[Dorama Review] Ashita, Mama ga Inai


I’ve done watching this dorama three days ago: 明日、ママがいない (Ashita, Mama ga inai / Tomorrow, Mama won’t be here), another touching “dorama”, recommended for parents to be, reminded me that being mother (or father) is a honor, so take its responsibility seriously the best we can or someone else will replace our role. As usual, I always love Japanese dramas for those abundant words of wisdom. This time I was hooked on one below. It may sound controversial, but somehow the quote

「事実の親と真実の親は違うんです!」- Jijitsu no oya to shinjitsu no oya wa chigaun desu – “Parent who give a birth (factual parent) and the real parent is different”

has made me think deeply, that in fact some parents are absent or unable to take care of their child/children, while there are couples still struggling to have child on their own. Since learning and practicing parenthood is a never ending journey, hope we can be both jijitsu and shinjitsu parent.

I watched the full series here (English sub): www.gooddrama.net/japanese-drama/ashita-mama-ga-inai. Make sure your browser has flash plug-in enabled. Prepare plenty of tissues and enjoy!

Di dunia ini takdir hidup kadang tampak “ironis” di mata manusia, tapi begitulah cara Allah menguji hamba-Nya. Ketika banyak pasangan baik-baik masih berjuang untuk mempunyai anak kandung atau bahkan sudah menyerah karena kondisi di luar kuasa mereka, ada pula para pasangan / single-parent bermasalah yang sengaja menelantarkan anaknya karena ego pribadi atau (yang lebih mending) terpaksa membuat anaknya terlantar karena sesuatu hal.. misalnya di film ini ibunya masuk penjara. Akhirnya, menyisakan anak-anak tak berdosa yang haus kasih sayang orang tua.. anak yang diam seribu bahasa, anak yang bingung bahagia itu gimana, anak yang trauma berkepanjangan adalah sebagian profil yang dimunculkan dalam film ini. Di situlah panti asuhan dan adopsi menjadi salah satu solusi yang menjawab kebutuhan kedua belah pihak (pasangan pendamba anak dan anak perindu orang tua.. cailah). Adopsi di negara maju yang tingkat kelahiran anaknya rendah seperti Jepang sepertinya lebih lazim dibandingkan di negara kita.

Yang unik di film ini, anak-anak panti Kogamo no Ie punya hak untuk memilih orang tua angkatnya setelah terlebih dulu ikutan “trial” (お試し) alias nyoba tinggal bareng. Cocok atau enggaknya anak dengan calon ortunya kadang subyektif sekali, sesuai jiwa khasnya anak-anak yang belum pusing mikir duit atau gengsi (diceritakan bahwa tak sedikit calon ortu angkat yang pas-pasan), tergantung gimana mereka menemukan kebahagiaannya.. dan di sini digambarkan pula tokoh-tokoh dewasa (pengurus panti dan ortu angkat) harus paham betul kondisi psikologis tiap anak, demi bisa membuat mereka nyaman dan hal ini sangat dipengaruhi oleh masa lalu. Buat deal dengan keadaan mereka, nggak selalu keinginan anak harus dituruti, tapi ada kalanya mereka diarahkan ke jalan yang dinilai lebih selamat untuk masa depannya.

Tentang ukuran kenyamanan yang berbeda bagi tiap anak, lagi-lagi, saya kesengsemnya di ‘ide’ yang aneh.. kalo dibikin statemen jadi「幸せは人についてだけじゃなくて、場所もかんけいある」artinya kurang lebih kebahagiaan bukan hanya soal orang (with whom we are) melainkan juga masalah tempat (where we are). Redaksi aslinya di film sih berupa pertanyaan dari Mao, pemilik panti, apa iya anak cuma perlu pulang ke rumah aja, bukan ortu baru?. Makjleb itu kalo buat saya.. dari lubuk hati terdalam saya sebagai penikmat film, I can’t agree more.. and hey, I feel it all the time. Itulah kenapa istilah “homesick” eksis di kamus. Contoh nih, meski sama-sama dengan Yts. Suami, apa tingkat bahagianya bakal sama antara tinggal di Indonesia, Jepang, dan Amerika? (uhukkk) atau kalo penduduk Jepang diganti orang Indonesia semua, terus kita bisa bahagia dengan hidup di Jepang yang serba canggih fasilitasnya? Bisa jadi enggak, kan..

Last but not least, dengan nonton film ini kita sebagai Muslim insyaaAllah akan banyak ber-“Alhamdulillah” karena punya prinsip-prinsip hidup / kepercayaan yang tak dimiliki para tokoh dengan latar belakang ke-Jepang-annya. Contoh: anak punya rezeki masing-masing, kebahagiaan tidak diukur dengan uang, anak adalah amanah yang harus dijaga, berbuat baik ke ortu (birrul walidain), tidak boleh berlebihan meratapi orang meninggal, kewajiban menafkahi istri yang berpisah tapi belum diceraikan, dan lain-lain. Ketiadaan rambu-rambu itu yang membuat mereka sering menilai apa-apa dengan materi.

Ah, pokoknya siap-siap tisu yang banyak deh nonton ini. Dijamin mengasah kepekaan hati dan menambah cinta kita pada orang tua atau anak🙂

Leave a comment

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: