Pilihan Saya untuk Sembilan Juli


Bismillaahirrahmaanirrahiim

Sabtu lalu, sore-sore pas lagi rehat dari kerjaan rumah, iseng-iseng saya menyiapkan status pasca pilpres tanggal 9 Juli nanti. Isinya tentang alasan-alasan saya menjatuhkan pilihan ke salah satu pasang calon, dibuat santai dan nggak ilmiah, tak lebih dari pendapat pribadi yang dibumbui sedikit tanggapan terhadap hiruk-pikuk berita di luar sana. Because it would be one of big decisions in my life, I think I need to force myself to be able to clearly explain my considerations. Namun kemudian, di hari berikutnya, suasana politik yang makin memanas nampaknya memicu orang untuk melempar topik tentang pilpres. Sedikitnya dua grup WA yang saya ikuti kompakan membahasnya, padahal latar belakang anggotanya beda. Saya sempat terlibat obrolan di keduanya dan pada akhirnya keluar juga pertanyaan itu ke saya dari beberapa teman, “Ega kenapa pilih Jokowi?”. Pertanyaan ini wajar karena datang dari grup yang bisa ditebak mayoritas anggotanya akan memilih calon satunya.

Aslinya saya malas jawab karena di statemen-statemen sebelumnya secara implisit sudah saya ungkapkan, terlebih saya dicap tendensius ketika balik mengomentari calon satunya. Hehe:mrgreen:. Misalnya saat saya bilang sulit mencari ulasan tentang kiprah Prabowo dewasa ini, tim kampanyenya sibuk di posisi ofensif, jadi lebih susah membandingkan antara yang sudah kelihatan kerjanya dengan yang masih pemberi harapan. Meskipun sepertinya itu fakta, tetap aja saya dibilang tendendius, padahal sih sebagai non-incumbent, wajar kan kalo demand informasi terhadapnya lebih besar. Sayangnya sejauh ini, media justru masih didominasi oleh JKW dan JK, baik yang positif maupun negatif. Media yang saya akses aja kali ya, nggak tahu kalo orang lain. Eh, tapi kalo ada artikel soal pak PS baca juga, apalagi jaringan pertemanan saya banyak yang dukung beliau. Hanya saja kebanyakan dibuat baru-baru ini dan masih berwarna cerita masa lalu, karakter yang dipuji pendukungnya, harapan terhadap karakter itu, berita terhadap momen-momen khusus, ide-idenya, hmm.. apa lagi ya? Pokoknya faktor-faktor yang bagi saya masih sulit diukur, sedangkan saya udah mantengin JKW dan JK sejak zaman masih pada ganteng (halah.. bo’ong bingits, emang pernah ganteng? :D). Mending kunjungi sendiri lapak-lapak di bawah ini deh biar bisa bandingin sendiri kontennya.

Jokowi (CV) – JK (CV) | Visi misi

Facebook Page: https://www.facebook.com/pages/Jokowi-JK-Indonesia-Hebat/1396341707314175
Facebook Page Jokowi: https://www.facebook.com/IndonesiaHebatJokowi
Situs personal Jokowi: nggak ada, adanya dari para relawan http://www.jokowicenter.com/ dan http://gerakcepat.com/
Twitter Jokowi: https://twitter.com/Jokowi_do2

Prabowo (CV) – Hatta (CV) | Visi misi

Facebook Page: https://www.facebook.com/pages/Prabowo-Hatta/296890447147227
Facebook Page Prabowo: https://www.facebook.com/PrabowoSubianto
Situs personal Prabowo: http://prabowosubianto.web.id
Twitter Prabowo: https://twitter.com/Prabowo08

Kembali ke topik capres pilihan😛

Karena ditanya “Kenapa pilih Jokowi?” dan pikiran terus terusik dengan berita negatif tentang JKW sementara cuma bisa mendem amarah selama ini, saya putuskan agar tulisan yang sejatinya ingin dirilis seusai nyoblos ini bisa dibaca publik sekarang saja. Jujur ya, saya sebal sekali dengan gaya kampanye orang belakangan ini yang bukannya sibuk nonjolin kelebihan sendiri (positive campaign), melainkan justru sibuk melucuti kekurangan lawan. Kalo emang kekurangan yang dikritisi itu sesuai fakta (negative campaign) masih wajar, namanya orang pro dan kontra selalu ada, kelebihan dan kekurangan juga selalu ada pada tiap calon, tapi banyak pula yang menulis atau berkata hanya didasarkan pada prasangka negatif, fitnah, ejekan, dan ketakutan (black campaign). Maka, daripada cuma diam tapi hati nyesek atau malah ikutan memperbanyak konten negatif tentang capres yang bukan pilihan saya, mendingan saya coba menyumbang konten positif tentang capres pilihan saya.

Chemistry and priority. Cuma dua kata itu mungkin yang bisa mewakili alasan saya. Satunya soal hati, satunya lagi soal akal.

Alasan Hati: When Chemistry Has Presented

Sudah sejak lama ‘jatuh cinta’ sama kedua sosok J. Jauh sebelum kenal JKW, saya adalah fans pak JK. Saya merasa punya semangat kerja seperti beliau yang deterministik dan maunya serba cepat. Wajar kan dengan adanya kesamaan kita jadi suka sama orang lain. Nah, kalo pak JKW sih jatuh cintanya dimulai ketika saya membaca berita tentang penghargaan kepada walikota Solo. Sebagai mantan turis rutin kota Solo yang saat itu sudah merantau ke tanah pasundan, saya jadi penasaran. Sejak itu saya sering mengamati beliau. Publikasi tentangnya makin intens ketika terpilih sebagai Gubernur DKI. Saya juga jadi kenal dan suka sama temannya, Ahok. Ahok ini seorang tokoh lain yang juga mirip sama saya. Orangnya gampang emosi tinggi kalo lihat yang nggak beres dan pengennya cepat menindak. Kepemimpinan seperti itu saya nilai sedang banyak dibutuhkan untuk warga negeri ini yang aduhai sulit diatur, suka kongkalikong, dan mau gampangnya saja (lha wong baca berita aja mau gampangnya, nggak pakai konfirmasi dulu.. ups!).

Jadi saya korban media? Ya terserah aja orang bilang begitu, tapi bagi saya, pencitraan atau tidak itu bisa diukur dari waktu. Dari dulu sampai sekarang saya melihat kedua tokoh tersebut tidak berubah, tetap sebagai sosok yang apa adanya dan tulus melayani rakyat. Saya sangat menghargai dedikasi mereka dalam menjalankan peran-perannya dengan catatan yang bersih dan percaya bahwa lebih banyak masyarakat yang terbantu oleh keberadaan mereka ketimbang yang terzalimi. Kalo boleh saya menambahkan, akan beda juga persepsi kita ketika membaca berita tentang calon (1) yang ditulis untuk media VS (2) yang ditulis warga biasa, misalnya di blog-blog personal atau forum. Juga berbeda antara (1) berita yang sudah diolah VS (2) wawancara. Saya lebih suka baca / lihat yang nomor (2) karena lebih obyektif. Khusus untuk JKW, materi live itu semakin bertambah dengan adanya video-video produksi Pemprov DKI di Youtube. Siapa sangka, kebiasaan mengamati cara JKW menata kota dan memperlakukan warganya, serta melihat pengaruh kinerja JK, telah menanamkan bibit-bibit keinginan untuk berkiprah di pemerintahan pada diri saya, padahal dulu mah nggak banget deh ada pikiran melirik ke sana. Rasanya semakin nyata bahwa hanya dengan masuk ke pemerintahan saja kita bisa berbuat lebih luas untuk masyarakat yang lebih banyak.

Teman saya sempat berkomentar,

Masalah milih presiden kaya milih pasangan. Meskipun ada parameter-parameter tertentu (bobot, bibit, bebet), sering kali dipengaruhi oleh perasaan (sreg dengan hati). Jadi sangat personal. Ada yang suka Jokowi mungkin karea sikapnya apa adanya, nggak neko-neko. Ada yang suka Prabowo karena tegas dan cerdas, serta alasan-alasan lain yang personal. Itu nggak nyentuh visi-misi.

Yup. Menurut saya pendapat di atas cukup cerdas disampaikan oleh seorang lelaki yang notabene lebih banyak memakai logika ketimbang perasaan. Artinya dia ngerti kalo perasaan, yang banyak ‘dikambinghitamkan’ oleh wanita, juga berpengaruh pada pilihan😮. Eits.. tapi cinta itu tidak buta. Bohong kalo ada yang bilang love is blind karena saya belum pernah mengalaminya. Pria-pria yang pernah hadir dalam hidup saya, dari yang sekedar saya taksir sampai yang akhirnya menikahi saya, semuanya saya ‘pilih’ karena saya sudah mengenal mereka dengan baik dan berdasarkan parameter-parameter tertentu. Suami saya kalo nggak salah juga setelah dua tahun kenal baru ada perasaan ‘itu’ tumbuh di hati saya. Haiyah.. malah ngomongin merah jambu. Jadi, untuk capres pilihan saya pun ada proses melihat, mendengar, dan merenungi berulang kali hingga akhirnya bisa timbul persetujuan dalam diri seperti “Go ahead, I’ll be your supporter!”. 

Salah satu bukti celotehan saya di atas :P

Salah satu bukti celotehan saya di atas😛

Alasan Akal: Menimbang Prioritas

Ketika sudah masuk ke tataran ‘teknis’ atau bicara soal parameter-parameter, kriteria apa pun yang kita definisikan tentang calon ideal bisa saja menjadi celah di mata orang lain yang berbeda pilihan, bahkan saya beberapa kali menemukan statemen orang yang sangsi dengan calon pilihannya sendiri. Alasannya klise, calon itu disebut bukan sosok yang ideal, tapi dinilai lebih mending daripada calon lainnya. Lebih mending dalam hal apa? Ah, itu tanya sendiri deh ke mereka. Ada yang terkait ideologi partai juga. Oleh karena itu, kalo ditanya poin per poin parameter lengkap dengan nilainya tentang “kenapa saya pilih Jokowi”, sudah pasti jawaban saya juga dianggap klise, mirip-mirip sama pendukung JKW lainnya di luar sana. JKW itu merakyat lah, humanis lah, sederhana lah, tidak gila hormat lah, dan lain sebagainya. Namun, setelah direnungkan lagi seiring dengan bertambahnya pengetahuan tentang calon lainnya, yakni Prabowo dan Hatta, ujung-ujungnya prioritaslah yang begitu mempengaruhi saya dan sepertinya memang selalu membarengi saya dalam mengambil keputusan-keputusan dalam hidup. Pilihan jauh dari orang tua di usia 15, pilihan masuk aksel meski tahu bakal terforsir belajar, pilihan kuliah ke Jepang sementara inginnya ke Eropa, pilihan bertahan satu cinta walaupun ingin segera menikah.. hahaha.. pilihan tidak bekerja di luar rumah selepas lulus, dan lain-lain. Saya pilih itu semua dengan konsekuensi tidak aman dan tidak nyaman.

Bagi saya, dalam hal memilih presiden juga berlaku hukum di atas. Andaikan ada lebih dari satu calon yang sama-sama oke di mata saya, tetap harus memilih salah satu. Maka, disinilah prioritas menentukan pilihan. Kebetulan pemilu kali ini saya banyak dipengaruhi oleh pengalaman tinggal di luar negeri selama hampir tiga tahun dan juga memikirkan bagaimana biar nanti mau kembali ke tanah air setelah merantau lagi. Setelah mencoba tinggal di Indonesia lagi selama tujuh bulan, ternyata bila disimpulkan saya masih terlalu muak menghadapi sikap mental yang buruk. Sekuat apa pun saya mencoba berdamai, tetap sulit menerimanya. Hampir tiap keluar rumah, ada saja yang bikin saya emosi. Nonton berita di TV atau baca dari media cetak juga sama saja. Walaupun kini semakin banyak yang peduli untuk meningkatkan berita baik nan menyenangkan, tetap saja di dunia nyata lebih banyak saya temukan hal yang tidak sesuai fitrah manusia. Contohnya sudah banyak saya abadikan dalam status di Facebook.

Atas dasar itu, saya sangat berharap pemimpin bangsa Indonesia yang baru bisa secepatnya memberi perhatian yang lebih dalam perbaikan mental yang sudah kelewat sakit ini. Saya melihat harapan itu bisa diwujudkan oleh JKW, bahkan dalam dirinya saja saya sudah bisa menangkap keteladanan itu. JKW setidaknya sudah menunjukkan revolusi pelayanan publik di kota Solo dan Jakarta yang bisa dirombak menjadi lebih ramah masyarakat: cepat, tidak berbelit, dilakukan SDM terampil, adil, prosedur dipermudah, dan sebagainya. Saya percaya perubahan mindset dan kultur masyarakat bisa diwujudkan jika pemimpinnya mampu memberi inspirasi alias menjadi teladan. Tentang hal ini, bukti paling sakti yang sekaligus jadi favorit saya adalah pencapaian Dirut KAI, Jonan Ignatius. Yang dia lakukan nggak sekedar revolusi, bahkan disebut sebagai evolusi dalam buku Hadi M. Djuraid, Evolusi Kereta Api Indonesia. Anda harus membaca bukunya untuk bisa mangap ternganga atas manuver-manuver perubahan yang dilakukan Jonan. Anda juga bisa lihat buktinya dengan sering-sering naik kereta, menikmati layanan KAI, seperti saya. Hehe..

Mungkin nantinya akan ada yang bertanya, bagaimana saya percaya bahwa JKW akan bisa mewujudkan itu? Nggak adil dong kan kedua calon sama-sama belum membuktikan. Keduanya punya kesempatan yang sama.

Saya percaya karena menilai JKW sudah bisa menjadi inspirator bagi banyak orang, dari rakyat jelata sampai presiden. Beberapa tahun lalu JKW di mata saya seperti oase pelepas dahaga di tengah padang pasir nan tandus akan keberpihakan pemimpin pada rakyat (halah). Ia digambarkan sebagai sosok pemimpin yang sedikit berada di belakang meja kerja, tapi lebih banyak turun ke lapangan menemui rakyat. Kalo nggak salah ingat, sebelum gaya JKW itu tercium khalayak ramai, belum pernah istilah ‘blusukan’ jadi naik ke permukaan dan terkenal. Ternyata masyarakat suka pemimpin yang seperti itu, termasuk saya.

Saya pernah melihat sosok yang demikian pada guru saya. Guru itu berbeda dengan guru-guru lainnya di sekolah yang jarang ‘merakyat’. Ketika di luar jam pelajaran, guru tersebut kerap mengajak kami ngobrol tentang pelajaran, kegiatan bermain, atau bahkan kehidupan di rumah bersama keluarga. Hal itu ternyata membuatnya sering membuat terobosan yang memihak para siswa, mulai dari mengubah tata letak kelas, mengadakan lomba-lomba, aktif membuat ekskul-eksul, sampai membuat ulangan harian jadi fun dan nagih! Guru paling kreatif deh pokoknya, yang bikin sekolah kami eksis dan berprestasi selama bertahun-tahun lamanya, dan terbukti setelah guru itu pergi, sekolah kami menurun kualitasnya sampai kurang diperhitungkan lagi.

Itulah sebabnya saya terkesima ketika tahu seorang walikota pun bisa mempraktikkan ituSejak JKW identik dengan blusukan, mulai banyak tokoh pemerintah lain eksis diliput media karena melakukan hal yang sama. Indonesia baru tersadar bahwa kebiasaan menemui rakyat secara langsung itu mustinya jamak dimiliki pemimpin daerah. Ibu Risma, walikota Surabaya yang juga kerap blusukan, secara mantap mengatakan terjun langsung ke lapangan itu ngefek, bikin masalah cepat beres. Itu dia.. Pemimpin yang problem solver, kerjanya kongkrit dan bisa dilihat serta dievaluasi oleh masyarakat, sangat mendesak dibutuhkan bangsa saat ini. Sependek pengamatan saya, JKW dan JK menonjol dalam urusan itu.

Bayangkan kalo inspirasi yang disebar JKW sampai saat ini, yang bukan hanya blusukan, bisa dimunculkan dari dirinya sebagai seorang presiden, lalu diikuti oleh bawahan-bawahannya, betapa besar efeknya. Mulai dari tingkat menteri, kepala-kepala daerah, hingga masyarakat umum akan meniru presidennya, untuk bersih, kerja keras, sederhana, nggak banyak omong, nggak banyak gaya atau neko-neko, peka sama masalah rakyat, dan lain sebagainya. Presiden nggak kerja sendiri buat memperbaiki bangsa ini, tapi bagaimana presiden berperan mempengaruhi pejabat pemerintah lainnya, juga mengangkat dan mencopot mereka. Kita lihat bahwa harapan itu bisa dibangun ketika semakin banyak penyelenggara negara yang menunjukkan kualitasnya.

Hal-hal inspiratif itulah yang entah kenapa saya belum bisa menemukannya pada Prabowo, padahal konon beliau sudah sepuluh tahun ancang-ancang jadi presiden. Beliau juga pemimpin partai yang konon tidak main-main sumbangsihnya ke masyarakat. Tidak punya backing media? Bisa jadi, tapi setahu saya modal beliau cukup andaikan dipakai untuk mensosialisasikan prestasinya.

Pikiran random saya membuat saya tiba-tiba teringat berbagai wajihah (lembaga) tempat muslim Indonesia mendalami Islam. Setiap dari mereka pun punya prioritas masing-masing dalam dakwahnya. Saya tutup bagian ini dengan mengutip status indah ini:

Indahnya Sinergisitas Dawah

Alangkah indahnya jika Salafy membantu Ikhwan dengan kajian mendalamnya tentang sunnah, Ikhwan membantu Salafy dengan melindungi mereka melalui kebijakan politiknya, Jamaah Tabligh membantu meramaikan masjid, Hizbut Tahrir membantu perencanaan khilafah, Muhammadiyah membantu di bidang pendidikan, NU membantu konsep dawah kulturalnya, dan seterusnya (Faisal Kunhi – 25 Agustus 2013)

Bagaimana dengan prioritas kita? Sudahkah kita menyusun prioritas, khususnya untuk memilih sembilan Juli nanti?

Tanggapan terhadap negative campaign dan black campaign

Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang menggoyangnya.

Peribahasa di atas kayanya yang paling cocok untuk menggambarkan JKW saat ini. Sebagai public figure yang lebih dulu eksis, wajar kalo massa semakin penasaran menguliti celahnya, kelemahannya, kekurangannya, bobroknya, apalah bahasanya. Ada juga di sisi lain massa yang justru semakin penasaran mencari kebenaran. Ibarat Islam di Amrik yang pasca kejadian WTC 9/11 malah meningkat peminatnya. Berawal dari pertanyaan “Apa benar Islam begitu?”, mereka mencari jawaban, kemudian mempelajari, menganalisis, dan menyimpulkan. Begitu pula saya di posisi pendukung lamanya JKW. Ketika kampanye negatif bahkan hitam memberondongnya, saya jadi banyak berpikir ulang, menimbang ini-itu, memastikan bahwa JKW pilihan yang tepat. Kesimpulannya tetap sama, pada akhirnya banyak faktor kampanye negatif / hitam tersebut yang saya nilai bukan prioritas.

* Partai *

Banyak pendukung Prabowo yang mengkhawatirkan jika JKW terpilih jadi presiden, maka kroni-kroni PDIP yang penuh kepentingan itu akan meminta jatah, perlakuan istimewa, balas budi, dsb. Ada yang bilang juga PDIP sarangnya koruptor, jadi kalo JKW naik bisa hancur negeri ini dikuasai koruptor. Ada juga yang khawatir para golongan Islam garis tak lurus (maafkan bahasa saya :P) seperti JIL akan ngelunjak kalo JKW terpilih. Apa lagi ya? Nggak suka baca isi berita begituan sih, cuma baca judul dan caption orang-orang. Nada-nadanya kurang lebih begitu. Kerap saya berpikir, barangkali tidak akan ramai tuduhan-tuduhan itu jika JKW diusung oleh partai mereka sendiri, orang-orang yang hobi nyinyir itu.

Saya setuju partai musti dilihat, tapi menurut saya tidak elok kita memberikan stigma buruk pada seluruh anggota partai tertentu. Simpel aja saya melihatnya. Suatu keniscayaan bahwa tiap partai ada anggota yang ‘waras’ dan ‘tidak waras’, dan semakin banyak anggotanya, maka persentase baik buruk itu semakin besar pulalah. Maka, bagi saya partai bukan prioritas. JKW dan JK punya karakter kuat serta etos kerja baik yang sudah mendarah daging, jadi saya punya kepercayaan, di mana pun mereka berada dan dengan teman seperti apa pun, akan mampu mempertahankan idealisme mereka.

Ngomongin partai, saya jadi teringat jawaban Anies Baswedan saat ditanya “Kenapa pilih PD padahal sedang dijerat banyak kasus korupsi?”.

Saat ini tidak ada partai yang benar-benar bersih dan partai itu hanya kendaraan, tugas orang-orang baik adalah mengisinya dan menyebarkan virus-virus kebaikan didalamnya.

Can’t agree more, Pak..

IMHO, partai bukan penentu utama keberhasilan dalam memimpin bangsa karena selain yang saya ungkapkan di atas, pada akhirnya nanti juga akan ada koalisi, ada kontrol sosial dari DPR (di sini peran kita dalam pemilihan legislatif kemarin dipertaruhkan hasilnya, apakah kita sudah memilih caleg yang baik atau tidak) dan kini toh makin banyak calon dari jalur nonpartai (independen) yang ternyata sukses memimpin daerah. JKW disebut boneka partai, petugas partai, suruhan ibu partai, dan sebagainya, lalu bagaimana dengan mereka? Tentu Ahok (diusulkan Gerindra), Ridwan Kamil (diusulkan Gerindra), bu Risma (diusulkan PDIP), bukan boneka hanya karena mereka bukan berasal dari partai pengusung😛

* Asal-usul *

Ide kampanye ‘lucu’ yang saya temui di periode pemilu kali ini apalagi kalo bukan mengungkit-ungkit latar belakang keluarga calon presiden. Buat saya, karena bukan memilih jodoh, saya nggak punya kepentingan tentang siapa orang tua calon pilihan saya, apalagi ngurusin isu yang nggak jelas juntrungannya. Steve Jobs, sang penemu Apple yang anak haram (menurut Islam –> koreksi dari teman: tidak ada anak haram dalam Islam, maksud saya emaknya hamil sebelum nikah sama bapaknya :D) itu aja bisa merubah peradaban dan membantu miliaran manusia di dunia. Memangnya kita siapa merasa berhak mengolok-olok nasab orang lain? Astaghfirullah.. Analoginya kan seperti itu. By the way sedikit menanggapi gosip, saya tidak mengerti apa yang ditakutkan orang kalo pun JKW anaknya warga keturunan Tiongkok, yang juga kemudian dihubungkan dengan gosip nama baptis. Apa hal seperti itu ancaman? Sedih sekali kalo begitu.. keluarga Papa saya pun ada jalur dari warga keturunan. Orang benar-benar sudah kehabisan akal untuk mengkritik lawan secara cerdas.

Ketimbang asal-usul keluarga, saya lebih mementingkan track record kinerja tiap calon. Alhamdulillah JKW punya catatan karir yang bersih dan bahkan prestasinya melampaui kebanyakan orang di posisi yang sama, termasuk pendahulunya.

* Ibadah *

Tidak ada alasan bagi seorang wanita untuk menolak lamaran pria yang shalih.

Pesan Rasulullah SAW di atas menunjukkan betapa Islam memudahkan umatnya untuk menikah. Cukup berhenti sampai kata shalih, tanpa standar-standar tinggi, seorang pria boleh memimpin wanita. Shalih bisa diartikan taat dalam beribadah dan akhlaknya sesuai dengan nilai-nilai Alquran. Tentu saya sebagai muslim ingin punya pemimpin shalih dan saya nilai JKW memenuhi kriteria itu. Sungguh, alangkah tidak bijaknya jika ada orang yang meremehkan wudhunya, salatnya, ngajinya, bahkan menyangsikan hajinya hanya demi menjatuhkan citra JKW, demi menggiring perspektif buruk padanya. Kalo bukan itu tujuannya, saya tidak bisa memahami tujuan lain yang lebih mulia. Bagi saya, keistimewaan ibadah seorang presiden mah nilai tambah aja. Kalo pun tidak istimewa, asal ia masih menjalankan rukun Islam dan meyakini rukun iman, insyaaAllah itu sudah cukup menjaganya. Yang saya pahami JKW memang bukan orang yang spesial dalam hal agama, yang langganan ikut kajian misalnyaMenuntut target ibadah sang calon seperti para aktivis dakwah jelas bukan prioritas saya.

* Bahasa *

Faktor yang baru-baru ini mencuat, lengkap dengan video perbandingan kedua calon, lebih nggak urgen lagi buat saya karena presiden tugasnya bukan cuap-cuap, tapi mengabdi pada rakyat. PM Jepang dari zaman dulu sampai sekarang juga selalu pakai penerjemah kok ke mana-mana. Pandai bahasa asing dan pandai berorasi saya nilai sebagai bonus saja, bukan prioritas.

* Hubungan dengan asing *

Terus terang, bagi saya martabat bangsa di hadapan bangsa asing penting sekali. Namun, saya tidak setuju pada pandangan bahwa JKW antek asing atau Amerika yang kebijakannya akan membahayakan kedaulatan bangsa, boneka yang mudah disetir, dan sebangsanya. Nyatanya hingga kini JKW justru sebaliknya, contohnya tidak mudah menyetujui proyek dari vendor asing dan tidak segan memutus kerja sama jika ada vendor asing yang payah. Pepatah bijak mengatakan bahwa 92% ketakutan tidak terbukti dan 8%-nya bisa diatasi.

* Visi-misi *

Ada yang bilang jangan tertipu pencitraan, jangan lihat penampilan, jangan hanya mengikuti kata hati, tapi lihat juga visi-misi calon. Giliran dikeluarin visi-misi jebret.. eh, lha kok ternyata tebel banget, dicap jugalah visi-misi itu sebagai proker yang tidak kongkrit atau mencontek dari pihak lain. Ealah yowesslah.. mendingan nggak usah terlalu dipikirkan karena cuma formalitas. Saya sepakat dengan blogger ini yang bilang bahwa track record  lebih penting daripada visi-misi.

Pesan BJ Habibie

Last but not least, saya berusaha nurut sama eyang Habibie saat beliau dimintai pendapat di Mata Najwa: Habibie Hari Ini. Presiden ketiga Indonesia itu membagi perjalanan bangsa modern dalam tiga generasi:

  1. Generasi angkatan 45 (para pejuang kemerdekaan)
    • yang hanya mengenal “merdeka” atau “mati”, melahirkan Pancasila, UUD, dll.
    • sudah tiada lagi, tapi jiwanya harus dipelihara
  2. Generasi peralihan (di atas 60 tahun)
    • yang pernah bekerja sama dengan generasi angkatan 45 dan generasi penerus
    • sedang di depan pintu, Habibie termasuk didalamnya
    • harus rela menyerahkan kepemimpinan kepada generasi penerus
  3. Generasi penerus (usia 40-60 tahun)
    • dari ketiga generasi ini, generasi peneruslah yang beliau nilai pantas untuk menjadi pemimpin bangsa

Pesan di atas makes sense sekali buat saya, makanya dulu sebelum JKW dicapreskan saya udah menjagokan bang Anies dan Mahfud MD, tapi memang rasanya keduanya sulit maju karena berasal dari kalangan profesional, sedangkan yang kita tahu kebanyakan calon presiden dari jalur militer atau birokrat. Habibie, seorang teknokrat, yang hanya sebentar memimpin termasuk yang nyeleneh dan tidak dicalonkan dari awal.

JKW sebelumnya tidak pernah saya sangka akan maju karena dia belum lama jadi gubernur sampai-sampai saya pernah punya perjanjian dengan suami bahwa kami hanya akan kembali ke Indonesia jika JKW yang jadi presiden karena rasanya pada masa itu (dua tahun lalu) probabilitasnya sangat kecil. JKW selalu menolak di-capres-kan. Nyatanya kini kami harus siap-siap termakan omongan sendiri >_< Kalo dipikir-pikir, ternyata pada saat perjanjian itu disepakati, secara tidak langsung berarti kami sudah menyimpan harapan itu, bahwa kondisi Indonesia akan membaik jika manusia seperti JKW-lah yang menjadi presiden, jadi ada alasan untuk pulang. Hehe.. What a thrilling coincidence, huh? ;)

* Amanah * (nyambung ke bagian tanggapan di atas)

Ohya sekalian meluruskan.. kalo dua tahun dulu JKW menolak dicapreskan, lalu sekarang mau bahkan bersemangat memenangkan pertarungan, bukan berarti dia ingkar janji. Mungkin yang bilang begitu belum pernah menduduki jabatan orang penting. Orang penting di mana pun akan selalu ada peluang untuk ditawari posisi tinggi, atau yang sudah pernah memimpin akan ditawari posisi lebih tinggi lagi. Buya Hamka, Habibie, Dahlan Iskan, Sri Mulyani, Ahmad Heryawan.. ah nggak usah jauh-jauh lihat mereka, cukup kita tengok sekitar pasti banyak orang seperti itu. Wajar jika mereka diberi tanggung jawab yang lebih besar karena dinilai mampu memberi manfaat yang lebih banyak meskipun sebagian belum menyelesaikan jabatannya saat itu. Hanya saja, dalam Islam pun diajarkan jangan ambisius mengejar jabatan, tapi ketika diamanahi, terimalah. Ketika JKW berjanji akan membenahi Jakarta selama lima tahun, tentu ia bicara dalam kapasitasnya sebagai gubernur tanpa berpikir kemungkinan dia akan dicalonkan jadi presiden. Tidakkah itu sejalan dengan ajaran di atas? Lebih jauh lagi ada yang bilang JKW berkhianat, tapi label serupa tidak berlaku untuk tokoh lainnya. Sebegitu menakutkannya JKW sebagai kompetitor? JKW menegaskan dengan menjadi presiden dia akan punya kewenangan lebih luas untuk membenahi Jakarta.

Kan masih ada pemilu berikutnya, kenapa JKW nggak nyelesaiin masa jabatannya sebagai gubernur dulu baru ntar dicalonkan jadi presiden? Well.. ini soal momentum yang harus diperhitungkan dengan cermat. Kondisinya mungkin akan jauh berubah lima tahun lagi, ketika Indonesia sudah memasuki era pasar bebas AFTA tahun 2015 misalnya, dan seperti apa nasib kita pada saat itu sangat ditentukan presiden yang kita pilih sekarang. Analoginya mirip seperti ketika saya tanya suami kenapa dia nggak mau ambil program integrated S2-S3 selama lima tahun, lalu pertimbangan dia karena lima tahun lagi (plus beberapa tahun kalo pengen kerja dulu), momen untuk mulai menerapkan ilmunya di Indonesia sudah hilang karena saat ini pun negara-negara maju sudah lebih dulu memulainya. Di mata saya, mumpung lagi banyak tokoh-tokoh pembaruan muncul di berbagai bidang dan publik melihat harapan untuk bangkit itu ada, JKW harus jadi presidennya sekarang. Bukan cuma DKI yang perlu dibenahi, tapi seluruh negeri. Kalo kata Joko Anwar sih, Indonesia udah emergency.

Hak Prerogatif Tiap Pemilih

Dari pendapat sotoy saya di atas, jelaslah bahwa perkara memilih presiden itu benar-benar personal, tidak bisa dipaksakan, kecuali calon pemilih memang belum mengenal calon-calon yang ada, tidak mau tahu, tidak mau repot, atau tidak berani menanggung konsekuensi. Kalo prioritasnya sudah beda, meskipun dibandingkan sedetil apa pun, harusnya tak perlu lagi perdebatan dikemukakan. Misalnya kalo menilai kedaulatan pangan itu prioritas bangsa kini, ya pilihlah Prabowo.. tapi kalo pengennya pemimpin itu memberi perhatian besar pada pendidikan dan transportasi seperti saya, ya Jokowi yang punya itu. Ini saya sengaja ngasih contohnya sesuai visi-misi biar obyektif. Kalo saya ambil contoh kaya di atas kayanya bakal bias, hehehe.

Pilpres hampir sebulan lagi dan Ramadan justru yang lebih dulu datang lho.. masa masih mau pusing dan capek mikirin capres? Kalo bisa ya bulan Mei ini lah segera diputuskan🙂. Masih terlihat tendensiuskah saya jika pada akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada calon yang sudah lama saya kenal? Tidak juga. Saat pileg kemarin saya pun memilih calon yang sama sekali belum saya kenal sebelumnya, tapi baru saja pelajari menjelang pencoblosan. Jadi bagi pendukung Prabowo, masih ada waktu untuk memperbanyak kampanye positif tentang calon pilihan kalian buat orang-orang yang lebih galau dari saya.. hihi. Yang jelas, kedua calon presiden dan wakil presiden pilihan saya sudah sering masuk ke daftar doa dan menghiasi mimpi-mimpi saya, sehingga insyaaAllah sudah mantap memilih. Segala kekurangan mereka biarlah kita mohonkan ke Allah untuk disempurnakan dan segala pendukungnya yang kurang berbudi kita doakan agar segera sadar😆.

Oke deh, sekian opini dari saya.. mudah-mudahan terjawab yaa, wahai teman-teman yang nanya. Seperti yang sering kita doakan, siapa pun nanti yang jadi presiden mudah-mudahan bisa membawa Indonesia menjadi lebih baik.

Selamat menentukan pilihan dan salam damai!

signature

Leave a comment

18 Comments

  1. Menyimak dan meninggalkan jejak😀

    Reply
  2. Aku liat dan aku komenin nih Ga.

    Pertama, salut.. Idemu ini disampaikan dan dituliskan dengan sangat baik Ga.

    Dalam hal menentukan pilihan saya sepakat perasaan lebih banyak berperan. Perasaan yang memilih, kemudian logika yang menguatkannya dengan data dan fakta sesuai apa yang Perasaan “inginkan.”🙂

    Pernah seorang inspirator dan motivator kelas dunia, Ben Underwood mengatakan “Mereka yang dapat melihat hanya dapat memandang satu sama lain dan menilai sesuai dengan apa yang mereka lihat. Tak lebih dari itu.”

    Kita melihat sesuati itu dengan subjektivitas kita, dengan latar belakang dan prior knowledge yang kita punya. Jadi memang memang sangat susah memasukan ide yang sama sekali berbeda dengan apa yang sudah dipunyai orang lain -secara sadar-.

    Jadi ya memang wajar perbedaan itu ada. Apalagi dalam hal pilihan presiden atau kecenderungan politik. Toh ini kan tentang hal benar dan salah atau halal dan haram, jadi seharusnya memang tidak ada stigma “yang beda dengan saya salah adanya”. Karena saya yakin yang mau bersusah-susah jadi presiden pasti punya idealismenya (apa yang IDEAL untuk bangsa ini menurut dirinya) sendiri.

    Lalu sepakat juga dengan negative atau black campaign. Presiden adalah pemimpin bangsa maka jika ada ujian untuk presiden harusnya yang diuji adalah gagasan apa yang dia bawa untuk memimpin bangsa, bagaimana cara dia melihat permasalahan bangsa dan solusi apa yang mereka tawarkan. Bukan sekedar hal-hal remeh.

    Jadi saya mengecam banget adanya negative atau black campaign terhadap semua pasangann calon. Lelah rasanya melihat timeline fesbuk dipenuhi cacian-cacian. Positifnya Jadi males buka-buka fesbuk haha

    Lalu terakhir, diluar terkait benar atau salah, dalam memilih tentunya kita sama-sama sadar bahwa kita berharap yang kita pilih (dengan alasan yang kita punya) adalah yang kita harap akan menang.
    Jadi saya pastinya juga berusaha dan berdoa untuk pasangan Prabowo-Hatta agar menang🙂

    Dan selalu diakhiri dengan doa semoga yang memimpin bangsa ini adalah yang tepat dan terbaik untuk bangsa ini (no name)😀

    Reply
    • Aku baca dan jawab nih Nji.

      Pertama, makasih banyak tambahannya, gue suka gaya loe. Hehe. Secara garis besar saya sepakat.. sedikit aja catatan:

      Sebenarnya dalam tulisan di atas saya nggak bilang perasaan “lebih banyak” atau “paling berpengaruh” sih.. Menariknya, komentar Panji punya elemen sama tapi logika kontras dengan komentar mas Danu di bawah. Ketimbang teori “Perasaan memilih, logika menguatkan dgn fakta dan data sesuai yang si perasaan inginkan”, saya lebih sejalan dengan mas Danu yang berpendapat “Gimana bisa mencintai seseorang kalo gak kenal sama sekali tentang dia, bobot bibit bebet juga masih jalan kok, menentukan pilihan adalah sebuah proses.” Bagi saya, perasaan juga muncul dari proses itu, bukan sebaliknya setelah perasaan kita memilih A, lalu kita baru menyetir pembelajaran mengenai A sesuai perasaan. Nanti jadinya nggak obyektif dong🙂 Yang lebih gawat kalo menjadi subyektif karena kita udah kadung punya perasaan benci sama B sehingga mengarahkan perasaan kita agar bisa menyukai A meskipun bobot bibit bebetnya tidak seperti yang diingini diri.

      Haiyah.. ngomong opo sih😀

      Reply
  3. ralat : skip kata “bukan”

    Toh ini kan BUKAN tentang hal benar dan salah atau halal dan haram, jadi seharusnya memang tidak ada stigma “yang beda dengan saya salah adanya”. Karena saya yakin yang mau bersusah-susah jadi presiden pasti punya idealismenya (apa yang IDEAL untuk bangsa ini menurut dirinya) sendiri.

    Reply
  4. udah baca aku dek, bagus tulisanmu.. sampe detik ini juga belum kepikiran mau pilih yang mana.. terus terang aku orang yang sulit jatuh cinta.. >.< , aku termasuk orang yang selektif banget kalo udah masalah hati – sepakat tentang bab yang merah jambu itu, itu juga aku banget, heuheuheu kalo gak cinta malah susah buat ngejalainnya – tapi itu malah yang jadi pembelajaran kalo sudah menghadapi dilema memilih, biar dikata personal dan gak nyentuh visi misi juga gak papa :p tapi gak segitunya juga lah.. gimana bisa mencintai seseorang kalo gak kenal sama sekali tentang dia, bobot bibit bebet juga masih jalan kok, menentukan pilihan adalah sebuah proses, ada yang cepet seperti kamu (eh km termasuk cepet ato lama yak? :p ) ada yang lama, dan ada yang luamaa (kayak aku kalo yang ini😀 ) dan memilih itu bukan suatu hal yang mudah, bahkan di islam sampai ada Sholat Istikhoroh. artinya perlu kematangan untuk menentukan sebuah pilihan terutama pilihan yang besar pengaruhnya buat kita dan semua orang.

    2 pilihan yang buatku sulit, pertama aku tau hal-2 dasar tentang kenapa harus memilih pak bowo, karena memang sodara dan teman bapak banyak berkecimpung disana ( bukan pejabat partai, tapi lebih ke dewan penasehat istilahnya), ke dua aku juga tahu pak owi karena temenku banyak yang asli solo (teman smp dulu, bahkan ada yang masuk timsesnya waktu beliau aktif disana) jadi inshaAlloh bukan hanya dari media saja, malah aku sudah eneg sama berita-berita yang muncul yang bukan malah mengulas hal-hal positif, jadi buatku biar hati saja yang menetukan detik2 pencoblosan dibilik suara, toh aku juga yakin kalau keempat nama yang muncul akan mebawa indonesia lebih baik, gak ada yang perlu dirisaukan, aku percaya nama itu juga sudah tertera pada kitab yang terpelihara, kitab yang berisikan tentang cerita rahasia dunia dan isinya, kitab yang kita mengenalnya dengan Lauh Mahfuzh. well, last qoute "cinta mungkin buta, tapi biasanya orang buta lebih peka" :)) keep smart, keep calm n blog on, chai yo!

    *tulisan ini bersifat personal, hanya sekedar berbagi uneg-uneg saja*🙂

    Reply
    • Luar biasa bung Danu ini.. baca juga ya komentar di atas soalnya aku mention dirimu. Untung ga telat ya nikahnya walaupun jual mahal (baca: terlalu selektif) hahaha. Hmm kayanya lebih tepat dibilang aku termasuk yg cepat memilih, nggak kelamaan kebawa perasaan. Contoh, kalo mau pergi aku ngikutin kata hati aja mau ke mana, sedangkan kalo kangmas itu lamaa banget browsing-nya, nimbang ini-itu, mikirin resiko keujanan, jauh, dsb. aku mah hajar aja mau ntar capek atau tutup kek, masih ada alternatif lain..hehe. Masih banyak contoh lain ttg ‘perasaan’ dlm kehidupan sehari-hari yg makin kusadari ketika sudah berdampingan dgn pasangan hidup.. cailah *tambah geje*

      Eh, iya gitu Dewan Penasihat? ngeri kali.. ho oh ki kanca-kanca ngaji / rohis-ku ya mesti ae akeh sing pro Prabowo, tapi aku dr dulu memilih utk tidak sekedar manut saran orang, apalagi taqlid, dalam berbagai penyikapan, pemilihan, pernyataan, dll. Hehe, peace!

      Reply
  5. ninien supiyati

     /  May 30, 2014

    Bude bangga punya ponakan yang mempunyai rasa patriotisme tinggi, peduli terhadap masa depan bangsa. Semoga kelak Ega bisa mengikuti jejak pak JKW. Bude ngefans banget sama pak JKW karena beliau tidak pernah minta untuk jadi presiden Terbukti beliau tidak pernah mengiklankan dirinya di TV seperti tokoh tokoh yang lain. Bahkan bude pernah lihat tayangan di tv sekelompok masyarakat (di daerah mana bude lupa) mendemo pak JKW karena beliau tidak mau mencalonkan diri menjadi presiden. Bude pernah mengikuti pengajian yang isinya antara lain : Jangan memberikan suatu jabatan kepada orang yang memintanya, maksudnya orang yang minta jabatan itu. Pak JKW tak pernah memintanya, tapi rakyat yang meminta beliau menjadi capres. Semoga beliau diberi kekuatan untuk mengemban amanah rakyat. Bude.

    Reply
    • Bude Ninien, maturnuwun banget nggih sampun mampir lan urun komentar.. aamiin alhamdulillah didoakan, semoga makbul🙂 Nggih, bude.. saya juga suka sikap beliau yang seperti itu, makanya sampai diejek pihak yang nggak suka kalo beliau nyapres karena dulu JKW selalu bilang “ra mikir, ra mikir” padahal ya memang beliau tidak pernah meminta🙂

      Reply
  6. whisnu

     /  June 3, 2014

    Menarik dilihat dari sisi lain,

    Awalnya saya bangga sama bapak JKW 1, dengan metode pendekatan ke rakyat, tapi mengutip kalimat pak Anies Baswedan “DKI 1 tidak efektif menyelesaikan masalah dengan blusukan” dan jika dirasakan kok sepertinya benar, kebanyakan blusukan salah satu masalah yang masih belum selesai adalah kartu sehat Jakarta yang sampe sekarang ga jelas, meskipun positifnya juga ada beberapa kampung deret telah dibangun, normalisasi, dan ketika banjir beliau turun nengok warga. Tapi kalo kita lihat di youtube kok sepertinya yang banyak memimpin rapat memutuskan sesuatu malah pak Ahok🙂 #JKW

    Lanjut ke sang Jenderal, beliau sering dikaitkan sama kerusuhan 98, HAM, dll nah kalo kita lihat lagi, pada waktu terjadi kerusuhan yang mengancam negara, yang bertanggung jawab harusnya adalah KSAD waktu itu Wiranto, pertanyaannya pada saat terjadi kerusuhan seorang Prabowo tidak akan melakukan apapun tanpa perintah atasan (jadi disini simpang siurnya) sampe diisukan akan melakukan kudeta (tapi tidak terbukti), disisi lain beliau pada saat itu menentang untuk meminjam ke IMF (amerika) dan lebih baik utang ke timur tengah dan buktinya Malaysia yang utang ke timur tengah selamat dari krisis sedangkan Indonesia masih berjuang sampe sekarang🙂.. Jadi kalo dari sisi ekonomi sepertinya sang Jenderal akan fokus ke swasembada pangan, mengurangi hutang ke IMF, meningkatkan sarana dan prasarana pertanian (beliau ketua himpunan petani Indonesia), dan sisi keamanan sudah tidak diragukan lagi, mantan pemimpin pasukan khusus dengan 11ribu prajurit, beliau sudah pengalaman hingga membawa pasukan kopassus menjadi pasukan elit dunia ke 3. Sekian dan terima kasih🙂

    Reply
    • Terima kasih pendukung Prabowo sudah main ke sini🙂 Silakan saja berpendapat demikian, bebaasss.. saya sih lebih mentingin hal-hal di atas ketimbang asumsi semata (kelihatannya blusukan tidak efektif, kelihatannya Ahok banyak berperan, kelihatannya kartu sehat nggak jelas, dsb.).

      Reply
  7. Halo salam kenal mba ega.. aku lumayan lama ngikutin blog dan IG mbak, tp br berani komentar di post ini hehehe. Izin share ya mbak😉

    Reply
  8. dien33

     /  October 16, 2014

    sy baca catatan perjalanan haji-nya cukup okeee, untuk pilihan politiknya sudah di dapat…meski berbeda dg sy. semoga J benar dg perkataan dan janjinya

    Reply
  9. Trus gimana kabarnya sekarang apakah pilihannya sudah sesuai harapan hasilnya?

    Reply
    • Kabarnya baik-baik aja, kok, Mas.. masih menyimak dan menyemangati pilihan saya untuk bekerja hingga masa amanahnya usai. Tidak ada sedikit pun penyesalan memilih dia, bahkan masih menyesal kenapa yang menguasai badan legislatif masih kubu sebelah. Wkwkwk

      Reply
  10. Salam kenal mbak, artikel perjalanan hajinya keren banget. Detil dan urut. Nungguin part 10nya nih😀

    Btw cuma pengen tau aja, mbak kan sepertinya lumayan religious. Pas milih JKW kepikiran ga kalau ntar JKW jadi RI 1, maka DKI, ibukota negeri muslim terbesar bakal dipimpin noni? Hehe..

    Ok dah, segitu aja. Tetap nungguin part 10, kebetulan ortu Insya Allah bakal naik haji kesana, jd bisa persiapan lebih matang.

    Reply
    • Part 10 diary haji maksudnya? mohon maaf belum dipublikasikan. Wah, masnya kurang piknik nih.. sudah banyak yang bahas di luar sana soal gubernur DKI. Wkwk.. saya sadar buanget kok dengan konsekuensi itu, tapi saya juga ngefans abis sih sama Ahok..bahkan kalo pun doi jadi presiden RI bakal saya dukung!!! (tentu diiringi doa agar beliau dibimbing Allah ke jalan-Nya) Gimana yaa? Hahaha

      Reply

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: