Pengen Cerewet Lagi Soal EYD

Tulisan ini dibuat tahun 2012 😛

Anda tahu kan EYD? Iya dong, masa belajar Bahasa Indonesia sejak SD sampai SMA (lama juga ya!) bisa lupa sama yang satu ini :smile:. Dari semua materi bahasa Indonesia, saya paling tertarik pada materi ini. Selain tertarik, materi tersebut juga begitu membekas di ingatan saya sampai sekarang dan selalu saya terapkan. Saya termasuk orang yang sangat concern terhadap bahasa. Setiap baca artikel, otak saya juga otomatis bekerja seperti mesin pendeteksi kesalahan tata tulis. Sering kali muncul komentar yang mungkin kalau terucapkan kelihatan cerewetnya saya. Haha.

Orang Jerman saja belajar bahasa Indonesia. Jangan kalah pintar pakai ejaannya! 😛

Teman sekolah atau kuliah yang sudah pernah bekerja dengan saya mungkin juga menyadari “kebawelan” saya soal tulis-menulis ini. Makanya, kerap juga saya kebagian tugas sebagai final editor saat membuat laporan, presentasi, atau apa saja yang terkait tulisan. Sudah lama saya berpikir bahwa mungkin memang saya berbakat jadi editor. Asyik sekali membayangkan pekerjaan sebagai seorang editor buku ya.. apalagi kalau bisa dikerjakan di rumah sambil mengurus anak *sambil berharap ada yang nawarin kerjaan ini* :grin:.

Itu khusus bahasa Indonesia. Kalau bahasa Inggris, apalagi Jepang, wah masih bermimpi bisa mengkritisi. Biar pun begitu, tahun lalu ketika ada dua tugas kelompok bareng teman-teman antarkampus dan antarnegara, saya tetap saja jadi final editor slide presentasinya. Lumayan jadi ajang belajar.. Nah, kebetulan sekali tahun ini saya mulai megang amanah jadi penanggung jawab manajemen artikel di situs FAHIMA, sebuah organisasi muslimah Indonesia yang kebanyakan aktivitasnya dilakukan secara online. Dengan posisi baru ini, hobi saya ‘mencereweti’ penulisan artikel bisa sangat amat terfasilitasi meskipun sejauh ini belum sampai mencereweti penulisnya :lol:.

(more…)

Advertisements

Pernah Belajar Bahasa Indonesia Tidak, Sih?

Entah kenapa ya, dari dulu saya risiiih sekali melihat banyaknya fenomena bahwa orang Indonesia masih suka terbalik menggunakan di sebagai kata depan dan imbuhan.

di yang seharusnya dipisah ketika digunakan sebagai kata depan dengan kata keterangan tempat, malah digabung.

kata depan digabung

Sementara, di yang seharusnya digabungkan jika digunakan sebagai imbuhan dengan kata kerja malah dipisah.

imbuhan dipisah

Ironisnya, yang salah kaprah menggunakan kata di ini bukan cuma mereka yang awam dengan pendidikan saja, kaum intelektual seperti mahasiswa, siswa SMA, karyawan BUMN, dosen, dan masih banyak lagi kaum ‘terdidik’ lainnya pun juga melakukannya di tulisan-tulisan mereka. Aargh, Indonesia…kasian sekali.

Bukan cuma kata di yang bernasib malang…

silah kan