International Symposium on Food Halalness

On 8 May, I attended the first “International Symposium on Food Halalness” in Ookayama campus of Tokyo Institute of Technology. I was informed about this event from mailing list of PMIJ, an Indonesian Muslim brotherhood in Japan. With a little doubt that such event would be held in a country called Japan, I registered my name. The show turned out to be more exciting than I had expected so that force me to stay seated for the entire presentations in almost five hours :smile:. Here, I wrote short review about what was presented by speakers based on my own perception.

Let us always support (and pray) for “Japan goes to halal-certified industries” 😎

Hadirnya simposium ini di tengah-tengah masyarakat Jepang sekuler menjadi event yang luar biasa. Pematerinya pun tidak kalah luar biasa, yaitu mulai dari researcher sampai profesor, bahkan beberapa diantaranya memegang peranan kunci institusi seperti:

Peserta simposium sendiri mayoritas adalah business men dengan setelah jas yang mungkin motivasinya cuma keywords semacam market, prospect, muslim consumers, trading, profit, dan sebagainya :eek:. Hal ini dibenarkan teman saya yang tak lama sebelumnya mengunjungi festival halal foods di Fukuoka. Katanya, “Memang kebanyakan yang kudengar dari yang jualan lebih memandang gimana pangsa pasarnya. Ya bagus sih daripada malah nggak ada (event semacam ini maksudnya). Semoga kedepannya makin ketahuan kebaikan dan kemudahan produk-produk halal di mana-mana”. Saya pun berharap mudah-mudahan dengan diulangnya ayat-ayat Alquran, prinsip hidup Islami, afiliasi muslim terhadap agamanya, dan ‘sisipan’ sejenisnya oleh para pembicara bisa sedikit membuka hati mereka untuk menerima keberadaan alien-alien* ini di negerinya :razz:, serta memancing minat mereka terhadap Islam.

(more…)

Japan and Scrapbooking

[Tulisan ini disarikan dari status Facebook saya tanggal 18 Maret 2013 lalu]

Salah satu budaya Jepang yang saya suka adalah kebiasaan membuat scrapbook atau album foto yang didekorasi sedemikian rupa dengan pernak-pernik dari guntingan kertas, stiker, atau teks dari spidol, lem glitter, polpen warna, terus juga biasanya selotip bermotif macam-macam. Scrapbook itu sering mereka jadikan hadiah ke orang yang baru melewati moment penting, misalnya ulang tahun, pernikahan, kelahiran anak, atau lulus sekolah/kuliah.

japan and scrapbook 1

Scrapbook yang saya dapat dari teman-teman satu lab sebagai kenang-kenangan sudah lulus kuliah master. Meskipun jarang gaul dan tidak punya banyak foto bersama mereka, ternyata saya tetap dapat “jatah” dan mereka berhasil memasang foto-foto saya. Alhamdulillah 😀

(more…)

Autumn Trip to Hokkaido

Konnichiwa! Hisashiburi ne, minna-san 🙂 *

Di hari terakhir bulan kedua tahun ini, Yokohama tiba-tiba menghangat sampai di atas 20oC (menurut jam di atas rak buku saya :razz:), padahal kemarin-kemarin masih diselimuti hawa dingin yang menusuk tulang, termasuk meskipun di dalam ruangan. Mungkinkah pertanda musim semi sudah di depan mata? Mungkin aja sih soalnya beberapa teman udah upload foto-foto dengan bunga ume atau sakura di FB. Yang jelas, saya merasa cepat sekali waktu berlari, padahal belum juga saya menelurkan satu tulisan baru di bulan ini (penting banget) :grin:.

Oke, langsung aja ya.. ada alasan kenapa saya tiba-tiba membawa cerita kadaluarsa ke sini. Selain alasan ‘telur’ di atas tentunya. Bukan typo kalo saya nulis “autumn” karena emang cerita ini adalah semacam review perjalanan saya tahun lalu, saat musim gugur, ke Hokkaido, pulau paling utaranya Jepang. Ada dua trip lain yang sudah berlalu dan beberapa trip lagi yang insyaallah akan saya lewati tahun ini, jadi menunda dokumentasi trips yang lalu hanya akan menambah tumpukan PR dan beban otak yang harus kerja keras buat memory mining. Hehehe..

First of all

Catatan perjalanan itu penting, lho, pemirsa, karena suatu saat Anda atau orang lain akan membutuhkannya sebagai referensi. Contohnya aja semalam saya dan suami jadi main tebak-tebakan saat harus mengingat “Dulu pas ke Hokkaido, kita sampai bandara jam berapa ya?” karena satu dan lain hal (halah, template abis). Alhasil, kami berdua nggak ada yang ingat pasti meskipun udah cari clue dari foto sebelum naik kereta ke agen bus bandara. Nah, walaupun kelihatannya narsis banget di stasiun aja foto-foto, ternyata foto itu penting kan dalam menyusun kronologi cerita, wkwkwk :mrgreen:. However, tetap yang paling penting dan harus disiapkan jauh sebelum trip itu ada dua: (1) niat (2) itinerary (rencana perjalanan).

Contoh "niat" - karena pengen ke Hokkaido, saya beli buku panduan ini di tahun sebelumnya dan memasukkan "pergi ke Hokkaido" ke dalam daftar Harapan 2012 :grin:

Contoh “niat” – karena pengen ke Hokkaido, saya beli buku panduan ini di tahun sebelumnya dan memasukkan “pergi ke Hokkaido” ke dalam daftar Harapan 2012, terus berdoa ke Allah 😀

(more…)

Ongaeshi (Lanjutan Cerita “Jepang dan Traktiran”)

Masih ingat nggak sama cerita saya tentang budaya traktir-mentraktir yang tidak lazim bagi orang Jepang di tulisan ini?
Di situ intinya saya ‘mengilhami’ agar Anda jangan gampang GR kalo diundang acara sama orang Jepang karena belum tentu dikasih makan gratis :razz:. Nah, ternyata saya lupa menyinggung tentang ongaeshi, padahal justru budaya satu ini punya kaitan yang erat dengan perkara treating tersebut, atau giving juga bisa.

Ongaeshi kalo tidak salah artinya adalah balas budi. Dalam budaya orang Jepang, balas budi ini penting sekali dan sering disebut-sebut. Mereka akan malu kalo tidak bisa memberi ongaeshi dari kebaikan orang yang pernah membantu atau memberinya sesuatu. Oleh karena itu, mereka sangat berhati-hati juga dalam menerima pemberian orang lain. Mungkin takut kalo tidak bisa membalasnya dan tidak enak hati. Sebaliknya pun begitu. Mereka menempatkan orang lain seperti dirinya sehingga berhati-hati sekali dalam memberi. Pasti karena takut membebani si penerima. Gimana kalo nanti penerima merasa nggak enak? gimana kalo penerima ekonominya sulit? gimana kalo penerima bunuh diri saking malunya nggak bisa balas? wkwkwk, yang terakhir lebai. Yaa, gitu deh kayanya yang dipikirkan. Jadi, wajar aja kalo urusan mentraktir atau ditraktir itu “aneh” bagi orang Jepang.
(more…)

Jepang dan Traktiran

Sabtu lalu saya memenuhi undangan nonton hanabi (sebutan untuk “kembang api” atau fireworks di Jepang, biasanya saat musim panas) dari yayasan beasiswa yang membiayai kuliah saya. Undangan tersebut sudah dikirim jauh-jauh hari sebelumnya dan saya pun sudah menunggu-nunggu karena tahun lalu nggak bisa ikut berhubung udah pulang kampung. Waktu dapat undangan, saya langsung ngeh itu acara apa dan langsung forward gitu aja ke suami, ngajak dia datang, sekaligus sudah membayangkan kalo di lokasi bakal disambut, duduk di kursi jejer-jejer sama tamu undangan lain, dan disuguhi makan malam!

Akhirnya, tibalah hari-H. Kok ya secara kebetulan paginya saya bangun kesiangan, jam 4, jadi suami nggak sahur :cry:.. sebenarnya saya lagi nggak puasa, tapi karena nggak tega makan dan minum di depan suami, saya seperti ikut puasa. Kami pun menghibur diri, ah.. nanti malam kan bisa makan besar di tempat hanabi. Siangnya, saya sibuk bikin kue untuk buka bersama muslim Indonesia di dekat kedubes besoknya dan dengan pedenya sengaja nggak masak untuk malamnya. Jam 5 sore kami berangkat, sedangkan hanabi-nya mulai pukul 19.00. Kereta-kereta di jalur-jalur menuju lokasi padat sekali. Sepertinya banyak juga yang mau ke Sumidagawa, lokasi hanabi, buktinya kami ketemu banyak cewek atau cowok pakai yukata (nonton hanabi memang identik dengan pakai kimono musim panas ini).  (more…)

What Aliens Do in Japan?

As a foreigner who’s going through journey of years life in abroad, I like to observe the other nations’ activities and then deduce an arbitrary cluster :grin:. If you meet with foreigners from other countries, don’t forget to ask their occupation in the country concerned. Some of you may think it’s too private to ask in the first contact, but consider the following reasons :eek:.

* Knowing our nation’s position and role of our existence in abroad for our country
For example, I got into conclusion that Indonesian people are still in lower-middle class in Japan either by structural position, economy, or influence to society, and I am a part of them :lol:. What’s about role? hmm, simply think adopting Japanese positive values and spreading it to society in my country.

* Opening opportunity to make cooperation with them
I feel that foreigner has the broader segment to chain, namely foreigner and native. Take this benefit to enlarge our network! When I was being a native, there were few chances to have affair with foreigners. Having interaction was even rare. Unless our school has well-known international program, we take language course, we join culture-lover club, etc. However, as my status turned into “foreigner”, I have more close-relations with other foreigners rather than natives, moreover my local language is bad :mrgreen:. An advice, if we want to make deal, besides skill area, consider the specific characteristics of each nation.

(more…)

Mensyukuri Makanan

Suatu hari Rasulullah SAW mengajak Khalid bin Walid ke rumah istrinya yang juga merupakan bibi sahabatnya itu, Maimunah ra. Maimunah menjamu mereka makan dengan lauk daging dhab (sejenis biawak). Melihat makanan terhidang didepannya, Rasulullah segera mengulurkan tangannya ke meja, siap untuk menjamah makanan yang ada. Pada waktu bersamaan, seorang wanita dari balik bilik mengatakan kepada Maimunah agar memberitahukan kepada Rasulullah tentang daging tersebut. Setelah Maimunah menjelaskan bahwa itu daging dhab, Rasulullah serta-merta menarik tangannya kembali. Melihat hal tersebut, Khalid bertanya, “Apakah daging ini haram?”, kemudian beliau menjawab, “Tidak. Hanya saja, daging ini tidak terdapat di antara kaumku, jadi aku tidak berselera memakannya”.

Kisah di atas saya dengar dari radiopengajian.com siang ini. Rasulullah SAW berkata demikian agar tidak menyakiti hati istrinya yang sudah memasak makanan tersebut. Konon, beliau dikenal tidak pernah menghina makanan. Jika ada makanan yang disukainya, beliau memakannya. Sebaliknya jika ada makanan yang tidak disukainya, beliau meninggalkannya. Kalau pun berkomentar, beliau selalu menyampaikannya dengan santun seperti contoh kisah tadi.
(more…)