Benci tapi Rindu Pada Indonesia


Masih dalam suasana pemilu legislatif di mana belakangan ini saya mendadak jadi pengamat politik karbitan (istilah suamiku :grin:) dan merasakan adanya peningkatan adrenalin pada hal-hal nasionalisme.. halah, saya ingin coba ungkapkan keharuan terhadap negeri ini. Latar belakangnya karena hari ini saya nangis dua kali gara-gara:

  1. Nonton video tentang Indonesian Elections, yang menggambarkan betapa ribetnya penyelenggaraan pemilu secara langsung oleh rakyat di negara yang super luas dan tersebar kaya Indonesia ini. Belum lagi jumlah calon wakil rakyat yang bisa dipilih sangat banyak. (saya tulis di sini)
  2. Ending-nya acara spesial “Petisi Rakyat” di MetroTV berupa penampilan dari Project Pop dengan lagu mereka yang hampir saya lupakan, Indovers. Menyimak liriknya, saya baru ngeh itu mewakili jeritan hati anak bangsa yang lagi berada di luar Indonesia daaan.. saya.. ingat masa-masa ketika homesick di Jepang dulu. Ya Allah, betapa kurang bersyukurnya saya, dulu suka pengen pulang biar nggak capek-capek masak, tapi sekarang udah di sini eeeh.. malah sering merengek minta balik ke Jepang 😦 #PetisiRakyat (saya sempat nge-tweet juga di sini)

Seriusan lu, masa cuma moments gitu aja bisa nangis? Entahlah.. terbawa euforia aja kali ya.

Memang saya akui, meskipun saya tak henti-hentinya mengkritik berbagai praktik tak beres di negeri ini, sebetulnya makin ke sini antusiasme saya untuk menyimak isu-isu sospol (sosial politik) makin tinggi. Bentuk kongkritnya antara lain sulit melewatkan baca artikel bertema itu tiap harinya, apalagi kalo terkait sama pempimpin-pemimpin harapan Indonesia di masa depan, termasuk menimbang-nimbang kalo dicalonkan jadi salah satu dari mereka… #eh

Balik lagi ke video..😮

Benci tapi Bangga

“The elections in Indonesia will be among the most complicated in the world.”

Begitu tulis Financial Times, sebuah FB page dari majalah, pihak yang mengungggah video tersebut. Parameter complicated and expensive yang disematkan itu meliputi waktu penyelenggaraan yang super kilat (satu hari), jumlah peserta yang terbanyak ketiga di dunia, luasnya wilayah negara, perkiraan lama waktu rekapitulasi hasil, jumlah kandidat wakil rakyat yang besar, jenis lembaga yang dipilih (sampai empat biji kertasnya :P), besarnya biaya yang dikeluarkan, banyaknya jumlah panitia, dan tentu saja kesemuanya itu kalo dirangkum jadi mekanismenya.

Mendapati bahwa bule-bule itu memperhatikan dan mengemas fakta-fakta yang ada dalam video cantik itu malah bikin saya merinding! Padahal, kalo dipikir, video itu bisa aja bikin kita malu, kan? Yup.. bahkan saya aja baru kapan hari gitu ngomentarin berita di TV soal persiapan pemilu yang belum tuntas. Bayangin aja, gimana nggak feeling weird ngelihat sapi-sapi pada dikerahkan buat ngangkut kotak suara ke desa-desa di pelosok melaui jalanan terjal. Haduh.. infrastruktur belum terbangun baik dengan kondisi wilayah yang divergen gitu kok mekanisme pencoblosan di semua daerah disamaratakan, sih? Ada pula bilik suara yang dimakan rayap dan harus minta lagi ke pusat, padahal cuma kaya kardus tiga sisi yang ada logo dan tulisan KPU-nya gitu. Kenapa nggak bikin sendiri sih tiap-tiap daerah? Itu kan gampang banget bisa manfaatin kardus bekas dan justru lebih kerasa effort-nya sekalian mengasah kreativitas. Keribetan semacam itu sempat membuat saya nggak habis pikir.

Namun, siapa sangka di balik keprihatinan akan gawe besar pemilu yang kompleks dan mahal tadi, saya justru berbalik terpesona karena kita TERNYATA BISA melakukannya. Sebagaimana yang saya tuturkan di FB, Indonesia itu hebat (eits nggak ada hubungannya sama partai yang bawa slogan ini ya :lol:) karena dengan segala macam polah pemimpin dan kompleksitas masalahnya, masyarakatnya masih tetep bisa survive (bertahan). Orang Indonesia itu:

  • bisa ngadain pemilu yang super ribet itu lah
  • bisa menghadapi bencana yang bertubi-tubi datang lah
  • bisa melawati kenaikan-kenaikan harga lah
  • bisa maafin negara-negara yang udah ngakalin dan ngejekin lah
  • bisa kebal sama makanan-makanan yang direkayasa sedemikian rupa lah

dan segudang BADAI lainnya. Boleh, kan, bangga dengan ketangguhan kita itu? Mungkinkan sikap itu diwariskan dari nenek moyang yang sudah ‘kebal’ dijajah berabad-abad lamanya? wallahu’alam bisshawab. 

Lebih lanjut saya mengkritisi.. eh.. lebih tepatnya menghubungkan fenomena di atas dengan mental. Jauh banget, yak? biarlah, yang jelas tiba-tiba teringat bahwa ada survei yang mencatat Indonesia sebagai negara paling happy sedunia, termasuk anak sekolahnya pun paling bahagia di dunia. Bahagia dengan kebodohan dan korupsinya? Ah, mudah-mudahan nggak ya.. saya menduga mungkin lebih tepatnya dimaknai bahwa kebahagiaan itu dinilai dari keikhlasan menghadapi kondisi yang nggak enak alias masyarakat kita sudah terbiasa hidup ‘pasrah’. Setidaknya saya sering buktikan karena saya, sebagai orang yang suka nanya dan protes kalo ada sesuatu yang nggak benar, pasti tampak sebagai yang paling bawel. Hihi.. padahal kalo di-compare ke grup emak-emak jebolan perantau Jepang, mereka pun jamak melakukan hal yang sama. Masyarakat kita pada umumnya? jarang ada yang bertanya, meminta haknya, mengkonfirmasi, mengkritisi, dan sebagainya. Budaya semacam itu bukan hanya ke pemerintah, melainkan ke sesama rakyat jelata juga. Kontrol sosial masih mahal harganya di negeri ini. Makanya sampe muncul istilah “woles” akhir-akhir ini.. ya ampun. Sementara teman saya berpendapat tentang Dari mana sisi bahagianya? dengan mengutip ungkapan yang pas dari bahasa bule ini:

Ignorance is bliss = Not knowing something is often more comfortable than knowing it

Yang artinya kurang lebih ketidaktahuan / kurangnya informasi adalah kebahagiaan, lebih nyaman daripada mengetahuinya. Apakah Anda tipe demikian? Jika ya, maka Anda orang Indonesia tulen:mrgreen:.

Grafik survei Ipsos Global tentang "Happiest People"

Grafik survei Ipsos Global tentang “Happiest People”

happiest students are in Indonesia

Perhatikan yang paling kanan negara apa. It’s Indonesia!

Pemilu konon merupakan keniscayaan dalam negeri demokrasi dan bangsa kita sedang menuju ke sana, ke negara demokrasi yang sesungguhnya seperti Amerika. Sekarang, demokrasi kita masih abal-abal diantaranya karena para parpol belum konsisten dalam menentukan sikap di antara sesama parpol dan memposisikan dirinya sebagai wakil rakyat sehingga persaingan politik pun menjadi tidak sehat.

Benci tapi Rindu

Yak, moment yang kedua itu sepele sebenarnya. Nggak perlu penjelasan panjang kaya di atas. Intinya saya baru sadar ada lagu yang bisa merepresentasikan kerinduan diaspora pada negerinya. Cailaaa..

Nah, nah.. tiap liriknya mengingatkan saya akan masa-masa kerinduan itu ketika berada di negeri rantau. Saya langsung mbrebes mili kata orang Jawa alias mewek😥. Bukannya mendramatisir karena membayang-bayangkan kenangan, melainkan lebih kepada tertohok! Ya, tertohok karena sekarang saya dikasih tinggal di Indonesia yang selalu saya rindukan, tapi.. masih kerap kurang bersyukur dengan keadaan yang tidak senyaman di negeri sakura.

Okelah boleh tak suka pada sisi mental bangsanya yang rada error, tapi kalo cuma perkara lingkungan yang kotor atau listrik yang kerap mati, rasa-rasanya meskipun boleh (teuteup ngotot.. haha) kok sebaiknya dimaklumi aja, ya?

Toh, kuliner dan fleksibilitas aturan (:lol:) di Indonesia tak ada duanya di belahan dunia lain! Apa lagi yang kau cari? Barangkali yang kau rindukan di negeri orang juga cuma itu.. seperti lagu ini. *sigh*

Sodaraku sebangsa dan setanah air
Sampaikan dulu salam di tanah kami lahir
Kami di sini rindu sekali
Untuk bisa kembali berkumpul lagi
Sayang sepertinya kami belum bisa pulang
Sayang sepertinya kami masih harus berjuang
Harap mengerti kami pun sedih
Rindu makan nasi lauk sambel terasi

Sodaraku sebangsa dan setanah air
Jika saja mungkin kamu yang datang mampir
Bawakan kami kue serabi
Atau apa saja buatan Indo asli
Ingin lihat lagi balapan di jalan raya
Ingin denger gosip artis atau siapa saja
Apa yang terjadi ceritakan kami
Sekarang di sini


Reff:
Di mana pun aku berpijak
Takkan mau hati beranjak
Merindukan hangatnya rasa, bersamamu

Tiada negri yang seindahmu
Hadirkan banyak kisah cinta
Damai dan jayalah selalu, Indonesia

Sodaraku sebangsa dan setanah air
Di sini kami bangga jika kami dapat mengibarkan
Sang merah putih ke langit tinggi
Tidak hanya jadi rutinitas upacara
Tapi rasa bangga sebagai seorang anak bangsa
Itu benderaku merah darahku putih tulangku


Sodaraku yang jauh di tanah air
Dukungan doamu bagi kami sangat berarti
Semoga kami di sini takkan sia-sia
Semoga saja nanti kami jadi lebih sakti
Antarkan bangsa ini ke tempat lebih tinggi
Hei, lihatlah nanti kami kembali buktikan janji


Bayu terpa daun melambai (melambai-lambai)
Indah ayunan nyiur di pantai (nyiur di pantai)
Rasa kalbu berbisik cinta (berbisik-bisik)
Raja kelana (raja kelana)

Memuja pulau nan rupawan (memuja pulau)
Ibu pertiwi indah permai (nan indah permai)
Ku cinta kau tanah airku (tanah airku)
Indonesia (Indonesia)

Melambai-lambai nyiur di pantai
Berbisik-bisik raja kelana
Memuja pulau nan indah permai
Tanah airku
Indonesia

Masyaallah.. speechless. Sampai di baris Semoga kami di sini takkan sia-sia”, hati bergetar mengingat belum bisa ngasih apa-apa buat Indonesia. Huaaa.. ganbarimasu! *

* mengerahkan segala kemampuan, berjuang sampai titik darah penghabisan (Jepang)

Leave a comment

2 Comments

  1. Superb!!! Keren sangat ini mbak Ega!

    Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: