[Dorama Review] Ashita, Mama ga Inai

I’ve done watching this dorama three days ago: 明日、ママがいない (Ashita, Mama ga inai / Tomorrow, Mama won’t be here), another touching “dorama”, recommended for parents to be, reminded me that being mother (or father) is a honor, so take its responsibility seriously the best we can or someone else will replace our role. As usual, I always love Japanese dramas for those abundant words of wisdom. This time I was hooked on one below. It may sound controversial, but somehow the quote

「事実の親と真実の親は違うんです!」- Jijitsu no oya to shinjitsu no oya wa chigaun desu – “Parent who give a birth (factual parent) and the real parent is different”

has made me think deeply, that in fact some parents are absent or unable to take care of their child/children, while there are couples still struggling to have child on their own. Since learning and practicing parenthood is a never ending journey, hope we can be both jijitsu and shinjitsu parent.

I watched the full series here (English sub): www.gooddrama.net/japanese-drama/ashita-mama-ga-inai. Make sure your browser has flash plug-in enabled. Prepare plenty of tissues and enjoy!

(more…)

Advertisements

Change, We Support!

Saya sebenarnya udah moved on dari presiden-presidenan sejak awal bulan ini selain karena sibuk pindahan, ya semuanya saya anggap udah beres. Hanya ada sebagian kecil aja yang masih ngajak ribut, jumlahnya paling tidak sampai 10% penduduk Indonesia :mrgreen:. Akan tetapi, belakangan ini rupanya timeline saya ramai lagi.. kebijakan biasa sih, cuma karena presidennya orang baru yang sebelumnya banyak haters-nya, jadi pada semangat nge-buli 😛

Bahasa Inggris dihapus protes, subsidi BBM dihapus protes juga.. kalo di Amrik semangatnya udah “Change, We Can!”, di Indonesia mau “Change, We Support!” aja susahnya minta ampun. Memang yang namanya perubahan itu wajar kalo di awal bikin ‘sakit’. Ibaratnya kaya kita diet, pasti nggak enak bingits makannya jadi dibatasin, tapi kan dengan mengubah pola makan kita itu ada tujuannya, misal biar lebih kurus, lebih gemuk, lebih sehat, dsb., daaan kalo itu udah tercapai, wow manfaatnya lebih besar daripada sebelum berubah. Kalo tetap ingin merasa nyaman dan aman, para tokoh inspiratif yang ilmu / karyanya itu tak perlu bersusah payah mengadakan perubahan untuk dirinya hingga akhirnya ia bisa mengubah peradaban.

Pernah nggak bikin revolusi tahun baru yang rada ekstrim terus dijalanin? Bersyukurlah kalo cuma hati kita yang protes karena bukan tak mungkin orang di sekitar kita ikut bereaksi, padahal itu baru buat diri sendiri ya? Apalagi kalo benerin sistem yang udah lama nggak bener buat mecahin masalah bangsa yang puluhan tahun nggak terselesaikan dan berdampak ke manusia senegara.. wuih, salut lah kalo ada orang yang ngebeeet banget jadi presiden (uhukk..).

(more…)

Pilihan Saya untuk Sembilan Juli

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Sabtu lalu, sore-sore pas lagi rehat dari kerjaan rumah, iseng-iseng saya menyiapkan status pasca pilpres tanggal 9 Juli nanti. Isinya tentang alasan-alasan saya menjatuhkan pilihan ke salah satu pasang calon, dibuat santai dan nggak ilmiah, tak lebih dari pendapat pribadi yang dibumbui sedikit tanggapan terhadap hiruk-pikuk berita di luar sana. Because it would be one of big decisions in my life, I think I need to force myself to be able to clearly explain my considerations. Namun kemudian, di hari berikutnya, suasana politik yang makin memanas nampaknya memicu orang untuk melempar topik tentang pilpres. Sedikitnya dua grup WA yang saya ikuti kompakan membahasnya, padahal latar belakang anggotanya beda. Saya sempat terlibat obrolan di keduanya dan pada akhirnya keluar juga pertanyaan itu ke saya dari beberapa teman, “Ega kenapa pilih Jokowi?”. Pertanyaan ini wajar karena datang dari grup yang bisa ditebak mayoritas anggotanya akan memilih calon satunya.

Aslinya saya malas jawab karena di statemen-statemen sebelumnya secara implisit sudah saya ungkapkan, terlebih saya dicap tendensius ketika balik mengomentari calon satunya. Hehe :mrgreen:. Misalnya saat saya bilang sulit mencari ulasan tentang kiprah Prabowo dewasa ini, tim kampanyenya sibuk di posisi ofensif, jadi lebih susah membandingkan antara yang sudah kelihatan kerjanya dengan yang masih pemberi harapan. Meskipun sepertinya itu fakta, tetap aja saya dibilang tendendius, padahal sih sebagai non-incumbent, wajar kan kalo demand informasi terhadapnya lebih besar. Sayangnya sejauh ini, media justru masih didominasi oleh JKW dan JK, baik yang positif maupun negatif. Media yang saya akses aja kali ya, nggak tahu kalo orang lain. Eh, tapi kalo ada artikel soal pak PS baca juga, apalagi jaringan pertemanan saya banyak yang dukung beliau. Hanya saja kebanyakan dibuat baru-baru ini dan masih berwarna cerita masa lalu, karakter yang dipuji pendukungnya, harapan terhadap karakter itu, berita terhadap momen-momen khusus, ide-idenya, hmm.. apa lagi ya? Pokoknya faktor-faktor yang bagi saya masih sulit diukur, sedangkan saya udah mantengin JKW dan JK sejak zaman masih pada ganteng (halah.. bo’ong bingits, emang pernah ganteng? :D). Mending kunjungi sendiri lapak-lapak di bawah ini deh biar bisa bandingin sendiri kontennya.

Jokowi (CV) – JK (CV) | Visi misi

Facebook Page: https://www.facebook.com/pages/Jokowi-JK-Indonesia-Hebat/1396341707314175
Facebook Page Jokowi: https://www.facebook.com/IndonesiaHebatJokowi
Situs personal Jokowi: nggak ada, adanya dari para relawan http://www.jokowicenter.com/ dan http://gerakcepat.com/
Twitter Jokowi: https://twitter.com/Jokowi_do2

Prabowo (CV) – Hatta (CV) | Visi misi

Facebook Page: https://www.facebook.com/pages/Prabowo-Hatta/296890447147227
Facebook Page Prabowo: https://www.facebook.com/PrabowoSubianto
Situs personal Prabowo: http://prabowosubianto.web.id
Twitter Prabowo: https://twitter.com/Prabowo08

Kembali ke topik capres pilihan 😛

(more…)

Bicaralah tentang Hal ‘Tabu’ pada Anak

Berita paling hangat dua hari ini, terutama bagi kalangan ibu-ibu, apalagi kalo bukan tentang pelecehan seksual yang terjadi pada anak TK di sekolahnya sendiri, yang notabene sekolah mentereng dan dilakukan lebih dari sekali oleh lebih dari seorang petugasnya. Ya, frase-frase yang saya bold itu menunjukkan poin di mana kita harus mengelus dada atas ketidakwajarannya. Jarang-jarang saya menulis tanggapan terhadap berita semacam ini karena tidak tega. Namun, ada satu hal penting yang mendorong saya untuk berbagi di sini, yaitu… (sejujurnya ini sangat sedih diungkapkan) saya juga pernah mengalaminya ketika usia sembilan tahun >_<

Tarik nafas dalam-dalam… hembuskan… fiuh… bismillah, mari kita mulai kupas satu per satu.

Anak TK. Cerita apa yang bisa kita harapkan dari seorang anak TK? Mungkin bisa berupa teman mainnya, pengalaman mainnya, kesan terhadap tokoh film yang ditontonnya, barang yang diinginkannya, kegiatan yang ingin dilakukannya, dan sebagainya yang lebih bersifat kongkrit alias bersifat fisik. (more…)

Benci tapi Rindu Pada Indonesia

Masih dalam suasana pemilu legislatif di mana belakangan ini saya mendadak jadi pengamat politik karbitan (istilah suamiku :grin:) dan merasakan adanya peningkatan adrenalin pada hal-hal nasionalisme.. halah, saya ingin coba ungkapkan keharuan terhadap negeri ini. Latar belakangnya karena hari ini saya nangis dua kali gara-gara:

  1. Nonton video tentang Indonesian Elections, yang menggambarkan betapa ribetnya penyelenggaraan pemilu secara langsung oleh rakyat di negara yang super luas dan tersebar kaya Indonesia ini. Belum lagi jumlah calon wakil rakyat yang bisa dipilih sangat banyak. (saya tulis di sini)
  2. Ending-nya acara spesial “Petisi Rakyat” di MetroTV berupa penampilan dari Project Pop dengan lagu mereka yang hampir saya lupakan, Indovers. Menyimak liriknya, saya baru ngeh itu mewakili jeritan hati anak bangsa yang lagi berada di luar Indonesia daaan.. saya.. ingat masa-masa ketika homesick di Jepang dulu. Ya Allah, betapa kurang bersyukurnya saya, dulu suka pengen pulang biar nggak capek-capek masak, tapi sekarang udah di sini eeeh.. malah sering merengek minta balik ke Jepang 😦 #PetisiRakyat (saya sempat nge-tweet juga di sini)

Seriusan lu, masa cuma moments gitu aja bisa nangis? Entahlah.. terbawa euforia aja kali ya.
(more…)

Melihat Sisi Lain dari #EgyptMassacre

Innalillahi wa inna ilayhi raji’un.. hari ini saya baca hashtag baru: #GhoutaMassacre. Belum habis bahasan soal Mesir menghiasi dunia socmed (social media) saya, tiba-tiba Suriah sampai disebut “the darkest day?”  karena update terakhirnya ribuan warga terbunuh oleh penggunaan senjata kimia :cry:.  Sebagai orang awam, saya tak berani banyak membagi berita yang sekarang sulit diurai kebenarannya. Semua media nggak ada yang netral. Saya juga orang sains, bukan sosial. Hanya saja, kalo lagi “kesambet” saya bisa menulis sedikit pemikiran seperti ini, apalagi kalo timing-nya mendukung seperti sedang mellow sendirian karena terbangun tengah malam di kereta, kemudian baca milis di Whatsapp tentang rencana aksi solidaritas Mesir.. apa daya baru sekarang mampu (dan sempat) upload ke blog.

Melihat Sisi Lain dari #EgyptMassacre

Ditulis di atas kereta “Gumarang” jurusan Tegal-Surabaya
16 Agustus 2013 dini hari

Saya nggak tahu banyak tentang isu Mesir, tapi memang seperti yang disebut banyak aktivis: tidak perlu paham betul untuk melihat bahwa kondisinya bukan lagi antara kudeta dan perlawanannya, melainkan pembantaian massal kaya di Palestina dan Suriah. Jadi, rasa sakit sesama muslim itu udah alasan kuat bagi kita (termasuk yang awam) buat doain mereka dan bantu lebih dari itu.

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam (Shahih Muslim: 4685) (more…)

Masalah Sosial Jepang

Disarikan dari status Facebook 3 Juli 2013, inilah sekelumit laporan terkini tentang kondisi Jepang.

Jepang sepertinya makin kompleks masalah sosialnya…  selain:
* fenomena bunuh diri sejak zaman samurai (seppuku, harakiri.. whatever you call it) yang masih ‘dipelihara’ sampai sekarang dengan cara lain, yaitu menabrakkan diri ke kereta
* demografi penduduk yang sudah tidak ideal (piramida terbalik, di mana kematian lebih besar dari kelahiran dan populasi kaum muda diprediksi akan terus menurun)
* tunawisma yang juga konon meningkat dan mulai kelihatan di stasiun-stasiun, taman-taman, dsb.

belakangan ini kalo lihat berita makin banyak orang-orang stres yang mencelakai orang lain, entah melukai atau malah membunuh, tanpa diketahui motif yang jelas. Salah satu presenternya, Hatori-san, aja juga bilang 多いね。。さいきん (banyak ya.. akhir-akhir ini). Tahun lalu, rasanya memang ada beberapa kasus besar pembunuhan internal keluarga, tapi tahun ini bermunculan kasus-kasus ‘kecil’ dengan pelaku orang yang sebenarnya asing bagi korban. Korban pun bisa perorangan atau massal. Massal ini maksudnya selain banyak jumlah ‘senjatanya’, sasaran terornya tidak pasti, random, siapa pun pokoknya pelaku mau orang lain menderita.

(more…)