Change, We Support!

Saya sebenarnya udah moved on dari presiden-presidenan sejak awal bulan ini selain karena sibuk pindahan, ya semuanya saya anggap udah beres. Hanya ada sebagian kecil aja yang masih ngajak ribut, jumlahnya paling tidak sampai 10% penduduk Indonesia :mrgreen:. Akan tetapi, belakangan ini rupanya timeline saya ramai lagi.. kebijakan biasa sih, cuma karena presidennya orang baru yang sebelumnya banyak haters-nya, jadi pada semangat nge-buli 😛

Bahasa Inggris dihapus protes, subsidi BBM dihapus protes juga.. kalo di Amrik semangatnya udah “Change, We Can!”, di Indonesia mau “Change, We Support!” aja susahnya minta ampun. Memang yang namanya perubahan itu wajar kalo di awal bikin ‘sakit’. Ibaratnya kaya kita diet, pasti nggak enak bingits makannya jadi dibatasin, tapi kan dengan mengubah pola makan kita itu ada tujuannya, misal biar lebih kurus, lebih gemuk, lebih sehat, dsb., daaan kalo itu udah tercapai, wow manfaatnya lebih besar daripada sebelum berubah. Kalo tetap ingin merasa nyaman dan aman, para tokoh inspiratif yang ilmu / karyanya itu tak perlu bersusah payah mengadakan perubahan untuk dirinya hingga akhirnya ia bisa mengubah peradaban.

Pernah nggak bikin revolusi tahun baru yang rada ekstrim terus dijalanin? Bersyukurlah kalo cuma hati kita yang protes karena bukan tak mungkin orang di sekitar kita ikut bereaksi, padahal itu baru buat diri sendiri ya? Apalagi kalo benerin sistem yang udah lama nggak bener buat mecahin masalah bangsa yang puluhan tahun nggak terselesaikan dan berdampak ke manusia senegara.. wuih, salut lah kalo ada orang yang ngebeeet banget jadi presiden (uhukk..).

(more…)

Advertisements

Pilihan Saya untuk Sembilan Juli

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Sabtu lalu, sore-sore pas lagi rehat dari kerjaan rumah, iseng-iseng saya menyiapkan status pasca pilpres tanggal 9 Juli nanti. Isinya tentang alasan-alasan saya menjatuhkan pilihan ke salah satu pasang calon, dibuat santai dan nggak ilmiah, tak lebih dari pendapat pribadi yang dibumbui sedikit tanggapan terhadap hiruk-pikuk berita di luar sana. Because it would be one of big decisions in my life, I think I need to force myself to be able to clearly explain my considerations. Namun kemudian, di hari berikutnya, suasana politik yang makin memanas nampaknya memicu orang untuk melempar topik tentang pilpres. Sedikitnya dua grup WA yang saya ikuti kompakan membahasnya, padahal latar belakang anggotanya beda. Saya sempat terlibat obrolan di keduanya dan pada akhirnya keluar juga pertanyaan itu ke saya dari beberapa teman, “Ega kenapa pilih Jokowi?”. Pertanyaan ini wajar karena datang dari grup yang bisa ditebak mayoritas anggotanya akan memilih calon satunya.

Aslinya saya malas jawab karena di statemen-statemen sebelumnya secara implisit sudah saya ungkapkan, terlebih saya dicap tendensius ketika balik mengomentari calon satunya. Hehe :mrgreen:. Misalnya saat saya bilang sulit mencari ulasan tentang kiprah Prabowo dewasa ini, tim kampanyenya sibuk di posisi ofensif, jadi lebih susah membandingkan antara yang sudah kelihatan kerjanya dengan yang masih pemberi harapan. Meskipun sepertinya itu fakta, tetap aja saya dibilang tendendius, padahal sih sebagai non-incumbent, wajar kan kalo demand informasi terhadapnya lebih besar. Sayangnya sejauh ini, media justru masih didominasi oleh JKW dan JK, baik yang positif maupun negatif. Media yang saya akses aja kali ya, nggak tahu kalo orang lain. Eh, tapi kalo ada artikel soal pak PS baca juga, apalagi jaringan pertemanan saya banyak yang dukung beliau. Hanya saja kebanyakan dibuat baru-baru ini dan masih berwarna cerita masa lalu, karakter yang dipuji pendukungnya, harapan terhadap karakter itu, berita terhadap momen-momen khusus, ide-idenya, hmm.. apa lagi ya? Pokoknya faktor-faktor yang bagi saya masih sulit diukur, sedangkan saya udah mantengin JKW dan JK sejak zaman masih pada ganteng (halah.. bo’ong bingits, emang pernah ganteng? :D). Mending kunjungi sendiri lapak-lapak di bawah ini deh biar bisa bandingin sendiri kontennya.

Jokowi (CV) – JK (CV) | Visi misi

Facebook Page: https://www.facebook.com/pages/Jokowi-JK-Indonesia-Hebat/1396341707314175
Facebook Page Jokowi: https://www.facebook.com/IndonesiaHebatJokowi
Situs personal Jokowi: nggak ada, adanya dari para relawan http://www.jokowicenter.com/ dan http://gerakcepat.com/
Twitter Jokowi: https://twitter.com/Jokowi_do2

Prabowo (CV) – Hatta (CV) | Visi misi

Facebook Page: https://www.facebook.com/pages/Prabowo-Hatta/296890447147227
Facebook Page Prabowo: https://www.facebook.com/PrabowoSubianto
Situs personal Prabowo: http://prabowosubianto.web.id
Twitter Prabowo: https://twitter.com/Prabowo08

Kembali ke topik capres pilihan 😛

(more…)

Benci tapi Rindu Pada Indonesia

Masih dalam suasana pemilu legislatif di mana belakangan ini saya mendadak jadi pengamat politik karbitan (istilah suamiku :grin:) dan merasakan adanya peningkatan adrenalin pada hal-hal nasionalisme.. halah, saya ingin coba ungkapkan keharuan terhadap negeri ini. Latar belakangnya karena hari ini saya nangis dua kali gara-gara:

  1. Nonton video tentang Indonesian Elections, yang menggambarkan betapa ribetnya penyelenggaraan pemilu secara langsung oleh rakyat di negara yang super luas dan tersebar kaya Indonesia ini. Belum lagi jumlah calon wakil rakyat yang bisa dipilih sangat banyak. (saya tulis di sini)
  2. Ending-nya acara spesial “Petisi Rakyat” di MetroTV berupa penampilan dari Project Pop dengan lagu mereka yang hampir saya lupakan, Indovers. Menyimak liriknya, saya baru ngeh itu mewakili jeritan hati anak bangsa yang lagi berada di luar Indonesia daaan.. saya.. ingat masa-masa ketika homesick di Jepang dulu. Ya Allah, betapa kurang bersyukurnya saya, dulu suka pengen pulang biar nggak capek-capek masak, tapi sekarang udah di sini eeeh.. malah sering merengek minta balik ke Jepang 😦 #PetisiRakyat (saya sempat nge-tweet juga di sini)

Seriusan lu, masa cuma moments gitu aja bisa nangis? Entahlah.. terbawa euforia aja kali ya.
(more…)

Empat Bulan Kemudian

Empat bulan sudah saya kembali ke tanah air. Selama merantau ke negeri seberang, belum pernah saya pulang selama ini. Kepulangan kali ini pun nggak nyangka bakal selama sekarang karena saya dan suami masih ingin berpetualang di luar negeri, jadi belum akan menetap seterusnya. Niat kembali dan menetap atau yang biasa diistilahkan back for good sih udah ada, tapi ada beberapa ketentuan dan syarat yang musti tercapai sebelum mewujudkannya. We wish it would happen at the right time. Hehe.. by the way, ternyata beda ya sensasinya kalo udah pernah mencicipi kehidupan di negara lain,  lalu kembali ke negeri sendiri.

Situasi yang sebenarnya dari dulu sama alias memang begitu, bisa saya sikapi lain antara sebelum dan seusai merantau.

Dalam kasus saya, kebetulan karena “dikirimnya” ke negara yang ekstrim bedanya dari Indonesia, mulai mental masyarakatnya hingga kekuatan teknologinya, saya rasanya jadi banyak ‘menuntut lebih’, misalnya pengennya semua orang itu tertib dan taat aturan kaya di negeri rantau. Padahal toh, dulu juga udah tahu kalo masyarakat kita ini susah diatur, aturan dibuat sebagai formalitas, dan bahkan saya sendiri suka cuek break the rule, tapi sekarang… sungguh hati nuraniku sulit, bahkan cenderung nggak bisa menerima itu semua (baca: berontak) mad. Makanya saya sadar kalo sekarang sering ‘mengusik ketenangan’ orang karena saya berani ngapa-ngapain kalo sikap orang itu nggak proper. Beresiko emang, apalagi baca artikel Jakarta makin nggak aman itu, tapi mau gimana lagi? Doa aja dah yang dikencengin.. dan berharap sedikit sentilan saya mereka renungkan kemudian. (more…)

Pengen Cerewet Lagi Soal EYD

Tulisan ini dibuat tahun 2012 😛

Anda tahu kan EYD? Iya dong, masa belajar Bahasa Indonesia sejak SD sampai SMA (lama juga ya!) bisa lupa sama yang satu ini :smile:. Dari semua materi bahasa Indonesia, saya paling tertarik pada materi ini. Selain tertarik, materi tersebut juga begitu membekas di ingatan saya sampai sekarang dan selalu saya terapkan. Saya termasuk orang yang sangat concern terhadap bahasa. Setiap baca artikel, otak saya juga otomatis bekerja seperti mesin pendeteksi kesalahan tata tulis. Sering kali muncul komentar yang mungkin kalau terucapkan kelihatan cerewetnya saya. Haha.

Orang Jerman saja belajar bahasa Indonesia. Jangan kalah pintar pakai ejaannya! 😛

Teman sekolah atau kuliah yang sudah pernah bekerja dengan saya mungkin juga menyadari “kebawelan” saya soal tulis-menulis ini. Makanya, kerap juga saya kebagian tugas sebagai final editor saat membuat laporan, presentasi, atau apa saja yang terkait tulisan. Sudah lama saya berpikir bahwa mungkin memang saya berbakat jadi editor. Asyik sekali membayangkan pekerjaan sebagai seorang editor buku ya.. apalagi kalau bisa dikerjakan di rumah sambil mengurus anak *sambil berharap ada yang nawarin kerjaan ini* :grin:.

Itu khusus bahasa Indonesia. Kalau bahasa Inggris, apalagi Jepang, wah masih bermimpi bisa mengkritisi. Biar pun begitu, tahun lalu ketika ada dua tugas kelompok bareng teman-teman antarkampus dan antarnegara, saya tetap saja jadi final editor slide presentasinya. Lumayan jadi ajang belajar.. Nah, kebetulan sekali tahun ini saya mulai megang amanah jadi penanggung jawab manajemen artikel di situs FAHIMA, sebuah organisasi muslimah Indonesia yang kebanyakan aktivitasnya dilakukan secara online. Dengan posisi baru ini, hobi saya ‘mencereweti’ penulisan artikel bisa sangat amat terfasilitasi meskipun sejauh ini belum sampai mencereweti penulisnya :lol:.

(more…)

Tweets between Thesis: “Indonesia dan Empat Musim”

Di bawah ini hanyalah sebuah kicauan impulsif saya tentang “Kenapa musim dingin nggak ada di Indonesia?”. Hasil pemikiran random dan curhat secara implisit ini jangan ditanggapi serius karena yang saya hina sebenarnya adalah diri saya sendiri 😛

(more…)

Galaunya Menulis Gelar

Di Indonesia ini memang sering terjadi kebiasaan yang sebenarnya salah, tapi sudah jadi hal lazim. Kadang saking sudah mendarah dagingnya, kita jadi sungkan untuk mengikuti yang benar karena ah, ntar malah dianggap salah sama orang-orang. Salah satu contoh fenomena ini adalah tentang penulisan gelar. Heu.. saya baru merasakan bingungnya selama masa persiapan nikah, mulai dari membuat suvenir, mendesain undangan, mendaftar administrasi, sampai menulis identitas penerima undangan. Alhasil, telah terjadi inconsitency dalam keempat hal tersebut karena selalu saja kegalauan melanda saat menuliskannya >.<

Pas bikin desain suvenir sekitar dua bulan lalu, saya masih menulis gelar “Ir.” dan “dr.” di depan nama orang tua. Sebenarnya saya tahu sih kalau “Ir.” itu gelar ‘kuno’-nya S. + akronim bidang keahlian, jadi seharusnya ditulis di belakang. Namun, berhubung tidak siap dianggap tidak lazim, saya tetap tulis di depan seperti kebiasaan umum :roll:. Begitu pun dengan gelar dokter. Ohya, untuk gelar kedua calon mempelai sendiri, kami sepakat untuk tidak menulisnya karena S. T. (Sarjana Teknik) itu hanya gelar akademik, bukan profesi, sedangkan insinyur dan dokter adalah gelar profesi menurut asumsi saat itu. Ya sudahlah, pokoknya kami setuju hanya menulis gelar profesi saja. Setelah suvenir masuk cetak, entah kenapa saya iseng cari referensi lagi, ternyata Ir. itu juga sebenarnya tidak termasuk gelar profesi, jadi seharusnya tidak perlu ditulis. Eh kok ya ndilalah kata Mama, Papa pesan nggak mau ditulis gelarnya. Maaf, Pa.. udah terlanjur :grin:.
(more…)