Empat Bulan Kemudian

Empat bulan sudah saya kembali ke tanah air. Selama merantau ke negeri seberang, belum pernah saya pulang selama ini. Kepulangan kali ini pun nggak nyangka bakal selama sekarang karena saya dan suami masih ingin berpetualang di luar negeri, jadi belum akan menetap seterusnya. Niat kembali dan menetap atau yang biasa diistilahkan back for good sih udah ada, tapi ada beberapa ketentuan dan syarat yang musti tercapai sebelum mewujudkannya. We wish it would happen at the right time. Hehe.. by the way, ternyata beda ya sensasinya kalo udah pernah mencicipi kehidupan di negara lain,  lalu kembali ke negeri sendiri.

Situasi yang sebenarnya dari dulu sama alias memang begitu, bisa saya sikapi lain antara sebelum dan seusai merantau.

Dalam kasus saya, kebetulan karena “dikirimnya” ke negara yang ekstrim bedanya dari Indonesia, mulai mental masyarakatnya hingga kekuatan teknologinya, saya rasanya jadi banyak ‘menuntut lebih’, misalnya pengennya semua orang itu tertib dan taat aturan kaya di negeri rantau. Padahal toh, dulu juga udah tahu kalo masyarakat kita ini susah diatur, aturan dibuat sebagai formalitas, dan bahkan saya sendiri suka cuek break the rule, tapi sekarang… sungguh hati nuraniku sulit, bahkan cenderung nggak bisa menerima itu semua (baca: berontak) mad. Makanya saya sadar kalo sekarang sering ‘mengusik ketenangan’ orang karena saya berani ngapa-ngapain kalo sikap orang itu nggak proper. Beresiko emang, apalagi baca artikel Jakarta makin nggak aman itu, tapi mau gimana lagi? Doa aja dah yang dikencengin.. dan berharap sedikit sentilan saya mereka renungkan kemudian. (more…)

Autumn Trip to Hokkaido

Konnichiwa! Hisashiburi ne, minna-san 🙂 *

Di hari terakhir bulan kedua tahun ini, Yokohama tiba-tiba menghangat sampai di atas 20oC (menurut jam di atas rak buku saya :razz:), padahal kemarin-kemarin masih diselimuti hawa dingin yang menusuk tulang, termasuk meskipun di dalam ruangan. Mungkinkah pertanda musim semi sudah di depan mata? Mungkin aja sih soalnya beberapa teman udah upload foto-foto dengan bunga ume atau sakura di FB. Yang jelas, saya merasa cepat sekali waktu berlari, padahal belum juga saya menelurkan satu tulisan baru di bulan ini (penting banget) :grin:.

Oke, langsung aja ya.. ada alasan kenapa saya tiba-tiba membawa cerita kadaluarsa ke sini. Selain alasan ‘telur’ di atas tentunya. Bukan typo kalo saya nulis “autumn” karena emang cerita ini adalah semacam review perjalanan saya tahun lalu, saat musim gugur, ke Hokkaido, pulau paling utaranya Jepang. Ada dua trip lain yang sudah berlalu dan beberapa trip lagi yang insyaallah akan saya lewati tahun ini, jadi menunda dokumentasi trips yang lalu hanya akan menambah tumpukan PR dan beban otak yang harus kerja keras buat memory mining. Hehehe..

First of all

Catatan perjalanan itu penting, lho, pemirsa, karena suatu saat Anda atau orang lain akan membutuhkannya sebagai referensi. Contohnya aja semalam saya dan suami jadi main tebak-tebakan saat harus mengingat “Dulu pas ke Hokkaido, kita sampai bandara jam berapa ya?” karena satu dan lain hal (halah, template abis). Alhasil, kami berdua nggak ada yang ingat pasti meskipun udah cari clue dari foto sebelum naik kereta ke agen bus bandara. Nah, walaupun kelihatannya narsis banget di stasiun aja foto-foto, ternyata foto itu penting kan dalam menyusun kronologi cerita, wkwkwk :mrgreen:. However, tetap yang paling penting dan harus disiapkan jauh sebelum trip itu ada dua: (1) niat (2) itinerary (rencana perjalanan).

Contoh "niat" - karena pengen ke Hokkaido, saya beli buku panduan ini di tahun sebelumnya dan memasukkan "pergi ke Hokkaido" ke dalam daftar Harapan 2012 :grin:

Contoh “niat” – karena pengen ke Hokkaido, saya beli buku panduan ini di tahun sebelumnya dan memasukkan “pergi ke Hokkaido” ke dalam daftar Harapan 2012, terus berdoa ke Allah 😀

(more…)

My Story about “Bento to Office”

Mungkin sebagian udah pada ngerti bahwa tinggal di negeri orang, apalagi yang mayoritasnya bukan muslim, misalnya Jepang, memaksa ibu-ibu untuk mau, bisa, dan pintar memasak. Oya, sebenarnya “ibu-ibu” dalam hal ini hanya mewakili saja..yang menjalani sih bisa siapa saja, apa pun status visanya saat ini. Oke, kenapa saya nulisnya harus pake tiga kata? karena masing-masing menunjukkan levelnya :razz:.

“Gue sekarang masak, Gan!”

Mau itu keharusan. Kalo nggak, mau makan apa? Hal ini terkait dua hal, yaitu harga makanan yang mahal (kalo masak bisa hemat 50%) dan perhatian terhadap halal-haram makanan. Dulu, saat ngekos zaman SMA dan kuliah, untuk makan tinggal beli lauk di warung asal dipercaya kehalalannya, beli yang instan di toko asal ada label halalnya, atau makan di luar. Gampang! Saya hampir nggak pernah masak, bahkan saat pulang kampung pun, kalo nggak karena pembantu bolos dan disuruh bantu Mom, mana pernah saya iseng masak di rumah? Nggak ada kemauan sih.. yang namanya orang kan beda-beda minatnya *ngeles*. Makanya, nggak heran kalo Papa sampe mudik kemarin nggak percaya kalo foto-foto masakan yang saya upload di FB itu hasil karya anaknya -_-” Yang kedua, bisa memasak mau tak mau akhirnya juga jadi keharusan! Artinya harus bisa memasak makanan yang edible alias bisa dimakan, misalnya nggak gosong. Alhamdulillah, ada hikmahnya rumah di sini kecil-kecil, jadi nggak akan kejadian masakan gosong karena ditinggal lama. Gosong yang pernah saya alami disebabkan pengaturan api salah. Yang terakhir, yaitu pintar. Nah, ini jadi tantangan tersendiri begitu udah punya ‘customer’ di rumah, tapi justru jalan menuju pintar menjadi lebih pendek sebab kita dituntut untuk sering berlatih :mrgreen:. Dari pengalaman pribadi, ternyata tantangan ini nggak cuma dari segi rasa, tapi juga sepaket dengan penampilan. Maksudnya, kalo dari rupa aja udah nggak menarik, biasanya sih yang ‘laku’ cuma dikit :grin:. Begitulah.. jadi harus berjuang biar dapat dua-duanya. Rasa enak, penampilan pun menarik. Untuk level terakhir ini, saya sendiri belum yakin sudah mencapainya, tapi saya keep believing aja asal konsisten ngejalanin level sebelumnya, yaitu mau dan bisa, lama-lama juga sampai di level ini.

(more…)

Ongaeshi (Lanjutan Cerita “Jepang dan Traktiran”)

Masih ingat nggak sama cerita saya tentang budaya traktir-mentraktir yang tidak lazim bagi orang Jepang di tulisan ini?
Di situ intinya saya ‘mengilhami’ agar Anda jangan gampang GR kalo diundang acara sama orang Jepang karena belum tentu dikasih makan gratis :razz:. Nah, ternyata saya lupa menyinggung tentang ongaeshi, padahal justru budaya satu ini punya kaitan yang erat dengan perkara treating tersebut, atau giving juga bisa.

Ongaeshi kalo tidak salah artinya adalah balas budi. Dalam budaya orang Jepang, balas budi ini penting sekali dan sering disebut-sebut. Mereka akan malu kalo tidak bisa memberi ongaeshi dari kebaikan orang yang pernah membantu atau memberinya sesuatu. Oleh karena itu, mereka sangat berhati-hati juga dalam menerima pemberian orang lain. Mungkin takut kalo tidak bisa membalasnya dan tidak enak hati. Sebaliknya pun begitu. Mereka menempatkan orang lain seperti dirinya sehingga berhati-hati sekali dalam memberi. Pasti karena takut membebani si penerima. Gimana kalo nanti penerima merasa nggak enak? gimana kalo penerima ekonominya sulit? gimana kalo penerima bunuh diri saking malunya nggak bisa balas? wkwkwk, yang terakhir lebai. Yaa, gitu deh kayanya yang dipikirkan. Jadi, wajar aja kalo urusan mentraktir atau ditraktir itu “aneh” bagi orang Jepang.
(more…)

Jepang dan Traktiran

Sabtu lalu saya memenuhi undangan nonton hanabi (sebutan untuk “kembang api” atau fireworks di Jepang, biasanya saat musim panas) dari yayasan beasiswa yang membiayai kuliah saya. Undangan tersebut sudah dikirim jauh-jauh hari sebelumnya dan saya pun sudah menunggu-nunggu karena tahun lalu nggak bisa ikut berhubung udah pulang kampung. Waktu dapat undangan, saya langsung ngeh itu acara apa dan langsung forward gitu aja ke suami, ngajak dia datang, sekaligus sudah membayangkan kalo di lokasi bakal disambut, duduk di kursi jejer-jejer sama tamu undangan lain, dan disuguhi makan malam!

Akhirnya, tibalah hari-H. Kok ya secara kebetulan paginya saya bangun kesiangan, jam 4, jadi suami nggak sahur :cry:.. sebenarnya saya lagi nggak puasa, tapi karena nggak tega makan dan minum di depan suami, saya seperti ikut puasa. Kami pun menghibur diri, ah.. nanti malam kan bisa makan besar di tempat hanabi. Siangnya, saya sibuk bikin kue untuk buka bersama muslim Indonesia di dekat kedubes besoknya dan dengan pedenya sengaja nggak masak untuk malamnya. Jam 5 sore kami berangkat, sedangkan hanabi-nya mulai pukul 19.00. Kereta-kereta di jalur-jalur menuju lokasi padat sekali. Sepertinya banyak juga yang mau ke Sumidagawa, lokasi hanabi, buktinya kami ketemu banyak cewek atau cowok pakai yukata (nonton hanabi memang identik dengan pakai kimono musim panas ini).  (more…)

Ramah dari Hongkong

Pagi ini, untuk ke sekian kalinya saya harus mengelus dada karena mendapat pelayanan yang buruk sekali dari seorang staf toko. Sebagai seorang calon pelanggan yang belum pernah menggunakan jasa perusahaan terkait, saya ingin tahu prosedur pemesanan dan spesifikasi produknya. Hal-hal semacam itu, kalau di Jepang, tinggal mengetikkan nama perusahaan di jendela Google.. jreng! muncul deh semua informasi yang pelanggan butuhkan :smile:. Berhubung tidak menemukan website-nya, saya telepon langsung ke nomor tokonya.

Setelah menyampaikan maksud, saya menanyakan beberapa hal yang menurut saya wajar, misalnya apa yang harus dikirim, durasi pengerjaan, dan rentang harga. Si staf yang menerima telepon menjawab dengan tidak memuaskan, semuanya serba tidak tahu dan saya disuruh datang langsung -_- padahal saya kan telepon karena belum bisa datang dan kalau pun datang harus bawa dokumen-dokumen yang perlu disiapkan sesuai format mereka. Belum sempat saya menyelesaikan kalimat untuk pertanyaan lainnya, si staf berkata dengan nada ketus bahwa orang yang tahu tentang jawaban pertanyaan saya sedang tidak ada daaan.. teleponnya ditutup gitu aja dong! Menyedihkan.. tiba-tiba saya jadi malas bertransaksi di perusahaan tersebut. Gitu ya cara melayani calon pelanggan yang bisa jadi bagian dari pemasukan dia?
(more…)

Duit Riset

Halo! Di Jepang sudah hari Jumat sekarang. Udah lama saya nggak cerita kehidupan mahasiswa nih.. biar kelihatan kalo emang serius kuliah di sini (hayoo :grin:) eh.. nggak ding, biar gaya aja kaya pak DIS gitu. Kerja ada laporannya. Haha.. Anyway, here I am, in the middle of first and second grade.

Seminggu ini saya agak repot melakukan sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya, yaitu membelanjakan anggaran riset dalam jumlah yang tidak sedikit. Sebagai warga negara dunia ketiga, lebih spesifiknya Indonesia, yang punya alokasi dana untuk riset paling irit sedunia, tentu menghabiskan dana riset bukan pekerjaan yang mudah bagi saya. Belum pengalaman sih. Halah, padahal yo nggak pernah riset kecuali pas skripsi :mrgreen:. Terlebih lagi, mayor saya kan serba virtual gitu (baca: informatika atau gampangnya sebut saja mawar IT) jadi nggak perlu banyak benda fisik. Lain halnya kalo saya ini anak biologi atau tata boga.. waduh, dengan uang segitu saya bisa beli rumah kaca setanaman-tanamannya atau gudang penyimpanan bahan masak. Kyaaa. Karena sementara butuhnya cuma komputer (yang udah ada) dan beberapa software (yang bisa cari gratisan, tapi nggak bajakan), jadinya saya perlu mikir juga biar realistis dan benar-benar kepakai.
(more…)