini sudah sering saya dengar sebelum berangkat haji karena di sanalah banyak terdapat gedung-gedung penginapan, mulai dari hotel, apartemen, hingga mess (semacam rumah bersama), yang harganya cenderung lebih murah daripada penginapan di sekitar Masjidil Haram. Jemaah haji Indonesia sudah bertahun-tahun ditempatkan di sana, baik yang reguler maupun ONH plus. Teman-teman Jepang dari agen Air1Travel pun tahun ini di sana, sedangkan agen yang kami pakai sejak awal sudah menjanjikan tidak mengambil lokasi di kawasan tersebut. Aziziyah banyak dipilih karena dekat dengan Mina yang merupakan lokasi ritual haji inti, yang berarti juga dekat dengan Arafah, Muzdalifah, dan Jamarat. Seusai masa haji, biasanya jemaah haji di Aziziyah pindah ke penginapan yang lebih dekat dengan Masjidil Haram sehingga bisa lebih banyak menikmati salat di masjid.

Perbukitan di sisi timur masjid yang saya maksud sebelumnya saat mencari kantor Lost and Found. Kali ini tunnel / terowongan ke Aziziyah yang saya maksud tampak jelas di sebelah kanan.  Gedung krem di sebelah kiri tersebut kalo saya tidak salah menafsirkan adalah perpustakaan kota.

Perbukitan di sisi timur masjid yang saya maksud sebelumnya saat mencari kantor Lost and Found. Kali ini tunnel ke Aziziyah yang saya maksud tampak jelas di sebelah kanan. Gedung krem di sebelah kiri tersebut kalo saya tidak salah menafsirkan adalah perpustakaan kota.

Papan-papan penujuk jalan di depan tunnel (terowongan) ke Aziziyah

Papan-papan penujuk jalan di depan tunnel (terowongan) ke Aziziyah

Antum Andonesi? :D

Antum Andonesi?😀

"Pedestrian Road Tunnel", terowongan yang saya maksud di atas, tertulis penunjuk jalan ke arah Al-Aziziyah

“Pedestrian Road Tunnel”, terowongan yang saya maksud di atas, tertulis penunjuk jalan ke arah Al-Aziziyah

Karena sandal yang hilang tak ditemukan juga di Lost and Found, suami beli baru (kiri) dan pemandangan lain (kanan)

Karena sandal yang hilang tak ditemukan juga di Lost and Found, suami beli baru (kiri) dan pemandangan lain (kanan)

Selain jadi tahu tempat baru, gara-gara kehilangan uang lumayan gede kami juga mulai hati-hati dalam memebelanjakan sisa isi dompet. Makanan jadi sasaran utama penghematan karena pengeluaran rutin tiap hari apalagi kalo bukan soal perut. Perkara transportasi alhamdulillah kami udah nggak mikirin biaya taksi atau angkot.

Kalo mau makan enak dan wajar di Saudi, biasanya kami bisa menghabiskan 15-20 riyal / orang di depot-depot pinggir jalan dan 15-30 riyal/orang di restoran-restoran dalam mall. Menunya nggak jauh-jauh lah dari nasi dan ayam 1/4 ekor. Namun, pagi itu saya tertarik dengan promo sebuah restoran cepat saji Turki di lantai teratas Abraj Al Bait mall. Breakfast 4 SR. Kebab isi ayam goreng tepung cuma empat riyal, bo! Itu murahnya kebangetan deh.. tapi itulah kenyataannya. Orang Arab kalo udah dermawan mah loyal banget, seperti waktu itu saya dan teman-teman belanja abaya dapat bonus manset dan kerudung. Singkatnya, kebab itu kami beli dan saya cukup takjub melihat ukurannya tidak lebih kecil dari biasanya, lalu isinya pun normal, tidak ada yang sengaja di-cut. Rasanya juga enak-enak aja, tuh! Nggak tahu deh apa karena laper atau emang pinter cara ngatur menunya… hehe.

Di hari-hari berikutnya untungnya kami udah tinggal di Mina dan makan dari catering yang disiapkan panitia haji (mutawwif), jadi bisa menahan budget beli makanan buat sementara. Paling tidak bisa ‘nabung’ buat belanja oleh-oleh di Madinah nanti. Konon, harga barang-barang di sana lebih murah dibandingkan Mekkah atau Jeddah.

Wajah sumringah karena HP-nya ketemu :)

Beristirahat di jalur sai lantai teratas. Wajah sumringah karena HP-nya ketemu🙂

Efek lainnya, tentu saja kami jadi lebih semangat ibadahnya aww.. aww.. Siangnya, sebelum berangkat ke Mina, kami tidak pulang selepas Duhur agar bisa dapat shaf depan ka’bah di lantai 1 saat Asar. Saat Duhur itu aja lokasi favorit kami (lantai teratas lurus di belakang maqam Ibrahim) sudah diakuisisi oleh jemaah lain, jadi kami salat hampir di pojok dekat eskalator jalur sai lantai atas itu. Sambil menunggu waktu Asar, kami merapat ke dinding masjid sambil menghafalkan doa dan me-review lagi tata cara berhaji di lima hari ke depan. Ya, malam ini rombongan kami akan bertolak ke Mina. Masjid sudah sangat penuh sehingga cari sandaran yang pewe pun susah. Syukurlah ada sebuah pilar lebar yang sebetulnya hanya cukup untuk seorang masih kosong. Di sisi kanan dan kiri kami ada dua pasangan yang sudah lebih dulu mengambil tempat di sana.

Lewat kejadian semalam sampai siang ini Allah tampaknya hendak mengajari kami tentang rasa syukur. Diingatkan bahwa bisa berangkat haji aja udah nikmat yang begitu besar.. nggak penting berapa uang saku yang kami punya selama di Arab dan seberapa rapuh hati ini menghadapi cobaan selama di sana, tapi Allah pasti akan mencukupkannya. Jadi, nggak perlu lah bawa uang banyak-banyak karena takut kurang.. nyesel deh narik ATM kemarin.

Sorenya, kami benar-benar dapat shaf  di depan kabah. Sengaja kami ingin memuaskan hasrat melihat kebesaran kabah sebelum meninggalkannya ke Mina. Sayangnya, mood saya sedikit terusik saat kemudian datang para asykar mengoyak tatanan shaf yang sudah apik. Oooh rupanya saya diusir, disuruh mundur ke belakang membentuk shaf wanita sendiri. Sejak kapan ada aturan begitu? Dasar angin-anginan, nih, ngaturnya..

I and Kabah (sorry for the poor expression.. gara-gara abis diusir asykar)

I and Kabah (sorry for the poor expression.. gara-gara abis diusir asykar)

Perjalanan ke Mina

The time has come! Akhirnya tiba juga saat pergi ke Mina. Rombongan kami diminta siap pukul 22.00 waktu setempat. Saya bersyukur sekali agen mau mengusahakan agar kami menghabiskan hari tarwiyah di sana. Mabit di Mina sebelum ke Arafah hukumnya sunnah sehingga tidak semua jemaah haji ke sana seawal kami. Nabi Muhammad SAW dan rombongan hajinya kala itu mendirikan salat lima waktu selama hari tarwiyah (tanggal 8 Dzulhijjah, dihitung sejak Magrib) di Mina. Senang rasanya ada kesempatan menjalankan sunnah mabit dan shalat hari tarwiyah tersebut.

Seperti biasa, kali ini keberangkatan molor lagi, setelah sebelumnya juga molor dari bandara ke maktab dan dari maktab ke tempat ziyarah. Pihak agen sekaligus ketua rombongan, Mr. Mian, beberapa kali menyampaikan update tentang posisi bus yang kami carter. Jelas bukan salah dia, tapi memang kondisi jalanan yang macet ditambah profesionalisme agen transportasi Arab yang kurang membuat keterlambatan itu tak lagi hanya hitungan menit. Satu per satu teman sekamar saya mulai bosan menunggu dan tertidur.. tinggal saya dan seorang teman yang akhirnya juga tidur. Tiba-tiba kami dibangunkan..

“Bus datang, bus datang!”, kata jemaah pria.

Saya cek jam tangan, pukul 3 pagi! Whattt? Have we slept as that long? What kind of “jam karet” they have? Entahlah apa masalahnya sampae carter-an pukul 10 PM baru datang lima jam kemudian, tapi yang jelas saat kami berangkat, di luar apartemen belum banyak bus dan rombongan ke Mina lainnya terlihat. Mungkin mereka menunggu Subuh atau memang belum akan berangkat hari ini. Talbiyah kembali berkumandang lantang di dalam bus..

“Labbaik allahumma labbaik!” seru Mr. Mian.
“Labbaik allahumma labbaik!” jemaah menyambut dengan lafal yang sama. Begitu seterusnya hingga “..laa syariikalak!”, kemudian diulangi lagi terus-menerus sepanjang perjalanan.

Luar biasa, perjalanan yang saya kira akan makan waktu berjam-jam seperti video atau cerita pendahulu, hanya ditempuh selama setengah jam! Kami tiba sekitar sejam sebelum azan Subuh di Mina berkumandang sehingga sempat QL di sana. Alhamdulillah.. Hello, Mina! Here we come!

Bersambung ke cerita hari ke-7: Ahad, 13 Oktober 2013 (8 Dzulhijjah 1434H)

Leave a comment

2 Comments

  1. [Diary Haji] Daftar Bawaan, Jumlah, dan Tempat Menyimpannya | .:creativega:.
  2. [Diary Haji] Hari #7 – Hari Tarwiyah di Mina | .:creativega:.

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: