[Diary Haji] Hari #9 – Antara Muzdalifah, Mina, dan Mekkah


Selasa, 15 Oktober 2013 (10 Dzulhijjah 1434H)
Sambungan dari cerita hari ke-8: [Diary Haji] Hari #8 – Wukuf di Arafah

Episode sepuluh Dzulhijjah (dihitung sejak Maghrib hari Senin-nya sesuai kalender qamariyah) mencakup empat agenda penting: mabit di Muzdalifah, jumrah aqabah, tawaf ifadah, dan tahalul akhir. Siapkan stamina Anda!😉

Alhamdulillah sekali lagi perjalanan kami dimudahkan Allah. Dari Arafah hingga mendapat kapling di Muzdalifah hanya memakan waktu setengah jam. Sama halnya seperti Arafah, untuk bermalam di Muzdalifah sebagai bagian dari wajib haji, tiap jemaah, baik yang jalan kaki maupun yang naik kendaraan, juga harus yakin dan berilmu bahwa dirinya sudah masuk di wilayah Muzdalifah. Bukannya di perbatasan atau masih di wilayah Arafah.

Lokasi bermalam tiap maktab sudah ditentukan dan ada panduannya, tapi persisnya di sebelah mana tiap rombongan harus cari sendiri. Lapak kami bersebelahan dengan jemaah Air1Travel lagi dan dekat toilet/tempat wudu. Nggak nyangka juga di Muzdalifah ada toilet dengan kualitas yang sama seperti Mina / Arafah dan cenderung sepi sepanjang waktu. Jangankan mikir kotor dan baunya, dari awal datang keberadaan toilet tersebut malah bak fatamorgana di padang pasir buat saya karena di Mina / Arafah antrian toiletnya bikin eneg. Belum puas rasanya buang hajat atau bersihin badan sejak bertolak dari Mina untuk wukuf😀.

Toilet and bathroom in Muza

Toilet and bathroom in Muzdalifa. Lebih damai daripada di tempat lain🙂

Awalnya saya cuma pengen menunaikan acara buang hajat yang tertunda, tapi kemudian selepas salat Maghrib – Isya berjamaah dan berburu kerikil, suami datang nyamperin dengan rambut agak basah abis mandi. “Ega mandi aja sekalian di sini, enak lho”, kata dia. Karena nggak ngantri, kesempatan mandi memang lebih terbuka lebar di sini, tapi sayang saya nggak bawa handuk karena tak pernah berharap ada toilet selayak itu di tanah lapang ini sebelumnya😐. Berhubung nggak tahan dengan lengketnya badan (keringetan, bo!), akhirnya saya mandi juga di sana pakai handuk muka kecil yang dibawa suami. Lumayan.. shower-nya lebih waras daripada di Mina😀. Recommended deh mandi di Muzdalifah! Oke banget buat charging kesegaran badan sebelum kembali bergumul dengan jutaan jemaah haji untuk lempar jumrah karena kita mungkin nggak akan sempat mandi di Mina meskipun balik dulu (mandinya sih sebentar, ngantrinya itu lho yang aduhai lamanya). Jadi, saran saya jangan lupa bawa handuk dan baju ganti saat berangkat ke Arafah.

Tentang berburu kerikil, meski kelihatannya simpel, ternyata cukup makan waktu juga, lho, apalagi saingannya banyak, jadi rebutan deh cari kerikil yang bagus. Haha.. lebai. Ya tapi emang kebetulan di area kami kerikilnya banyak yang nggak ideal gitu, ringan dan terlalu kecil. Berbekal kantong kain untuk menyimpan kerikil yang dibawain ibu dari Indonesia, saya dan suami mengumpulkan kerikil bersama-sama. Kami saling membantu menemukan spot yang banyak kerikilnya. Begitu pun saya lihat pasangan lainnya. Sesuai arahan, jumlah kerikil yang dihimpun minimal sebanyak 42 butir kerikil untuk tiga hari lempar jumrah (7 butir/sekali lempar/hari) dan sudah termasuk cadangan. Walaupun ada pendapat yang menganjurkan untuk mencuci kerikil, rombongan kami sudah diberitahu tidak perlu melakukannya. Sebagian jemaah di rombongan kami tetap mencucinya, tapi saya sih nggak.. justru debu atau pasir yang menempel di kerikil-kerikil itu bagian dari sensasi lempar jumrah nantinya. Hehehe..

9.2 - collecting stone Muzdalifa

Collecting pebbles in Muzdalifa, with husband

9.2 - night in Muzdalifa

Taking pictures while collecting pebbles, with friend

Ohya, sebagian ulama berpendapat bahwa kerikil untuk lempar jumrah tidak harus berasal dari tanah Muzdalifah. Kegiatan yang diwajibkan di sini hanyalah bermalam (mabit) dan itu pun tidak ditentukan lamanya asal sudah melewati tengah malam. Kami bersyukur tidak terjebak kemacetan dan bisa beristirahat dengan leluasa di sini, sedangkan pernah saya dengar ada pula jemaah yang hanya mengunjungi Muzdalifah dengan tetap berdiam di atas bus karena saking padatnya jalanan. Satu hal yang kami sayangkan adalah kami tidak berhasil mencapai Masy’aril Haram yang merupakan salah satu tempat mustajab untuk berdoa dalam rangkaian haji karena posisi camping kami lumayan jauh dari tempat tersebut dan terbatasnya waktu bikin riskan banget kalo mau ke sana. Jika Anda berkesempatan ke sana atau punya peluang lebih besar untuk ke sana, sebaiknya jangan dilewatkan deh.. berdoalah di sana. InsyaaAllah diijabah oleh-Nya. Aamiin.

Suasana mabit di Muzdalifa. Ada yang bawa tenda juga, tapi lebih enak kalo beratapkan bintang lah :P

Suasana mabit di Muzdalifah. Ada yang bawa tenda juga, tapi lebih enak kalo beratapkan bintang lah😛

Tips dari saya selama bermalam (mabit) di Muzdalifah diantaranya:

  • Bawa sleeping mat tebal biar badan nggak kena gronjalan batu/kerikil. Punya saya terbuat dari busa di bagian bawah dan aluminium foil di bagian atas. Beli ini karena rating-nya tinggi di Amazon Japan dan ternyata emang nyaman banget dipakai meskipun bawanya agak ribet (digulung ditempelin ke tas rada tebal kaya orang naik gunung, dibawa kemana-mana), tapi ringan banget. Judulnya memang “camping mat” sih..
  • Tidak perlu bawa perlengkapan tebal untuk membalut / menutup tubuh kalo haji saat summer kaya saya karena walaupun di lapangan terbuka hawanya tetap bikin kegerahan —> sleeping bag kayanya bikin tambah gerah, lebih baik bawa kain tipis
  • Kalo bisa, sesampainya di lokasi segera ambil kerikil sebelum tidur —> takutnya bangun kesiangan kaya kami
  • Cabut ke Mina setelah tengah malam atau sekalian setelah shalat Subuh untuk menghindari kemacetan
  • Manfaatkan untuk BAB atau mandi dan istirahat yang banyak karena beneran berat keesokan harinya
  • Bawa tas plastik untuk sampah karena tempat sampah tidak banyak tersedia atau kalo pun ada, jumlahnya kurang dibandingkan sampah yang dibuang. Memunguti sampah yang bertebaran juga bisa menjadi ladang amal, lho😉
9.3 - sleeping in Muzdalifa

Kiri atas: Jemaah wanita dengan alas tidur masing-masing. Sama seperti tidur di tenda Mina, space per orang hanya sebesar badannya. Kanan atas: Space saya dengan alas tidur yang diceritain di atas. Yang tampak di gambar adalah tisu basah dan kotak makan berisi kurma –> dua bawaan super penting!. Bawah: Sisi memprihatinkan dari wajah Muzdalifah –> apalagi kalo bukan sampah yang bertebaran😦

Kembali ke Mina

Saya baru tertidur sebentar ketika akhirnya terbangun karena suara berisik jemaah di rombongan kami. Ternyata ketua rombongan (baca: pemilik agen haji) bangun kesiangan! Di sekitar tempat kami tidur sudah bersih tidak ada jemaah dari rombongan lain dan azan Subuh sudah berkumandang beberapa menit hampir setengah jam sebelumnya. Anehnya, rombongan Air1Travel juga masih di situ. Entahlah mereka kesiangan juga atau memang sengaja mau berangkat telat. Kami segera menunaikan salat Subuh berjamaah, kemudian berkemas menuju bus. Rencana pagi itu adalah kembali ke tenda di Mina untuk bongkar muat barang, lalu bertolak ke Jamarat dengan berjalan kaki. Alhamdulillah, kami lagi-lagi mendapat kemudahan dalam perjalanan. Justru karena terlambat, jalanan sudah lengang, Mina bisa dicapai kurang dari setengah jam sehingga beberapa jemaah wanita masih sempat mandi di Mina. Saya sendiri, berhubung udah mandi di Muzdalifah, cuma salat Duha, naruh baju kotor, tidur, dan nyiapin tas untuk dibawa lempar jumrah. Isinya antara lain:

  • sebotol air mineral (penting pake banget!)
  • payung
  • topi bundar lebar
  • masker cadangan
  • tas kerikil dan kerikilnya (ya iyalah masa kosong :P)
  • sunscreen lotion
  • semua barang berharga
  • kunci koper (karena ada kemungkinan perjalanan langsung diteruskan ke Mekkah untuk tawaf ifadah)
Goodbye, Muzdalifa.. thanks for your 'nature hospitalization'.

Goodbye, Muzdalifa.. thanks for your ‘nature hospitalization’.

Jumrah Aqabah

Lempar jumrah pada hari tasyriq menurut jumhur ulama hanya dibolehkan setelah Dzuhur sehingga kami menunggu di tenda sampai sekitar pukul 11 hingga ketua rombongan menyerukan untuk berkumpul di depan maktab. Kami mengejar awal waktu karena sebagian jemaah ingin kembali ke Mekkah untuk thawaf ifadah seusai menunaikan ritual melempar. Sebelum berangkat ke Arafah, rombongan kami sudah menyepakati bahwa agenda ke Mekkah akan terbagi menjadi tiga kloter yang memfasilitasi keinginan semua jemaah, yakni pada tanggal 10 Dzulhijjah, 11 Dzulhijjah (mengikuti ketua rombongan dan ustaz pembina), dan sepulangnya ke Mekkah (12 Dzulhijjah). Tanggal 10 sebetulnya paling sesuai contoh Rasulullah SAW, tapi sejak briefing kami diberitahu bahwa zaman sekarang hal tersebut sangat sulit dilakukan, baik perjalanannya maupun keliling ka’bah-nya, mengingat banyaknya jemaah berpikir hal yang sama (ingin thawaf hari itu). Saat kami tawaf dalam rangkaian umrah saja sudah luar biasa penuhnya dan terjepit-jepit jemaah lain🙄. Saya dan suami berencana mengambil opsi terakhir, tapi tidak menutup kemungkinan akan ikut jika rombongan bisa berangkat tanggal 10. Kalo persis kaya Nabi kan lebih afdhal gitu lho..

Sesampainya di jalan besar yang terbagi menjadi dua jalur dan keduanya dipisahkan pagar besi berwarna hijau tosca, kami melihat lautan manusia yang hendak menuju Jamarat. Tidak terbayang bagaimana kami harus memecah kerumunan itu, tapi Mr. Mian, sang ketua rombongan, selalu menemukan cara. Tugas kami hanya mengekor.. atau bahasa Jawa-nya ‘nginthili’ dirinya. Masya Allah.. kondisi mulai super menguji sejak berbaur dalam barisan para calon pelempar jumrah itu. Panas, jalan lambat, berdesakan dengan banyak orang, dan jarak tempuh masih jauh untuk sampai ke ujung terowongan Mina. Sayangnya saya nggak punya dokumentasinya karena nggak berani ngeluarin HP, tapi seingat saya, pak Candra masih bisa main-main kamera DSLR-nya😀. Sepanjang perjalanan, perbanyaklah doa dan dzikir, buang jauh-jauh pikiran buruk, terutama ketidaksabaran.. yaa kira-kira sedikit di atas sabarnya ngantri toilet di Mina atau thawaf lah. Serius! Soalnya lama dan paaanjang ‘kirab’-nya. Belanda.. eh Jamarat masih jauh, bo! 

Begitu Anda melihat pemandangan seperti foto-foto di bawah ini, berarti Anda sudah dekat ke Jamarat, yang sebenarnya masih termasuk wilayah Mina juga. Panjang terowongan Mina ini kurang lebih 3 km. Di dalam terowongan tersedia dua jalur yang dipisahkan oleh eskalator, tapi berhubung waktu-waktu lempar jumrah ada aturannya dan kami berangkatnya di awal waktu (mengejar lempar jumrah persis setelah azan Dzuhur), kedua jalur itu dipakai satu arah semua menuju Jamarat. Baru ketika jalan pulang kembali ke tenda jalur satunya digunakan oleh jemaah yang berlawanan arah (baru berangkat ke lokasi lempar jumrah).

Pemimpin rombongan kami, pemilik agen dan ustaz pembina. Setiap rombongan biasanya bawa panji masing-masing, tapi sayangnya kami nggak punya, jadi hanya payung dan tas disampirkan diatasnya yang dipakai sebagai penanda rombongan -__-

Pemimpin rombongan kami, pemilik agen dan ustaz pembina. Setiap rombongan biasanya bawa panji masing-masing, tapi sayangnya kami nggak punya, jadi hanya payung dan tas disampirkan diatasnya yang dipakai sebagai penanda rombongan -__-

9.5b - jemaah haji di terowongan Mina

Tunnel from Mina to Jamarat in day first

9.5c - kids in jumrah aqabah

Anak-anak dalam rombongan kami, digendong oleh jemaah lain yang tinggi-tinggi. Everybody looked at them😀 Alhamdulillah semua jemaah sangat suportif dalam membantu satu sama lain.

9.5bb - Mina tunnel to Jamarat

Other shots inside the tunnel. Top: Indonesia contingent, Bottom: escalator

Lha, terus mana foto lempar jumrahnya? Hehe.. hari pertama ini tidak sempat terabadikan karena kami masih belajar cara melempar yang benar dan konsentrasi juga tersita menghadapi banyaknya manusia di sana. Untuk mencapai tugu tempat kerikil dilontarkan, jemaah wanita harus dibantu memotong kerumunan massa. Dianjurkan tidak berdiri terlalu jauh dan tidak terlalu dekat dengan tugu agar kerikil tidak mengenai kepala orang dan kita sendiri nggak jadi korban lemparan😆. Yang terpenting adalah jangan salah tugu! Lempar aja di tugu yang paling ramai. Wkwkwk.. atu kalo untuk hari pertama ini, cari aja tugu paling gede, depan sendiri😛 Ketiga tugu atau tiangnya ternyata besar-besar dan melebar (bukan silinder sempurna), jadi cukup mengakomodir banyaknya jemaah. Tempatnya juga indoor, jadi lumayan lah bisa neduh sebentar. Tips melempar jumrah biar tepat sasaran dari saya:

  • Pilih kerikil yang berat >> ini sih perlu diketahui sejak ambil kerikil di Muzdalifah, tapi saya baru kebayang setelah praktek melempar. Kalo ringan, kerikilnya lebih ‘melayang’ dan meskipun bisa masuk ke ‘kolam’ (space antara tugu dan pagar) kerikil, belum tentu kena tugunya. Sah sih cuma geregetan, kan..
  • Baca basmalah setiap kali melempar biar mantap
  • Ayunkan tangan pada pergelangan, bukan pada ketiak >> agar tidak menghabiskan tenaga dan tangan nggak nyamber orang lain😆
  • Bergeserlah sedikit demi sedikit ke arah kiri sambil mencari jalan keluar dari satu lemparan ke lemparan lain. Jangan malah makin maju (susah keluar) atau mundur (resiko nggak masuk dan harus ngulang). Pokoknya dari awal usahakan langsung dapat jarak yang pas ke area pelemparan.

Tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan tujuh lemparan. Begitu selesai, kami berkumpul lagi di dekat pintu keluar sambil menunggu jemaah kembali lengkap. Rupanya setelah diskusi singkat diputuskan bahwa ketua rombongan dan pembina akan coba mengantar jemaah yang ingin ke Mekkah. Karena banyak yang mau ikut, kami juga jadi kepengen. Namun, niat kami itu pupus ketika mendapati jalan menuju Mekkah ditutup dan dijaga banyak asykar. Saya amati plang diatasnya tertulis: Makkah 10 km. Tak jauh dari situ ada tangga yang tampak ramai dilalui orang dan tulisannya juga ke arah Mekkah, tapi saya nggak tahu gimana ceritanya pak ketua akhirnya mutusin kami balik ke tenda aja ketimbang bersikeras jalan ke Mekkah. Dari sana, saya menyadari ada dua jemaah suami istri yang ‘menghilang’. Mereka tidak kembali bersama kami. Malam hari, ketika kami selesai dinner, muncullah kedua orang yang saya pikir ke mana itu. Ternyata, mereka berhasil pergi ke Mekkah dan menyelesaikan tawaf! Kami tanya lewat mana dan benar saja mereka berangkat melalui tangga yang saya lihat tadi… masya Allah, mereka bolak-balik jalan kaki.

Shopping di Pasar Kaget Mina

Kembali lagi ke siang hari..

Karena bukan hanya rombongan kami yang gagal ‘kirab’ ke Mekkah, pasar kaget di sekitar perkemahan haji menjadi sangat meriah dijejali jemaah. Pasar itu cukup jadi hiburan bagi kami setelah maraton pulang-pergi Jamarat. Saya yang belum pernah eksplorasi di situ jadi tergoda juga buat mampir. Niatnya sih mau beli buah sama roti yang gagal dibeli sebelum ke Arafah itu.. alhamdulillah kesampaian😀

9.6 - market in Mina

Crowd in Mina market after jamarat

9.6 - tahalul in Mina

Some people did tahalul in the open space right after coming back from Jamarat

9.6 - pharmacy in Mina

Don’t worry if you get sick during stay at Mina because Nahdi pharmacy is available there

Belanja seusai lempar jumrah. Lumayan.. dapat satu stel gamis dan celana untuk ganti.

Belanja seusai lempar jumrah. Lumayan.. dapat satu stel gamis dan celana untuk ganti. Di hari-hari berikutnya baju seharga 10 riyal itu kepake banget, lho!

Kuboos in Mina market

Mutabaq in Mina market – I was little surprised to know the name of this food. In Indonesia there is a similar food that we call “martabak”. Sounds alike, huh?

Tahalul Akhir

Nah, inilah saat yang ditunggu-tunggu sekaligus mendebarkan bagi para bapak haji karena akan mengubah total penampilan mereka.. cukur gundul! Ibu-ibu hajjah juga deg-degan, ding.. penasaran masihkah ganteng wajah suaminya tanpa rambut di kepalanya? apalagi buat yang nggak pernah gundul kaya suami saya.. Wkwkwk. Disitulah letak ujian itu. Apakah hal-hal duniawi masih lebih menarik bagi kita daripada jaminan-Nya di akhirat? Kalo Nabi Ibrahim a.s. saja rela mengorbankan anaknya demi mentaati perintah Allah, masa rambut aja disayang-sayang? tapi makna tahalul hubungannya bukan dengan teladan yang itu sih kayanya😀. Tahalul akhir atau kedua (karena bagi haji tamattu’ seusai sai saat umrah sudah tahalul juga dengan memotong sebagian rambut) ini menandai selesainya kewajiban berihram dan dikerjakan setelah yakin bahwa hewan kurbannya sudah disembelih. Oleh karena itu, bagi mereka yang mampu, dianjurkan untuk melihat proses Nahr (penyembelihan) secara langsung. Kami hampir saja diantar ke tempat penjagalan itu, tapi akhirnya hanya ditunjukkan arah jalannya saja dan lokasinya cukup jauh dari maktab.

9.7 - tahalul time in Mina

Atas: Suasana gundul-menggunduli di belakang tenda jemaah pria kami. Alat yang digunakan meliputi razor manual dan otomatis. Bawah: Wajah-wajah baru setelah tahalul.

Husband version of before and after tahallul :mrgreen:

Husband version of before and after tahallul, pake gamis yang dibeli di pasar kaget :mrgreen:

Tanpa teori dan ketrampilan khusus, para jemaah pria bahu-membahu menunaikan kewajiban tahalul ini. Ada beberapa orang yang dipercaya jadi tukang cukur dan lainnya membantu mengkondisikan (lihat gambarannya pada foto di atas). Cukurnya pun bisa request mau licin atau tidak. Suami saya pilih yang tidak licin, jadi dicukurnya pakai electric shaver yang bisa milih mau berapa cm motongnya itu. Tidak lupa setelah itu pada pakai peci yang dibeli bareng-bareng di pasar kaget Mina.. hihihi.

Bersambung ke hari kesepuluh: Rabu, 16 Oktober 2013 (11 Dzulhijjah 1434H)

Leave a comment

8 Comments

  1. pandu

     /  August 9, 2015

    hiks…. gimana ya caranya bisa baca lanjutan yg no 10? dr td nyari gk ktemu2 linknya.. 😦

    Reply
    • mela

       /  August 20, 2015

      Mba Ega…saya juga nunggu kisah hari ke-10 nya yaa…
      Mantap sekali sharingnya Mbak…

      Reply
  2. mba minta fotonya ya, mau bikin animasi selamat idul adha 1437 Hijriah, saya mita yang orang arab lagi tahalul. saya didin dari nosk.co.id

    Reply
  3. Niel

     /  November 14, 2016

    Luar biasa goresan diarynya… sangat menarik, inspiratif, open minded & ngangenin. Jadi pengen segera merasakan pengalaman rohani yg luar biasa ini. Smoga bs bermanfaat bagi yg lainya…👌👌👌

    Reply
  1. [Diary Haji] Hari #8 – Wukuf di Arafah | .:creativega:.
  2. [Diary Haji] Hari #10 – Saat Maut Terasa Mendekat | .:creativega:.

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: