Mem-blog-kan Catatan di Sosial Media

Is it time to “reblog” your posts on social media instead of vice versa? 😛

Sekarang memang dunia serba terbalik. Kalo dulu orang merilis tulisan di blog untuk kemudian dibagikan ke Facebook (FB) atau media lainnya, kini kita sampai di zaman saat orang lebih suka posting ke FB duluan sebelum akhirnya ditulis ulang di blog atau kalau Twitter, biasanya tweets bersambung itu dijadikan satu blogpost dengan bantuan aplikasi chirp :grin:. Saya sendiri entah kenapa belakangan sering menulis status atau caption foto yang panjang-panjang di FB, padahal menulis blog aja jadi basbang* berkali-kali. Rasanya lebih natural aja menulis lapanta** di FB disertai dengan foto-foto terkait, mengeset waktu dan lokasi, dan bisa men-tag orang lain pula.. one-stop self-expressing banget kan? Hehehe. Don’t you feel the same? (more…)

Advertisements

Download Foto di Instagram

Tadi baca percakapan di FB dan ada yang berpendapat bahwa menyimpan foto di Instagram lebih aman dari plagiat karena harus bayar kalo mau meng-copy. Entah benar atau tidak, tapi sebenarnya sih nggak seaman itu juga karena masih bisa diakali dengan cara standar.

Saya sendiri belum lama pakai Instagram dan memang sih, waktu awal-awal berkenalan sempat takjub dengan proteksinya. Oho, ternyata Instagram ini bukan sembarang aplikasi photo-sharing yang foto-foto didalamnya bisa dengan mudahnya disimpan ke komputer, ponsel, dan sebagainya. Nggak ada menu “save image” langsung di fotonya, sedangkan kirim email pun cuma bisa dengan alamat (link)-nya, bukan berupa file fotonya. Minimal harus ‘minta’ share URL-nya dulu ke server. Kalo nggak butuh resolusi besar sih, screenshot aja mungkin udah cukup meskipun agak repot :razz:, tapi kita tentu pengen dapat foto seukuran aslinya.

(more…)

Cool Appliances

Ehehe, ini tulisan yang dibuat seusai kuliah dua minggu lalu sebenarnya. Di kuliah itu dijelaskan tentang jaringan komputer, tapi nyelip cerita tentang cool internet appliances. Ada empat ‘benda’ yang dicontohkan, saya akan bahas dua diantaranya. Buat ‘bonus’, saya juga bahas tentang salah satu appliance (mainan lebih tepatnya :grin:) unik yang lagi sering diiklankan di TV Jepang.

IP Picture Frame
Katanya sih ini lagi ngetren sekali di Jepang. Bentuknya kaya frame foto biasa yang ditaruh di atas meja. Namun, foto didalamnya bisa berubah-ubah secepat kita upload foto baru ke Facebook (kita? elu kali, Ga :mrgreen:). Asyiknya, kita bisa set foto-foto dari orang lain juga untuk nebeng eksis di frame kita. Untuk lebih jelasnya, yuk nonton video lucu ini!

klik gambar untuk memutar video

Yes, the name is CEIVA. Namanya sekeren fungsinya, bukan? 😎 Wanna learn more about CEIVA? just go to www.ceiva.com. Saya sendiri pengen banget punya :lol:.

(more…)

Crunchy Error in jQuery-ing

Argh, lagi-lagi saya harus berputar-putar seharian di kode yang nggak ketahuan salahnya di mana T_T dan hari ini garing banget deh salahnya. Ceritanya, saya kan jarang memakai jQuery, tapi pengen gaya sekali-kali bikin menu menggunakan itu. Tidak terlalu susah karena tinggal comot di internet dan mengubah isinya. Saya pakai yang sudah populer saja macam Superfish buatan bang Joel Birch. Waktu dipasang, tidak muncul dropdown-nya, di Error Console-nya Firefox sih katanya

jQuery is not defined

Saya baru ingat kalo pengaturan path struktur modul saya khusus, harus pake absolute path yang sudah didefinisikan. Taraa, ternyata bukan itu masalahnya.

Saya lalu mencoba membuat fungsi untuk memanggil javascript lain di kode si superfish ini. Tentu saja untuk memanggil si jQuery. Di html-nya sudah ditambahkan juga yang memanggil jQuery dan modul-modul dependency dia lainnya. Zzzz, tidak berhasil juga.

Waktu saya sudah lumayan terbuang buat bingung dan googling. Ternyata belum rezeki saya. Walaupun masih penasaran, akhirnya saya lupakan sampai sore harinya.

Barusan saya penasaran lagi, saya cari tahu lagi masalahnya. Ternyata masalahnya garing banget…gara-gara tag yang memanggil jQuery saya letakkan di bawah tag modul Superfish. Huaaa, kenapa nggak dari tadi sih ketemu sama jawabannya -_-”

Tadinya:

Yang benar:

Penjelasan ilmiah:

jQuery undefined is typically caused by a path problem to jQuery.js or you may be making calls to jquery before it is loaded (jquery needs to load before any plugin files)

Tentang LAMP Stack

Ada hal menarik di salah satu lowongan pekerjaan yang mampir ke mata saya. Perusahaan memasang syarat “excellent implementation skill in the LAMP stack” untuk calon SDM-nya. Sebagai pecinta OS pinguin, saya jadi merasa punya ‘teman’…hehe. Selain senang sama perusahaan yang memberi perhatian khusus untuk hal satu ini, saya dari dulu juga suka berandai-andai kalo berkesempatan merekrut karyawan akan mencantumkan syarat itu juga. Cerita tugas akhir saya juga begitu. Sejak awal pengerjaan saya pengen bisa menghasilkan aplikasi yang tidak ribet dan tidak tergantung platform tertentu dalam menjalankannya. Alhamdulillah bisa terwujud karena implementasi di LAMP stack mampu menjawabnya.

Jadi apa sih sebenarnya LAMP stack itu? Stack itu kan tumpukan ya, sedangkan LAMP itu singkatan dari Linux, Apache, MySQL, dan PHP/Python/Perl/PgSQL. Silakan diinterpretasi sendiri deh arti keseluruhannya 😛 Intinya sih teknologi yang berbasis itu semua. Biar lebih ilmiah menjelaskannya, berikut saya kutip beberapa hal dari salah satu slide presentasi yang saya temukan.

Situs apa yang jadi langganan Anda selama berselancar di dunia maya?
Facebook?
Google?
YouTube?
Flickr?
Wikipedia?
dan masih banyak lagi tentunya.
(more…)

[KI] Menelusuri Peneror di Facebook

Tugas KI kali ini masih berhubungan dengan Facebook (FB). Ceritanya, peserta kuliah pura-puranya sedang gencar diteror orang misterius lewat pesan (menu “Message”) di FB. Well, jujur saja jika cerita tersebut menimpa saya, saya mungkin tidak akan ambil pusing selama bahasa pengirim terbaca tidak masuk akal (sudah pasti spam) atau sekedar promosi. Saya sendiri pernah melakukan broadcasting ke banyak akun FB yang bukan teman saya untuk promosi usaha 😀 Nah, agar lebih dramatis, kita gunakan asumsi dalam soal bahwa pesan tersebut “diterima berulang-ulang” atau “tidak bertanggung jawab”, artinya pesan-pesan itu sudah sebegitu mengganggunya sampai pemilik akun FB harus mencari tahu siapa orang misterius tersebut. Bagaimana caranya? Berikut pendapat saya…

Langkah #1

Menelusuri jati dirinya

Membuka profil pengirim adalah cara pertama yang saya pikirkan. Dari sana, minimal kita bisa mengetahui daftar temannya. Jika pengirim memang berniat jahat kepada korban-korbannya, dia pasti akan membatasi informasi profilnya untuk publik. Begitu pun di ruang publik dunia maya lainnya, pengirim pasti telah menutup rapat jati dirinya. Kita bisa mencoba mencari tahu dengan bantuan Google, tapi saya pikir cara ini menghabiskan waktu. Namun, jika ternyata profil FB pengirim jelas, masih ada aktivitas terbarunya, atau teman-temannya ketika ditelusuri profilnya adalah orang yang jelas dan meyakinkan, kita bisa melacak jati dirinya dengan menggunakan keyword-keyword dari hasil penelusuran untuk mencari identitasnya di internet. Salah satu web yang bisa membantu adalah http://whitepages.com, tapi minimal Anda harus tahu lokasi pengirim.

Langkah #2

Mencari IP sumber pengirim

Dari langkah pertama, bagaimana mengetahui lokasi pengirim? Kita bisa telusuri dari alamat IP pengirim. Saya tidak tahu apakah ada opsi untuk menonaktifkan notifikasi FB masuk ke email kita, tapi semoga saja tidak ya. Dari email-email FB, kita bisa cek IP pengirim lewat header email. Hampir semua webmail punya layanan ini kok. Di Yahoomail, seperti punya saya, klik saja menu “Full Header”, maka akan ditampilkan informasi seperti ini:

Bagaimana memahami informasi di atas? Baca tulisan saya tentang email di sini.
(more…)

[KI] Port Scanning dengan nmap (versi GUI)

Setelah menulis tugas ini, saya baru tahu bahwa ada dua soal dalam tugas tersebut. Soal yang kedua memang tidak disebutkan saat kuliah, yakni memantau serangan dari port scanning yang dilakukan dengan menggunakan program nmap. Tujuannya adalah untuk melihat pola “serangan” port scanning yang dilakukan oleh nmap, apakah dia melakukan scanning dengan menguji port secara berurutan. Baiklah, mari kita kerjakan 🙂

Berhubung saya belum pernah ngulik nmap, saya bertanya pada seorang senior, kemudian dia menyarankan saya untuk menginstal Zenmap, aplikasi nmap versi GUI. Tampilannya tidak menarik >.< dan sama seperti Wireshark, untuk dapat menjalankan semua fungsi, kita harus masuk sebagai root dulu.

Tampilan Zenmap jika tombol Scan diklik dengan nilai default tanpa pengisian Target


‘Moral’ dari gambar di atas adalah inti dari penggunaan Zenmap sebenarnya hanya memasukkan alamat IP yang menjadi target mata-mata kita. Setelah mengisi IP, langkah-langkah selanjutnya tergantung kebutuhan Anda. Cara penulisannya seperti IP apa adanya, contoh: 192.168.1.1. Jika ingin memantau banyak komputer dalam satu jaringan, tuliskan dengan tanda strip, contoh: 192.168.1.1 – 254. Sebagai percobaan pertama, saya pilih Profile dafault, yaitu Intense scan dengan IP target adalah komputer server di asrama saya 😀
(more…)