Kunci Hidup Bahagia (dan Sehat)


Setelah sekian lama blog ini lumutan, yuk kita isi dengan tulisan yang bermanfaat😀 Tulisan ini dibuat tiga hari setelah ultah saya ke-27. Pas banget deh direnungkan buat kembali menata hidup.. tsaaahhh. Manusia tempatnya salah dan lupa, maka perlu kontrol sosial untuk membuat kekurangan itu minimal. Menuliskannya di sini adalah salah satu caranya. Sebagaimana opening words dalam video yang saya bahas di sini, pernahkah Anda bertanya:

Apa yang membuat manusia bahagia dan sehat selama hidupnya? Andai kita sedang berinvestasi sekarang, untuk apa sih waktu dan energi kita habiskan?

Pertanyaan simpel di atas ternyata harus dijawab melalui penelitian 3/4 abad, lho! Disarikan dari presentasi Robert Waldinger di TEDx Talks, di sini saya coba rekapin ya apa yang saya ingat dan kepikiran setelah nonton videonya (bisa diputar di bawah ini) karena saya cari ternyata belum banyak artikel berbahasa Indonesia membahasnya. Perlu diingat bahwa yang saya tulis bukan persis plek seperti terjemahan dan saya nggak ada waktu buat mutar videonya lagi demi nyocokin, jadi feel free buat koreksi. Di bawah ulasan video, saya tambahin juga kicauan topik terkait, hasil dari baca buku.


Ketika pertanyaan serupa dilempar dalam survei kekinian, mayoritas orang menjawab, mereka kerja demi menjadi kaya atau terkenal. Dalam hal ini, kerja merupakan salah satu bentuk penghabisan waktu dan energi yang disebut di atas. Well, buat kita yang beragama mungkin akan berpikir lain, misalnya keimanan kita kepada Tuhan atau kesyukuran atas nikmat-Nya lah yang membuat kita bahagia dan sehat, tapi itu juga masih abstrak dan luas untuk didefinisikan bentul riilnya atau palingan ada yang komen,  Naif, lo!” Wkwkwk..

Studi yang dilakukan Harvard University ini termasuk luar biasa. Mungkin penggagasnya tidak akan pernah menyangka bahwa 75 tahun kemudian risetnya akan dipresentasikan ke publik di ajang sekaliber TEDx dan masih berjalan. Penelitian semacam ini umumnya terhenti di tengah jalan baik karena penelitinya tidak punya penerus setelah lulus atau pindah haluan maupun terkendala dana riset. Dari segi metode juga sangat menantang. Bayangin aja, mereka nanya-nanya ke orang-orang yang jadi objek penelitian itu berdekade-dekade tanpa tahu hasilnya bakal gimana atau nasibnya si objek ntar kaya apa. Neliti idup orang, lho! Harus berani berspekulasi tinggi. Namun, perpaduan faktor keberuntungan dan penyerahan ‘tongkat estafet’ yang sukses dari generasi ke generasi membuat penelitian tetap berlanjut. Dari yang awalnya mereka meneliti 724 orang hingga saat ini ada 60 orang yang masih hidup dan terlibat dalam penelitian, ditambah sekitar 2000-an orang anak dari 724 orang tadi kini juga turut diteliti. Nah, si Roger..eh..Robert ini lah yang sedang diamanahi menjadi ketua tim penelitian para anak tersebut (baca: udah pada gede atau tua kali anak-anaknya mereka, bo!).

Ada dua grup objek dalam penelitian ini. Grup pertama adalah para sophomore (mahasiswa tahun ke-2) Harvard College pada masa itu, sedangkan grup kedua adalah remaja-remaja cowok yang cenderung hidup susah di Boston (catat: Harvard Univ. lokasinya di Boston). Dalam keberjalanannya, beberapa mantan remaja cowok yang sudah jadi dewasa itu ‘protes’ ke tim peneliti, “Hidup gue ga menarik, ngapain elo teliti?”:mrgreen:, tapi (bagian songong-nya) yang mantan mahasiswa Harvard sih konon nggak pernah bilang gitu. Gengsi lah ya, bro.. Haha

Apa aja yang mereka teliti? Cukup serius rupanya, pemirsa.. Tim peneliti mengamati kehidupan para objek dari mulai cara mereka berinteraksi dengan keluarganya, mengecek riwayat kesehatannya, cek darahnya, sampai menelusuri perjalanan karirnya. Hasilnyaaa.. jreng-jreng..

Good relationship is key for a good life (hubungan yang baik adalah kunci untuk hidup yang baik)

Relationship ini bisa berarti ke siapa aja, lho. Baik teman, keluarga, maupun komunitas (nggak disebutin hubungan dengan Tuhan atau binatang dan tumbuhan, so mari kita fokus ke hablu minannas.. yang sukanya menyendiri main sama piaraannya juga nggak usah protes dulu :P). Menurut pengamatan selama  ini, mereka yang menjaga kedekatan dengan orang-orang disekitarnya ternyata lebih bahagia, lebih sehat, dan lebih tajam memorinya. Sebaliknya, mereka yang cenderung menarik diri dari sekitarnya merasakan kurang bahagia dan kesehatannya memburuk pada masa paruh baya (midlife). Kesendirian itu racun.. yang kalo terakumulasi bisa mengacaukan hidup, mengganggu kerja otak kita yang sebenarnya berjasa menjaga tubuh dari kerusakan. Mereka yang socially connected  akan lebih mudah mengirimkan sinyal-sinyal positif ke otaknya dan otomatis ini akan mendorong tubuh mereka lebih sehat. Intinya gitu.. Wow! Tanpa bermaksud menciptakan cocoklogi, nggak salah dong ya kalo katanya silaturahmi itu bikin panjang umur. Ternyata nyambungnya di situ🙂

Pesan dari penelitian ini, kata pak Robert, penting untuk menjaga hubungan baik kita dengan siapa saja.. teman, keluarga, pasangan.. bicaralah dengan orang-orang yang sudah bertahun-tahun tidak kita sapa, luangkan waktu untuk berkumpul bersama orang-orang yang kita cintai, ganti screening-time dengan people-time. InsyaaAllah hidup kita akan lebih bahagia dan dampaknya tubuh pun menjadi lebih sehat.

IMG_7803

Enjoy smiling and laughing with your family while you can! * numpang eksis *

Tambahan dari saya: Raising a happy kid

Sehubungan dengan penelitian Harvard di atas, di sebuah buku favorit saya berjudul “Brain Rules for Baby”, yang membumikan hasil penelitian tentang otak kepada masyarakat awam, disebutkan bahwa the greatest predictor of happiness is having friends dan anak-anak di usia emasnya harus diajari bagaimana cara berteman, termasuk mempertahankannya, agar mereka sukses tumbuh menjadi pribadi yang bahagia. Kita aja yang udah dewasa kadang sulit memaksa diri sendiri untuk bersabar dan ikhlas saat ada masalah, apalagi anak-anak usia dini (0-5 tahun). Lihat di sekitar kita deh.. biasanya tipikal anak yang supel terlihat lebih ceria. Memang karakter anak nggak bisa kita paksa apakah mereka outgoing atau sifat introvert-nya cenderung ‘menahan’ mereka dari aktivitas sosial, tapi mereka bisa kita arahkan untuk menjadi teman yang menyenangkan, yang disukai banyak orang sehingga otomatis anak pendiam atau tertutup yang nggak tertarik berteman pun akan dicari sebagai teman. Kita butuh teman yang kalem macem Alya AADC juga kan? Kebayang kalo teman kita heboh semua :))

Nah, karena saraf-saraf otaknya belum terhubung sempurna dan fungsi logikanya belum tercipta, anak-anak usia balita belum bisa menemukan kebahagiaannya sendiri, padahal bahagia itu sesederhana “punya teman” tadi. Maka, mereka harus kita bantu agar bahagia. Secara teori, makin banyak teman makin bahagialah hidup kita. Terus jadi pengen nyanyi: “Beetapaaa bahagianyaaa punya banyak temaaan betapa senangnyaaa”😀 #PetualanganSherina

Faktanya, kita cenderung menjaga hubungan dekat dengan pribadi-pribadi yang manis seperti mereka yang perhatian, ramah, ringan tangan, pemaaf, dsb. Manusia dengan aura negatif yang bawaannya moody, egois, kasar, kaku, dsb. kurang diperhitungkan sebagai teman dan efeknya mental mereka juga bisa terganggu. Siapa sih yang nggak depresi kalo kita dijauhi orang-orang sekitar? Iniiii saya ngerti banget rasanya. Kalo pas lagi ada konflik sama suami atau lainnya, alih-alih kemarahan mendominasi, yang ada malah perasaan sedih dan terpuruk menang telak! No wonder kalo di buku ini ditulis those with emotional debits are some of the unhappiest people in the world. Hiks hiks..😦😦 amit-amit #selfreminder. Oleh karena itu, penting kiranya anak-anak diarahkan untuk mengontrol emosinya karena profil emosi kitalah yang akan menentukan seberapa jauh mereka bisa melebur dengan teman-temannya.

Wait! Nyuruh anak-anak ngontrol emosi? Nggak salah tuh? Emangnya kita udah lulus sensor? Hehe.. justru di usia balita ketika mereka masih polos, emosi itu bisa lebih dikontrol karena belum terbawa perasaan, belum bisa baper-an😮. Kalo kita berpikir bahwa emosi itu sama dengan perasaan, secara neurosains, keduanya berbeda. Emosi itu hanyalah reaksi spontan otak dari apa yang terjadi di luar tubuh kita, sedangkan perasaan adalah pengalaman psikologis yang subjektif. Emosi merupakan aktivasi sel-sel saraf yang secara normal membuat kita bisa memfilter hal-hal yang penting untuk diperhatikan dan yang bisa diabaikan. Misalnya, dalam situasi genting setelah gempa terjadi dan ada peringatan tsunami, emosi kita muncul membuat kita fokus untuk menyelamatkan diri dan mengesampingkan harta benda, baru kemudian kita bisa memilih mau punya perasaan sedih atau senang, takut atau pasrah, cemas atau tenang, bahkan mungkin marah.

Feeling is about label. Bagaimana kita melabeli emosi kita? Itulah perasaan. Di sinilah banyak orang failed (baca: usia dewasa), dan bagi wanita, labelnya jauh lebih lebay daripada lelaki :D Blame to our hormones too😛 Pada ranah inilah, seorang anak kecil (baca: bayi, balita) yang menangis, mulai dari sesenggukan aja atau yang sampai meraung-raung, belum mampu menginterpretasikan perasaannya. Tugas kita sebagai orang tua tak lain tak bukan adalah membantu mereka mendefinisikan berbagai bentuk perasaan, lalu barulah setelah anak paham / terbiasa, bisa kita ajarkan mana perasaan yang baik untuk dipelihara dan mana perasaan yang sebaiknya cepat-cepat dihilangkan. Dengan begitu, niscaya kita juga bisa membantu mereka mengontrol emosinya. Misalnya, ketika bocah menangis, cari tahu penyebabnya, kemudian kemukakan kepada mereka seperti “Oh, Musa ngantuk ya? Iya, iya, Musa ngantuk berat.. Musa lapar pengen minum susu.. yuk kita tidur” atau “Musa kecewa ya nggak dibolehin Mama pegang sampah? Nggak boleh sayang, ini kotor! Kita nggak boleh main yang yucky-yucky. Hiii”. Taraaa! Si anak jadi belajar bahwa ada perasaan ngantuk, lapar, dan kecewaSorry, contohnya domestik banget.. wkwkwk. Saya masih belajar memahami dan mempraktikkan juga ilmu ini. Untuk lebih jelasnya silakan baca di sini.

Back to Harvard’s study… 

Jangan lupa tonton videonya karena banyak bagian interpretasi subyektif saya di sini, tapi tetep pengen share. CMIIW (Colek me if I was wrong) ya!

 

Leave a comment

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: