Manusia: Hakekat, Visi, dan Misinya (bagian 2-tamat)

Tulisan berikut adalah edisi kedua dari topik “Manusia: Hakekat, Visi, dan Misinya”, menyambung edisi pertama yang ini. Sebelumnya saya minta maaf karena tulisan ini tertunda lama dan cukup jauh jedanya dari edisi pertama. Hehe. Dibuat dua edisi biar nggak terkesan panjang aja, walopun masih tetap kelihatan panjang >.<

human-visionPertama-tama, kita harus menyamakan asumsi dulu bahwa kita semua adalah ciptaan Tuhan. Seandainya ada seorang atheis yang membaca tulisan saya ini, silakan hubungi saya secara pribadi untuk diskusi lebih lanjut 😀 Tentang hal ini, saya jadi teringat diskusi dengan seorang teman belum lama ini, bahkan dia yang mengaku tidak beragama mengaku pun masih mengakui Tuhan dan menyembah-Nya dengan caranya sendiri. Semoga ia segera mendapatkan hidayah dan menemukan agama yang dapat diterimanya. Amin… Karena, bagaimana pun kita tetap butuh agama sebagai jalan (di Alquran Islam disebut dien yang artinya jalan) yang di dalamnya terdapat rambu-rambu lalu lintasnya, atau minimal untuk mengisi KTP sesuai aturan negara Indonesia tercinta.

Sesuai dengan asumsi tadi, maka sudah sewajarnya manusia menyadari keberadaan dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki tujuan penciptaan. Sekali lagi, mungkin ini terlihat klise, tapi jangan salah…di dunia yang penuh intrik ini begitu banyak kisah manusia menafikan Tuhan-Nya. Mereka bilang tidak terlalu care dengan urusan Tuhan, meragukan adanya Tuhan, nggak suka dengan kehadiran Tuhan dalam hidupnya, dan sebagainya. Sekelumit kisah mereka dapat Anda baca di situs ini. Ya tapi beberapa cerita tokoh penting dalam sejarah akhirnya banyak yang stres dan bahkan bunuh diri juga kok. Semakin mereka mengusir kehadiran Tuhan dalam hidup mereka, semakin pusing lah mereka. Pernah dikisahkan seorang tokoh komunis Uni Soviet sakit (lupa namanya, pen.) yang notabene atheis akhirnya minta pelayannya buat manggilin pendeta, saking udah putus asanya nggak sembuh-sembuh.

(more…)

Manusia: Hakekat, Visi, dan Misinya (bagian 1)

human-missionDalam sebulan belakangan ini, entah kenapa kebetulan materinya sama, sudah tiga kali saya diminta untuk memberikan materi tentang konsep diri manusia dan segala tetek bengeknya ke teman-teman angkatan 2008. Berhubung dari ketiga pertemuan itu saya merasa belum menyampaikan semua hal yang terlintas di otak saya, maka saya ‘membayarnya’ dengan menulis di sini. Tentu saja dalam mendalami skenario materi ini saya juga mencomot bahasan dari berbagai sumber. Nah, biar hasil ‘eksplorasi’ saya juga nggak sia-sia karena cuma didengar segelintir orang saja, saya ceritain saja ya di sini 😀

I’m sorry to say that I wanna talk about this case in my religion’s frame.*

Manusia pada hakekatnya adalah makhluk Tuhan, artinya diciptakan oleh Tuhan dan memiliki tujuan dari penciptaan tersebut. Bukti bahwa manusia diciptakan bisa dicek di Alquran surat Ali Imran ayat 59.

Sesungguhnya perumpamaan (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berkata kepadanya, “Jadilah”, maka jadilah sesuatu itu.

Jadi, teori Darwin bahwa segala sesuatu itu ada dengan sendirinya dari hasil evolusi sesuatu yang lain setahap demi setahap sebenarnya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Jika Anda punya cukup banyak waktu, bahasan lengkap tentang hal ini dapat Anda baca dari karya Harun Yahya yang berjudul Keruntuhan Teori Evolusi (download saja di sini). Dalam tulisan tersebut dijelaskan tentang sebuah analogi yang terkenal sebagai berikut:

Seorang ahli astronomi dan matematika dari Inggris, Sir Fred Hoyle, membuat perbandingan serupa dalam salah satu wawacaranya dalam majalah Nature edisi 12 November 1981. Meskipun seorang evolusionis, Hoyle menyatakan bahwa kemungkinan makhluk hidup tingkat tinggi muncul secara kebetulan adalah sama dengan kemungkinan sebuah Boeing 747 terakit dengan material dari tempat penampungan barang rongsokan yang disapu tornado. Ini berarti bahwa sel tidak mungkin muncul secara kebetulan, jadi sudah pasti sel itu “diciptakan”.

(more…)