[Diary Haji] Hari #7 – Hari Tarwiyah di Mina


Ahad, 13 Oktober 2013 (8 Dzulhijjah 1434H)
Sambungan dari cerita hari ke-6: [Diary Haji] Hari #6 – Pelajaran tentang Syukur

Kembali Berihram

Sedikit mundur dari tulisan sebelumnya, sesuai rencana seharusnya rombongan kami berangkat pukul 22.00 waktu Mekkah (sudah memasuki tanggal 8 Dzulhijjah terhitung dari Maghrib) sehingga setelah salat Isya’, kami kembali memulai ihram, kali ini untuk haji. Miqat orang haji ini, yang sebelumnya telah berada di wilayah Mekkah / Madinah dan melewati miqat dari negara asalnya, dihitung dari tempat tinggal (penginapan) masing-masing. Saya dan lima teman sekamar dituntut mandi kilat bergantian karena jeda antara waktu pulang dari masjid dan jadwal berangkat kurang dari dua jam, itu pun masih ditambah packing kalo siangnya masih santai-santai kaya saya😀 Ini dia to do list saya sebelum berangkat ke Mina:

  • Membeli makanan dan minuman yang siap dikonsumsi untuk dibawa sebagai bekal di Mina
  • Mandi dan salat sunnah ihram dua rakaat
  • Menyelesaikan cucian dan mengamankan jemuran yang masih ada di luar kamar dan di roof top penginapan >> sebaiknya jangan ditinggalin karena meskipun cuma baju, resiko hilang itu tetap ada
  • Memasukkan semua benda berharga ke dalam koper dan menguncinya >> jangan dibawa ke Mina, kecuali yang sangat diperlukan
  • Membaca dan menghafalkan lagi tata cara haji >> saya bikin rangkumannya juga di kertas-kertas kecil, ditulis pakai pensil

Alhamdulillah setelah dihantam dengan Primolut-N dua pil, mens saya hanya keluar dua hari dan suci lagi sejak kemarin malam, sedangkan salah satu teman sekamar saya malah baru “dapat” persis sebelum berangkat ke Mina ini karena dia memang tidak minum obat penunda haid sejak awal, tidak seperti saya yang sudah minum tapi tetap kebobolan😥. Syukurlah, dengan fisik yang sehat masih ada rezeki ikut haji bagi kami berdua sebab semua ritual haji tidak harus suci dari hadas untuk melakukannya, kecuali thawaf ifadah. Thawaf ifadah itu pun masih bisa ditunaikan maksimal tanggal 13 Dzulhijjah. Dengan bantuan obat itu insyaaAllah bisa terkejar suci sebelum deadline.

Berhubung baru berangkat jam tiga pagi, alhasil para muhrim yang sudah cantik dan ganteng itu tertidur berjamaah dengan kostumnya😆. BTW, tentang barang apa saja yang perlu dibawa bisa ditengok di daftar bawaan haji ini ya. Udah ditambahin penanda buat Mina things. Jangan lupa pertimbangkan bahwa barang-barang itu juga termasuk yang dibutuhkan di Arafah, Muzdalifah, dan Jamarat.

Pasukan putih yang udah siap perang tak kuasa menahan kantuk karena bus tak kunjung tiba.. hehe

Pasukan putih yang udah siap perang tak kuasa menahan kantuk karena bus tak kunjung tiba.. hihi

Gambaran Mina

Pukul 3.15 bus kami mulai bergerak dan tiba di Mina kurang lebih setengah jam kemudian. Tak disangka, jalanan sama sekali belum macet pagi itu, padahal sudah siap mental menghadapi kondisi terjebak di jalan berjam-jam seperti yang kerap digambarkan dalam video, cerita orang, atau manasik haji. “Ah, mungkin nanti, ketika perjalanan ke Arafah macetnya.. atau ke Muzdalifah”, pikir saya waktu itu, penasaran..

Tenda kami berada di pojok kawasan maktab yang dibatasi pagar (duh, maaf saya nggak paham mata angin), tak jauh dari toilet maktab yang berada di dekat pintu ke maktab tetangga. Ehem.. akan ada kisah tentang toilet yang sangat ‘sakral’ keberadaannya ini nantinya. Begitu masuk tenda, para jemaah segera sibuk nge-take ‘wilayah kekuasaannya’ masing-masing.. maklum, kata orang posisi menentukan prestasi:mrgreen:. Beneran lho, kalo dapat tempat yang mepet ke perbatasan tenda pria, komunikasi sama suami bisa lebih gampang, misalnya mau pinjam charger (halah) dan secara nggak sengaja posisi saya dan suami saling membelakangi :P *melet sambil nyebut, lagi ihram masih aja curi-curi kesempatan*. Ohya, rombongan kami dapat jatah dua tenda berukuran sama (8 x 8 meter), satu untuk ikhwan dan satunya akhwat, jadi sebenarnya jemaah wanita yang jumlahnya hanya 1/3 jemaah pria itu menempati tenda yang cukup leluasa. Namun, tetep aja pada milih berdesakan di separo lebarnya , jadi setiap orang harus cukup puas dengan ruang gerak hanya seukuran tubuhnya saja, persis seperti yang diceritakan para jemaah haji pendahulu kami. Asyiiik.. namanya juga camping! Camping dengan tenda full AC dan tahan api🙂

Di dalam tenda akhwat

Suasana tenda jemaah wanita di Mina. Ah ya, ada yang nemu kasur lipat itu entah gimana mintanya, tapi saya sempat lihat ada satu tenda yang seperti gudang memang menyimpan kursi, kasur, dsb. barangkali disediakan muasssassah / mutawwif untuk orang-orang berkebutuhan khusus

Suasana berbagi tenda pagi itu diwarnai ‘cobaan’ kecil. Teman sebelah saya sempat menegur sister dari negara lain yang menggelar kainnya melawan arus sehingga kaki-kaki kami beradu dengan kaki mereka. Saya udah cerita belum ya di tulisan-tulisan sebelumnya bahwa hal-hal seperti itu biasa terjadi, terutama antar warga negara satu dengan lainnya, jadi tetap tenang dan bersabarlah.. kembali ke larangan laa rafats wa laa fusuq wa laa jidaal 😐. Kalo ingin ngeluarin uneg-uneg, serahkan pada ahlinya. Kalo saya karena nggak bisa ‘marah’ dalam bahasa Inggris ya kebanyakan diam aja, nunggu teman yang bersuara:mrgreen:. Di hari berikutnya, suami saya dan teman-teman Indonesia di tenda pria pun sempat mengeluhkan AC yang disetel terlalu dingin oleh brothers dari negara lain (mereka tahan dingin!). Katanya sih sempat dikecilin, tapi nggak lama kemudian setting-nya diubah kembali seperti sedia kala, padahal sudah banyak yang kena flu.

Antriannya panjang!”, kata teman yang habis ambil air wudu. Eh, cepet banget ke toiletnyague aja baru beres rapiin barang, batinku.

Saya langsung panik dan segera meluncurrr… Benar ternyata, barisan di depan kamar kecil sudah sampai ke tempat wudu. Heran juga, perasaan baru dikit yang datang di maktab kami. Saya pun mengurungkan niat untuk buang hajat dan memutuskan untuk wudu doang. Sekembalinya dari toilet, wah.. tergiur sama lapak-lapak minuman hangat. Ada kopi, teh, dan gulanya. Sayang sekali saya cuma kebagian gelas kertas *nelen ludah*. Maklum aja, self service, sodara-sodara😛 tapi jangan khawatir, agak siang dikit kulkas-kulkas minuman itu dihidupkan dan diisi dengan jus-jus buah segar seperti mangga, apel, dan jeruk. Oh, tunggu! Meski kelihatan sangat menggiurkan minum jus kotakan yang dingin itu, sebaiknya jangan diminum langsung dalam keadaan dingin demi keselematan tenggorokan Anda. Dari kecil saya diajarin sama Mama, kalo udara panas minumlah yang juga panas / hangat, begitu pun jika dingin, jadi suhu tubuh kita bakal sama kaya luarnya. Kalo bedanya ekstrim, justru bikin tubuh ngedrop. Itu juga salah satu pesan yang beliau ulang-ulang sebelum kami berangkat. Salah satu teman yang sudah jadi korban minuman dingin, bahkan sejak di Mekkah, sampai suaranya hilang juga meninggalkan wasiat.. eh.. pesan demikian.

Hasil inspeksi ke toilet pertama kali (atas), potret toilet di Mina (bawah, diambil dari situs lain)

(Atas) Hasil inspeksi ke toilet dan tempat wudu pertama kali, sayang kamar kecil tidak terfoto, lihat antrian di depan WC yang mencapai pintu gerbang pemisah maktab; (Bawah) Potret toilet di Mina, diambil dari situs lain. Semua unit ada WC dan shower untuk mandi. Kalo nyuci baju di tempat wudu😛

(Kiri) Berburu minuman hangat, (Tengah) Jalanan di dalam area maktab, (Kanan) Tenda di Mina sudah dilengkapi karpet tebal yang nyaman untuk tidur

(Kiri) Berburu minuman hangat, (Tengah) Jalanan di dalam area maktab, (Kanan) Tenda di Mina sudah dilengkapi karpet tebal yang nyaman untuk tidur

Kegiatan di Mina

Ah, sudahlah lupakan soal teh manis hangat yang belum rezeki itu. Toh, tujuan utama ke Mina bukan buat seneng-seneng (cieee.. menghibur diri). Mendingan QL lagi dan tilawah sedikit sambil nunggu Subuh. Iya dong, rezeki terbesar dari check-in di Mina pagi ini justru bisa salat lima waktu. Di Mina salatnya bareng rombongannya sendiri-sendiri. Nggak ada masjid di sekitar situ, kecuali kita penduduk asli Saudi yang tendanya berada di dekat Masjid Al-Khauf. Azannya pun sendiri-sendiri per tenda / rombongan. Kalo tenda sebelah udah azan, ya kita tinggal salat aja. Hehe.. toh, ada aplikasi salat juga di HP. Hari tarwiyah isinya makan, tidur, salat dan ibadah mahdah lain, plus ngantri WC doang kayanya. Haha.. Karena belum ada kegiatan jalan jauh atau aktivitas yang berat, perut rasanya penuh terus sampai saya BAB dua kali. Makan siang dan malam dipersilakan untuk ambil lebih cepat dari jam makan normal, yaitu sebelum Duhur dan sebelum Magrib. Kulkas di setiap persimpangan tenda penuh terisi botol air dan kotak jus mangga. Makanan disajikan prasmanan dan wanita, seperti biasa, dapat prioritas ambil dulu. Nah lho, gimana nggak kenyang mulu?

Habis Subuhan saya dan beberapa teman lain yang sebelumnya nyerah dengan antrian kembali melanjutkan misi ke kamar kecil😀, makanya nggak berlebihan rasanya kalo di atas saya memasukkan aktivitas “ngantri WC” sebagai salah satu agenda di Mina. Lha memang kegiatan ini cukup menyita waktu dan perhatian jemaah, lho! Siapa coba yang bisa tenang ibadah kalo hasrat melepas ‘residu’ itu ditahan-tahan? dan disanalah, di mana demand VS supply WC nggak seimbang, menahan itu menjadi sebuah kepastian, baik sebentar atau lama. Huehehe.. Gemesnya, beberapa hari berikutnya barulah tersiar kabar tentang sebab toilet di maktab kami selalu penuhnya gila-gilaan, yaitu.. jeng-jeng.. banyaknya jemaah dari maktab lain yang ikut pake. Konon, maktab kami termasuk yang sepi, jumlah jemaahnya sedikit (Asia Tenggara-nya selain Malaysia dan Indonesia kayanya), jadi pada berbondong-bondong memanfaatkan kesempatan itu. Hohoho.. kabar itu saya konfirmasi benar adanya ketika saya sendiri memergoki angka di gelang-gelang yang mereka pakai bukan nomor maktab kami. Namun demikian, sekali lagi karena momennya adalah haji yang suci dan intinya sabar, sejauh pengamatan saya tidak ada yang menegur apalagi mengusir mereka. Kami pun, yang sudah bergosip di tenda dan merasa haknya agak direbut, tidak berani berbuat apa-apa, meski kadang hitungan menunggu untuk bisa masuk toilet itu bukan sekian menit lagi :)

Anyway.. the foods were all good for me. Walaupun menunya sederhana, saya bisa makan lebih lahap selama di Mina dibandingkan saat di Mekkah. Tanya kenapa! Sebab semua cita rasanya sangat familiar, dekat dengan kuliner Nusantara😉 Akhirnya.. setelah lima hari berkutat dengan nasi biryani / bukhori dan ayam bakar / goreng. Terhitung hanya sekali saya beli roti dan kare kambing selama di Mekkah sebelum ini.

Sarapan pertama di Mina, sekedar untuk mengganjal perut pun saya hanya sanggup makan satu roti

Sarapan pertama di Mina, sekedar untuk mengganjal perut pun saya hanya sanggup makan satu roti

7.1 - hajj lunch in Mina

Suasana makan siang, muka-muka bahagia ketemu kerupuk udang :D

Aih, foto makan siangnya udah dipajang aja di atas.. ntar dikira acaranya cuma makan-makan nih😆. Oh, jelas nggak dong. Agen kami selalu tahu gimana caranya killing the time. Setelah sebelumnya diajak jalan-jalan survei lokasi haji, kalo ini kami juga diajak jalan-jalan di area perkemahan haji Mina. Namun, sebelumnya, kami diberi sedikit siraman rohani yang didalamnya turut dibahas rencana haji hari berikutnya. Meski sudah ada ketentuannya sesuai sunnah Rasulullah SAW, tetap ada hal yang dapat ditentukan oleh jemaah, misalnya tentang kapan akan berangkat ke Arafah, meninggalkan Arafah, dan melaksanakan thawaf ifadah di Mekkah. Dalam kajian ini, agen sekaligus memberi arahan bahwa rombongan kami akan bertolak ke Arafah sehabis Subuh, melaksanakan shalat jamak taqdim Duhur dan Asar di sana, kemudian berangkat ke Muzdalifah setelah gelap (matahari terbenam) tanpa salat Magrib terlebih dahulu. Sementara itu, untuk thawaf ifadah mereka baru memberikan alternatif dan jemaah boleh memilih mau ikut yang mana.

Siraman rohani pagi hari dari pembimbing haji kami, brother Salim

Siraman rohani pagi hari dari pembimbing haji kami, brother Salim

Setelah makan siang, rencana jalan-jalan pun dieksekusi. Targetnya agen adalah ngasih tahu tempatnya lempar jumrah alias Jamarat. Kalo targetnya jemaah sih macam-macam. Ada yang mau jajan, belanja-belanji, foto-foto, atau sekedar cuci mata😎. Saya sama suami misinya sederhana: ngisi botol minum dari water tap (eh apa sih itu yang tandon besar dan ada krannya banyak), tapi melihat banyaknya pedagang kaki lima di sepanjang jalan, kami pun tergoda untuk melihat-lihat. Syukurlah malah berjodoh untuk beli magnet khas Arab Saudi di sini. Lumayan lucu berupa pahatan gambar unta, pohon kurma, gunung batu, dan alas oranye tua yang menandakan padang pasir. Harganya cuma 3 riyal / piece, tapi kalo beli 4 pcs cuma 10 riyal. Yang kaya gituan kami malah belum nemu pas di Mekkah. Kami memang hobi mengoleksi magnet jika mengunjungi suatu tempat yang baru. Sayang magnetnya kelewat nggak difoto >_<.

Pandangan mata sebelah kiri

Pandangan mata sebelah kiri

Pandangan mata sebelah kanan (orang-orang rombongan kami)

Pandangan mata sebelah kanan (orang-orang rombongan kami)

Ketemu rombongan lain yang entah lagi jalan-jalan atau baru datang. Semangat banget bawa bendera dan neriakin yel-yel :P

Ketemu rombongan lain yang entah lagi jalan-jalan atau baru datang. Semangat banget bawa bendera dan neriakin yel-yel😛

Way to heaven? :eek: Nope, Mr. Mian said it's a shorter way to reach Jamarat than the 'normal' way by road

Way to heaven?😮 Nope, Mr. Mian said it’s a shorter way to reach Jamarat than the ‘normal’ way (by walking in the road, not climbing the mount) 

Sepulang dari jalan-jalan, saya lihat beberapa teman bawa makanan kaya martabak gitu, sementara kami cuma dapat air sama magnet aja🙄. Pas dicoba rasain, wah.. enak banget, padahal nggak ada isi dagingnya lho. Menurut insting masak emak-emak saya sih bahannya mirip roti cane, tapi lebih lentur dan dilipat seperti martabak telur. Keesokan harinya, pagi setelah Subuh sembari menunggu waktu berangkat ke Arafah, suami pun membawa misi berburu makanan ini di ‘pasar kaget’ Mina. Akankah dia berhasil? Tunggu ya di cerita lanjutannya.. demikianlah ‘kesibukan’ di Mina saat hari Tarwiyah. Ibarat i’tikaf yang intinya berdiam di masjid, tidak ada kewajiban khusus pula dalam hari Tarwiyah, jadi acara utamanya memang hanya menetap dan bermalam di Mina. Senangnya, kesejahteraan jemaah tetap sudah dipenuhi oleh panitia haji, terutama kebutuhan perut. Hehehe.. hikmahnya, keakraban di antara jemaah makin kuat karena kami berkumpul terus dalam satu tempat dan melakukan apa saja bersama. Tidak seperti ketika di Mekkah di mana kamar kami dibagi-bagi dan keluar penginapan sendiri-sendiri, bahkan saat umrah pun terpisah-pisah kendati direncanakan untuk bersama-sama.

Bersambung ke hari kedelapan: Senin, 14 Oktober 2013 (9 Dzulhijjah 1434H)

signature

Leave a comment

5 Comments

  1. dien33

     /  October 16, 2014

    salut, bisa tarwiyah dari negeri sebrang, meski indonesia sendiri masih sulit utk yg sunnah ini dengan alasan memindahkan 200.000 calhaj utk mabit di mina dan wuquf di arofah sulit

    Reply
    • Alhamdulillah, agen kami memang sangat memperhatikan sunnah-sunnah.. semoga kedepannya makin banyak agen di Indonesia yang care tentang hal itu, syukur-syukur kalo yang dari Depag juga bisa berubah, mau mengusahakan jemaah agar bisa berhaji sesuai sunnah.

      Reply
  1. [Diary Haji] Hari #8 – Wukuf di Arafah | .:creativega:.
  2. [Diary Haji] Hari #9 – Antara Muzdalifah, Mina, dan Mekkah | .:creativega:.
  3. [Diary Haji] Hari #9 – Antara Muzdalifah, Mina, dan Mekkah | .:creativega:.

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: