Bebek Goreng Borromeus

Nggak tahu kenapa minggu-minggu belakangan ini saya seperti “dihantui” oleh BEBEK.

Pertama, saya lihat iklan bebek Garang dalam brosur-brosur berlapiskan plastik di ruang tamu asrama saya. Sepertinya ada ‘antek-antek’ resto itu yang nyusup ke asrama saya. Hehe. Lokasinya rupanya dekat dengan asrama saya, di seberang hotel Bukit Dago. Wah, pantes saja kaya sering liat…

Kedua, dua hari setelah melihat brosur itu, teman sekamar saya cerita tentang promo sebuah warung bebek goreng yang menawarkan diskon dengan syarat-syarat berikut:
-bawa tiga teman kamu dan pesan empat porsi
-tunjukkan kartu mahasiswa ITB
-berikan salam ganesha
kayanya ada satu syarat lagi tapi saya lupa. Dua syarat terakhir yang saya tulis memang rada rasis. Tapi katanya sih yang punya warung bebek gorengnya memang anak ITB. Penasaran, saya pinjam brosurnya ke teman saya, oh..ternyata bebek Garang juga! Ini kayanya mereka memang sedang gencar-gencarnya promosi…

Peristiwa ketiga…saat itu saya sedang mengerjakan proyek himpunan di salah satu lab. Waktu makan malam tiba. Waktu perut saya lagi krucuk-krucuk, eh tiba-tiba kak Ivan masuk lab bawa bungkusan yang aromanya menggugah selera. Katanya, “Bebek goreng Borromeus nih, enak lho, udha pernah nyoba belum?” adaapaini…bebek lagi.

Selanjutnya…Hafsah, adik angkatan saya di STEI 2008, menawari saya buletin yang konon merupakan tugas calon kru Boulevard (buletin kampus). Harganya cuma seribu. Saya beli juga akhirnya buletin itu, itung-itung mensukseskan Hafsah dkk. diterima jadi kru Boulevard. Saya baca liputannya. Astaga, yang lagi dibahas ternyata wisata kuliner : bebek Ngarasan di Tubagus. Capee deh…

Sepertinya belum berhenti di situ unggas goreng itu menghantui saya. Peristiwa terakhir yang akhirnya ‘memaksa’ saya untuk membeli bebek goreng adalah rapat MSTEI hari Selasa lalu. Waktu itu, seusai rapat, ada teman saya yang nanya, “Eh, ada yang tahu nggak bebek van Java di mana?”. Kyaa…kenapa bebek lagi(T_T’), saya jadi pengen makan bebek goreng saat itu juga.

bebek goreng BorromeusPucuk dicinta bebek pun tiba. Teman saya yang lain, yang konon masih punya hutang traktiran ke saya, menawarkan untuk membayar hutangnya saat itu juga. Tanpa pikir panjang, saya langsung mengajukan menu bebek goreng. Ahaha. Karena yang paling dekat dengan kampus adalah bebek goreng Borromeus, kami pun pergi ke sana. Hampir saja salah warung, akhirnya sampai juga kami di warung kaki lima yang ramainya luar biasa. Saya sempat putus asa tuh bisa cepat makan melihat antrian nota pesanan yang belum terlayani sudah tinggi. Sambil menunggu pesanan jadi, kami ngobrol sana-sini sama beberapa pelanggan di situ yang kebetulan anak ITB juga. Mereka ternyata sudah sering makan di sana dan mencoba menu lain, tapi…katanya menu lain nggak seenak bebek gorengnya. Selesai makan, kami sepakat dengan orang-orang, bebek goreng Borromeus emang mak nyuz. Walaupn sepanjang perjalanan pulang kami masih belum menemukan sisi ‘spesial’nya (yang bikin enak itu) di mananya…