Amal Plus-Plus di Bulan Ramadan

waktu SD, tiap tahun disuruh mengisi buku kegiatan Ramadan seperti ini 😀

Bulan Ramadan adalah saat mencari SALE sebanyak-banyaknya. SALE di sini maksudnya bukan yang biasa diburu para wanita atau yang dibuat dari pisang #salepisang, melainkan obral pahala dan berkah dari Allah. Nah, biasanya dalam rangka me-NYALE ini, ada yang bikin tabel buat dicontreng-contreng (kaya zaman saya SD dulu :grin:), ada yang bikin target amalan yaumiyah spesial (beda dari hari-hari biasanya), atau langsung saja dikerjakan tanpa rencana. Apa pun makanannya caranya, minumannya teh botol intinya sih sama: semua orang berusaha biar jadi lebih banyak amalnya.

Well, mungkin ini udah agak terlambat, tapi saya mau share contoh daftar amalan yang bisa dikerjakan untuk mengisi hari-hari Ramadan. Versi simpel nih.. hanya hasil modify and compile dari sumber-sumber berikut:
1.  Jadwal Pengisian Ibadah Ramadhan (blog Gesa Falugon)
2. 10 Pohon Ramadhan (artikel Dakwatuna)
Kalo pengen lihat versi lengkap serta dalilnya, langsung aja ke lapak di atas :smile:. Daftar ini bisa juga dilanjutkan setelah Ramadan, tapi porsi dan durasinya disesuaikan.

Ohya, saya pakai kata “amal” di judul untuk mencakup dua makna sekaligus. Menurut KBBI, amal adalah perbuatan baik yang mendatangkan pahala, sedangkan jika ditambah kata “ibadah” maka akan mengacu pada perbuatan yang merupakan pengabdian kepada Allah, seperti shalat dan zakat.

(more…)

Ngomong-ngomong soal Ateis

Buat yang terpanggil dengan judulnya, jangan berprasangka dulu ya sebelum baca sampai selesai :smile:. Saya cuma pengen berbagi tentang kata hati aja di sini. Sebagaimana bernapas yang kita lakukan terus-menerus secara spontan (tidak direncanakan sebelumnya), aktivitas berpikir, bertanya, dan merenungkan sesuatu adalah hal yang lumrah kita lewati kapan saja, di mana saja, dan dalam keadaan apa saja. Kadang-kadang, jika “sesuatu” itu telah mengusik kita berkali-kali, kita ingin mencurahkannya kepada yang lain, entah benda atau orang. Di situlah posisi saya dan sesuatu itu bernama ateisme.

Ateis itu.. label untuk orang-orang yang konon tidak percaya Tuhan. Bisa juga tidak mengakui Tuhan. Tuhan itu sendiri yang mana definisinya bagi mereka, saya juga kurang tahu. Mungkin pencipta alam semesta. Mungkin Tuhannya orang Islam. Mungkin matahari, roh leluhur, gunung, dll. yang dipercaya sebagai jelmaan dewa-dewa oleh penganut politeisme. Entahlah.. tapi di mata saya ateis itu tetap punya Tuhan, yakni sesuatu yang disembah, diagung-agungkan, dan menjadi sandaran mereka dalam menjalani hidup. Tiap ateis mungkin punya definisi berbeda-beda atas keyakinannya. Well, kita sebut saja misalnya science a.k.a. ilmu pengetahuan. Soalnya kan kayanya semua yang ada di jagat raya ini bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan dalam kamus orang ateis. Is it true, guys-who-declare-as-atheists?
(more…)

When God Pushes “Turn Off” Button

Yesterday I got two obituaries. It shocked me enough!

Memang sih, kematian itu datangnya tiba-tiba, tanpa pandang usia dan keadaan.
Memang sih, hanya Allah yang berhak menentukan dan mengetahui umur hamba-Nya.
Memang sih, tidak ada yang tahu sampai kapan dirinya sendiri bisa bernafas di dunia.
Memang sih, kita harus mencukupkan bekal untuk itu secepatnya karena sisa waktu mengumpulkan bekal tidak bisa diestimasi.
Semuanya terdengar klise, ah siapa sih yang nggak tahu.. tapi mungkin kita nggak selalu ingat kecuali ada saat-saat yang menyentil kita, lalu membuat kita merenungi kenyataan itu lagi.

Bagi diri saya sendiri, berita kematian adalah salah satu momen sentilan tadi. Hanya saja, ada rasa yang berbeda ketika yang meninggal masih muda. Deg! Miris rasanya, apalagi kalo melihat jejak-jejak terakhir mereka di dunia maya seperti Facebook, Twitter, blog, dan sebagainya masih ada, makin miris :cry:. Ya Allah, bahkan kita nggak berhak sedikit pun bilang “saya orang penting kok, masih harus berkontribusi banyak ke masyarakat, nggak mungkin mati cepet, karena dunia masih butuh saya”, uh yeah.. hello, siape eluuu?.
(more…)

[Repost] Keajaiban-keajaiban dalam Perang di Palestina

Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati. (Q. S. Ali Imron: 13)

Masih ingat tentang kisah keajaiban Perang Badar? saat itu pasukan kaum muslimin yang dipimpin oleh Rasulullah SAW hanya berjumlah sekitar 300 orang, sedangkan kaum kafir ada 1000 orang, tetapi dengan kuasa-Nya, perang dimenangkan oleh kaum muslimin. Begitu pun yang terjadi di Palestina, jika Allah menghendaki, Dia hanya perlu berfirman “Jadilah” untuk menundukkan Israel. Tulisan ini saya kutip dari Notes seorang teman di FB. Teguhkan hati Anda untuk membaca dan temukan keajaiban didalamnya 🙂

Notes ini cukup panjang, tapi coba baca dengan seksama sampai akhir deh, insya Allah sangat menggetarkan..
—————————————————————————————————————————

Gaza, itulah nama hamparan tanah yang luasnya tidak lebih dari 360 km persegi. Berada di Palestina Selatan, “potongan” itu “terjepit” di antara tanah yang dikuasai penjajah Zionis Israel, Mesir, dan laut Mediterania, serta dikepung dengan tembok di sepanjang daratannya. Sudah lama Israel “bernafsu” menguasai wilayah ini. Namun, jangankan menguasai, untuk bisa masuk ke dalamnya saja Israel tidak mampu.

Sudah banyak cara yang mereka lakukan untuk menundukkan kota kecil ini. Blokade rapat yang membuat rakyat Gaza kesulitan memperoleh bahan makanan, obat-obatan, dan energi, telah dilakukan sejak 2006 hingga kini. Namun, penduduk Gaza tetap bertahan, bahkan perlawanan Gaza atas penjajahan Zionis semakin menguat.

Akhirnya Israel melakukan serangan “habis-habisan” ke wilayah ini sejak 27 Desember 2008 hingga 18 Januari 2009. Mereka ”mengguyurkan” ratusan ton bom dan mengerahkan semua kekuatan hingga pasukan cadangannya.

Namun, sekali lagi, negara yang tergolong memiliki militer terkuat di dunia ini harus mundur dari Gaza.

Di atas kertas, kemampuan senjata AK 47, roket anti tank RPG, ranjau, serta beberapa jenis roket buatan lokal yang biasa dipakai para mujahidin Palestina, tidak akan mampu menghadapi pasukan Israel yang didukung tank Merkava yang dikenal terhebat di dunia. Apalagi menghadapi pesawat tempur canggih F-16, heli tempur Apache, serta ribuan ton “bom canggih” buatan Amerika Serikat.

Akan tetapi di sana ada “kekuatan lain” yang membuat para mujahidin mampu membuat “kaum penjajah” itu hengkang dari Gaza dengan muka tertunduk, walau hanya dengan berbekal senjata-senjata “kuno”.
(more…)

We Will Not Go Down, Mrs. Kaprodi

(more…)

Jilbab Pertamaku

Dengan dalih menghabiskan voucher GPRS saya malam ini dan nafsu menulis yang sudah sangat menggebu, saya minta maaf pada pihak yang seharusnya melakukan inisialisasi menulis topik ini terlebih dahulu (baca: sahabat saya yang ini). Harusnya saya yang di-tag… tapi apa boleh buat, kesempatan menulis itu rupanya datang lebih cepat. Hehe.

Yoi, dari judulnya saja Anda sudah bisa menebak… tulisan tentang “Jilbab Pertama” ini adalah thread baru postingan berantai yang belakangan marak di kalangan blogger semacam ini, ini dan ini. Pasti nih gara-gara demam Facebook yang andalannya memasang tag di foto teman :razz:. Hm, baiklah, karena kedepannya cerita “Jilbab Pertama” ini akan ‘ditularkan’ ke banyak orang dan akan menjadi milik banyak muslimah, saya sebutkan saja aturan singkatnya:

Siapa pun Anda, yang mendapat tag “Jilbab Pertama”, WAJIB menulis di blog, situs pribadi, social network, atau layanan dunia maya apa pun yang diikutinya (salah satu aja) tentang:
1. Pengalaman pertama memakai jilbab
2. Latar belakang atau sejarah berjilbab
3. Proses berjilbab (bagaimana kemudian bisa konsisten, dsb)
4. Perasaan setelah konsisten berjilbab
5. dan lain-lain deh, tentang jilbab Anda pokoknya
Semoga kisah-kisah itu nantinya bisa jadi pengingat buat diri kita sendiri dan inspirasi buat orang lain 🙂

Saya mulai dengan cerita saya ya…

jilbab-pertama-ega

aslinya : foto di kartu pelajar SMA (diambil di hari pertama pake jilbab)

Sejujurnya, dulu tidak pernah terbayang di benak saya bahwa saya akan berjilbab sebelum menikah. Iya, maunya ntar aja setelah jadi ibu-ibu makenya :grin:. Waktu usia SMP, saya sentimen melihat saudara-saudara sepupu saya yang tadinya nggak berjilbab kemudian berjilbab ketika sudah dewasa. Rata-rata pada pake sekitar SMA gitu. Di mata saya, mereka kaya orang yang terpaksa gitu makenya karena ‘tuntutan’ keluarga. Parahnya, saya masih ingat pernyataan frontal saya kepada Mom,

“Bu, jangan paksa aku pake jilbab ya, nanti kalo aku udah gede aku nggak mau pake jilbab kaya mbak-mbak di keluarga kita pokoknya”

Begitulah, masa SMP saya bergulir cepat dan banyak dihabiskan dengan main-main, jalan-jalan, ngeceng-ngeceng, hura-hura, pesta pora (eh, nggak ding yang satu itu…). Track record saya bahkan sebagai personil grup band cewek aliran punk macam Avril Lavigne dan field commander marching band sekolah yang harus pake rok super pendek di atas lutut. Dalam pemikiran saya saat itu, jilbab hanya sekedar “anjuran” saja yang “kalo lu make, lebih baik daripada lu nggak make”, asal pakaian kita sopan aja nggak masalah. Saya nggak tahu sama sekali bagaimana hukum memakai jilbab. Keluarga saya, terutama nenek dan ibu, walaupun alhamdulillah mereka cukup kental dengan nilai reliji, malah nggak pernah tuh menjelaskan ke saya tentang jilbab dan tetek bengeknya. Sampai pada akhirnya hidayah itu (kalo boleh dibilang begitu) datang…

(more…)

Ulang.Tahun.

Hari ini, saking banyaknya teman saya yang berulang tahun, saya sampai pasang status di YM begini:

Met ultah: Fatima, Wisnu, Rian, Fabul, Mail, Rama, Vinta…harusnya hari ini kenyang ;P

Seru ya mengetahui ada banyak orang yang dilahirkan bersamaan dengan hari lahirnya kita ke dunia. Apalagi kalau mereka itu teman-teman kita sendiri. Saya juga punya tuh seorang sahabat laki-laki yang lahir bareng saya (kami cuma beda delapan jam) dan dulu waktu kami masih satu sekolah, di SMP, pasti dikerjain bareng. Biasa lah, anak SMP kan masih cupu-cupu gitu, jadi ketika ada yang ulang tahun, default-nya orang yang ulang tahun itu pasti bakal disiram ramai-ramai, dibedakin pakai tepung ramai-ramai, kepalanya dilempari telur mentah, dan perlakuan-perlakuan ‘tidak senonoh’ lainnya. Kalau sekarang saya masih menemukan beberapa teman mahasiswa yang masih bertingkah laku seperti itu, yeah…mungkin saja mereka belum berhasil terdidik dengan baik. Karena katanya sih, salah satu fungsi mengikuti pendidikan adalah untuk mengubah pola pikir yang kekanak-kanakan menjadi dewasa. Nah, menurut saya, ritual-ritual ngerjain orang seperti nyeburin orang yang ulang tahun ke kolam Indonesia tenggelam (uupss..sori buat yang merasa tersinggung dan tersungging ;P) adalah ciri sikap yang sama sekali tidak dewasa. Dengar itu, hai kalian yang pernah melakukannya! Hehehe…peace,dab!

Ulang tahun seharusnya menjadi moment yang tepat untuk mengintrospeksi diri atau istilah kerennya dalam Islam: bermuhasabah. Jika diibaratkan dengan perjalanan seorang pengembara, suatu saat pengembara itu butuh berhenti sejenak untuk melepas lelah, men-charge energinya dengan makan dan minum, melihat lagi peta perjalanannya demi memastikan benar tidaknya jalan yang ia tempuh, dan kemudian menyusun rencana perjalanan berikutnya. So do us. Kita, manusia-manusia berakal ini, laksana pengembara yang menempuh perjalanan panjang untuk mencapai kampung akhirat. Dalam perjalanan tersebut, terkadang kita perlu ‘berhenti sejenak’, memastikan bahwa jalan yang telah dan akan kita lalui adalah jalan yang benar. Tempat perhentian itu dapat bermacam-macam, tergantung kita mau ‘turun’ di mana (hlo, kok jadi kaya busway >,<), bisa saja pada saat moment tahun baru, hari raya, tahun baru (lagi! kan ada banyak tuh…tahun baru Masehi, tahun baru hijriyah, tahun baru Jawa ;D), salah satunya adalah di hari ulang tahun.

(more…)