Daftar Tulisan Seri “Diary Haji”

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Halo, para pembaca budiman!

Terima kasih banyak ya sudah berkunjung dan membaca tulisan di blog ini. Di antara tulisan-tulisan yang pernah dirilis, ada beberapa yang berseri, dan tidak selalu semuanya dibuat dalam satu periode.

Nah, kali ini saya buatkan daftar tautan untuk seri “Diary Haji” yang menceritakan day per day pengalaman perjalanan saya dan suami ke tanah suci. Tujuannya sebagai navigasi pembaca yang membutuhkan karena tulisan-tulisan dalam seri ini terpisah-pisah masa rilisnya. Saya sering banget dikirimi pesan pribadi mereka yang menanyakan kelanjutan dari satu pos ke pos lain 😀

Mohon maaf sekali karena memang keterbatasan waktu saya dalam menyelesaikannya. InsyaaAllah akan saya selesaikan meskipun lambat yaa.. mudah-mudahan tahun 2017 ini kelar. Aamiin.

Halaman ini akan diperbarui jika ada tulisan baru yang dirilis, jadi kalau ingin dapat update-nya silakan di-bookmark atau bisa dengan subscribe blog ini. 

  1. [Road to Hajj] Misi Besar 2013: Haji
  2. [Diary Haji] Daftar Bawaan dan Persiapan Sebelum Berangkat
  3. [Diary Haji] Hari #1 – Talbiyah Pertama
  4. [Diary Haji] Hari #2 – Ketika Mulai Diuji Kesabaran Yang Lebih
  5. [Diary Haji] Hari #3 – Menikmati Kota Mekkah Sebelum Penuh Sesak
  6. [Diary Haji] Hari #4 – Ziyarah dan Istirahah (Bagian 1: di Mekkah)
  7. [Diary Haji] Hari #5 – Tertahan di Jalan, lalu Kehilangan
  8. [Diary Haji] Hari #6 – Pelajaran tentang Syukur
  9. [Diary Haji] Hari #7 – Hari Tarwiyah di Mina
  10. [Diary Haji] Hari #8 – Wukuf di Arafah
  11. [Diary Haji] Hari #9 – Antara Muzdalifah, Mina, dan Mekkah
  12. [Diary Haji] Hari #10 – Saat Maut Terasa Mendekat
  13. [Diary Haji] Hari #11 – Penutup Rukun Haji
  14. [Diary Haji] Hari #12 – Hari Terakhir di Mekkah
  15. [Diary Haji] Hari #13 – Perjalanan ke Madinah
  16. [Diary Haji] Hari #14 – Ziyarah Madinah
  17. [Diary Haji] Hari #15 – Jelajah Utara Nabawi
  18. [Diary Haji] Hari #16 – Alhamdulillah, Raudhah!
  19. [Diary Haji] Hari #17 – Berburu Kurma Segar di Madinah
  20. [Diary Haji] Catatan Kepulangan dan Ulasan Proses

Feel free to ask me anything seputar topik ini kalo ada yang terlewat saya share. Makasiiih… 🙂

Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Advertisements

[Diary Haji] Hari #13 – Perjalanan ke Madinah

Sabtu, 19 Oktober 2013 (14 Dzulhijjah 1434H)
Sambungan dari cerita hari ke-12: [Diary Haji] Hari #12 – Hari Terakhir di Mekkah

Tawaf Wada’ Bukan Rezeki Saya

Hari ini setelah salat Subuh, seharusnya saya ikut tawaf wada’ (tawaf perpisahan jika kita hendak meninggalkan Baitullah). Namun, flek kecil yang saya dapati malam sebelumnya masih berlanjut, malah makin banyak. Kaget! Saya nggak habis pikir bisa gitu padahal masih minum obat penunda haid. Sempat bertanya-tanya apakah ‘bocor’ kedua ini terhitung menstruasi atau fenomena lainnya, tapi nggak tahu juga gimana cara memastikannya waktu itu. Meski demikian, saya akhirnya memutuskan tetap pergi ke masjid karena pagi ini kesempatan terakhir menikmati syahdunya suasana ibadah di sana sebelum bertolak ke Madinah. Sedih rasanya gagal ikutan tawaf wada’, tapi di sisi lain juga bersyukur untungnya darah yang masih dipertanyakan judulnya ini datang lagi setelah semua rukun haji tertunaikan. Alhamdulillah.

Sebelum jamaah Subuh kali ini dimulai, saya sebenarnya merekam langsung azan di Masjidil Haram dengan menggunakan kamera. Kalo ingat masa-masa itu.. di lantai paling atas masjid beratapkan langit yang masih setengah gelap dan berbintang.. semua orang diam mendengarkan lantunan suara merdu muazin.. masya Allah, syahdu dan merinding banget! tapi sayangnya saya nggak bisa share sejuknya suasana itu di sini karena file rekaman itu hilang. Lupa gimana kejadiannya, pokoknya habis haji nggak ada aja dicari di mana-mana T_T

Yang ada hanyalah potongan azan yang pernah saya rekam sebelum masa haji dimulai (2013/10/12) ini:

Jadi saran saya, kalo azan asli di Haram itu matters buat Anda, wajib banget deh rekam-rekam! Asal jangan lupa dijawab dan sampai mengganggu kekhusyukan salat 😀

Saya juga sempat mendokumentaikan hiruk-pikuk sekeliling Ka’bah ketika suami menunaikan tawaf. Lumayan buat kenang-kenangan :mrgreen:

Read the full post »

[Diary Haji] Hari #12 – Hari Terakhir di Mekkah

Jumat, 18 Oktober 2013 (13 Dzulhijjah 1434H)
Sambungan dari cerita hari ke-11: [Diary Haji] Hari #11 – Penutup Rukun Haji

Ada beberapa pembaca yang bertanya kok bisa saya masih ingat cerita selama haji, padahal udah lama kejadiannya. Hehe, kadang juga ingatan saya rancu dengan apa yang terjadi hari ini dan hari sebelumnya / selanjutnya, tapi kebetulan di kalender (saya pakai Google Calendar) sudah ada review harian yang saya tulis selama perjalanan. Ini sangat membantu saya menyusun kronologis setiap harinya selain juga menelusuri tanggal dan waktu foto-foto haji dari HP dan kamera (pentingnya dokumentasi!), jadi insyaaAllah yang saya tuliskan di sini benar-benar sesuai dengan kejadian nyatanya yaaa.. kalo ada yang meleset dikit, mudah-mudahan itu hanya masalah urutan waktu, bukan halusinasi ada / tiadanya peristiwa 😀

Shalat Jumat di Jalan (Lagi!)

Sekembalinya kami dari Mina, saya dan suami sama-sama ngedrop kena gejala flu seperti badan meriang dan sakit tenggorokan. Selepas Subuh kami tiduran di kamar masing-masing sampai menjelang siang, sarapan cuma dari stok makanan di kulkas seadanya. Dasar suami paling susah bangun sendiri, tiba-tiba pukul 10.30 saya dikirimi sms agar siap-siap berangkat. Shalat Jumat katanya. Deng!!! Saya lupa banget ini hari Jumat! Makanya santai-santai nggak bangunin doi lebih awal. Terus langsung galau deh begitu ngecek jam mengingat pengalaman Jumat sebelumnya gagal masuk Masjidil Haram saking penuhnya jalan menuju masjid dengan saf-saf orang salat di jalanan. Jangankan jam segitu, Jumatan sebelumnya yang lebih pagi berangkatnya aja udah nggak dapat tempat, apalagi ini yang jam segini mandi aja belum. Wakakak…

Singkat cerita, alhasil kami kesangkut di saf salat Jumat yang jaraknya sekitar 100 meter dari King Abdul Aziz gate, persis di percabangan jalan. Lucunya, ketika mendengarkan khutbah Jumat dan hampir melaksanakan salat, ada iklan lewat. Konsentrasi kami sedikit terganggu dengan kedatangan rombongan haji asal Malaysia yang baru tiba dari Mina. Mereka diturunkan dari bus dan tercerai-berai nyempil sendiri-sendiri di antara jamaah Jumatan, mencari jalan agar bisa keluar dari barisan shaf salat menuju maktab-nya. Beberapa lewat di depan sajadah saya dengan menggotong tas dan koper yang tidak sedikit. Wah, betul-betul ‘mendarat’ di waktu yang tidak tepat mereka.. curiganya sih emang bus-bus mereka sengaja nurunin gitu aja karena udah stuck nggak bisa jalan lagi akibat terpakainya ruas jalan untuk salat Jumat. Kasihan banyak yang terjebak berdiri di antara orang shalat Jumat, menunggu jamaah selesai, dan mereka pun nggak bisa ikut salat karena tidak ada space kosong lagi. Taihen da ne.. Read the full post »

[Diary Haji] Hari #11 – Penutup Rukun Haji

Kamis, 17 Oktober 2013 (12 Dzulhijjah 1434H)
Sambungan dari cerita hari ke-10: [Diary Haji] Hari #10 – Saat Maut Terasa Mendekat

Semua hamba Allah Azza wa Jalla yang sudah berhaji kemungkinan besar akan selalu menyimpan kerinduan akan suasana spiritual kental selama di lokasi-lokasi haji, tidak terkecuali Mina. Namun, dewasa ini banyak lembaga mengingatkan bahwa haji cukup sekali sekali pun kita mampu mengulangnya mengingat antrian calon haji yang belum berangkat masih sangat panjang dari seluruh dunia. Saya pribadi nggak pernah ada niat atau sekedar keinginan untuk berhaji lagi meski pun kalo diajakin umrah mau bangeeettt… 😀

Sayonara Tenda Mina

Aktivitas selama bermukim di tenda Mina, termasuk saat kita cabut sehari semalam untuk Arafah dan Muzdalifah, menjadi inti dari haji kita, yang menentukan sah tidaknya ibadah khusus ini. Perkemahan Mina yang dikelola para muassasah di bawah Kementerian Haji hanya disediakan selama musim haji, jadi andaikan kita mengunjungi Mina di luar masa itu yang akan tampak hanyalah padang tandus nan panas.. simply not interesting to visit 😛 Oleh karena itu, boleh lah kita bilang “Sayonara (selamat tinggal) tenda Mina!” untuk pertama dan terakhir kalinya hari ini. Kita mungkin akan berkesempatan datang ke kawasan ini lagi, tapi untuk napak tilas religious sites seperti masjid Al- Khayf, masjid Nimrah, dan Jabal Nur.

Oke, mari kita bernostalgia dan menyelami cerita hari itu.. *berhubung tulisan ini kelarnya jauh setelah hari-H*

Pagi hari ini seperti biasa dimulai dengan konsumsi makanan dan minuman bergizi (uhuk..) persembahan panitia haji. Di tenda kami ada mbak Pakistani (baca: orang berkebangsaan Pakistan, bukan namanya.. LOL) yang rajin nyeduh chai dan kadang bagi-bagi ke temen-temennya (sayangnya saya belum pernah kebagian 😥 ). Namun, para emak dan mbak asli Indonesia biasanya males rempong dan makan jatah dari panitia aja, kecuali kalo dapat jatah Indomie.. nah, itu baru dibela-belain deh cari air panas ke ujung maktab. Wkwkwk.. tapi beneran lho dibagiin mie instan kebanggaan bangsa itu beberapa kali selama menetap di Mina.

11.0 - Hajj activity in Mina tent

Read the full post »

Seandainya Hidup Tinggal Dua Bulan Lagi

Ok, one spoiler: I always prefer family genre, if any, for Japanese movie. It’s clearly shown in the reviews of J-dramas and movies I’ve posted here before. This movie has unusual words in a long title: Yu wo Wakasuhodo no Atsui Ai (湯を沸かすほどの熱い愛), even the English version still sounds weird for me, Her Love Boils Bathwater, but anyway… who cares with the title if the story dragged me into a deep contemplation as a mother?

Yu wo Wakasuhodo no Atsui Ai

Terlihat seperti cover film komedi, padahal isinya merontokkan hati 😀

Film ini saya tonton dalam penerbangan menuju Jerman menjelang ulang tahun saya. Tema hidup dan matinya ternyata pas banget sebagai bahan perenungan walaupun jujur aja waktu milih nonton ini nggak yakin bakal bagus, tapi nggak ada pilihan lain 😛

Berita mengejutkan, yang biasanya ada di tengah film, ditaruh di awal film ini untuk kemudian menunjukkan betapa luar biasa respon sang lakon utama terhadapnya. Gimana rasanya didiagnosis kanker stadium empat dan diprediksi dokter bahwa hidup kita tinggal beberapa bulan lagi? Runtuh dunia rasanya, kan.. Namun, apa yang dilakukan Futaba, wanita yang jadi sentral film ini, adalah life goal: berhasil memaksimalkan manfaat dirinya buat banyak orang. Alih-alih depresi, merasa hidup tak berarti lagi, dia justru berjuang dengan sisa-sisa tenaganya demi menyiapkan anak-anak dan suami yang kuat setelah kepergiannya nanti.  Read the full post »

Kunci Hidup Bahagia (dan Sehat)

Setelah sekian lama blog ini lumutan, yuk kita isi dengan tulisan yang bermanfaat 😀 Tulisan ini dibuat tiga hari setelah ultah saya ke-27. Pas banget deh direnungkan buat kembali menata hidup.. tsaaahhh. Manusia tempatnya salah dan lupa, maka perlu kontrol sosial untuk membuat kekurangan itu minimal. Menuliskannya di sini adalah salah satu caranya. Sebagaimana opening words dalam video yang saya bahas di sini, pernahkah Anda bertanya:

Apa yang membuat manusia bahagia dan sehat selama hidupnya? Andai kita sedang berinvestasi sekarang, untuk apa sih waktu dan energi kita habiskan?

Pertanyaan simpel di atas ternyata harus dijawab melalui penelitian 3/4 abad, lho! Disarikan dari presentasi Robert Waldinger di TEDx Talks, di sini saya coba rekapin ya apa yang saya ingat dan kepikiran setelah nonton videonya (bisa diputar di bawah ini) karena saya cari ternyata belum banyak artikel berbahasa Indonesia membahasnya. Perlu diingat bahwa yang saya tulis bukan persis plek seperti terjemahan dan saya nggak ada waktu buat mutar videonya lagi demi nyocokin, jadi feel free buat koreksi. Di bawah ulasan video, saya tambahin juga kicauan topik terkait, hasil dari baca buku.

Read the full post »

[Diary Haji] Hari #10 – Saat Maut Terasa Mendekat

Rabu, 16 Oktober 2013 (11 Dzulhijjah 1434H)
Sambungan dari cerita hari ke-9: [Diary Haji] Hari #9 – Antara Muzdalifah, Mina, dan Mekkah

Jumrah Kedua

10.1 - breakfast Mina 11 Dzulhijjah

Sarapan 11 Dzulhijjah di Mina: semacam ikan tongkol goreng

Pagi hari ketiga berdiam di Mina ini bisa dibilang adalah yang paling tenang dibandingkan hari-hari sebelum dan sesudahnya. Selain tinggal separuh jemaah kami yang tersisa di Mina, tidak ada agenda kegiatan dari agen maupun panitia haji hari ini. Namun, sebagai bagian dari wajib haji, jemaah masih harus menunaikan lempar jumrah kedua. Sebagian rombongan kami yang pergi ke Mekkah dini hari tadi belum kembali. Mereka bersama ketua rombongan dan ustaz pembina dijadwalkan melaksanakan thawaf ifadah di Masjidil Haram pagi ini sebelum Subuh dan kembali sebelum azan Dzuhur. Bukan hanya suasana yang agak beda, melainkan juga menu sarapan kami kali ini: ikan goreng cita rasa Indonesia 😛

Menjelang Dzuhur, kami yang tetap stay di Mina pun bertolak sendiri menuju Jamarat dipimpin seorang jemaah haji lain yang ditunjuk oleh Mr. Mian, entah siapa, sepertinya berasal dari kontingen negara lain. Sebelumnya, Kamijo-san, satu-satunya pria Jepang dalam rombongan kami yang beristrikan wanita Indonesia dan membawa serta ketiga anaknya, telah kembali dari Jamarat. Ia berangkat lebih dulu untuk menghindari kepadatan jemaah karena mengajak serta anak perempuannya (foto ada di tulisan sebelumnya). Kasihan anaknya kalo harus berdesak-desakan dengan manusia sebanyak itu. Ia dan seorang pria Bangladesh, suami satu-satunya wanita Jepang dalam rombongan kami (penting banget yak gue jelasin.. wkwkwk), sama-sama harus mewakili pasangannya yang berhalangan lempar jumrah.

10.2 - walk to Jamarat 11 Dzulhijjah

Suasana perjalanan menuju Jamarat hari kedua lempar jumrah, kali ini saya sempat mengambil gambar 😀 Kami berangkat sendiri tanpa dipimpin oleh ketua rombongan karena beliau masih bersama jemaah yang kembali ke Mekkah malam harinya untuk thawaf ifadah

Jejalan manusia tetap padat seperti hari sebelumnya, tapi hari ini lebih ada ruang untuk bergerak lah. Mungkin karena di hari pertama sudah banyak jemaah yang tahu lokasi dan situasinya, mereka bisa merencanakan perjalanan lebih baik. Mungkin juga karena sebagian tersedot ke Mekkah seperti separuh rombongan kami. Singkatnya, selama kami bergandengan tangan dengan pasangan masing-masing (udah nggak ihram, yes!) menikmati perjalanan ke Jamarat hari kedua itu suasana berjalan sungguh damai dan tentram, hingga akhirnya terjadi huru-hara di terowongan Mina yang kami pikir hampir merenggut nyawa kami. Read the full post »