[Dorama Review] Ashita, Mama ga Inai

I’ve done watching this dorama three days ago: 明日、ママがいない (Ashita, Mama ga inai / Tomorrow, Mama won’t be here), another touching “dorama”, recommended for parents to be, reminded me that being mother (or father) is a honor, so take its responsibility seriously the best we can or someone else will replace our role. As usual, I always love Japanese dramas for those abundant words of wisdom. This time I was hooked on one below. It may sound controversial, but somehow the quote

「事実の親と真実の親は違うんです!」- Jijitsu no oya to shinjitsu no oya wa chigaun desu – “Parent who give a birth (factual parent) and the real parent is different”

has made me think deeply, that in fact some parents are absent or unable to take care of their child/children, while there are couples still struggling to have child on their own. Since learning and practicing parenthood is a never ending journey, hope we can be both jijitsu and shinjitsu parent.

I watched the full series here (English sub): www.gooddrama.net/japanese-drama/ashita-mama-ga-inai. Make sure your browser has flash plug-in enabled. Prepare plenty of tissues and enjoy!

(more…)

Advertisements

Masalah Sosial Jepang

Disarikan dari status Facebook 3 Juli 2013, inilah sekelumit laporan terkini tentang kondisi Jepang.

Jepang sepertinya makin kompleks masalah sosialnya…  selain:
* fenomena bunuh diri sejak zaman samurai (seppuku, harakiri.. whatever you call it) yang masih ‘dipelihara’ sampai sekarang dengan cara lain, yaitu menabrakkan diri ke kereta
* demografi penduduk yang sudah tidak ideal (piramida terbalik, di mana kematian lebih besar dari kelahiran dan populasi kaum muda diprediksi akan terus menurun)
* tunawisma yang juga konon meningkat dan mulai kelihatan di stasiun-stasiun, taman-taman, dsb.

belakangan ini kalo lihat berita makin banyak orang-orang stres yang mencelakai orang lain, entah melukai atau malah membunuh, tanpa diketahui motif yang jelas. Salah satu presenternya, Hatori-san, aja juga bilang 多いね。。さいきん (banyak ya.. akhir-akhir ini). Tahun lalu, rasanya memang ada beberapa kasus besar pembunuhan internal keluarga, tapi tahun ini bermunculan kasus-kasus ‘kecil’ dengan pelaku orang yang sebenarnya asing bagi korban. Korban pun bisa perorangan atau massal. Massal ini maksudnya selain banyak jumlah ‘senjatanya’, sasaran terornya tidak pasti, random, siapa pun pokoknya pelaku mau orang lain menderita.

(more…)

Protected: Tentang Menulis Populer

This content is password protected. To view it please enter your password below:

International Symposium on Food Halalness

On 8 May, I attended the first “International Symposium on Food Halalness” in Ookayama campus of Tokyo Institute of Technology. I was informed about this event from mailing list of PMIJ, an Indonesian Muslim brotherhood in Japan. With a little doubt that such event would be held in a country called Japan, I registered my name. The show turned out to be more exciting than I had expected so that force me to stay seated for the entire presentations in almost five hours :smile:. Here, I wrote short review about what was presented by speakers based on my own perception.

Let us always support (and pray) for “Japan goes to halal-certified industries” 😎

Hadirnya simposium ini di tengah-tengah masyarakat Jepang sekuler menjadi event yang luar biasa. Pematerinya pun tidak kalah luar biasa, yaitu mulai dari researcher sampai profesor, bahkan beberapa diantaranya memegang peranan kunci institusi seperti:

Peserta simposium sendiri mayoritas adalah business men dengan setelah jas yang mungkin motivasinya cuma keywords semacam market, prospect, muslim consumers, trading, profit, dan sebagainya :eek:. Hal ini dibenarkan teman saya yang tak lama sebelumnya mengunjungi festival halal foods di Fukuoka. Katanya, “Memang kebanyakan yang kudengar dari yang jualan lebih memandang gimana pangsa pasarnya. Ya bagus sih daripada malah nggak ada (event semacam ini maksudnya). Semoga kedepannya makin ketahuan kebaikan dan kemudahan produk-produk halal di mana-mana”. Saya pun berharap mudah-mudahan dengan diulangnya ayat-ayat Alquran, prinsip hidup Islami, afiliasi muslim terhadap agamanya, dan ‘sisipan’ sejenisnya oleh para pembicara bisa sedikit membuka hati mereka untuk menerima keberadaan alien-alien* ini di negerinya :razz:, serta memancing minat mereka terhadap Islam.

(more…)

Japan and Scrapbooking

[Tulisan ini disarikan dari status Facebook saya tanggal 18 Maret 2013 lalu]

Salah satu budaya Jepang yang saya suka adalah kebiasaan membuat scrapbook atau album foto yang didekorasi sedemikian rupa dengan pernak-pernik dari guntingan kertas, stiker, atau teks dari spidol, lem glitter, polpen warna, terus juga biasanya selotip bermotif macam-macam. Scrapbook itu sering mereka jadikan hadiah ke orang yang baru melewati moment penting, misalnya ulang tahun, pernikahan, kelahiran anak, atau lulus sekolah/kuliah.

japan and scrapbook 1

Scrapbook yang saya dapat dari teman-teman satu lab sebagai kenang-kenangan sudah lulus kuliah master. Meskipun jarang gaul dan tidak punya banyak foto bersama mereka, ternyata saya tetap dapat “jatah” dan mereka berhasil memasang foto-foto saya. Alhamdulillah 😀

(more…)

Autumn Trip to Hokkaido

Di hari terakhir bulan kedua tahun ini, Yokohama tiba-tiba menghangat sampai di atas 20oC (menurut jam di atas rak buku saya :razz:), padahal kemarin-kemarin masih diselimuti hawa dingin yang menusuk tulang, termasuk meskipun di dalam ruangan. Mungkinkah pertanda musim semi sudah di depan mata? Mungkin aja sih soalnya beberapa teman udah upload foto-foto dengan bunga ume atau sakura di FB. Yang jelas, saya merasa cepat sekali waktu berlari, padahal belum juga saya menelurkan satu tulisan baru di bulan ini (penting banget) :grin:.

Oke, langsung aja ya.. ada alasan kenapa saya tiba-tiba membawa cerita kadaluarsa ke sini. Selain alasan ‘telur’ di atas tentunya. Bukan typo kalo saya nulis “autumn” karena emang cerita ini adalah semacam review perjalanan saya tahun lalu, saat musim gugur, ke Hokkaido, pulau paling utaranya Jepang. Ada dua trip lain yang sudah berlalu dan beberapa trip lagi yang insyaallah akan saya lewati tahun ini, jadi menunda dokumentasi trips yang lalu hanya akan menambah tumpukan PR dan beban otak yang harus kerja keras buat memory mining. Hehehe..

First of all

Catatan perjalanan itu penting, lho, pemirsa, karena suatu saat Anda atau orang lain akan membutuhkannya sebagai referensi. Contohnya aja semalam saya dan suami jadi main tebak-tebakan saat harus mengingat “Dulu pas ke Hokkaido, kita sampai bandara jam berapa ya?” karena satu dan lain hal (halah, template abis). Alhasil, kami berdua nggak ada yang ingat pasti meskipun udah cari clue dari foto sebelum naik kereta ke agen bus bandara. Nah, walaupun kelihatannya narsis banget di stasiun aja foto-foto, ternyata foto itu penting kan dalam menyusun kronologi cerita, wkwkwk :mrgreen:. However, tetap yang paling penting dan harus disiapkan jauh sebelum trip itu ada dua: (1) niat (2) itinerary (rencana perjalanan).

Contoh "niat" - karena pengen ke Hokkaido, saya beli buku panduan ini di tahun sebelumnya dan memasukkan "pergi ke Hokkaido" ke dalam daftar Harapan 2012 :grin:

Contoh “niat” – karena pengen ke Hokkaido, saya beli buku panduan ini di tahun sebelumnya dan memasukkan “pergi ke Hokkaido” ke dalam daftar Harapan 2012, terus berdoa ke Allah 😀

(more…)

Dari Tumbangnya Sony dkk. sampai Made in China

Pembicaraan di telepon dengan Papa pagi ini, entah bagaimana awalnya, membawa kami ke obrolan seputar berita bangkrutnya beberapa perusahaan elektronik Jepang hingga fenomena viralnya produk Cina (glek.. serius amat yak?) :roll:. Akibatnya, banyak hal yang pernah saya baca, dengar, bahkan alami sendiri, berseliweran dalam pikiran dan memicu untuk menuliskannya di sini. Tulisan ini tidak akan banyak membahas hasil penelitian (karena udah buaanyak yang bahas sampai eneg! :razz:), tapi lebih berupa rangkuman, tanggapan, dan ‘petunjuk’ ke artikel lain yang bisa Anda baca-baca.

Sony, Sharp, dan Panasonic yang Nyaris Wassalam

Papa: “Papa baca di koran katanya perusahaan-perusahaan Jepang itu pada bangkrut ya? Sony, Sharp, Panasonic..”

Yoi, bos-bos tiga perusahaan itu pastinya lagi galau sekarang karena udah positif rugi dan harga sahamnya jatuh, sebagaimana dituliskan oleh mas Yodhia, seorang alumni Texas A&M University yang jadi konsultan di bidang kinerja perusahaan, dalam artikel yang kemudian populer ini. Sudah dua bulan lalu memang tulisan itu, tapi baru belakangan Sony dkk. yang sedang menggantungkan nasibnya ke pemerintah Jepang ini, dapat kepastian dari menteri keuangannya kalo mereka nggak bakal dibantu dengan kucuran dana. Sebenarnya, ada dua perusahaan lain juga yang disebut mas Yodhia, yaitu Sanyo dan Toshiba. Yang pertama udah duluan kolaps dan dibeli sama perusahaan Cina “Haier” tahun lalu meskipun baru sebagian produknya. Yang kedua baru diprediksi tapi mudah-mudahan ehem, jangan dulu deh.. suami saya masih kerja di sana soalnya :grin:. Memang menurut cerita suami, Toshiba ini termasuk perusahaan global Jepang yang udah beberapa kali catatan keuangannya defisit, sedangkan perusahaan yang mampu menjaga kasnya surplus atau sekedar ‘aman’ itu bisa dihitung dengan jari, atau bahkan jari sebelah tangan. Toshiba juga masih merekrut karyawan dari luar Jepang (suami saya lewat jalur ini) meskipun mulai tahun ini mereka tidak mengadakan pelatihan bahasa Jepang di negeri asal karyawan demi penghematan. Kelihatan lah ya kalo sedang sulit :mrgreen:
(more…)