My Story about “Bento to Office”

Mungkin sebagian udah pada ngerti bahwa tinggal di negeri orang, apalagi yang mayoritasnya bukan muslim, misalnya Jepang, memaksa ibu-ibu untuk mau, bisa, dan pintar memasak. Oya, sebenarnya “ibu-ibu” dalam hal ini hanya mewakili saja..yang menjalani sih bisa siapa saja, apa pun status visanya saat ini. Oke, kenapa saya nulisnya harus pake tiga kata? karena masing-masing menunjukkan levelnya :razz:.

“Gue sekarang masak, Gan!”

Mau itu keharusan. Kalo nggak, mau makan apa? Hal ini terkait dua hal, yaitu harga makanan yang mahal (kalo masak bisa hemat 50%) dan perhatian terhadap halal-haram makanan. Dulu, saat ngekos zaman SMA dan kuliah, untuk makan tinggal beli lauk di warung asal dipercaya kehalalannya, beli yang instan di toko asal ada label halalnya, atau makan di luar. Gampang! Saya hampir nggak pernah masak, bahkan saat pulang kampung pun, kalo nggak karena pembantu bolos dan disuruh bantu Mom, mana pernah saya iseng masak di rumah? Nggak ada kemauan sih.. yang namanya orang kan beda-beda minatnya *ngeles*. Makanya, nggak heran kalo Papa sampe mudik kemarin nggak percaya kalo foto-foto masakan yang saya upload di FB itu hasil karya anaknya -_-” Yang kedua, bisa memasak mau tak mau akhirnya juga jadi keharusan! Artinya harus bisa memasak makanan yang edible alias bisa dimakan, misalnya nggak gosong. Alhamdulillah, ada hikmahnya rumah di sini kecil-kecil, jadi nggak akan kejadian masakan gosong karena ditinggal lama. Gosong yang pernah saya alami disebabkan pengaturan api salah. Yang terakhir, yaitu pintar. Nah, ini jadi tantangan tersendiri begitu udah punya ‘customer’ di rumah, tapi justru jalan menuju pintar menjadi lebih pendek sebab kita dituntut untuk sering berlatih :mrgreen:. Dari pengalaman pribadi, ternyata tantangan ini nggak cuma dari segi rasa, tapi juga sepaket dengan penampilan. Maksudnya, kalo dari rupa aja udah nggak menarik, biasanya sih yang ‘laku’ cuma dikit :grin:. Begitulah.. jadi harus berjuang biar dapat dua-duanya. Rasa enak, penampilan pun menarik. Untuk level terakhir ini, saya sendiri belum yakin sudah mencapainya, tapi saya keep believing aja asal konsisten ngejalanin level sebelumnya, yaitu mau dan bisa, lama-lama juga sampai di level ini.

(more…)

Advertisements

Ongaeshi (Lanjutan Cerita “Jepang dan Traktiran”)

Masih ingat nggak sama cerita saya tentang budaya traktir-mentraktir yang tidak lazim bagi orang Jepang di tulisan ini?
Di situ intinya saya ‘mengilhami’ agar Anda jangan gampang GR kalo diundang acara sama orang Jepang karena belum tentu dikasih makan gratis :razz:. Nah, ternyata saya lupa menyinggung tentang ongaeshi, padahal justru budaya satu ini punya kaitan yang erat dengan perkara treating tersebut, atau giving juga bisa.

Ongaeshi kalo tidak salah artinya adalah balas budi. Dalam budaya orang Jepang, balas budi ini penting sekali dan sering disebut-sebut. Mereka akan malu kalo tidak bisa memberi ongaeshi dari kebaikan orang yang pernah membantu atau memberinya sesuatu. Oleh karena itu, mereka sangat berhati-hati juga dalam menerima pemberian orang lain. Mungkin takut kalo tidak bisa membalasnya dan tidak enak hati. Sebaliknya pun begitu. Mereka menempatkan orang lain seperti dirinya sehingga berhati-hati sekali dalam memberi. Pasti karena takut membebani si penerima. Gimana kalo nanti penerima merasa nggak enak? gimana kalo penerima ekonominya sulit? gimana kalo penerima bunuh diri saking malunya nggak bisa balas? wkwkwk, yang terakhir lebai. Yaa, gitu deh kayanya yang dipikirkan. Jadi, wajar aja kalo urusan mentraktir atau ditraktir itu “aneh” bagi orang Jepang.
(more…)

Jepang dan Traktiran

Sabtu lalu saya memenuhi undangan nonton hanabi (sebutan untuk “kembang api” atau fireworks di Jepang, biasanya saat musim panas) dari yayasan beasiswa yang membiayai kuliah saya. Undangan tersebut sudah dikirim jauh-jauh hari sebelumnya dan saya pun sudah menunggu-nunggu karena tahun lalu nggak bisa ikut berhubung udah pulang kampung. Waktu dapat undangan, saya langsung ngeh itu acara apa dan langsung forward gitu aja ke suami, ngajak dia datang, sekaligus sudah membayangkan kalo di lokasi bakal disambut, duduk di kursi jejer-jejer sama tamu undangan lain, dan disuguhi makan malam!

Akhirnya, tibalah hari-H. Kok ya secara kebetulan paginya saya bangun kesiangan, jam 4, jadi suami nggak sahur :cry:.. sebenarnya saya lagi nggak puasa, tapi karena nggak tega makan dan minum di depan suami, saya seperti ikut puasa. Kami pun menghibur diri, ah.. nanti malam kan bisa makan besar di tempat hanabi. Siangnya, saya sibuk bikin kue untuk buka bersama muslim Indonesia di dekat kedubes besoknya dan dengan pedenya sengaja nggak masak untuk malamnya. Jam 5 sore kami berangkat, sedangkan hanabi-nya mulai pukul 19.00. Kereta-kereta di jalur-jalur menuju lokasi padat sekali. Sepertinya banyak juga yang mau ke Sumidagawa, lokasi hanabi, buktinya kami ketemu banyak cewek atau cowok pakai yukata (nonton hanabi memang identik dengan pakai kimono musim panas ini).  (more…)

Nikah di Jepang

Ehem.. sebelumnya maaf nih, bukannya mau ngasih pengumuman kok, apalagi undangan :lol:.
Mau cerita aja satu hal lain tentang Jepang, kali ini terkait budaya masyarakatnya dalam hal yang uhuk-uhuk: menikah. Kebetulan tadi sore saya mendapat ‘kuliah’ soal itu dari sensei *loh sebenarnya kamu jurusan apa toh, Ga* :eek:.

Saya memang pernah dengar dari senior bahwa pernikahan di sini itu biayanya mahal, tapi perayaannya sekaligus jadi ajang buat “balik modal”. Nah, tadi tuh dapat penjelasan lebih lengkap, langsung dari orang Jepang. Cerita bermula saat saya menanyakan sebuah kalimat di buku teks bahwa orang Jepang umumnya memberi uang atau barang elektronik saat menghadiri pernikahan.
(more…)