Empat Bulan Kemudian


Empat bulan sudah saya kembali ke tanah air. Selama merantau ke negeri seberang, belum pernah saya pulang selama ini. Kepulangan kali ini pun nggak nyangka bakal selama sekarang karena saya dan suami masih ingin berpetualang di luar negeri, jadi belum akan menetap seterusnya. Niat kembali dan menetap atau yang biasa diistilahkan back for good sih udah ada, tapi ada beberapa ketentuan dan syarat yang musti tercapai sebelum mewujudkannya. We wish it would happen at the right time. Hehe.. by the way, ternyata beda ya sensasinya kalo udah pernah mencicipi kehidupan di negara lain,  lalu kembali ke negeri sendiri.

Situasi yang sebenarnya dari dulu sama alias memang begitu, bisa saya sikapi lain antara sebelum dan seusai merantau.

Dalam kasus saya, kebetulan karena “dikirimnya” ke negara yang ekstrim bedanya dari Indonesia, mulai mental masyarakatnya hingga kekuatan teknologinya, saya rasanya jadi banyak ‘menuntut lebih’, misalnya pengennya semua orang itu tertib dan taat aturan kaya di negeri rantau. Padahal toh, dulu juga udah tahu kalo masyarakat kita ini susah diatur, aturan dibuat sebagai formalitas, dan bahkan saya sendiri suka cuek break the rule, tapi sekarang… sungguh hati nuraniku sulit, bahkan cenderung nggak bisa menerima itu semua (baca: berontak) mad. Makanya saya sadar kalo sekarang sering ‘mengusik ketenangan’ orang karena saya berani ngapa-ngapain kalo sikap orang itu nggak proper. Beresiko emang, apalagi baca artikel Jakarta makin nggak aman itu, tapi mau gimana lagi? Doa aja dah yang dikencengin.. dan berharap sedikit sentilan saya mereka renungkan kemudian.

Tulisan ini sekaligus mengabarkan ke teman-teman (ternyata banyak yang belum tahu) kalo saya sekeluarga sekarang sedang menetap di Depok dan kami sudah resmi angkat kaki dari Jepang. Andaikan nanti jalan hidup kami ke sana lagi, ya berarti itu akan jadi babak baru perjalanan hidup yang bukan lanjutan dari episode sebelumnya🙂 Soalnya saat kami datang kondangan dua kali terakhir kemarin, sebagian teman nanya, “Kapan kembali ke Jepang? lagi liburan ya?” Duh, ngarepnya sih gitu, hehe.. razz

Depok itu Jawa Barat lho, bukan DKI Jakarta.. kali aje ade yang lupe. Sapaan akrab sih masih teteh dan aa’, tapi kalo udah transaksi lazim digunakan cepek, gopek, goceng, dst. yang saya juga masih butuh loading nangkepnya. Sayang sih ya sebenarnya wilayah ibukota yang sudah lazim disebut sebagai “Jabodetabek” malah kepecah jadi tiga provinsi: DKI, Banten, dan Jawa Barat. Kata suami, Tokyo saja justru memperluas wilayahnya dari masa ke masa dengan mengakuisisi kota-kota disekitarnya untuk memudahkan pengelolaan kota. Titik Depok yang saya tinggali kebetulan mepet daerah Bogor, jadi hawanya cenderung sejuk dan permukaan tanahnya tinggi.

Depok menjadi kota ke-6 dalam ‘petualangan’ kami selama dua bulan terakhir sejak pulang dari Jepang pertengahan November lalu. Terurut dari Yokohama, berikut riwayatnya:

  • Yokohama ke Ciputat (Tangerang Selatan)
    Suami memilih Ciputat sebagai tempat tinggal sementara karena ada kakak pertama di sana. Pertimbangan lainnya tentu karena dekat dengan Jakarta, gampang kalo mau bikin visa. Ehem.. visanya belum jadi bikin sih akhirnya.
  • Ciputat ke Bumiayu
    Bumiayu jadi kota wajib karena disanalah Ayah-Mamah (ortu dari suami) tinggal. Ayah juga lagi butuh support buat usahanya menghidupkan kembali pondok pesantren rintisan kakek. Saya sebagai menantu teladan bantu-bantu masak dan belanja ke pasar, dong mrgreen

    creativega @Bumiayu

    @Pasar Bumiayu

  • Bumiayu ke Surabaya
    Sebelum gantian pulang ke rumah ortu saya di Cepu, biasanya kami emang mampir Surabaya dulu sembari mencari barang yang mungkin diperlukan dan nggak dijual di Cepu. Suami mengeset agar di sini dia bisa ikut TOEFL buat upgrading score.
  • Surabaya ke Cepu
    Sama seperti di Bumiayu, di Cepu kami jatahkan tinggal dua minggu buat silaturahmi sama keluarga saya, terutama Papa-Mom. Di sini saya bisa belajar nyetir mobil, dapat SIM A, dan ngelesin adik yang mau UN SMA dikit-dikit. Doain ya dia sukses..Aamiin!
  • Cepu ke Bandung
    Menjelang pergantian tahun tanpa kepastian pasti bikin galau. Itu yang terjadi sama saya dan suami. Aplikasi kuliahnya masih harus menunggu masa pendaftaran gelombang kedua, sementara saya juga bingung kalo mau ambil pekerjaan nggak bisa lama-lama. Akhirnya dari sebuah diskusi yang absurd, muncullah keputusan untuk pindah ke Bandung sambil cari kegiatan. Untuk keperluan itu, sebuah kamar kosan keluarga yang oke punya di Sukaraja Residence, Pasteur, kami sewa selama sebulan. Kos ini recommended deh. Bawa diri dan koper aja udah nyaman karena meja, kursi, lemari, rak, cermin, laci, dan lain sebagainya sudah tersedia di kamar. Pelayanan krunya juga sangat baik.
  • Bandung ke Depok
    Taunya nggak sampai sebulan, cuma sepuluh hari, kami udah harus cabut dari Bandung. Suami mantap bergabung dengan perusahaan milik alumni sealmamater yang nyambung sama passion-nya: mobil listrik.

Pengennya sih terdampar di Jogja aja gitu.. kota besar, tapi masih menyimpan banyak kearifan lokal, dan udah saya kenal saat SMA, lalu dulu sempat excited juga terdampar di Bandung, apalagi kulinernya menggoda selera semua.. *salah fokus*, tapi setelah dijalani kota ini kini malah terasa ‘nanggung’. Biaya hidup udah setingkat ibukota, tapi tetep aja harus ke Jakarta kalo ada apa-apa. Dari segi pilihan perusahaan yang cocok sama minat suami pun terbatas, dihitung sebelah tangan pun tak sampai, hingga akhirnya jalan ke pintu rezeki itu dibukakan di Depok ini.

Beberapa Kebiasaan yang Terbawa

Orang bijak bilang yang namanya traveling itu kudu bisa nambah wawasan, mengembangkan daya pikir, meluaskan jaringan, dan capaian-capaian positif lainnya, ketimbang hanya sekedar menikmati pemandangan, belanja, foto-foto, atau jalan-jalan. Itulah kenapa novel 99 Cahaya di Langit Eropa itu jadi menarik, sebab didalamnya disertai riset mendalam. Beda level kan dengan buku yang sekedar merangkum tips berlibur di Tokyo, misalnya. Bagi saya pribadi, traveling yang agak lama juga kerap menciptakan kebiasaan baru. Berikut ini beberapa kebiasaan yang terbawa dari negeri rantau.

Jalan Kaki

Gaya hidup mengandalkan transportasi umum di Jepang membuat saya (atau memaksa? neutral) terbiasa jalan kaki. Maklum, nggak punya kendaraan pribadi kecuali sepeda.

Untuk mencapai stasiun, halte, terminal, dan berganti jalur kereta yang jaraknya kadang tidak dekat kalo stasiunnya besar, juga harus jalan kaki.

Dulu ke warung dekat rumah aja (di Cepu dan Bandung) naik motor, sekarang jalan kaki rada jauhan sekitar 10-15 menit juga hajar aja. Sayangnya, di Indonesia polusinya kagak nahan.. trotoar pun tak selalu tersedia, jadi kalo lagi malas ‘bersabar’ terpaksa ikut nyumbang polusi itu dengan asap motor. Hiks.. hiks.. sangat disayangkan komplek perumahan kami juga merupakan jalur yang ramai, termasuk laluan rute Depok-Bogor. Jalannya sudah banyak berlubang karena kerap dilewati kendaraan-kendaraan besar.

Transportasi Umum

Selama nomaden antarkota antarprovinsi itu, kami masih enjoy naik kereta, bus, nyambung angkot, lalu taksi, dan pernah becak.. yang ternyata sekarang hanya muat untuk suami saya saja lol. Ketika tinggal di Ciputat, angkot, kopaja, dan taksi jadi keseharian kami. Kini saat di Depok, alhamdulillah mobil kantor boleh dipinjam saat weekend selama tidak ada yang pakai. Namun, berpetualang naik KRL dan busway ke ibukota pun masih jadi pilihan. Paling banter bawa mobil ke Tangerang atau Cilandak (Jaksel) aja soalnya kalo kejauhan malas macetnya rolleyes. Bisanya pergi dengan suami juga hanya malam hari atau Ahad karena Sabtu doi juga ada lembur wajib.

Jarang Olahraga

Nah, kebiasaan jalan kaki  itu tadi sebetulnya harus diikuti dengan ‘konsekuensi’ yang malas saya lakukan di sini, yaitu: keluar rumah. Gimana mau jalan kaki kalo kerjanya di rumah melulu? ahaha. Kalo di Jepang asyik-asyik aja jalan ke mana-mana karena jalur pejalan kaki sangat diperhatikan. Nggak ada yang rusak, nggak ada yang dipakai jualan, nggak ada genangan air, apalagi pohon atau pos polisi yang sengaja ‘ditanem’ di tengah trotoar *sigh*. Transportasi umum pun di dekat rumah ada tempat naiknya. Kalo jalan dari rumah mencapai halte/stasiun 30 menit deh paling jauh. Lha kalo di Indonesia? belum terbentuk semua itu. Alhasil, kalo medan tak memungkinkan ya lebih memilih naik motor karena transportasi umum nggak selalu terjangkau.

Lalu, apa hubungannya jalan kaki dan jarang olahraga? Ya, karena dulu di Jepang olahraga serius ke gym atau game susah.. harus ke kampus atau yang dekat rumah bayarnya mahal semua sad, jadi jalan kaki cari kereta / bus atau jalan kaki ke tempat belanja sekaligus saya niatkan olahraga dan hampir tiap hari ada keperluan naik kereta atau bus.

Dokter bilang jalan kaki serius 20 menit sehari cukup menjaga kebugaran tubuh.

Maksa banget dot com.. anggap saja cari pembenaran.

Eat Well, Live Well

Masakan Jepang jarang yang rasanya se-nendang masakan Indonesia. Bumbu masakan sehari-hari hanya berkisar antara garam, lada putih, bawang putih, dan soyu. Kalo pun rada berasa dikit itu karena ditambah kaldu, saus tiram, atau miso. Yang ditambah bahan-bahan diragukan kehalalannya entahlah gimana rasanya, katanya sih uenak 😮, tapi yang jelas bukan yang ribet kaya musti bakar dulu (terasi, kemiri), ngulek dulu, keprek dulu, apalah itu.. jaraaang banget. Lha wong sayur aja bisa milih yang udah dipotongin kecil-kecil tinggal sreeeng di atas api kok.  Saya belajar banyak dari cara memasak orang Jepang. Acara TV masak-masak adalah favorit saya selain jalan-jalan dan lihat pabrik.

Jalan-jalan: Yuu-Yuu Sampo (ゆうゆう散歩)

Selama di sana, dikit-dikit saya mulai ngikutin cara masak minimalis. Misalnya, masak tempura (anggap saja gorengan) nggak pakai garam dan merica. Gimana coba rasanya? atau sayur ditumis pakai soyu dan ebi saja. Di Indonesia, kebiasaan itu jadi terbawa juga. Lumayan menghemat waktu dengan kondisi kompor gas satu api dan ketiadaan blender, microwave oven, dan bakaran. Lagian, kalo pengen makan yang ribet dikit tinggal beli di luar sesekali, toh pilihan ‘yang bisa dimakan’ lebih banyak daripada di Jepang. Sayangnya, karena alasan penampilan dan kebersihan yang meragukan, saya nggak berani makan ikan yang agak mentah-mentah di sini. Menurut saya, makan olahan minimalis seperti masakan Jepang itu salah satu contoh eat well.

Selain soal pengolahan, saya juga jadi ketat soal kebersihan sekarang. Kalo dulu makan di warung pinggir jalan atau kaki lima hampir tiap hari, sekarang saya nggak mau lagi, kecuali terpaksa, dan selalu wanti-wanti suami biar nggak jajan di tempat kaya gitu juga. Kondisi air cuci piring dan paparan debu, asap, dsb. menjadi alasan utama saya untuk lebih tenang makan di depot/restoran permanen. Siomay, rujak, atau bakso lewat depan rumah? sekarang sudah enggan jajan itu semua. Maaf ya, abang-abang..

Concern pada Kehalalan

allergen-list-japan

Contoh daftar allergen

Berada di Indonesia tidak berarti say yes pada segala produk makanan / minuman sekali pun mereknya jelas, apalagi yang nggak bermerek. Di Jepang, saya sebagai muslim harus ekstra selektif memilih produk karena kebanyakan menyertakan komposisi dari bahan hewani, khamr, atau derivatnya. Kebanyakan? ya, biasanya dari satu rak cuma segelintir yang benar-benar aman, selebihnya antara jelas-jelas mengandung keharaman, syubhat, atau yang bisa ditolerir (nah, ini kadarnya beda-beda per orang biggrin). Selain mengecek secara mandiri dengan kesadaran pribadi, alhamdulillah sudah banyak situs/ media sosial/ aplikasi yang membantu orang “mengkonfirmasi secara instan” apakah produk yang ingin dibelinya OK atau sebaiknya ditinggalkan. Meski mulai banyak lembaga sertifikasi halal di Jepang, belum pernah saya menemukan produk di toko yang berlabel halal dari mereka. Untuk restoran, kami umat muslim terbantu banyak dengan kebijakan pemerintah Jepang yang mengharuskan usaha makanan membuat daftar alergi sehingga konsumen tinggal ngecek ke sana saja apakah bahan pantangannya dipakai dalam menu tertentu.

Di Indonesia, kebiasaan memperhatikan kehalalan itu terus melekat, padahal dulu mah manaaa pernah peduli ada atau tidaknya label halal MUI. Kenyataannya masih kerap saya temukan produk yang belum berlabel halal. Restoran pun demikian. Beli ayam dan daging pun saya lebih nyaman di supermarket/hypermarket yang sudah bisa dikonfirmasi sertifikasi halalnya ketimbang di pasar tradisional.

Shalat di Masjid

Menurut hadis yang tidak banyak dipahami muslim di negeri kita, laki-laki wajib salat berjamaah di masjid. Pemuda yang meramaikan masjid adalah yang mendapat syafaat di hari kiamat kelak. Rasulullah SAW pun menyuruh orang buta tetap berangkat ke masjid. Pemahaman seperti itu malah baru saya dapat saat tinggal di Jepang. Kalo ada kesempatan pergi jauh dengan suami, kami senang wisata rohani, kami cari tahu ada masjid nggak di sana dan gimana cara ke sana. Pengalaman salat lima waktu di masjid selama haji baik di Mekkah maupun Madinah juga berpengaruh besar. Sekarang ada perasaan bersalah yang muncul kalo sehari nggak ke masjid. Untuk suami, selama di rumah, diusahain bisa ke masjid terus. Subuh kami masih bisa bersama, tapi Magrib – Isya’ seringnya suami belum pulang.

Menghargai Nominal Terkecil (Perhitungan yang Tepat)

Nah, ini rencananya mau saya tulis di pos tersendiri karena saking panjangnya daftar kejadian. Biarlah orang menganggap saya pelit atau apa, tapi saya tidak lagi mampu membiarkan perhitungan belanja yang dibulatkan ke atas dari jumlah seharusnya dan disuruh membayar mulai dari Rp 50,00 sampai beberapa ratus rupiah lebih banyak. Alasan mereka sih demi kemudahan alias nggak punya kembalian. Oh, maaf ya.. itu resiko Anda. Jangan salahkan saya bila Anda membuat harga tanggung dan Anda tidak punya kembaliannya, lalu Anda terpaksa memberi saya kembalian lebih besar daripada yang seharusnya. Kita ini aneh.. nominal terkecil masih ada dan diproduksi, yakni Rp 50,00, tapi kerap menutup mata mengganggap nilai itu tak berarti lagi. Orang keren pastinya belajar dari Jepang yang menghargai ¥1 atau Amerika dengan foto presidennya yang malah diabadikan dalam pecahan $1.

Terkait dengan nominal, karena di Jepang nggak pernah ada pembulatan ke atas kalo belanja, saya juga jadi kurang bisa mentolerir pembulatan sekarang. Pembulatan itu kan seharusnya tugasnya produsen sebelum menetapkan harga jual, jadi bukannya saat ditotal baru dibulatkan ke atas agar jumlahnya genap. Misalnya, saya pernah beli di toko dengan harga-harga ganjil yang buntutnya 90, 15, 59, dst. terus pas ditotal jatuhnya Rp xxx.311,00 tapi jadinya yang harus dibayar Rp xxx.400. Nah, itu kan berarti produsen ngambil untung dari harga yang tidak pas. Kalo pun dibulatkan ke atas, harusnya yang paling dekat Rp xxx.350, kan? Toh, nominal Rp 50 masih eksis kok di muka bumi Indonesia ini.. tapi kenapa coba nggak dibulatkan segitu? tentu karena mereka tak mau ambil pusing menyediakan koin Rp 50! Ck, ck, ck.. sekali lagi bukannya saya pelit, tapi saya nggak mau anggap perkara itu sepele. Itu cikal bakal korupsi yang lebih besar, bung! Sadar nggak sih mental masyarakat kita akan terbentuk dari kebiasaan yang sedikit-sedikit dan kecil-kecil itu. Saya lebih menghargai produsen yang konsekuen, misalnya membrandol dagangannya dengan harga jual pas meskipun jatuhnya lebih mahal jika memang tak mau repot dengan stok koin kembalian. Pernah juga saya ke restoran yang memikirkan harga dengan cerdas sehingga meskipun harga dasarnya tidak genap, setelah ditambah PPN menjadi genap. Yang seperti itu juga lebih menyenangkan bagi pembeli rewel seperti saya.

Pertanyaan “Kerasan nggak?”

Ini pertanyaan yang lumayan sering saya terima, terutama dari kawan di Jepang. ‘Prihatin ‘ kali ya…  wajar lah ada pandangan nyinyir begitu. Jangankan orang lain, saya kadang masih suka mengasihani diri sendiri dan kerap teringat suasana di Jepang, terutama lokasi favorit saya: rumah bernama Haitsutakasaki yang cozy-nya tiada duanya. Sudah banyak rumah yang saya kunjungi, termasuk rumah-rumah besar permanen milik teman yang hendak menetap di Jepang, tapi tetap saja lebih suka rumah yang dipilih suami sebelum menikah itu smile. Chemistry memang dibutuhkan ya untuk membangun kenyamanan berkehidupan di rumah. Pengalaman tinggal di Jepang membuktikan bahwa tak perlu rumah besar untuk membuat kami betah di rumah, bahkan sangat merindukan rumah baik sekedar pergi ke kantor/kampus maupun tiap pergi ke luar kota dan mudik ke Indonesia. Sementara di sini, setelah sempat merasakan numpang di rumah kakak/ortu yang luas dan mau makan tinggal makan, ternyata saya tetap lebih senang tinggal berdua saja dengan suami di sepetak rusun yang tak beda jauh ukurannya dengan apato kami di Jepang ini.

Oke.. tapi persoalan kerasan bukan hanya perkara rumah. Lingkungan, karakter masyarakatnya, juga turut menentukan. Tantangan terbesar yang saya hadapi di sini apalagi kalo bukan menemui kondisi paradoks: negeri mayoritas Muslim yang tingkah laku masyarakatnya jauh dari nilai Islam. Di jalan, di tempat umum, di lapak usaha, di televisi apalagi, banyak pergolakan batin yang terjadi pada saya. Tentu saja saya sendiri yang dibesarkan dalam komunitas dengan kebiasaan tak taat aturan, ‘toleransi’ tinggi, nunggu perintah atasan, oportunis, dan sebagainya, juga masih jauuuh dari sempurna. Namun, saya dipaksa dan terus dipaksa untuk keluar dari kebiasaan itu selama di Jepang sehingga ketika kembali ke sini kebiasaan nggak bener itu menjadi asing bagi saya. Itulah yang kadang bikin saya nggak kerasan. Mungkin butuh waktu panjang dan banyak sugesti demi menyikapinya.

Ganbarimasu! 

Ikan Besar di Kolam Kecil

Kebetulan saya dan suami itu tipenya mirip dalam memandang suatu profesi. Ah, kok profesi sih.. kebagusan. Apa emang profesi saya? Pekerjaan deh. Job. You name it. Tipe kaya gimana, sih?

Menjadi ikan besar di kolam yang kecil lebih kami sukai daripada menjadi ikan kecil di kolam yang besar

Ngerti kan, ya? Artinya, dalam hal mencari kerja atau jika wirausaha bahasanya: mengadakan pekerjaan, bukan seberapa gede dan mentereng tempat kerjanya, tapi lebih kepada seberpengaruh apa sih kalo kami ada didalamnya. Kalo bisa memberi manfaat yang lebih ketika berada di perusahaan rintisan, why not? Di Indonesia, kesempatan kami untuk menjadi ikan besar di kolam kecil seharusnya terbuka lebih luas ketimbang jika tetap berada di Jepang.

Meskipun gaji suami jauh lebih besar ketika kerja di Jepang dan perbandingan ‘gaji : kebutuhan’  hampir sama di sini (hello.. harga barang di Indonesia sekarang udah mahal-mahal lho..), tapi dari segi kepuasan kerja, suami terlihat jauh lebih puas karena bisa memberi kontribusi yang lebih besar dan di bidang yang sesuai minatnya pula. Di Jepang, suami memang dimasukkan ke bidang yang sebenarnya bukan pilihan utama dia saat lamaran. Makanya setelah tiga tahun masa kontrak terlewati, rupanya ia merasa skill-nya tidak banyak berkembang, atau halusnya kapabilitas yang ingin dia capai belum terpenuhi. Baiklah.. Namun demikian, diakuinya bahwa pengalaman kerja di Jepang membawa banyak sekali pelajaran tentang profesionalisme yang bisa diterapkan dan menambah nilai plus ketika bekerja di Indonesia.

“Kalo saya tetap di Jerman, mungkin saya menjadi satu dari sekian ratus ribu dokter yang berkarya di sana. Untuk saya, mungkin kehidupan akan tertata rapi, suasana lebih mengenakkan daripada di sini, tapi apakah cita-cita awal saya ketika mengikrarkan diri menjadi dokter bisa terpenuhi? Kalo saya pulang, banyak pekerjaan yang bisa saya lakukan untuk menggapai yang saya angan-angankan sejak kecil. Pesan ibu saya pegang terus dan saya bangga menjadi orang Indonesia.” (dr. Lie di Kick Andy, 2014/03/07)

Lie, dokter yang memprakarsai rumah sakit kapal gratis, berkeinginan menjadi dokter setelah menjadi saksi mata kejadian pahit yang menimpa adiknya. Saat itu agresi militer Belanda yang ke-2. Lie kecil yang sudah tidak punya Bapak mengungsi bersama ibunya. Saking miskinnya, si ibu menyuruh Lie bermain kalo lapar dan minta makan karena persediaan makanan di dapur kosong. Dalam kondisi sulit itu, adiknya yang satu tahun dibawahnya meninggal akibat sakit semacam diare dan tidak tertangani karena tidak cukup uang untuk berobat. Ibunya berpesan kalo Lie jadi dokter nanti, “Jangan memeras orang kecil. Mereka mungkin bisa bayar kamu, tetapi di rumah mereka menangis karena tidak bisa beli beras.”  Sejak itu, ia bercita-cita menjadi dokter agar bisa menyelamatkan banyak nyawa orang malang (sakit, tapi tidak mampu berobat) seperti adiknya. Di Indonesia, jalan menuju itu tentu terbuka lebar dibandingkan jika berada di negeri yang sudah maju dengan rakyatnya yang sudah sejahtera, seperti Jerman.

Kira-kira pengennya seperti yang diungkapkan dalam cerita inspirasi di atas lah😉

Yang saya lihat menarik sejauh ini adalah sense of belonging suami terhadap tempat kerjanya tinggi banget. Sepetak pabrik yang menjadi area penugasannya udah kaya bengkel pribadi. Berbagai improvisasi dia ajukan dan wujudkan untuk memoles produk. Sudah dua kali dia mengajukan business trip sendiri demi menghindari cuti (padahal aslinya buat menuhin undangan) dan berhasil razz. Selain pekerjaan engineering, dia juga hobi pesan barang sana-sini via online buat kebutuhan penelitian dan produksi. Beberapa dia ajukan sendiri barangnya seperti bilang ke bos bahwa ini dan itu produk yang menarik untuk kita beli. Laptop kantor tiap hari dibawa pulang dan kerjaannya kadang dilanjutkan di rumah. Kadang kalo udah waktunya delivery produk ke customer, lembur sampai hampir tengah malam juga dijabanin deh. Waktu awal-awal masuk kerja, di kantor doi lihat ada seonggok monitor televisi nganggur, terus dibeliin antena dan diutak-atik sampai bisa hidup lagi. Duh, macem-macem deh kreativitasnya.. pas kerja di Jepang mana bisa kaya gitu? Yang ada juga dia sebal kalo laporan presentasinya disuruh ‘ngebagus-bagusin’ sama si bos (nggak boleh kelihatan gagal). evil

Saya sendiri sebetulnya punya banyak kesempatan untuk terjun juga ke ‘kolam’ yang memungkinkan saya bergerak leluasa dibandingkan saat berada di Jepang, tapi semua rencana yang saya susun masih belum terealisasi (ehem..). Banyak euy kerjaan rumah dan urusan bisnis doang. Beberapa target sudah dimulai dan masih ber-progres. Mudah-mudahan next time saya bisa sharing ya di sini.. aamiin. Yang jelas saya sih nggak berani mengklaim diri bisa menjadi ‘ikan besar’. Masih jauh deh dari itu karena nyatanya banyak hal yang harus saya mulai dari nol di sini.

Tahukah Anda bahwa seumur-umur, dalam dua bulan ini pertama kalinya saya belanja kelapa parut sendiri; beli tabung gas dan mempelajari seluk-beluknya; tahu gimana cara memilih buah-buahan seperti melon, semangka, dsb.; mempraktekkan trik menghalau kucing; bernegosiasi dengan pihak-pihak luar seperti pengelola rusun, pemilik rumah, provider internet, dll. Hal-hal yang sebelumnya saya tahu beres karena diurus ortu (saat masih menjadi tanggung jawab mereka) dan suami (saat di Jepang) kini harus saya selesaikan sendiri. Pengalaman tinggal di kos dan asrama semasa sekolah hingga kuliah belum cukup membuat saya mandiri rupanya. Sampai jadi mahasiswa, di rumah pun saya nggak pernah ikut cawe-cawe ngurusin dapur sampai akhirnya saya merantau ke Jepang.

Sungguh, dipikir-pikir sebetulnya indah sekali skenario Allah dengan memberikan kesempatan pada kami mencicipi tinggal sejenak di negeri sendiri yang penuh dengan tantangan ini. Kalo lebih lama lagi tinggal di negeri orang, shocking level-nya entah udah terakumulasi seberapa besar ketika kembali. Baru ditinggal mau tiga tahun aja udah banyak yang berubah kok.

The Real Life is Here!

Keinginan kembali ke Jepang itu selalu ada. Terkadang ada hal yang mengingatkan saya akan kenangan di sana, lalu air mata pun menetes.. kangen. Masih mending kalo cuma merembes.. kadang malah sampe ngomong panjang lebar ke suami. Di sini gini, di sana gitu. Kenapa harus begini? Begitu berulang beberapa kali sambil disertai rayuan. Saya kadang merasa Jepang itu kaya surga dari segi fasilitas dan kenyamanan hidup. Apa-apa teratur, apa-apa canggih, apa-apa dibuat agar manusia, bahkan hewan, merasa nyaman. Well, kalo mau menghibur diri: justru itulah tidak real-nya! Beberapa waktu lalu, seorang senior yang lebih lama 2x lipat dari saya tinggal di Jepang juga sedang bersiap kembali ke tanah air. Seperti saya dan pendahulu lain, sindrom “enggan pulang” pun melandanya. Dialah yang menginspirasi saya untuk berpikir demikian karena dia bilang begini:

“Kok kayanya the real life itu bener-bener di Indonesia ya, dengan segala masalahnya.”

Contoh real life di sini itu ya..

Waktu itu kami pergi Subuh-an di masjid. Jalanan sepi dan kami baru tahu dari jalanan yang basah kalo semalam habis hujan. Hujan di Indonesia itu kalo nggak bikin banjir minimal bikin banyak kubangan air.. maklum, jalannya banyak yang berlubang😛 Saya udah jalan hati-hati sambil mengangkat mukena sedikit, tapi tetap saja entah karena orang di belakang jalannya kurang nggak hati-hati atau kendaraan yang lewat di jalan kencang, mukena dan baju saya kecipratan air kotor. Untung sadarnya saat perjalanan pulang, jadi misi salat berjamaah tidak terganggu. Kenanya kapan juga nggak tahu pasti. Sampai rumah, kerja bakti deh mencuci mukena, celana, dan sarung. Besok-besoknya lagi, kejadian serupa sulit terhindarkan. Kembali saya mencuci celana dan rok sebelum waktunya masuk keranjang cucian. Di Jepang mana pernah kejadian? Kebetulan belum. Jarang sih ada kubangan air🙂

Itu tadi yang super simpel.. di bawah ini mungkin contoh yang sedikit lebih ‘keren’.

Tabung gas jadi momok besar bagi saya dan suami. Kami berdua seumur-umur belum pernah berurusan dengan pemasangan tabung gas, apalagi yang versi 3 kg alias melon, tapi kami lebih senang menyebutnya sebagai “Android”. Perlu waktu seminggu dari mulai mencari lokasi penjualan hingga akhirnya kami berhasil memasang tabung pertama. Berbagai rupa artikel kami lahap sebelum pemasangan saking takutnya ada apa-apa. Hasilnya? rata-rata bilang hampir semua tabung gas yang mereka pasang tidak mulus prosesnya. Gas mendesis, artinya keluar sedikit dari celah mulut tabung, adalah yang paling sering terjadi. Pemasangan juga sulit karena ternyata regulator kami rada cacat tuas penutupnya. Tiap moment memutar tombol ON regulator, terjadi kehebohan pada kami antara suami yang bersembunyi di balik tembok sambil tangannya memegang regulator dan saya yang di dekat pintu siap-siap kabur kalo ada apa-apa mrgreen. Alhamdulillah, kini sudah ganti tabung kedua dan tidak ada kebocoran gas terjadi. Namun demikian, rasa khawatir masih terus menghantui kami hingga kini. Sementara itu, di Jepang, belum pernah dengar isu gas yang membawa petaka.

Kecuali di akhirat, hidup yang sesungguhnya itu mungkin memang diiringi dengan ketegangan dan ketakutan, ya? Menyeberang jalan pun di sini jadi suatu hal yang menegangkan bagi saya.

Saya jadi ingat isi surat yang pernah saya tulis untuk teman-teman sekampus seapartemen yang pulang ke tanah air ini.. nulisnya buru-buru jadi maafin ya kalo rada ngawur😀 tapi kayanya nyambung kok sama tema “real life”. Sekali lagi membaca surat ini juga seperti sedang menasihati diri sendiri.

TILL WE MEET AGAIN

Dear my apato-mates,

Sekali lagi aku ucapkan selamat untuk kelulusan mas dan mbak semuanya. Waktu setahun cepat sekali ya berlalu.. aku juga nggak percaya udah 1,5 tahun di sini😦 Surat ini aku tulis sebagai pengantar foto-foto kenangan yang aku kirim sekaligus permohonan maaf. Aku minta maaf, harusnya foto-foto ini dikasih barengan sama album foto kemarin, tapi ada kesalahan teknis, jadi aku tahan dulu. Maaf juga nggak bisa ngasih apa-apa selain “pasir dan debu” ini. Mudah-mudahan cukup buat sekedar mengingat bahwa kita pernah bersama (cailah..) dan semoga ada kesempatan lagi buat kita untuk reuni. Maaf, nggak bisa ikut melepas baik di homeparty, apato, maupun stasiun. Terakhir, maaf yang super besar untuk semua khilafku selama ini sepanjang pertemanan kita.

Banyak orang Indonesia yang merasa berat kembali ke tanah air karena udah nyaman sama mental orang Jepang dan dimanjakan oleh kecanggihan teknologi serta derasnya informasi. Aku dulu juga berpikir demikian: pengen tinggal lama di sini, besarin anak di sini. Namun, pernah aku berdiskusi dengan suami.. dia bilang,  “Emang apa sih karya yang udah Ega hasilkan selama di sini? coba kalo Ega di Indonesia, pasti lebih banyak yang bisa dilakukan. Sekecil apa pun usaha yang Ega lakukan buat majuin masyarakat di Indonesia tuh jauh lebih berguna daripada di sini terus, semuanya serba enak (maksudnya udah pada maju, nggak ada yang perlu dibantu). Ega bayar pajak di sini uangnya dipake obachan-ojichan main pachinko sama mabuk-mabukan, coba kalo di sana bisa buat modalin petani (katanya sih)”. Entah gimana dengan teman-teman, tapi bagiku kata-kata itu sedikit menghibur saat mengingat nanti akan pulang juga.

Aku jadi ingat, seorang teman lain yang juga pulang bulan ini bilang kalo dia lebih suka menganggap perantauannya ke Jepang selama dua tahun masa studi master sebagai “liburan”. Bisa jadi benar karena di Indonesia pasti seperti kembali dari liburan, kembali ke perjuangan-perjuangan yang lebih berat. Namun, sejarah selalu membuktikan bahwa lebih banyak orang outstanding yang lahir dari kondisi sulit dibandingkan mereka yang sudah enak dari awal. Semoga kita termasuk yang demikian, yang lebih berpeluang sukses dengan menghasilkan karya untuk masyarakat (kaya jiwa SFC yang serba “society oriented”). Jadi, seharusnya aku iri sama kalian karena udah lebih dulu memulai perjuangan mulia itu setelah menempa ilmu kehidupan di Jepang! #ngomongapasihgue

Selanjutnya, aku mau ucapin “おつかれさまでした”dan “どうもありがとうございました“. Makasih buat kerjasama dan bantuannya selama ini. Makasih kadang udah mau direpotkan dan sabar ngadepin aku yang serba meletup-letup.

Selamat mengejar impian dan harapan di mana pun berada..
Jangan lupa saling mendoakan..
Jangan lupa tetap keep in touch by social media or email.
Sampai jumpa di lain kesempatan. Sukses selalu untuk mas Bayu, mbak Lia, dan mbak Ita ^_~

Semoga Allah memberkahi kita semua. Aamiin.

Haitsutakasaki 201, 2012.09.20

Kesimpulannya, empat bulan di Indonesia ini membuat saya melihat dan teringat lagi akan hakikat “dunia” yang sesungguhnya. Sudah selayaknya itu disyukuri meskipun kadang saya sebagai manusia terlupa nikmat-Nya. Dunia yang penuh dengan tantangan dan perjuangan. Dunia yang… heiii, masih banyak lho orang nggak benernya, kamu harus hati-hati melangkah biar nggak jadi korban atau malah ketularan buruknya.

Sekian curhat kali ini.. we’re gonna live here at least for about three months more. Yes, the next destination has been declared!

Leave a comment

11 Comments

  1. Reblogged this on EGA ♥ AISAR and commented:

    News update from #ea5512 after four months coming back to Indonesia (in Bahasa Indonesia)

    Reply
  2. tips agar nominal terkecil tetep diperhitungkan: bayar pake kartu😛

    Reply
    • Pastinya.. bahkan kalo tips gw: sedia banyak kartu, karena keuntungannya beda2, ada yg ngasih diskon 10% kalo pake kartu A, ada yg ga nerima kartu A tapi bisa kartu B, dan sebagainya. hehe.

      Reply
  3. Ega, saya membacanya sampai habis, intinya kita perlu mencoba merasakan berbagai tempat dan budaya yang berbeda supaya mata kita lebih terbuka, jangan hanya pakai kacamata kuda. Tidak ada tempat yang sempurna. Selanjutnya mensyukuri apa yang telah diberikan Allah kepada kita.

    Saya pertama kali ke Jepang tahun lalu, dan merasakan sensasi berbeda seperti ini: ketika turun dari stasiun bawah tanah dan hendak ke jalan raya menuju hotel APA yang jaraknya sekitar 500 meter lebih, saya dan Bu Hira harus menggotong dan mendorong sendiri koper2 yang besar dan berat plus ransel di punggung. Lumayan cape juga jalan kaki menuju hotel dengan beban seberat itu. Mau naik taksi nanggung, mau naik bis juga nanngung, terpaksa deh menarik dua koper itu di trotoar jalan. Saya berpikir ngasal gini: Coba kalau ada becak seperti di Indonesia, maka saya nggak perlu kelelahan berat menarik koper yang besar dan ransel yang berat. Tapi ini kan di Tokyo, bukan di Bandung. Kadang-kadang di negara semaju Jepang pun kita merindukan hal sederhana seperti becak itu.

    Reply
    • Pak Rin, maaf baru balas yg di sini. Makasih udah mau baca sepanjang ini😀 “Kacamata kuda” –> noted! Dalam kasus saya malah efek kacamatanya combo, setelah kembali ke tanah air bukan cuma mensyukuri bisa jajan batagor, rambutan, dsb. (hal sederhana lain yg banyak dirindukan anak rantau) aja tapi juga mensyukuri hidup yg serba enak di negeri seberang🙂

      Ohya, waktu pak Rin ke Jepang dulu saya belum tahu kalo Davsam juga sedang tinggal di Tokyo, malah lokasinya lebih dekat ke hotel APA. Andai saja saya tahu pasti sudah saya hubungi dia agar bisa nemenin pak Rin dkk. Hehe.

      Reply
  4. Subhanallah, keren Mba.. selamat datang (kembali) di dunia nyata, Indonesia.. Semoga ilmunya berkah ya ^_^

    Reply
  5. Wah, keren Mbak Ega!😀

    Reply
  6. berkunjung mbak Ega…saya juga pengin ke Jepang salam kenal

    Reply
  7. welcome back to Indonesia, egaa
    baru BW ke sini
    Wuih tulisannya keren
    Cerita pengalaman ditambah quote dan panjang tulisannya
    #jiper

    Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: