Japan and Scrapbooking

[Tulisan ini disarikan dari status Facebook saya tanggal 18 Maret 2013 lalu]

Salah satu budaya Jepang yang saya suka adalah kebiasaan membuat scrapbook atau album foto yang didekorasi sedemikian rupa dengan pernak-pernik dari guntingan kertas, stiker, atau teks dari spidol, lem glitter, polpen warna, terus juga biasanya selotip bermotif macam-macam. Scrapbook itu sering mereka jadikan hadiah ke orang yang baru melewati moment penting, misalnya ulang tahun, pernikahan, kelahiran anak, atau lulus sekolah/kuliah.

japan and scrapbook 1

Scrapbook yang saya dapat dari teman-teman satu lab sebagai kenang-kenangan sudah lulus kuliah master. Meskipun jarang gaul dan tidak punya banyak foto bersama mereka, ternyata saya tetap dapat “jatah” dan mereka berhasil memasang foto-foto saya. Alhamdulillah ๐Ÿ˜€

(more…)

Ongaeshi (Lanjutan Cerita “Jepang dan Traktiran”)

Masih ingat nggak sama cerita saya tentang budaya traktir-mentraktir yang tidak lazim bagi orang Jepang di tulisan ini?
Di situ intinya saya ‘mengilhami’ agar Anda jangan gampang GR kalo diundang acara sama orang Jepang karena belum tentu dikasih makan gratis :razz:. Nah, ternyata saya lupa menyinggung tentang ongaeshi, padahal justru budaya satu ini punya kaitan yang erat dengan perkara treating tersebut, atau giving juga bisa.

Ongaeshi kalo tidak salah artinya adalah balas budi. Dalam budaya orang Jepang, balas budi ini penting sekali dan sering disebut-sebut. Mereka akan malu kalo tidak bisa memberi ongaeshi dari kebaikan orang yang pernah membantu atau memberinya sesuatu. Oleh karena itu, mereka sangat berhati-hati juga dalam menerima pemberian orang lain. Mungkin takut kalo tidak bisa membalasnya dan tidak enak hati. Sebaliknya pun begitu. Mereka menempatkan orang lain seperti dirinya sehingga berhati-hati sekali dalam memberi. Pasti karena takut membebani si penerima. Gimana kalo nanti penerima merasa nggak enak? gimana kalo penerima ekonominya sulit? gimana kalo penerima bunuh diri saking malunya nggak bisa balas? wkwkwk, yang terakhir lebai. Yaa, gitu deh kayanya yang dipikirkan. Jadi, wajar aja kalo urusan mentraktir atau ditraktir itu “aneh” bagi orang Jepang.
(more…)

Jepang dan Traktiran

Sabtu lalu saya memenuhi undangan nonton hanabi (sebutan untuk “kembang api” atau fireworks di Jepang, biasanya saat musim panas) dari yayasan beasiswa yang membiayai kuliah saya. Undangan tersebut sudah dikirim jauh-jauh hari sebelumnya dan saya pun sudah menunggu-nunggu karena tahun lalu nggak bisa ikut berhubung udah pulang kampung. Waktu dapat undangan, saya langsung ngeh itu acara apa dan langsung forward gitu aja ke suami, ngajak dia datang, sekaligus sudah membayangkan kalo di lokasi bakal disambut, duduk di kursi jejer-jejer sama tamu undangan lain, dan disuguhi makan malam!

Akhirnya, tibalah hari-H. Kok ya secara kebetulan paginya saya bangun kesiangan, jam 4, jadi suami nggak sahur :cry:.. sebenarnya saya lagi nggak puasa, tapi karena nggak tega makan dan minum di depan suami, saya seperti ikut puasa. Kami pun menghibur diri, ah.. nanti malam kan bisa makan besar di tempat hanabi. Siangnya, saya sibuk bikin kue untuk buka bersama muslim Indonesia di dekat kedubes besoknya dan dengan pedenya sengaja nggak masak untuk malamnya. Jam 5 sore kami berangkat, sedangkan hanabi-nya mulai pukul 19.00. Kereta-kereta di jalur-jalur menuju lokasi padat sekali. Sepertinya banyak juga yang mau ke Sumidagawa, lokasi hanabi, buktinya kami ketemu banyak cewek atau cowok pakai yukataย (nonton hanabi memang identik dengan pakai kimono musim panas ini).ย  (more…)