[Diary Haji] Hari #8 – Wukuf di Arafah


Senin, 14 Oktober 2013 (9 Dzulhijjah 1434H)
Sambungan dari cerita hari ke-7: [Diary Haji] Hari #7 – Hari Tarwiyah di Mina

Gambaran Arafah

Hari ini pasti jadi salah satu hari paling sakral dalam hidup seorang muslim selain mungkin err.. hari pernikahannya? harinya masuk Islam bagi yang mualaf? Buat saya sampai detik menjelang wukuf ini ijab qabul masih menjadi momen tersakral. Hehehe. Ya, wukuf di Arafah menjadi syarat mutlak sahnya haji seseorang dalam kondisi apa pun dia, baik yang sehat dan segar bugar maupun yang sakit keras dan hanya bisa berbaring, semua diwajibkan untuk pergi ke padang Arafah melaksanakan wukuf. Banyak muslim menggambarkan padang Arafah seperti miniatur padang mahsyar di hari akhir kelak dan begitu pula bayangan saya ketika kami ziyarah ke Jabal Rahmah yang terletak di salah satu sisi Arafah. Dari puncak bukit yang konon tempat bertemunya Adam as. dan Hawa itu, sepanjang mata memandang hanyalah tampak hamparan padang pasir berbatu dengan terik matahari yang luar biasa. Saat itu sudah dua hari sebelum masa haji dimulai dan dari sisi sana belum tampak adanya tenda-tenda untuk jemaah wukuf yang dipasang. Terbayang betapa miripnya ketika daerah itu terisi lautan manusia. Mengingat wukuf 9 Dhulhijjah ini merupakan agenda terpenting selama haji, maka jemaah perlu berusaha optimal agar tidak sakit.

Sesuai rencana, rombongan kami bertolak ke Arafah selepas ibadah Subuh. Kesibukan mengantri kamar kecil (lagi-lagi..) dan mempersiapkan bawaan menyita perhatian kami sehingga “roti cane Mina” yang rencananya mau dibeli pagi ini dan dibawa ke Arafah terpaksa harus dilupakan dulu😐. Tidak ada jatah sarapan pagi ini di Mina, jadi jemaah hanya mencukupkan isi perut dengan makanan yang ada di tas masing-masing. Saya sendiri selalu kelebihan jatah biskuit yang kerap diberikan secara cuma-cuma sejak di Mekkah hingga Mina oleh para dermawan atau memang disediakan panitia. Yang sering jadi problema justru minuman.. hehe. Tahu kan ya kalo udara panas biasanya lebih haus berkali-kali lipat daripada lapar. Itulah sebabnya saya menyarankan calon jemaah untuk bawa botol minum yang gede, kalo perlu kapasitasnya minimal satu liter biar nggak khawatir kehausan meski kehabisan air mineral botolan atau jus buah kotakan😀. Ngomong-ngomong, saya juga bawa banyak stok kurma yang menurut manasik haji di Indonesia mampu mengawetkan wudhu alias menjaga agar jarang kentut. Gimana ya itu penjelasan ilmiahnya? kebetulan saya belum pernah cari, dulu percaya-percaya aja, dan mungkin karena sugesti jadi beneran kalo makan kurma nggak gampang brat brut :mrgreen:. The power of belief!

Kembali ke perjalanan menuju Arafah. Hampir semua barang di Mina saya bawa ke Arafah karena setelahnya akan langsung pergi ke Muzdalifah. Seingat saya, cuma baju-baju kotor aja yang ditinggal di dalam tenda. Jangan tanya siapa yang akan jaga tenda kita selama ditinggal karena kalo pun panitia ada, tetap tak ada jaminan dari mereka bahwa orang luar tidak bisa masuk atau orang dalam sendiri baik-baik semua. Kata Bang Napi (yaelah ketahuan banget umur gue :eek:), kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat pelakunya tapi juga karena ada kesempatan, waspadalah, waspadalah! Tentu kita tidak mau ambil resiko kan sepulang dari wukuf malah dendam ke robber >.<

Tidak seperti ketika berangkat dari Mekkah ke Mina yang sepi, keberangkatan ke Arafah ini lebih serempak dengan jemaah lainnya. Begitu keluar pintu gerbang maktab, puluhan bus yang telah disediakan panitia telah berjejer rapi. Rombongan kami dibagi dalam dua bus dengan salah satu bus digabung dengan jemaah dari rombongan lain. Perjalanan dari Mina ke Arafah (±15 km) ini sebenarnya bisa ditempuh juga dengan kereta listrik yang dioperasikan oleh pemerintah Saudi sejak 2012, tapi tidak semua jemaah haji punya izin untuk menggunakan transportasi ini, kecuali rombongan dari negara-negara tertentu yang sedang punya kerja sama dengan pemerintah Saudi, misalnya tahun 2013 hanya tiga bangsa: India, Pakistan, dan Saudi sendiri. Tahun ini bisa jadi lain lagi. Seems not fair, huh? Masih ingat, kan, di tulisan sebelumnya saya masih menebak-nebak apakah momok jalanan macet parah akan kami temui dalam perjalanan ke Arafah atau ke Muzdalifah ini, tidak ada satu pun dari kami yang tahu pagi itu. Kepercayaan diri sudah turun melihat banyaknya bus yang hendak berangkat bersamaan😆. Syukurlah, ketakutan itu tidak perlu terjadi. Sekitar pukul 9.00 kami sudah tiba di Arafah dengan tenda yang telah berdiri :) Alhamdulillah ‘alaa kulli haal.

Dua kesan pertama yang muncul begitu masuk area wukuf:

  • Sebagian wilayah sudah bukan seperti padang pasir yang gersang dengan sedikit bebatuan sebagaimana yang nampak ketika kami mengunjungi Jabal Rahmah, melainkan lebih seperti taman yang ditumbuhi banyak pepohonan dan di kapling yang demikianlah tenda kami berada. Inti kawasan Arafah sendiri yang dipakai sebagai tempat wukuf meliputi padang Arafah, Jabal Rahmah (ada juga yang menyebut “Jabal Arafah” atau Mount Arafat, padahal sih nggak tinggi kaya gunung), dan Masjid Namirah. Konon, Rasulullah SAW dulu memberikan khotbah (khutbah) wukuf-nya dari atas Jabal Arafah tersebut.
  • Tenda di Arafah berbeda dengan di Mina, lebih sederhana, tanpa AC atau kipas angin, sehingga udara di dalam seperti oven dan banyak nyamuk😯. Kalo Anda bawa alas duduk berupa tikar atau lainnya, insyaaAllah akan menjadi berkah bagi jemaah lainnya karena bisa untuk duduk-duduk di luar tenda dengan semilir angin yang aduhai😛
8.2a - wuqoof in Arafat

Jemaah haji asal Indonesia sedang wukuf di Arafah. Banyak yang memilih di luar tenda karena lebih semilir dan bisa bersama pasangan masing-masing.

8.2b - wuqoof in Arafat

Susasana wukuf di tenda lainnya. Meski pohon tak menaungi sempurna, jemaah tetap lebih memilih duduk di luar tenda.

You are normally in a large, canopy-type tent.  The position between the air-conditioning units is a good place to book your spot as this provides a backrest.  If there are no such units then the back of the tent is more secluded.  Again, determine the qiblah and opt for the rear section.

As soon as you are settled in your tent at Arafat, locate the ablution block(s).  These will be even more congested than those in Mina, thus ensure you make, (and keep), your wudhu much earlier than in Mina.

(Hajj Practicalities in Arafat)

Yeah, in facts, our tent was one of those tents without air-conditioning unit😀, sedangkan untuk ablution alias tempat wudhu sekaligus toilet, kebetulan pengalaman saya justru lebih lowong di Arafah ketimbang di Mina (ya soalnya kaya yang diceritain sebelumnya, di Mina dijajah sama jemaah dari maktab lain juga.. wkwk) dan lebih nyaman karena tidak ada tetesan air dari shower di atas kepala kita (bukan didesain untuk mandi). Di kamar kecil Mina dan Muzdalifah ada shower yang umumnya nggak bisa menutup sempurna airnya, jadi saya mah ngalamat selalu basah jilbabnya tiap masuk kamar kecil :)) Ohya, catatan penting untuk para muslimah: kran tempat wudhu-nya terbuka dan kesuciannya meragukan (bau pesing -_-), jadi lebih baik wudhu di kamar kecil. Saya dengar isu ada jemaah wanita yang nekat pipis di situ😳.

Tidak Pergi ke Masjid Namirah

Tak lama setelah kami beristirahat di tenda sambil menentukan kiblat, yang juga menentukan arah duduk kami, dan salat Duha, makanan pun datang😀. Nah, saat inilah baru kerasa kalo bawa lauk cadangan ke Arafah itu penting ternyata karena menu catering lebih minimalis. Dalam bayangan saya saat itu, ah coba bawa sambal😛 Hebatnya, meski biasanya susah makan, saya tetap lahap dan habis-habis aja tuh makan di sini dan di Mina. Porsi nasinya rata-rata dua kali lipat porsi normal saya, tapi terasa ringan menyelesaikannya, mungkin karena makannya bareng-bareng terus atau mungkin juga karena selalu kelaparan😮.

Sarapan di Arafah yang sederhana :) Ini belum saya makan sama sekali lho jadi beneran porsi lauknya cuma segini, persis seperti cerita kakak saya tahun lalu. Silakan bawa lauk lain buat nambah selera.

Sarapan di Arafah yang sederhana. Ini belum saya makan sama sekali lho jadi beneran porsi lauknya cuma segini, persis seperti cerita kakak saya tahun sebelumnya. Dia bilang, “Makannya cuma nasi sama teri seuprit”. Ah, hai, ketemu juga rupanya😀

Usai makan, kami dibebaskan untuk melakukan apa saja. Jemaah wanita diperintahkan berpindah tempat dan jemaah pria mengubah letak hijab pembatas agar jemaah wanita yang tadinya bersebelahan dengan jemaah pria menjadi berada di belakang. Saya lihat para jemaah ada yang sibuk nyiapin doa, ada juga yang memperbanyak tilawahnya, kemudian.. sniff.. sniff.. hidung saya mengendus aroma yang sangat familiar. Saya sering menciumnya ketika Papa sedang mengerjakan pesanan pigura di rumah. Pas keluar, taraaa.. si ketua rombongan, yang juga pemilik agen haji kami, dibantu jemaah lain malah asyik berkreasi di luar tenda membuat panji sebagai penanda tenda kami. Beberapa jemaah wanita berbisik-bisik cekikikan, kenapa bendera agen aja nggak dipersiapkan sejak di Jepang seperti agen haji tetangga yang benderanya ehem.. eye catching banget, bo! Emang sih dari dulu dengar-dengar agen kami ini terkesan cuek dengan packaging. Mulai dari presentasi promosi yang seadanya (pakai kemeja dan tanpa slide, kebalikan sama agen tetangga yang pakai jas dan slide beranimasi) sampai perlengkapan seragam buat jemaah, duh.. kalah semua😆. Eits.. tapi jangan tanya, buat urusan pelayanan, perhatian, antisipasi, dan strategi, semua jemaah setahu saya puas dan memuji mereka.

Berfoto di depan bendera yang baru jadi :D

Berfoto di depan bendera yang baru jadi😀

8.0 - Arafat map

Peta Arafah, menunjukkan letak masjid Namirah (klik untuk memperbesar gambar)

Satu hal yang harus diperhatikan jemaah ketika berada di Arafah adalah batas wilayah, terutama jika perjalanan dari Mina ke Arafah ditempuh dengan berjalan kakikarena wukuf kita terhitung valid selama masuk dalam area Arafah, sedangkan masjid Namirah, tempat dikumandangkannya khotbah wukuf yang juga jadi pusat jemaah berkumpul, sebagiannya berada di luar Arafah.

Kalo kita sudah bareng agen dan dapat jatah tenda dari panitia, it should not be a problem. Panitia pasti sudah memetakan seluruh tenda dalam lingkup yang tepat. Saya mendengar ada sebagian jemaah yang meski rombongannya punya tenda, mereka memilih tetap pergi ke masjid Namirah untuk mendengarkan khotbah secara langsung. Biar dapat sensasinya kali, ya😉 Namun, lazimnya jemaah bisa mendengarkan khotbah dari tendanya masing-masing melalui relay radio, begitu pun tenda kami. Walaupun khotbah disampaikan dalam bahasa Arab dan hampir tidak bisa dimengerti oleh saya, aturan khotbah tetap berlaku: dilarang bercakap-cakap sendiri selama khotib berbicara, bahkan untuk mengingatkan orang lain pun cukup pakai bahasa isyarat.

Jika engkau berkata pada sahabatmu pada hari Jumat, ‘Diamlah, khotib sedang berkhotbah!’. Sungguh engkau telah berkata sia-sia. (H. R. Bukhari & Muslim)

Persis tengah hari, azan Duhur berkumandang. Kami salat jamak taqdim Duhur dan Ashar dengan cara di-qashar. Meski kita masih berada di Arafah pada waktu Ashar, tetap dianjurkan meringkas salat sesuai yang dicontohkan Rasulullah SAW. Setelah shalat inilah kami merapat untuk mendengarkan khotbah wukuf dari radio.


Beginilah suasana mendengarkan khotbah wukuf di Arafah

Sebelum haji saya sempat melihat-lihat foto suasana wukuf di sekitar masjid Namirah. Saat itu terbersit keinginan untuk pergi ke sana. Selain itu, informasi yang saya dapat saat itu masih setengah-setengah, tahunya justru khotbah saat wukuf itu disampaikan oleh pembimbing haji masing-masing, makanya sempat mencari tahu juga tenda jemaah haji dari Indonesia. Katanya sih boleh nyelinap ke sana biar bisa dengerin khotbah berbahasa Indonesia *kurang kerjaan*. Ternyata khotbahnya one for all, all for one :D Lagian, pergi ke masjid Namirah tidak disarankan karena selain bisa hilang tenggelam dalam lautan manusia, panas terik yang menyengat di padang pasir bisa memicu heatsrroke.

Persiapan Doa dan Dzikir Sangat Penting

Berbeda dengan mabit yang artinya sesederhana “bermalam”, istilah wukuf mengacu pada kegiatan tinggal di suatu tempat khusus pada waktu khusus, sehingga nilai keistimewaannya begitu tinggi, seperti misalnya wukuf di Arafah ini. Ngomong apa sih saya.. belibet ya? hehe.. kepikiran nulis gitu soalnya pernah baca ada istilah wukuf di Muzdalifah. Nah lho, bingung kan saya. Wukuf (aslinya tertulis dengan huruf “q” dalam bahasa Arab) di Arafah pada 9 Dzulhijjah ini dikaruniakan Allah SWT kepada para tamunya sebagai momen yang sangat mustajab, baik tempat maupun waktunya. Doa apa pun selama kegiatan ini berlangsung, insyaaAllah akan dikabulkan-Nya. Kapan lagi, kan? Oleh karena itu, inti dari wukuf ini selain mendengarkan khotbah juga banyak-banyak memuji Allah, mendoakan Rasulullah SAW (melalui shalawat), dan tentu saja bermunajat.

Bawa serta doa-doa yang ingin kita panjatkan, termasuk doa titipan dari keluarga dan teman kita. Saya sarankan doa-doa itu untuk ditulis biar bisa tersampaikan dengan baik dan tidak ada satu pun yang terluput. Kalo ada buku atau aplikasi di HP yang berisi kumpulan doa dan dzikir juga dibawa aja karena sangat membantu kita menyempurnakan ‘muhasabah cinta’ kita.. (cailah kaya lagu ajeee)

Saya agak menyesal karena buku kumpulan doa dan dzikir tertinggal di Mina. Suami sudah punya backup-nya di HP, tapi saya tidak dan sayangnya kami tak bisa berkiriman foto. Akhirnya, saya berdoa sambil menuliskannya di atas kertas dengan pensil disertai tetesan air mata yang mengalir deras. Terasa dekat sekali dengan Allah saat itu😥. Banyak sekali doa yang tertulis, kira-kira lima lembar atau sepuluh halaman research card. Semuanya benar-benar keluar dari hati yang terdalam dan terinspirasi dari perjalanan hidup saya sejak lahir hingga saat tersebut. Sebanyak itu baru doa saya sendiri, sedangkan doa titipan yang telah tersusun baik dan tercetak di kertas masih ada dua lembar A4 tersendiri. Alhamdulillah, semuanya terbawa. Saya bersyukur bisa melibatkan wajah-wajah orang yang saya sayangi dan negeri yang saya cintai dalam doa-doa saya. Mudah-mudahan Allah SWT mengijabahnya dan sedang memproses sebagian doa yang belum ada jawabannya hingga kini🙂

Terkait doa, ada tips bagus nih di buku panduan haji yang saya pakai dan secara kebetulan ternyata urutan berdoa sehabis salat yang diajarkan guru ngaji saya waktu kecil kurang lebih sama dengan langkah berdoa dalam buku itu. Ngerasa nggak sih kalo pas berdoa langsung minta itu kurang sopan? Lha iya kan.. begini nih ‘tata cara’-nya:

  1. Memohon ampun kepada Allah
  2. Bershalawat kepada Nabi
  3. Berdzikir kepada Allah
  4. Bersyukur kepada Allah
  5. Menghaturkan doa kita
  6. Pasrah dan tawakkal, tidak memaksa Allah untuk mengabulkan doa-doa kita, tapi mohonlah yang terbaik

(agak lupa karena nggak bawa bukunya, nanti di-update kalo ada yang kurang)

Menyaksikan Seorang Jemaah Tutup Usia

Di tengah kekhusyukan para jemaah berdoa, meski sudah agak antiklimaks, tiba-tiba saya dikagetkan dengan keributan di luar. Seorang teman asal Myanmar yang tadinya duduk di baris depan saya, entah kapan perginya saya tak tahu, tengah memanggil beberapa jemaah pria untuk keluar. Konsentrasi saya dan jemaah lain buyar seketika. Kami pun turut keluar tenda.

MasyaAllah! Astaghfirullah!

Ada seorang bapak paruh baya tengah terkapar di jalan depan tenda kami. Dari posisi tubuhnya yang saya intip dari celah kerumunan orang, jatuhnya bisa dipastikan spontan dan tidak terkendali😦. Dalam waktu singkat sudah banyak yang berdatangan memberikan bantuan. BUkan hanya dari tenda kami, melainkan tenda-tenda lain. Bapak tersebut sedang tidak pakai ID card sepertinya sehingga tidak ada yang tahu dari mana asalnya. Kami yang tak tahu persis kejadiannya hanya mendapat info bahwa teman saya yang jadi saksi mata itu sedang berada di luar, kemudian melihat bapak itu berjalan dari arah toilet dan diduga akan kembali ke tendanya, tapi tiba-tiba BRUKK! beliau terjatuh. Ya Allah, merinding sekali mendengarnya. Sungguh heran, bagaimana bisa saya dan jemaah wanita lain yang sedang berada di dalam tenda sama sekali tidak mendengar suara jatuhnya, padahal tubuhnya cukup besar. Nyatanya kami baru keluar setelah ribut-ribut di luar.

Kami semua cemas menunggu unit gawat darurat dari panitia haji datang dan menolong bapak yang malang itu. Beberapa jemaah pria bergantian memberikan tindakan yang mereka bisa, mulai dari mengipasi sampai memberi nafas buatan. Namun, bapak itu tetap belum sadarkan diri. Balutan kain ihram dan tubuhnya yang kotor kena pasir menambah sedih hati saya T_T. Lama ditunggu petugas kesehatan tak datang juga, padahal saya dengar sudah ada yang memanggil dan memang… sedang tidak tersedia di sekitar situ! Beneran saya nggak paham.. akhirnya bapak itu digotong beramai-ramai entah ke mana. Makin miris hati saya melihatnya. Tubuh bapak itu tampak menunjukkan adanya pergerakan sama sekali. Beberapa menduganya terkena heatstroke atau kelelahan biasa, tapi ada juga yang khawatir dia sudah meninggal. Qadarullah, sebelum pulang kami dengar kabar bahwa beliau benar-benar sudah tidak ada😥. Semoga Allah menggolongkannya khusnul khatimah dan syahid. Aamiin. Beruntung sekali bapak masih diberi kesempatan untuk wukuf.

Death during Hajj is a sign of a good conclusion of one’s deeds, Allaah Willing. Whilst a man was standing at ‘Arafah during the Hajj with the Messenger of Allaah , he fell from his mount and broke his neck. The man was in the state of Ihraam, thereupon the Prophet , told his Companions to bury him in his two garments and neither perfume him nor cover his head. He , said: “He will be resurrected on the Day of Judgment proclaiming Talbiyah.” [Al-Bukhaari and Muslim]

Without doubt, that is a great reward and most excellent degree. Hajj and Jihaad are among the best deeds. But, to the best of our knowledge, there is no indication that he will be a martyr.

(http://www.islamweb.net/)

Kejadian meninggalnya si bapak sangat menyentuh hati saya. Betapa sering saya mendengar di Indonesia banyak orang yang ingin meninggal di tanah suci, bahkan banyak pula yang semangat mengulangi umrah atau hajinya hanya demi tujuan itu. Meski tak pernah ada jaminan bahwa orang yang meninggal saat haji masuk surga, tapi haji dianggap sepadan dengan pergi berperang dan sebuah perjalanan yang paling mulia dalam hidup seorang Muslim.

Goodbye, Arafat!

Selepas kejadian itu, pembimbing kami mengajak jemaah berdoa bersama-sama. Jemaah pria berdiri mengikutinya. Doa kali ini tidak ada hubungannya dengan jemaah yang meninggal tadi, tapi masih doa dalam rangka wukuf, momen paling mustajab ini. Kami mengamini doa-doa yang beliau bacakan dalam bahasa Arab, yang sebagiannya sudah familiar kita dengar dan lantunkan.

