Ayam Crispy ala KFC

Kemarin untuk ke sekian kalinya saya masak ayam crispy ala KFC  yang pakai tepung dengan efek fascinating itu.. kriuk.. kres, kres, kres! Foto ayam itu saya upload ke IG (follow me!) dan banyak kawan bertanya resepnya. Karena udah sering bikin dan fotonya nggak cuma satu, maka sekalian aja saya jadiin satu tulisan di blog ini biar pada kebayang yah 😀

ayam-crispy-KFC-recipega(3)

Ayam crispy ala KFC – Udah mirip kan penampakannya? Ini kayanya yang paling berhasil rasanya karena mulai pede banyakin bumbu tabur (2014-03-07)

Ayam KFC.. dengan melihatnya saja, kalo bukan lagi diet or alasan kesehatan lainnya, siapa sih yang tidak tergoda? Dari kecil aja kita tahu kok kalo itu makanan enak, makanya kadang kalo pergi kita makannya minta di sana. Nah, ketika beranjak dewasa.. caila, karena udah mulai ngerti jajan di sana nggak baik dari berbagai faktor mulai dari ke-junk food-annya (sayurnya minimalis dan minumannya pun bersoda), tarifnya, cara memasaknya, bahan yang kita nggak tahu asal-usulnya, sampai teori konspirasi (uhukkk..), saya mulai coba-coba masak sendiri dengan berbagai resep yang saya dapat online. (more…)

Akhirnya Pernah Bikin Tempe Sendiri

Saya setuju dengan ide pak Rhenald Kasali dulu, bahwa setiap orang harus pernah ke luar negeri, tapi saya tambah di sini: cobalah hidup sebagai kaum minoritas di negeri orang. Menjadi orang asing sekaligus minoritas itu menghadirkan banyak jalan menuju pembelajaran yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya saat berada di zona aman: negeri sendiri, bersama handai taulan, menjadi seperti kebanyakan orang. Di antara proses belajar yang beberapa pernah saya ceritakan di blog ini juga, membuat tempe sendiri adalah salah satu yang saya syukuri. Saya sangat bangga dengan makanan khas Indonesia satu ini, bahkan yang paling saya banggakan mungkin. Kebetulan saya, keluarga besar, dan kini keluarga kecil saya (baca: baru suami sih.. :grin:) juga penggemar tempe. Selama tinggal di Jepang, alhamdulillah cukup mudah mendapatkan tempe asal mau aja pergi ke ibukota 🙂 Namun, tentu membuat sendiri lebih puas rasanya. Saya tidak pernah pengen bikin sendiri sampai suatu hari saat berkunjung ke Bangkok, saya dikasih ragi tempe oleh kenalan SMA yang berjualan tempe di sana.

Berikut pengalaman dan resep yang saya tulis juga di Facebook. (more…)

Alternatif Pengganti MSG

Belum lama ini ada seorang teman SMA saya, yang sudah lama tidak saya kontak dan mengontak saya (nah, bingung kan..), mengirim pesan ke inbox saya dan minta tips memasak tanpa MSG. Dalam curhatnya, dia bilang selama ini kalau nggak pakai MSG kurang pede dengan rasanya.. kalau-kalau kurang “nendang”. Sekarang dia mau tobat, maunya nggak pakai MSG, tapi rasanya tetap kuat. Tentang rasa yang “nendang” ini, katanya penting banget buat ibu-ibu :grin:. Ada benarnya sih, kebetulan suami saya juga termasuk orang yang kritis soal rasa, tapi di sisi lain dia adalah pemakan segala dan makannya selalu lahap meskipun saya masak yang seadanya. Dengan membandingkan postur tubuh suami saya dan suami teman saya ini, sepertinya sih mereka punya kecenderungan yang sama soal makan-memakan :razz:.

Perlu dicatat MSG ini lebih mengarah pada bumbu instan yang kita kenal sebagai vetsin, yang biasanya harganya murah meriah, bahkan jauh lebih murah dibandingkan kalau kita pakai ‘bumbu-bumbu yang benar’. Saya pernah sedikit menyinggungnya di sini. Dari harganya saja udah nggak masuk logika jadi harusnya kita berpikir.. zat-zat kimia apa saja yang terkandung dalam vetsin sehingga bisa menghasilkan rasa sedahsyat itu meskipun hanya sejumput? Bahan-bahan dari alam langsung merupakan pilihan terbaik untuk menjaga kesehatan kita atau paling tidak meminimalkan penyakit. Selain itu, bahan olahan juga masih bisa jadi alternatif karena meskipun sebagian masih mengandung MSG, kadar MSG-nya tidak sebesar vetsin dan memakainya pun tidak setiap hari.

Silakan diintip sedikit tips dari saya tentang alternatif bahan untuk mengganti MSG berikut.

(more…)

My Story about “Bento to Office”

Mungkin sebagian udah pada ngerti bahwa tinggal di negeri orang, apalagi yang mayoritasnya bukan muslim, misalnya Jepang, memaksa ibu-ibu untuk mau, bisa, dan pintar memasak. Oya, sebenarnya “ibu-ibu” dalam hal ini hanya mewakili saja..yang menjalani sih bisa siapa saja, apa pun status visanya saat ini. Oke, kenapa saya nulisnya harus pake tiga kata? karena masing-masing menunjukkan levelnya :razz:.

“Gue sekarang masak, Gan!”

Mau itu keharusan. Kalo nggak, mau makan apa? Hal ini terkait dua hal, yaitu harga makanan yang mahal (kalo masak bisa hemat 50%) dan perhatian terhadap halal-haram makanan. Dulu, saat ngekos zaman SMA dan kuliah, untuk makan tinggal beli lauk di warung asal dipercaya kehalalannya, beli yang instan di toko asal ada label halalnya, atau makan di luar. Gampang! Saya hampir nggak pernah masak, bahkan saat pulang kampung pun, kalo nggak karena pembantu bolos dan disuruh bantu Mom, mana pernah saya iseng masak di rumah? Nggak ada kemauan sih.. yang namanya orang kan beda-beda minatnya *ngeles*. Makanya, nggak heran kalo Papa sampe mudik kemarin nggak percaya kalo foto-foto masakan yang saya upload di FB itu hasil karya anaknya -_-” Yang kedua, bisa memasak mau tak mau akhirnya juga jadi keharusan! Artinya harus bisa memasak makanan yang edible alias bisa dimakan, misalnya nggak gosong. Alhamdulillah, ada hikmahnya rumah di sini kecil-kecil, jadi nggak akan kejadian masakan gosong karena ditinggal lama. Gosong yang pernah saya alami disebabkan pengaturan api salah. Yang terakhir, yaitu pintar. Nah, ini jadi tantangan tersendiri begitu udah punya ‘customer’ di rumah, tapi justru jalan menuju pintar menjadi lebih pendek sebab kita dituntut untuk sering berlatih :mrgreen:. Dari pengalaman pribadi, ternyata tantangan ini nggak cuma dari segi rasa, tapi juga sepaket dengan penampilan. Maksudnya, kalo dari rupa aja udah nggak menarik, biasanya sih yang ‘laku’ cuma dikit :grin:. Begitulah.. jadi harus berjuang biar dapat dua-duanya. Rasa enak, penampilan pun menarik. Untuk level terakhir ini, saya sendiri belum yakin sudah mencapainya, tapi saya keep believing aja asal konsisten ngejalanin level sebelumnya, yaitu mau dan bisa, lama-lama juga sampai di level ini.

(more…)

Recipe: Chicken Nugget

Let’s make chicken nugget at home!

This recipe is very simple one. I got it from my aunt. She has practiced it for many times because nugget is her son’s favorite food, but she doesn’t like to buy nugget sold in shop due to ingredients issue (MSG, artificial freshness maker, etc.). I followed her recipe yesterday and was so excited to find it tasted good! 😀

Homemade Chicken Nugget

Recipe for 60 pieces
300 gr minced chicken
100 ml fresh milk
50 gr tapioca flour
2 eggs
1 teaspoon salt
1/2 teaspoon pepper
2 tbs fried red onion, crumble

coat:
1 egg
breadcrumb

– mix all ingredients carefully
– bake at 230 degrees celcius for 15 minutes
– flip the dough and bake again at the same degree for 15 minutes
– slice into pieces, smear with egg and breadcrumb
– fry in medium heat to serve

Keep the rest of the nuggets (not fried yet) in refrigerator.

[Updated March 30,2012]

One of my Indonesian friends has tried this recipe and tagged me her photo on FB. Wow! She did a great job. The nugget seemed to be cooked more orderly than mine :grin:.

 

 

Tips Memasak

Hidup di Jepang memaksa saya untuk rajin memasak. Setahun belakangan ini juga ada perubahan besar yang terjadi di halaman berita FB saya, yaitu isinya ramai oleh foto makanan hasil masakan teman-teman Indonesia yang tinggal di Jepang. Meskipun sudah mulai tertarik memasak dan rajin praktek sejak bude (bibi) yang terkenal jago masak pindah ke Bandung, proses belajar masak yang sesungguhnya saya jalani saat tinggal di negeri sakura ini. Lama-lama saya ketularan juga upload foto masakan di FB :grin:. Ternyata ada gunanya: kalo mau masak lagi makanan yang sama tinggal buka resepnya di FB. Hehe. Kalo harus googling lagi kan nggak tahu dulu pakai resep dari sumber yang mana. Selain itu, bahan yang dipakai pun sering tidak sama persis dengan resep karena sulit dapatnya, lagi nggak punya, atau memang sengaja diabaikan. Nah, dari situ, saya dapat usul dari Ananti untuk menulisnya di blog dan membuatnya satu kategori khusus memasak. Sebagai syukuran, mari kita isi kategori baru ini dengan tulisan simpel dulu tentang tips memasak. cook

Tips-tips di bawah ini mungkin meliputi kegiatan pra dan pasca menyalanya api atau listrik seperti mempersiapkan bahan mentah dan memperlakukan sisa ‘peperangan’.

  • Setelah beli daging (ayam, sapi, kambing, dsb.), cuci bersih dan kukus dengan api kecil sampai empuk dan berubah warna. Ini dimaksudkan untuk meluruhkan lemak-lemak berlebih yang bisa memicu kolesterol. Dengan langkah inisialisasi ini (halah), daging juga bisa lebih cepat diolah karena tidak perlu susah-susah mengempukkan daging dulu. Ingat, dikukus ya bukan direbus..
  • Yang paling penting dalam kamus memasak saya adalah tidak pakai MSG. Just believe that it can kill you :razz:. Walaupun ada yang bilang dalam kadar tertentu masih aman buat tubuh, lebih baik pilih untuk menghindarinya. Lha wong memang Allah sudah menyediakan hasil alam untuk dipakai sebagai bumbu kok.. bawang merah, bawang putih, bawang bombay, daun bawang, merica, ketumbar, kemiri, cabai, daun salam, daun jeruk, serai, daun pandan, jahe, kunyit, dan sebagainya.
    (more…)

Aroma Khas Bento

Kalo tinggal di Jepang, Anda pasti akan makan bento. Bento sebenarnya berarti “bekal”, tapi lebih spesifiknya di sini mengacu pada seporsi paket makanan yang diletakkan dalam kotak dengan sekat-sekat tertentu. Dua gambar yang saya pasang di bawah merupakan contoh penampakan bento. Salah satu keunikan bento adalah nasinya pakai toping. Yang paling sering saya lihat, toping-nya wijen hitam (gambar 1) dan taburan coklat yang baru saja saya tahu namanya, katsuofushi (gambar 2).

nasi bento + toping wijen hitam

nasi bento + toping katsuofushi


(more…)