Kunci Hidup Bahagia (dan Sehat)

Setelah sekian lama blog ini lumutan, yuk kita isi dengan tulisan yang bermanfaat 😀 Tulisan ini dibuat tiga hari setelah ultah saya ke-27. Pas banget deh direnungkan buat kembali menata hidup.. tsaaahhh. Manusia tempatnya salah dan lupa, maka perlu kontrol sosial untuk membuat kekurangan itu minimal. Menuliskannya di sini adalah salah satu caranya. Sebagaimana opening words dalam video yang saya bahas di sini, pernahkah Anda bertanya:

Apa yang membuat manusia bahagia dan sehat selama hidupnya? Andai kita sedang berinvestasi sekarang, untuk apa sih waktu dan energi kita habiskan?

Pertanyaan simpel di atas ternyata harus dijawab melalui penelitian 3/4 abad, lho! Disarikan dari presentasi Robert Waldinger di TEDx Talks, di sini saya coba rekapin ya apa yang saya ingat dan kepikiran setelah nonton videonya (bisa diputar di bawah ini) karena saya cari ternyata belum banyak artikel berbahasa Indonesia membahasnya. Perlu diingat bahwa yang saya tulis bukan persis plek seperti terjemahan dan saya nggak ada waktu buat mutar videonya lagi demi nyocokin, jadi feel free buat koreksi. Di bawah ulasan video, saya tambahin juga kicauan topik terkait, hasil dari baca buku.

(more…)

Advertisements

Empat Bulan Kemudian

Empat bulan sudah saya kembali ke tanah air. Selama merantau ke negeri seberang, belum pernah saya pulang selama ini. Kepulangan kali ini pun nggak nyangka bakal selama sekarang karena saya dan suami masih ingin berpetualang di luar negeri, jadi belum akan menetap seterusnya. Niat kembali dan menetap atau yang biasa diistilahkan back for good sih udah ada, tapi ada beberapa ketentuan dan syarat yang musti tercapai sebelum mewujudkannya. We wish it would happen at the right time. Hehe.. by the way, ternyata beda ya sensasinya kalo udah pernah mencicipi kehidupan di negara lain,  lalu kembali ke negeri sendiri.

Situasi yang sebenarnya dari dulu sama alias memang begitu, bisa saya sikapi lain antara sebelum dan seusai merantau.

Dalam kasus saya, kebetulan karena “dikirimnya” ke negara yang ekstrim bedanya dari Indonesia, mulai mental masyarakatnya hingga kekuatan teknologinya, saya rasanya jadi banyak ‘menuntut lebih’, misalnya pengennya semua orang itu tertib dan taat aturan kaya di negeri rantau. Padahal toh, dulu juga udah tahu kalo masyarakat kita ini susah diatur, aturan dibuat sebagai formalitas, dan bahkan saya sendiri suka cuek break the rule, tapi sekarang… sungguh hati nuraniku sulit, bahkan cenderung nggak bisa menerima itu semua (baca: berontak) mad. Makanya saya sadar kalo sekarang sering ‘mengusik ketenangan’ orang karena saya berani ngapa-ngapain kalo sikap orang itu nggak proper. Beresiko emang, apalagi baca artikel Jakarta makin nggak aman itu, tapi mau gimana lagi? Doa aja dah yang dikencengin.. dan berharap sedikit sentilan saya mereka renungkan kemudian. (more…)

[Road to Hajj] Misi Besar 2013: Haji

Sebagai pendahuluan, saya ingin berbagi garis besarnya dulu tentang milestone yang sedang berusaha kami capai saat ini. Sebutlah namanya: haji. Inginnya nanti saya buat tulisan berseri yang bisa mengurai episode per episode atau by topic agar bisa jadi referensi bagi teman-teman dengan mimpi sama. Mudah-mudahan bisa terwujud. Aamiin. Ayo, pada doain saya terlindung dari niat yang bambang (BAsi MBANGet) :razz:.

Wangsit 2011

Mulai dari mana ya? bingung juga. Ohya, mulainya dari tahun pertama saya di Jepang. Saya yang nggak pernah kepikiran haji muda (minjem istilah “kawin muda” :mrgreen:) waktu itu tiba-tiba dapat info kalo haji dari Jepang bisa berangkat di tahun mendaftar. Ditambah ‘kompor’ dari teman sana teman sini bahwa:

  • pendapatan standar di Jepang, baik dari gaji maupun beasiswa (yang normal), kehitungnya mampu haji, tinggal bagaimana mengalokasikan dananya
  • mumpung di Jepang, usahain haji, kalo udah pulang ke Indonesia nunggunya lama
  • haji itu sebenarnya mudah, yang namanya menuhin rukun Islam itu juga sebenarnya biasa aja, hanya  kesempatan yang mahal harganya

Saya pun jadi tersulut pengen haji, tapi nggak cuma saya aja.. soalnya ortu belum haji. Betapa bahagianya kalo bisa bareng.

Nah, entah gimana ceritanya, ternyata saat mudik saya nemu salah satu tulisan di diary ini. Ketika itu, saya tengah menunggu pengumuman beasiswa kuliah ke Jepang dan suami sedang mengikhtiarkan proposal nikah. Uhukkk.. jadi malu :grin:

Nah, entah gimana ceritanya, ternyata saat mudik saya nemu salah satu tulisan di diary ini. Ketika itu, saya tengah menunggu pengumuman beasiswa kuliah ke Jepang dan suami sedang mengikhtiarkan proposal nikah. Uhukkk.. jadi malu :grin:. Danang itu sepupu saya yang punya Soerabaia Network.

2012 Dapat Partner in Crime

Tahun berikutnya, alhamdulillah nikah sama suami yang sevisi: sebisa mungkin sebelum ninggalin Jepang haji dari sini. Setelah menikah, kami mulai mewacanakan “haji dari Jepang” kepada papa mama saya. Sebenarnya ingin berangkat tahun itu juga, tapi rasanya impossible mengingat waktunya sudah mepet untuk persiapan segala sesuatunya (nikah bulan Mei, haji September) dan ditambah saya masih kuliah. Udah cukup bandel kayanya saya minta cuti kuliah sebulan buat persiapan nikah.. tahu diri lah :grin:, maka kami rencanakan berangkat tahun berikutnya saja. Efek sampingnya, kami harus menimbang-nimbang sampai akhirnya memutuskan untuk menunda punya momongan. Ini pilihan sulit, sodara-sodara.. biasanya orang Indonesia suka bertanya perihal hidup orang lain seperti: Udah isi? Kok belum isi? dan sebagainya, jadi kuping tebal aja dan nggak ambil hati karena kekuatan kami adalah kesimpulan bahwa haji itu kewajiban (bagi yang mampu), sedangkan buru-buru punya anak itu bukan kewajiban kok, lagipula terserah Allah ngasihnya kapan, Dia tahu waktu yang terbaik :wink:. (more…)

Akhirnya Pernah Bikin Tempe Sendiri

Saya setuju dengan ide pak Rhenald Kasali dulu, bahwa setiap orang harus pernah ke luar negeri, tapi saya tambah di sini: cobalah hidup sebagai kaum minoritas di negeri orang. Menjadi orang asing sekaligus minoritas itu menghadirkan banyak jalan menuju pembelajaran yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya saat berada di zona aman: negeri sendiri, bersama handai taulan, menjadi seperti kebanyakan orang. Di antara proses belajar yang beberapa pernah saya ceritakan di blog ini juga, membuat tempe sendiri adalah salah satu yang saya syukuri. Saya sangat bangga dengan makanan khas Indonesia satu ini, bahkan yang paling saya banggakan mungkin. Kebetulan saya, keluarga besar, dan kini keluarga kecil saya (baca: baru suami sih.. :grin:) juga penggemar tempe. Selama tinggal di Jepang, alhamdulillah cukup mudah mendapatkan tempe asal mau aja pergi ke ibukota 🙂 Namun, tentu membuat sendiri lebih puas rasanya. Saya tidak pernah pengen bikin sendiri sampai suatu hari saat berkunjung ke Bangkok, saya dikasih ragi tempe oleh kenalan SMA yang berjualan tempe di sana.