Jemaah berdoa bersama

Jemaah berdoa bersama. Lho kok saya bisa ambil foto? Iya soalnya telat gabungnya, ini saya pas lagi berburu minum karena kehausan setelah banjir air mata dan senam jantung lihat kecelakaan😛

Menjelang senja, saya terhelak menyaksikan pemandangan di sekitar saya. Banyak orang yang berdiri dengan mulutnya komat-kamit baca doa sambil… menghadap ke arah matahari terbenam! Ya Allah, ini kan yang diceritain di buku panduan haji saya itu. Ya Allah, kenapa mereka melakukannya? Bukankah ini adalah kebiasaan jahiliyah? Bukankah ini salah kaprah yang diingatkan dalam manasik untuk tidak dilakukan oleh jemaah? Sungguh hati saya bertanya-tanya saat itu. Bagaimana tidak, pembimbing kami pun tidak melarangnya bahkan ikut berdiri bersama mereka. Saya belum sempat menemukan jawabannya apakah mereka memang tidak tahu atau justru ada ‘ajaran’ hoax yang sudah terlanjur dikenal masyarakat luas tanpa diketahui asal-muasalnya. Memang sih tidak semua jemaah kami turut serta dalam aksi itu. Mungkin mereka juga sudah pernah baca ada larangan. Setahu saya, aturan berdoa di wukuf hanya menghadap ke kiblat saja, tidak kurang tidak lebih, apalagi mengkhususkan waktu sunset untuk berdoa sekaligus menghadapnya.

Menjelang pulang, kami baru sempat membuka jatah makan siang kami (kayanya dibagiinnya juga telat deh), jadi kami makan kilat sambil berkemas-kemas. Rombongan kami berencana untuk menunaikan salat Maghrib di Muzdalifah saja agar tidak terjebak macet. Semakin larut malam barangkali semakin padat jalanan karena biasanya pada salat Maghrib dulu di Arafah, sementara di aturannya cuma harus stay sampai matahari terbenam. Tidak wajib untuk salat Maghrib di sana.

8.1 - lunch in Arafat

Makan siang di Arafah, alhamdulillah menunya kembali seperti sedia kala: nasi, lauk, dan sayur, bahkan ada buah dan air mineral. Lezat! Sebelum pulang juga dibagi lagi satu tas makanan kecil untuk tiap orang.

 

Foto bareng buat kenangan di tenda Arafah

Foto bareng sebelum meninggalkan tenda Arafah. Bekas tangis-tangisannya masih kelihatan. Hehe.

“Please hurry, brothers and sisters!”, teriak ketua rombongan.

Upss.. saya hampir jadi yang terakhir mengemasi barang. Kebagian jeruk berlebih deh😀 Kami pun berbaris dua-dua menuju pintu keluar dan wow.. masih dapet lagi makanan. Kali ini berupa goodie bag berisi jajan dan minuman. Kayanya sengaja buat bekal di Muzdalifah deh soalnya makanannya roti dan biskuit gitu, rada berat. Lumayan juga kalo perut nggak diisi sampai besok pagi.

Sebelum bisa keluar, kami harus antri dulu dengan rombongan lain untuk diabsen busnya. Yang lucu begitu kami diperbolehkan naik bus, rombongan yang sudah lebih dulu ngantri di depan kami protes dooong.. katanya sih nomor mereka ketuker atau gimana gitu pokoknya harusnya nggak dipanggil dulu ke depan, jadi mereka udah maju dan busnya udah ada dari tadi, tapi mereka nggak jadi naik. Maafkan kami ya, brosis.. see u in Muzdalifah! :mrgreen:

Bersambung ke hari kesembilan: Selasa, 15 Oktober 2013 (10 Dzulhijjah 1434H)

Leave a comment

8 Comments

  1. Dioni udah hajjah aj…kereeeen

    Reply
  2. alhamdulillah jika sudah sampai sana,, semoga kami berikutnya.. amin..🙂

    Reply
  3. bagus…menginspirasi

    Reply
  4. mana hari ke sembilannya?

    Reply
  5. eddy arsadi

     /  February 17, 2016

    Aduh sangat inspiratif. Saya teringat ketika berangkat tahun 2003. Sudah banyak berubah ya. Trims

    Reply
  1. [Diary Haji] Hari #9 – Antara Muzdalifah, Mina, dan Mekkah | .:creativega:.
  2. [Diary Haji] Hari #7 – Hari Tarwiyah di Mina | .:creativega:.

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: