Benci tapi Rindu Pada Indonesia

Masih dalam suasana pemilu legislatif di mana belakangan ini saya mendadak jadi pengamat politik karbitan (istilah suamiku :grin:) dan merasakan adanya peningkatan adrenalin pada hal-hal nasionalisme.. halah, saya ingin coba ungkapkan keharuan terhadap negeri ini. Latar belakangnya karena hari ini saya nangis dua kali gara-gara:

  1. Nonton video tentang Indonesian Elections, yang menggambarkan betapa ribetnya penyelenggaraan pemilu secara langsung oleh rakyat di negara yang super luas dan tersebar kaya Indonesia ini. Belum lagi jumlah calon wakil rakyat yang bisa dipilih sangat banyak. (saya tulis di sini)
  2. Ending-nya acara spesial “Petisi Rakyat” di MetroTV berupa penampilan dari Project Pop dengan lagu mereka yang hampir saya lupakan, Indovers. Menyimak liriknya, saya baru ngeh itu mewakili jeritan hati anak bangsa yang lagi berada di luar Indonesia daaan.. saya.. ingat masa-masa ketika homesick di Jepang dulu. Ya Allah, betapa kurang bersyukurnya saya, dulu suka pengen pulang biar nggak capek-capek masak, tapi sekarang udah di sini eeeh.. malah sering merengek minta balik ke Jepang 😦 #PetisiRakyat (saya sempat nge-tweet juga di sini)

Seriusan lu, masa cuma moments gitu aja bisa nangis? Entahlah.. terbawa euforia aja kali ya.
(more…)

Empat Bulan Kemudian

Empat bulan sudah saya kembali ke tanah air. Selama merantau ke negeri seberang, belum pernah saya pulang selama ini. Kepulangan kali ini pun nggak nyangka bakal selama sekarang karena saya dan suami masih ingin berpetualang di luar negeri, jadi belum akan menetap seterusnya. Niat kembali dan menetap atau yang biasa diistilahkan back for good sih udah ada, tapi ada beberapa ketentuan dan syarat yang musti tercapai sebelum mewujudkannya. We wish it would happen at the right time. Hehe.. by the way, ternyata beda ya sensasinya kalo udah pernah mencicipi kehidupan di negara lain,  lalu kembali ke negeri sendiri.

Situasi yang sebenarnya dari dulu sama alias memang begitu, bisa saya sikapi lain antara sebelum dan seusai merantau.

Dalam kasus saya, kebetulan karena “dikirimnya” ke negara yang ekstrim bedanya dari Indonesia, mulai mental masyarakatnya hingga kekuatan teknologinya, saya rasanya jadi banyak ‘menuntut lebih’, misalnya pengennya semua orang itu tertib dan taat aturan kaya di negeri rantau. Padahal toh, dulu juga udah tahu kalo masyarakat kita ini susah diatur, aturan dibuat sebagai formalitas, dan bahkan saya sendiri suka cuek break the rule, tapi sekarang… sungguh hati nuraniku sulit, bahkan cenderung nggak bisa menerima itu semua (baca: berontak) mad. Makanya saya sadar kalo sekarang sering ‘mengusik ketenangan’ orang karena saya berani ngapa-ngapain kalo sikap orang itu nggak proper. Beresiko emang, apalagi baca artikel Jakarta makin nggak aman itu, tapi mau gimana lagi? Doa aja dah yang dikencengin.. dan berharap sedikit sentilan saya mereka renungkan kemudian. (more…)

International Symposium on Food Halalness

On 8 May, I attended the first “International Symposium on Food Halalness” in Ookayama campus of Tokyo Institute of Technology. I was informed about this event from mailing list of PMIJ, an Indonesian Muslim brotherhood in Japan. With a little doubt that such event would be held in a country called Japan, I registered my name. The show turned out to be more exciting than I had expected so that force me to stay seated for the entire presentations in almost five hours :smile:. Here, I wrote short review about what was presented by speakers based on my own perception.

Let us always support (and pray) for “Japan goes to halal-certified industries” 😎

Hadirnya simposium ini di tengah-tengah masyarakat Jepang sekuler menjadi event yang luar biasa. Pematerinya pun tidak kalah luar biasa, yaitu mulai dari researcher sampai profesor, bahkan beberapa diantaranya memegang peranan kunci institusi seperti:

Peserta simposium sendiri mayoritas adalah business men dengan setelah jas yang mungkin motivasinya cuma keywords semacam market, prospect, muslim consumers, trading, profit, dan sebagainya :eek:. Hal ini dibenarkan teman saya yang tak lama sebelumnya mengunjungi festival halal foods di Fukuoka. Katanya, “Memang kebanyakan yang kudengar dari yang jualan lebih memandang gimana pangsa pasarnya. Ya bagus sih daripada malah nggak ada (event semacam ini maksudnya). Semoga kedepannya makin ketahuan kebaikan dan kemudahan produk-produk halal di mana-mana”. Saya pun berharap mudah-mudahan dengan diulangnya ayat-ayat Alquran, prinsip hidup Islami, afiliasi muslim terhadap agamanya, dan ‘sisipan’ sejenisnya oleh para pembicara bisa sedikit membuka hati mereka untuk menerima keberadaan alien-alien* ini di negerinya :razz:, serta memancing minat mereka terhadap Islam.

(more…)

Pengen Cerewet Lagi Soal EYD

Tulisan ini dibuat tahun 2012 😛

Anda tahu kan EYD? Iya dong, masa belajar Bahasa Indonesia sejak SD sampai SMA (lama juga ya!) bisa lupa sama yang satu ini :smile:. Dari semua materi bahasa Indonesia, saya paling tertarik pada materi ini. Selain tertarik, materi tersebut juga begitu membekas di ingatan saya sampai sekarang dan selalu saya terapkan. Saya termasuk orang yang sangat concern terhadap bahasa. Setiap baca artikel, otak saya juga otomatis bekerja seperti mesin pendeteksi kesalahan tata tulis. Sering kali muncul komentar yang mungkin kalau terucapkan kelihatan cerewetnya saya. Haha.

Orang Jerman saja belajar bahasa Indonesia. Jangan kalah pintar pakai ejaannya! 😛

Teman sekolah atau kuliah yang sudah pernah bekerja dengan saya mungkin juga menyadari “kebawelan” saya soal tulis-menulis ini. Makanya, kerap juga saya kebagian tugas sebagai final editor saat membuat laporan, presentasi, atau apa saja yang terkait tulisan. Sudah lama saya berpikir bahwa mungkin memang saya berbakat jadi editor. Asyik sekali membayangkan pekerjaan sebagai seorang editor buku ya.. apalagi kalau bisa dikerjakan di rumah sambil mengurus anak *sambil berharap ada yang nawarin kerjaan ini* :grin:.

Itu khusus bahasa Indonesia. Kalau bahasa Inggris, apalagi Jepang, wah masih bermimpi bisa mengkritisi. Biar pun begitu, tahun lalu ketika ada dua tugas kelompok bareng teman-teman antarkampus dan antarnegara, saya tetap saja jadi final editor slide presentasinya. Lumayan jadi ajang belajar.. Nah, kebetulan sekali tahun ini saya mulai megang amanah jadi penanggung jawab manajemen artikel di situs FAHIMA, sebuah organisasi muslimah Indonesia yang kebanyakan aktivitasnya dilakukan secara online. Dengan posisi baru ini, hobi saya ‘mencereweti’ penulisan artikel bisa sangat amat terfasilitasi meskipun sejauh ini belum sampai mencereweti penulisnya :lol:.

(more…)

Tweets between Thesis: “Indonesia dan Empat Musim”

Di bawah ini hanyalah sebuah kicauan impulsif saya tentang “Kenapa musim dingin nggak ada di Indonesia?”. Hasil pemikiran random dan curhat secara implisit ini jangan ditanggapi serius karena yang saya hina sebenarnya adalah diri saya sendiri 😛

(more…)

Mudik 2012: 10 Hari, 8 Kota (Part 1)

Seperti biasa, akhir bulan berasa dikejar setoran buat nge-blog.. haha :razz:. ‘Sesuatu’ terbaru yang belum sempat ditulis ulasannya adalah mudik, so.. here we go!

Tanggal 11-21 Agustus lalu saya dan suami alhamdulillah masih berkesempatan pulang ke Indonesia untuk mudik. Meskipun hanya sebentar, mudik kali ini bersejarah sekali bagi saya karena untuk pertama kalinya saya tidak berlebaran dengan keluarga saya, tapi dengan keluarga suami yang kebanyakan baru saya kenal saat itu juga. Selain itu, saya juga benar-benar merasakan suka-duka orang mudik yang menempuh perjalanan jauh demi berkumpul dengan keluarga. Maklum, selama ini rumah saya malah yang selalu didatangi saudara karena ada kakek-nenek di rumah. Kalo pun pergi, biasanya hanya mengunjungi saudara-saudara di Jawa Timur yang cuma 2-3 jam perjalanan.

Sedikit kilas balik, sebenarnya saya sudah berencana tidak mudik tahun ini karena (1) Jauh, butuh dana dan tenaga ekstra (2) Tahun lalu sudah pulang lebaran (3) Belum lama ini baru saja pulang untuk menikah (4) Saya sudah mau semester terakhir jadi harus fokus ke akademik. Namun, rencana berubah setelah menikah, ternyata suami punya pertimbangan lain sehingga kami harus mudik. Akhirnya dengan pemilihan maskapai yang agak maksa karena suami harus memanfaatkan tiket lama yang gagal dipakai, kami pulang seminggu sebelum lebaran, bertepatan dengan weekend pertama liburan obon di Jepang. Meskipun lebih enak kalo bisa lama di kampung setelah lebaran, gimana pun udah bersyukur lah dapat liburan pas moment lebaran. Jadi, suami cuma perlu cuti tiga hari setelah hari-H lebaran. Saya sendiri nggak perlu bolos karena liburan summer masih panjang sampai minggu ketiga September :grin:.
(more…)

Ramah dari Hongkong

Pagi ini, untuk ke sekian kalinya saya harus mengelus dada karena mendapat pelayanan yang buruk sekali dari seorang staf toko. Sebagai seorang calon pelanggan yang belum pernah menggunakan jasa perusahaan terkait, saya ingin tahu prosedur pemesanan dan spesifikasi produknya. Hal-hal semacam itu, kalau di Jepang, tinggal mengetikkan nama perusahaan di jendela Google.. jreng! muncul deh semua informasi yang pelanggan butuhkan :smile:. Berhubung tidak menemukan website-nya, saya telepon langsung ke nomor tokonya.

Setelah menyampaikan maksud, saya menanyakan beberapa hal yang menurut saya wajar, misalnya apa yang harus dikirim, durasi pengerjaan, dan rentang harga. Si staf yang menerima telepon menjawab dengan tidak memuaskan, semuanya serba tidak tahu dan saya disuruh datang langsung -_- padahal saya kan telepon karena belum bisa datang dan kalau pun datang harus bawa dokumen-dokumen yang perlu disiapkan sesuai format mereka. Belum sempat saya menyelesaikan kalimat untuk pertanyaan lainnya, si staf berkata dengan nada ketus bahwa orang yang tahu tentang jawaban pertanyaan saya sedang tidak ada daaan.. teleponnya ditutup gitu aja dong! Menyedihkan.. tiba-tiba saya jadi malas bertransaksi di perusahaan tersebut. Gitu ya cara melayani calon pelanggan yang bisa jadi bagian dari pemasukan dia?
(more…)