Berikut pengalaman dan resep yang saya tulis juga di Facebook. (more…)

International Symposium on Food Halalness

On 8 May, I attended the first “International Symposium on Food Halalness” in Ookayama campus of Tokyo Institute of Technology. I was informed about this event from mailing list of PMIJ, an Indonesian Muslim brotherhood in Japan. With a little doubt that such event would be held in a country called Japan, I registered my name. The show turned out to be more exciting than I had expected so that force me to stay seated for the entire presentations in almost five hours :smile:. Here, I wrote short review about what was presented by speakers based on my own perception.

Let us always support (and pray) for “Japan goes to halal-certified industries” 😎

Hadirnya simposium ini di tengah-tengah masyarakat Jepang sekuler menjadi event yang luar biasa. Pematerinya pun tidak kalah luar biasa, yaitu mulai dari researcher sampai profesor, bahkan beberapa diantaranya memegang peranan kunci institusi seperti:

Peserta simposium sendiri mayoritas adalah business men dengan setelah jas yang mungkin motivasinya cuma keywords semacam market, prospect, muslim consumers, trading, profit, dan sebagainya :eek:. Hal ini dibenarkan teman saya yang tak lama sebelumnya mengunjungi festival halal foods di Fukuoka. Katanya, “Memang kebanyakan yang kudengar dari yang jualan lebih memandang gimana pangsa pasarnya. Ya bagus sih daripada malah nggak ada (event semacam ini maksudnya). Semoga kedepannya makin ketahuan kebaikan dan kemudahan produk-produk halal di mana-mana”. Saya pun berharap mudah-mudahan dengan diulangnya ayat-ayat Alquran, prinsip hidup Islami, afiliasi muslim terhadap agamanya, dan ‘sisipan’ sejenisnya oleh para pembicara bisa sedikit membuka hati mereka untuk menerima keberadaan alien-alien* ini di negerinya :razz:, serta memancing minat mereka terhadap Islam.

(more…)

My Story about “Bento to Office”

Mungkin sebagian udah pada ngerti bahwa tinggal di negeri orang, apalagi yang mayoritasnya bukan muslim, misalnya Jepang, memaksa ibu-ibu untuk mau, bisa, dan pintar memasak. Oya, sebenarnya “ibu-ibu” dalam hal ini hanya mewakili saja..yang menjalani sih bisa siapa saja, apa pun status visanya saat ini. Oke, kenapa saya nulisnya harus pake tiga kata? karena masing-masing menunjukkan levelnya :razz:.

“Gue sekarang masak, Gan!”

Mau itu keharusan. Kalo nggak, mau makan apa? Hal ini terkait dua hal, yaitu harga makanan yang mahal (kalo masak bisa hemat 50%) dan perhatian terhadap halal-haram makanan. Dulu, saat ngekos zaman SMA dan kuliah, untuk makan tinggal beli lauk di warung asal dipercaya kehalalannya, beli yang instan di toko asal ada label halalnya, atau makan di luar. Gampang! Saya hampir nggak pernah masak, bahkan saat pulang kampung pun, kalo nggak karena pembantu bolos dan disuruh bantu Mom, mana pernah saya iseng masak di rumah? Nggak ada kemauan sih.. yang namanya orang kan beda-beda minatnya *ngeles*. Makanya, nggak heran kalo Papa sampe mudik kemarin nggak percaya kalo foto-foto masakan yang saya upload di FB itu hasil karya anaknya -_-” Yang kedua, bisa memasak mau tak mau akhirnya juga jadi keharusan! Artinya harus bisa memasak makanan yang edible alias bisa dimakan, misalnya nggak gosong. Alhamdulillah, ada hikmahnya rumah di sini kecil-kecil, jadi nggak akan kejadian masakan gosong karena ditinggal lama. Gosong yang pernah saya alami disebabkan pengaturan api salah. Yang terakhir, yaitu pintar. Nah, ini jadi tantangan tersendiri begitu udah punya ‘customer’ di rumah, tapi justru jalan menuju pintar menjadi lebih pendek sebab kita dituntut untuk sering berlatih :mrgreen:. Dari pengalaman pribadi, ternyata tantangan ini nggak cuma dari segi rasa, tapi juga sepaket dengan penampilan. Maksudnya, kalo dari rupa aja udah nggak menarik, biasanya sih yang ‘laku’ cuma dikit :grin:. Begitulah.. jadi harus berjuang biar dapat dua-duanya. Rasa enak, penampilan pun menarik. Untuk level terakhir ini, saya sendiri belum yakin sudah mencapainya, tapi saya keep believing aja asal konsisten ngejalanin level sebelumnya, yaitu mau dan bisa, lama-lama juga sampai di level ini.

(more…)

Mudik 2012: 10 Hari, 8 Kota (Part 2 – Tamat)

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari bagian pertama. Ya, ya, ya.. emang kelamaan sih rilisnya, jadi maaf ya kalo agak basi >.<

Day #2 (2012/08/13): Bandung (BDG) and see the twins

Mumpung dekat dari Jakarta, hari kedua kami menyempatkan diri main ke Bandung. Bandung adalah kota kenangan bagi kami karena di sinilah kami dipertemukan dan melewati banyak kegiatan bersama (ehem..). Namun, motivasi utama bukan untuk napak tilas masa-masa itu.. maybe someday :grin:. Ada keluarga paman (kakak ibu) yang tinggal di sana dan dulu saya pernah tinggal di rumah mereka setelah lulus kuliah. Mereka baru saja pindah rumah dan cucu barunya yang kembar dari Depok sedang ada di sana. Jadi, saya pengen lihat dua-duanya, rumah dan keponakan kembar. Kalo kemarin di JKT perjalanan lancar, di BDG justru kami langsung stres.. MAACEET! Sebal juga karena kami dapat taksi yang sopirnya berlagak bego nggak tahu sikon lalu lintas dan malah nanya mau lewat mana.

Sejak di JKT, kami udah sepakat, “Jangan milih taksi selain BB!”. Sesampainya di BDG, dalam kondisi jalan ramai, travel menurunkan para penumpang-yang-tidak-ikut-sampai-agen di dekat pangkalan taksi. Kata sopir saat ditanya, “Taksinya cuma di sini aja”, dan seorang penumpang travel lain yang tampak lebih berpengalaman dari kami pun tanpa babibu langsung ambil taksi di situ. Saya masih ngotot mau naik BB, tapi nggak ada satu pun yang kelihatan ada di situ tau sekedar lewat. Akhirnya si bos ambil keputusan tanya, “Pakai argo kan, Pak?” dan dijawab, “Iya, Mas”. Okelah, kami naik taksi merk lokal itu, yang saya tahu masih satu di antara yang masih bisa dipercaya di BDG. Nyatanya, pakai argo bukan berarti Anda aman. Ada faktor lain yang perlu Anda waspadai: mental sopir taksi yang kaya sopir angkot, kejar setoran, cari rute sepanjang dan semacet mungkin and poor us.. we got such driver! Alhasil, kami harus melototin GPS di hape sambil menggali ingatan yang tersisa samar-samar tentang kota ini demi ‘memaksa’ sopir ke jalan yang benar :roll:.

Singkat cerita, kami sampai di tujuan dengan selamat, tapi sedikit kesal. Haha. Di rumah bude, kami lebih seperti melepas penat saja. Tidak ada makan-makan atau minum-minum (ya iyalah puasa :razz:), tapi foto-foto dan masak-masak teuteuppp ada. Bude ini paling jago masak di keluarga saya, jadi kami dibekali banyak sekali untuk buka, sahur, dan lebaran! Alhamdulillah.

Bandung (dari kiri atas ke bawah): demam hijabers udah nyampe ponakan saya yang balita, gendong keponakan kembar dan foto bareng bude serta sepupu, keponakan kembar dan kakak-kakaknya

Pertanyaan: Udah pantes belum yak gue nggendong bayi? #lupakan
(more…)