Pengelolaan Pangan Praktis Keluarga


Halo! Udah tahu belum kalo di blog keluarga saya sekarang ada menu khusus buat Recipega (nama publikasi buat eksperimen masak ala saya.. maksa sih, wkwk)? Topik masak-masak di blog ini jarang keluar, tapi paling banyak yang nyari lho.. luar biasa minat masyarakat kita terhadap urusan perut, ya ūüėõ Saya juga yang dikangenin saat lagi di tanah rantau gini apalagi kalo bukan kulineran nusantara selain orang tua? Hahaha.

Kebetulan Sabtu ini saya diminta ngisi sesi ketrampilan di pengajian mamak-mamak kece se-Kanto (yang notabene mayoritas cuma dari Tokyo dan Kanagawa) tentang tips praktis a la Recipega, jadi sekalian aja saya buat rangkumannya di sini biar terarah mau jelasin apa aja dan semoga ada manfaat yang bisa diambil oleh khalayak di luar forum tersebut.

Satu disclaimer yang perlu diingat adalah dengan menjelaskan semua ini bukan berarti saya ini pakarnya lho, ya.. boro-boro, masak pun sering gagal, melainkan saya berbicara dalam kapasitas sekedar berbagi apa yang saya tahu dari pengalaman selama masa-masa hectic ngebulin dapur tanpa asisten di tengah kesibukan lain sebagai mama pengacara *pengangguran banyak acara wkwk*.

Yuk, langsung mulai aja…

Apa itu Pengelolaan Pangan Praktis Keluarga (baca: P3K versi Pertolongan Pertama Pada Kelaparan kalo minjam istilahnya Dita)? Ini sebenarnya istilah karangan saya aja untuk menyinggung gerakan-gerakan yang saling berhubungan dalam pembahasan kita nanti (jiaaah… ‘gerakan’):

  • Meal Preparation (biasa disebut Meal Prep aja)
  • Meal Planning
  • Meal Organization

Karena setiap poinnya tidak saya praktekkan secara ideal, maka tidak elok jika saya mengklaim salah satunya di judul. Yang saya terapkan selama ini cuma comot-comot aja dari teori para pakar di luar sana sesuai selera dan kemampuan tentunya.

Meal Prep dari Berbagai Level

Sesuai namanya, meal preparation merupakan suatu usaha untuk menyiapkan meal (makan rutin yang terdiri dari sarapan, makan siang, dan makan malam), tapi penekanannya bukan hanya untuk hari itu saja, melainkan juga untuk beberapa hari kedepannya, bahkan biasanya untuk persediaan seminggu.

Kenapa Meal Prep?

Tujuan dari praktik ini agar kita terpaksa makan dengan menu yang benar sehingga efeknya diharapkan kesehatan lebih terjaga. Meal prep memastikan lumbung pangan di rumah aman, meminimalisir godaan untuk goreng nugget atau sosis dengan alasan kepepet nggak sempat masak.

Idealnya,¬†meal prep¬†mengandalkan ketaatan sang pelaku terhadap jadwal menu yang sudah dia buat sebelum menyiapkan segala sesuatu. Iyalah, gimana mau tahu apa yang dipotong, dimasak, dsb. kalo nggak kebayang makanan jadinya bakalan apa aja, ya kan? Makanya dalam metode ini terkenal banget nasihatnya Benjamin Franklin¬†“If you fail to plan, you are planning to fail.”¬†Jleb.. jleb.. buat saya,¬†merencanakan menu kemudian mematuhinya itulah yang paling malesin.¬†Faktor-faktor penyebabnya adalah karena saya¬†masak sesuai mood, atau kadang¬†sesuai apa yang sedang menginspirasi di medsos (wkwk), dan yang utama saya¬†belanja sesuai diskonan toko. ūüėÄ Tenang, yang terakhir ini bisa diakalin.. nanti kita bahas.

Siapa Perlu Meal Prep?

Di luar sana suka dibahas meal prep ini buat orang sibuk yang nggak sempat masak atau buat yang lagi diet, padahal menurut saya, emak-emak stay at home kaya saya pun perlu banget nerapin biar hidup kita sedikit lebih rileks di tengah sutresnya ngurus anak dan cucian kotor. Kalo diperhatikan sekilas meal prep terlihat ribet karena banyak yang dikerjain, tapi percayalah meskipun cuma sejam kita alokasikan buat cuci-potong-kemas sayur segera setelah belanja, itu udah ngebantu banget hari-hari kita kedepannya dan mempengaruhi preferensi memasak. Dengan mengikuti meal prep dengan benar, seharusnya durasi masak harian akan lebih pendek dan bahkan nggak perlu kompor, tinggal cing di microwave aja.

Buat saya, meal prep perlu banget biar saya punya waktu untuk ngerjain hobi

Gimana Cara Meal Prep?

Nah, jawabannya bisa sangat bervariasi sesuai kebutuhan. Bisa mulai dari bener-bener cuma bahan

mentah yang disiapin untuk dimasak kemudian sampai udah jadi makanan siap hidang. Bisa ditargetkan setiap dua minggu sekali atau dilakukan secara konsisten setiap saat belanja. Semua tergantung kebutuhan kita.

Saya coba ringkas di sini tipsnya bersadarkan yang udah saya jalani. Praktik umumnya, bahan-bahan yang disiapkan belum dimasak jadi makanan final (precooked) dan kemudian dipadu-padankan antar¬†bahan untuk beberapa menu berbeda. Sebelum itu semua, (1) susun menunya.¬†Formatnya bisa sesimpel tema harian (contoh di rumah saya: tiap Jumat kambing, ikan 2x seminggu, Kamis ada menu dengan roti, dsb.)¬†atau detil sampai nama masakan (contoh: Senin pagi-siang-malam apa, snack¬†atau dessert-nya apa). Saya percaya setiap keluarga pasti udah punya polanya meski nggak resmi diproklamasikan. Coba deh temuin dan pakemkan jadi garis besar haluan dapur ūüėÄ

Konsekuensi kalo malas bikin rencana menu mingguan kaya saya, udah pasti belum kepikiran padu padannya gimana, jadi judul masakan baru diputuskan ketika eksekusi. Wakakak.. nah, (1) kalo nggak ada menu, paling tidak tetapkan waktu rutin untuk mengelola belanjaan demi menyelematkan sayuran yang dibeli hanya karena lagi murah tapi belum tahu mau diapakan . Saya biasanya hari Senin atau Selasa karena weekend justru sibuk bersosialisasi atau jalan bareng keluarga seharian. Senin itu hawanya orang pada kerja keras semua, terus kalo di daerah saya, Selasa harus buang sampah dapur (moeru gomi), jadi ya cocok, deh.

Tips kedua (2) identifikasi bahan-bahan yang sering kita pakai, resep yang udah cocok, dan konsisten dengan itu. Nggak masalah mengulang menu yang sama kalo kita udah dapat resep andalan. Saya punya buku catatan resep yang diisi sejak 2011 dan selalu pakai resep-resep di situ untuk menu yang sering dibuat sampai sekarang.

Ketiga yang paling sulit, yaitu (3) jangan menunda ngurusin bahan yang baru dibeli.¬†Habis beli sayur, segera cuci, siangi, potong, dan amankan di¬† kulkas atau¬†freezer. Hal yang sama berlaku buat belanjaan lain (dibahas di bawah bagian “cara mengelola bahan mentah”), terutama bahan yang jarang digunakan tapi cepat rusak seperti yogurt, heavy cream, keju, dsb. Dengan melakukan sampai¬†step ini, bisa dibilang kita udah jadi¬†meal prep practicer.¬†Tinggal nanti kalo mau naik level lanjut ke bagian inti yaitu¬†(4) menyiapkan bahan sesuai rancangan menu selama periode tertentu. Misalnya, kalo udah kebayang minggu depan mau eksekusi resep
– ayam cabe hijau
– yakiniku, dan
– salad tuna,
maka pada hari meal prep kita siapin
– ayamnya diblansir atau dimasak di teflon tanpa air / minyak –> biar nggak basi dan gampang ambil
Рdaging sapinya dipotongin tipis atau kalo udah sliced di-marinate pakai bumbu yakiniku, simpan di kulkas
– sayuran untuk saladnya dicuci dan dipotong, pastikan punya¬†dressing, jangan pas udah mau bikin kelupaan¬†dressing abis ūüėõ

Last but not least, kalo Anda tipe yang lebih suka nyetok lauk jadi kaya saya, (5) memasak dalam porsi lebih banyak dari yang dimakan tentu menjadi sebuah keniscayaan (halah). Daripada berkali-kali defrosting daging beku, mending sekalian aja sekilo itu dieksekusi jadi satu atau dua menu. Niatkan diambil sedikit untuk sajian hari itu, lalu sisanya dibekukan untuk stok.

Sejak lahiran, saya melanjutkan kebiasaan menyetok lauk-pauk dalam jumlah banyak di dalam freezer buat dikeluarin di waktu-waktu genting seperti:

  • mau pergi seharian (ex: ada pengajian, jalan-jalan, kunjung-kunjung, dll.)
  • mau ada acara di rumah
  • mau kedatangan tamu
  • mau melahirkan
  • lagi masa intensif menyusui
  • lagi sakit
  • lagi capek dan enggan masak (ex: ngejar deadline,¬†abis kerja)
  • masih ngantuk dan malas masak (ex: sahur)
  • habis pergi seharian
  • habis ada acara di rumah (lha.. balik lagi, muter-muter aja terus)

Ada juga waktu yang tidak genting seperti ninggalin suami mudik. Yah, begitulah, banyak momen di mana¬†defrosting lauk beku itu adalah suatu surga dunia. Saya bisa dengan bangga nanya ke suami, “Mau makan apa malam ini? Rendang? Ayam KFC? Opor ayam? Ikan katsu?” dan kemudian makanan siap dalam seperempat jam atau kurang. Udah kaya restoran aja, kan? ^^ Suami yang nggak bisa masak, bahkan ngupas bawang pun bingung, juga terbantu dengan adanya lauk yang selalu siap tersedia ini. Freezer (Jepang:¬†reitŇćko ŚÜ∑ŚáćŚļę)¬†saya nggak pernah kosong dari stok kaldu homemade, lauk homemade¬†(bukan¬†instan macam chicken nugget dari supermarket), dan kadang juga sayuran yang dibekukan seperti¬†urap sayur. Di kulkas biasa atau fridge¬†(Jepang: reizŇćko¬†ŚÜ∑ŤĒĶŚļę)¬†paling nggak ada yogurt, salad, atau potongan lalap dan dessert kalo lagi rajin bikin. Soalnya pasti tuh tiap hari entah malam-malam atau pagi-pagi si bojo buka laptop sambil ngider¬†cari cemilan.

Di bawah saya tulis daftar menu yang terbukti oke buat disimpan lama. Beberapa hasil yang pernah terdokumentasikan antara lain bisa dilihat di bawah.

Meal prep saat Ramadan, ada banyak sayur beku juga

Kondisi freezer saya sehari-hari

Begitu kurang lebih yang harus kita lakukan untuk meal prep. Intinya untuk memudahkan, bukan menyulitkan, dan nggak ada satu pun teori saklek tentang ini.

Semangat dari meal prep ini adalah mengurangi pekerjaan memasak from the scratch setiap waktunya sekaligus membuat makanan kita lebih terarah dalam kondisi apa pun, bahkan bisa mengurangi frekuensi mencuci alat-alat masak karena di hari-H kita mungkin udah nggak perlu lagi panci gede buat rebus kaldu, baskom gede buat cuci sayur, blender yang malesin bersihinnya, dsb.

Menerapkan Meal Planning dengan Budget Terbatas

Siapa suka belanja tanpa rencana karena niat mau beli yang lagi on sale? Haha.. gue banget. Di luar bahan yang fix harus punya di rumah, saya biasanya ngincer tag warna gonjreng (baca: harga diskon) ketika di supermarket. Khusus untuk perdagingan, karena saat ini kami tinggal di negeri minoritas, seringnya nggak ada pilihan sale dari toko online-nya. Alhamdulillah sekarang udah makin bertambah supermarket Jepang yang jual daging halal juga walaupun jarang juga lihat itu didiskon. Hehe.

Jadi gimana dong rencanain menu makan kalo pengen tetep ekonomis berburu diskonan?

  • cek-cek iklan supermarket (chirashi¬†kalo di Jepang),¬†di Amrik dulu kami selalu dapat iklan dari berbagai toko sekitar jadi bisa nentuin mau ke toko yang mana sesuai barang¬†sale yang sedang kita butuhkan
  • cek dulu bahan yang masih tersedia di rumah –> sebaliknya saya biasa catat di reminder hape kalo ada¬†bahan yang habis
  • lihat pasar dulu sebelum supermarket (baca: berlaku buat Jepang, di Indonesia kadang supermarket jusru lebih murah)
  • datang di awal dan di akhir promo (kenali hari ganti promonya)
  • cari resep yang mengandung barang-barang yang lagi diskon –> pentingnya koneksi internet saat belanja atau bisa juga dikerjakan setiba di rumah
  • bikin album foto perbandingan harga untuk barang yang sering dibeli –> saya pakai aplikasi¬†Money Journal¬†untuk simpan nota jadi bisa bandingin suatu hari harga barang yang sama untuk toko yang berbeda
  • penting banget punya¬†bank resep yang sering dipakai berulang-ulang jadi nempel di kepala dan membantu otak mengasosiasikannya dengan barang sale
  • jangan¬†stuck sama menu Indonesia, ada banyak makanan enak di dunia ini ūüėõ

Belanja hemat boleh, tapi juga harus cermat. Sebelum lihat harga yang paling murah, lihat dulu harga yang agak mahal siapa tahu lagi didiskon. Suatu kelaziman bahwa ono rego ono rupa alias barang yang bagus ya harganya tinggi. Tetap periksa nutrition facts di kemasan dan bandingkan antara produk sejenis sebelum memilih. Jangan korbankan kesehatan kita dengan membeli barang yang inferior. Biasanya produk yang kalorinya sekian persen (cut) mengandung lebih banyak gula atau garam. Teman saya seorang dietitian menyarankan selalu beli yang whole untuk produk dari susu sekalipun, jangan takut dengan lemak, karena bukan lemak yang bikin kita gendut atau penyakitan, tapi nutrisi yang nggak seimbang.

Keuntungan dari Punya Lumbung Pangan

Enaknya kalo kita punya stok makanan jadi atau setengah jadi itu:

  • punya waktu untuk eksperimen menu baru atau latihan¬†baking¬†–> keluarga pasti senang kalo ada bonus¬†dessert bikinan mama
  • hemat waktu penyajian
  • sayuran beku lebih sehat, preserving nutrition
  • menghindari mubazir–> saat¬†summer¬†makanan cepet basi, sayuran nggak bisa langsung habis
  • nggak cepet bosan sama menu sama
  • jarang berhubungan dengan daging beku – terkait ketersediaan daging halal pada umumnya di Jepang
  • thawing sekali aja saat pertama kali buka, langsung diolah
  • daging beku tidak boleh diguyur air panas, ketika sudah di suhu kulkas atau ruangan tidak boleh dibekukan lagi
  • hemat waktu karena nggak nungguin defrosting berkali-kali, nggak bersihin lemak dulu setiap mau masak, nggak perlu cuci-cuci lagi tiap mau eksekusi
  • siap sedia untuk bikin¬†bento –> beberapa triknya:
    • selalu sedia stok lauk matang di freezer
    • potongin sayuran minimal seminggu sekali (sayuran siap pakai, udah dicuci + disiangi + diirisi + dibagi)
    • potongin buah lebih kalo lagi makan buah
    • bikin salad dan kuasai cara bikin dressing untuk salad (kalo mau bikin sendiri) atau beli jadi aja juga enak-enak >> saya ga suka karena ga bisa atur kadar keasinan / kemanisan. Dressing andalan saya: olive oil/ minyak wijen, madu, italian seasoning (parsley, oregano, dsb tinggal tabur), lemon.
    • stok nasi instan (precooked, 10 menit di dalam air panas udah jadi)
    • punya microwave¬†

Daftar Menu Oke untuk Stok Freezer

  • Semua yang berkuah santan / yogurt semacam kare, rendang, gulai, opor, dsb. paling stabil buat disimpan
  • Semua gorengan, ex: ayam goreng, ayam KFC, fish katsu, nugget, etc. manasinnya pakai mode “health fry” „Éė„Éę„Éľ„ā∑„Éē„É©„ā§ di oven¬†atau kalo nggak ada pakai suhu 250 derCel selama 20 menit (jangan di-defrost dulu karena bisa bikin soggy – nggak crispy lagi)
  • Semua bakar-bakaran. ex: ikan bakar, ayam bakar, hamba-gu, kebab, etc., bisa dipanaskan dengan cara dikukus di panci (pakai uap air) atau di oven juga.. pengalaman sih dikukus lebih juicy hasilnya, kalo dipanasin di microwave jangan pakai power tinggi agar tidak kering luarnya, tapi pernah dapat tips bisa pakai kain basah untuk menutup makanan jenis ini ketika di-microwave.
  • Sayur yang stabil: urap sayuran (wortel, kobis, kangkung, bayam, buncis, dsb.), BIG NO for tauge, asem-asem daging, daun singkong olahan ala orang Padang, dsb.
  • Semua ‘bahan instan’ yang multifungsi: bakso, sosis, otak2, dsb.
  • Kaldu cair buatan sendiri
  • Spagheti dan bumbunya, pizza, dsb.
  • Tumisan semacam sapi lada hitam, nikujaga, oseng2 tempe, dll.

Buaaaanyak pokoknya. Nasi pun dibekukan baik oleh orang bule yang makanan pokoknya bukan itu maupun orang Jepang yang tiap hari makannya nasi. Teman saya terbiasa membagi-bagi nasi yang baru matang jadi onigiri, dibungkus plastic wrap, dan disimpan di freezer untuk dipakai kemudian. Rasanya tidak berubah katanya. Saya pernahnya nasi kuning, nasi uduk, nasi kebuli, dsb. dan memang sih tetep enak setelah dikukus lagi.

Sampai sini, kira-kira Anda pro lauk jadi atau pro bahan siap cemplung? Wkwk. Pernah ada diskusi saya dengan teman sebagai berikut:

Lauk jadi VS Bahan siap cemplung

“Kalau yang dimasukkan berupa makanan jadi lumayan berat juga ya ngolahnya. Kebayang cuapeknya bikin masakan satu-satu lalu bungkus kecil-kecil.¬†Makanya aku tertarik coba menu Jepang yang umumnya ngolahnya gampang nggak kaya menu Indonesia. Sambil ngehayal beli kubis, jamur, wortel segambreng potong-potong bagi jadi beberapa ziplock terus jadi berbagai masakan… Hahaha. Menunya harus kreatif tapi bingung macemin bumbunya gimana.”¬†

E : “Aku ga selalu dibungkusin per porsi juga sih, K.. per menu aja. Dulu aku juga nyimpennya masih per potongan sayur atau semacam shredded chicken gitu tapi meuni masih ribet masaknya lagi.. jadinya aku sekarang (seringnya) stok lauk jadi yang siap manasin. Bikin porsi besar tiap kali masak soalnya sekalian juga nge-thaw dagingnya kan kiloan”¬†

Di sisi lain, sebagian orang merasa dilema karena ingin masak praktis, tapi keluarganya belum pro beku-bekuan ini. Terkait ini lagi-lagi saya ingat dari diskusi tema yang sama dengan cuplikan obrolan di atas.

Textures Matter

S : “Sayang sekali suami dan bayi saya nggak suka masakan yang disimpan dalam keadaan beku, terpaksa masak tiap kali mau makan… huhu”

E : “Tergantung menunya apa sih kalo menurutku karena¬†banyak alternatif lauk yang sama sekali nggak ngubah rasa dan teksturnya setelah dibekukan. Memang tidak semua cocok untuk distok. Kami dulu juga tidak suka frozen foods, tapi karena kondisi (LDR, anak lahir) lama-lama jadi tahu mana yang OK buat disimpen dan mana yang nggak dan kebiasaan ada microwave oven di luar negeri, apalagi¬†di Jepang modenya banyak, sangat membantu. Tinggal bikin sayur / salad aja kalo lagi kepepet.”

K : “Iyaa suami nggak perlu tau, yang penting tersedia masakan di meja hehe… Untuk sayur-sayur dan bahan-bahan yang belum diolah lalu dimasukan ke freezer tidak mengubah bentuk, warna dan rasa sama sekali. Ini aku sudah coba, tapi belum pandai kalau harus di-mix dengan metode 1 ziplock 1 menu. Jadi kemarin hanya potong-potong wortel dsb, jadi 1 ziplock 1 jenis sayur… [cut]”

Satu aspek penting dalam usaha menyetok lumbung keluarga adalah wadah yang harus tepat. Perlu banget mengalokasikan dana untuk punya kontainer yang reliable. Saya nggak suka kalo meal prep itu harus ngabisin banyak plastik klip. Go green dong, ah.. belilah wadah yang bisa tahan suhu rendah dan tinggi biar bisa masuk freezer dan bisa dipanasin di microwave.

  • no microwave for¬†melamine
  • bukan cuma untuk panas, untuk dingin pun ada standarnya –> tidak semua plastik dan gelas bisa masuk freezer¬†dan/atau¬†microwave
  • wadah untuk makanan padat belum tentu kompatibel untuk cairan

Bahan yang Fix Harus Ada di Dapur

  • Grain (nasi, oats, mie, bihun, dsb)
  • Protein, minimal telur
  • Dairy products
  • Sayuran hijau (sawi, bayam, dsb)
  • Bumbu bubuk, minimal banget kalo nggak ada bumbu segar
  • Sayuran snackable
  • Buah snackable
  • Tepung berbagai jenis
  • Minyak
  • Baking supplies¬†

Bahan Praktis yang Oke untuk Stok di Dapur

Wow.. udah panjang banget ya urusan pangan ini. Are you still with me? Semoga setelah semua bahasan di atas jadi lebih kebayang ya ngakalin kerjaan dapur yang nggak ada habisnya. Dengan lebih peduli pada persiapan dan pertimbangan kesehatan, tentu saja kita nggak harus bikin semuanya dari awal. Berikut ini ada beberapa bahan praktis yang berharga banget buat distok:

  • Bumbu-bumbuan
    • Minyak ikan –> umumnya nggak pakai zat aditif, pilih yang kandungan ikannya paling tinggi
    • Shouyu –>¬†bisa meniadakan garam kalo udah pakai ini
    • Saus tomat –> pilih yang natural
    • Pasta sauce
    • Vinegar (cuka) –> untuk zat asam
    • Kaldu segar –> kalo bisa beli di supermarket (di Amrik dulu suka beli yang veggie, di Jepang saya nggak nemu)
  • Kacang-kacangan¬†(nuts), peanut butter¬†–> sumber lemak yang baik
  • Kedelai-kedelaian¬†(beans) –>¬†snack sehat
  • Tortilla, pita bread, chapati –> bisa dibekukan, praktis untuk bikin sarapan
  • Ikan-ikanan kaleng
  • Dried fruits –>¬†buat cemilan, bahan kue / roti
  • Keju-kejuan –> semua bisa dibekukan dan dimanfaatkan untuk beragam resep
  • Frozen fruits and veggies¬†–> biasanya lebih murah daripada yang segar, banyak banget peruntukannya
    • beri-berian
    • mangga
    • kelapa
    • nanas
    • jagung manis
    • green peas¬†(kacang polong)
    • buncis
    • brokoli

Sementara segitu dulu deh, nanti kalo ada yang ingat lagi ditambahkan ūüėÄ

Leave a comment

5 Comments

  1. Halo mba, salam kenal saya Desi
    Woooow..saya seneng banget baca tulisan mba yang satu ini, biarpun panjang tapi sangat bermanfaat dan benar2 menginspirasi bangeeet. Kalau mba bahas lebih lanjut tema ini sepanjang apapun saya pasti baca hehe.
    Makasih banyak mba untuk sharingnya.
    Semangat terus berbagi yaa mba ūüôā

    Reply
    • Hai, mbak Desiii.. maaf banget saya telat balasnya. Terima kasih banyak udah mampir dan baca. Alhamdulillah, kalo tulisannya bermanfaat.. saya juga masih belajar istiqamah ūüėÄ Belum sempat bikin ulasan lebih detil lagi, tapi mbak bisa nonton presentasi saya di sini:

      dari situ saya dapat banyak pertanyaan di LINE group (audiens di pengajian) yang sudah saya jawab dan menambah informasi di tulisan ini, tapi mohon maaf skrg lagi rusak hapenya jadi belum bisa di-copas. Nanti insyaaAllah saya buatkan tulisan terpisah untuk sharing itu, ya.

      Reply
  2. efa

     /  March 19, 2018

    hai mbak salam kenal kenal.saya sangat teri spirasi sekali dg meal prep.saya ibu bekerja dg 2 anak kembar dan tanpa pembantu.saya biasanya cuma mempersiapkan menu dan bahan buat satu minggu dan baru skg dapat inspirasi buat menu setengah jadi trus di simpan di frezer.mbak yg jd pertanyaan kalau nasi apa juga dimasak dan difrezer? atau nasinya buat langsung aja trus lauknya yg di matengin. kalau untuk semua menu itu disimpan di frezer arau kulkas bawah? krn kalau di kulkas bawah kok saya takut basi.trus kalau di frezer kira2 berapa lama buat mencairkannya? kalau kaya ayam goreng dan kfc apa juga di frezer? trus buat angetinnya gimana krn saya nggak punya microwife.makasih mbak maaf pertanyaannya banyak banget

    Reply
    • Hai, mbak Efa! Salam kenal juga.. hebat sekali working mom dengan anak kembar nggak pakai ART! Kalo saya udah ngeluarin bendera putih duluan kayanya sebelum mulai ūüėÄ Nah tentang nasi itu sebenernya saya bahas di presentasi saya. Rekamannya bisa dilihat di sini:

      Di situ saya cerita kalo teman Jepang saya sering bikin onigiri (nasi kepal) dalam jumlah banyak sekaligus untuk dibekukan, jadi kalau mau makan tinggal dipanasin. Misalnya nih dia keluar sama anaknya dan butuh bawa bekal, nggak perlu siapin from scratch. Cerita lain, temen Amrik saya (bule tulen) karena jarang makan nasi, dia kalo bikin nasi disimpan sebagian di freezer, jadi kalo lagi pengen nanti tinggal masak lagi. Selain praktis juga jadi nggak mubazir. Bagi mereka masak dua cup juga mungkin udah eneg. Wakakak. Saya sendiri udah pernah nyoba bekuin nasi putih dan kuning. Tekstur dan rasa masih OK kok, termasuk yang stabil. Silakan dicoba ūüôā Manasinnya dikukus pakai panci biasa malah lebih enak daripada microwave.

      Kulkas atau freezer –> kalo stok untuk jangka waktu lama, misal masak daging dalam jumlah besar (sampai kiloan), pasti ke freezer, mbak.. iya bener takut basi kalo kulkas. Di kulkas biasanya buat bahan2 mentah yang akan dieksekusi dalam minggu itu (sayur udah dipotongin, daging udah di-thaw –> kalo frozen, siomay udah dibungkusin, dsb.).

      Untuk gorengan, kalo nggak ada microwave, langsung digoreng aja, tapi minyaknya udah harus panas banget. Atau diturunin ke kulkas dulu malemnya (digoreng besoknya) biar agak mencair bunga esnya. Cuma kalo saya nggak suka si gorengan jadi berair karena didiemin si suhu anget gitu. Seringnya langsung saya goreng sreng di minyak panas sampai crispy lagi.

      Reply
  1. Challenge: Masak Sendiri dan Meal Prep - Nyonya Malas

Wait! Don't forget to leave a reply here.. :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: