Ketika Anjing Mengalahkan Manusia

Di tulisan sebelumnya saya memang meng-coming soon-kan cerita gasshuku, tapi tiba-tiba pengen nulis ini :grin:. Perlu kita samakan persepsi bahwa anjing yang dimaksud di sini adalah dalam makna yang sebenarnya, bukan merupakan pisuhan (kata-kata jorok) atau ejekan sebagaimana yang marak terjadi di kalangan anak muda termasuk teman-teman saya #salahgaul.

click on pict for interesting page about dogs in Japan

Tadi sore saya bersepeda keliling kota hendak melihat-lihat keramaian yang ada #salahlagu -> ini yang benar. Saat bersepeda itu, saya seriiing sekali ketemu nihonjin lagi jalan-jalan sore sama anjingnya. Dari balita sampai mbah-mbah sepuh 80++ ada. Dari yang anjingnya kecil lucu sampai besar garang eksis di berbagai penjuru jalan besar, trotoar, jembatan, hingga pantai (kebetulan tempat tinggal saya dekat dengan pesisir). Melihat penampilan dan perlengkapan yang dibawa, sepertinya sih mereka ada yang cuma jalan santai (inu to samposuru), ada yang ngajak anjingnya olahraga, ada juga yang memang pergi dengan keperluan tertentu (misalnya belanja) bersama anjingnya. Apa yang menarik, salah, atau aneh? Tidak ada. Sebenarnya ini adalah fenomena yang sangat lazim saya temui di.. (saya tidak tahu di negara lain) yah setidaknya salah satu negara yang bukan Indonesia: Jepang. Namun, entah mengapa kali ini saya jadi berpikir panjang.. 💡
(more…)

Programmer Loves Programmer

Ngeblog bisa jadi salah satu bentuk refreshing ampuh bagi Anda yang lagi stres dengan banyaknya tugas. Yeah, like I did before 😀
programmers_poetry

Sebelum menulis judul di atas, saya iseng-iseng googling dulu, mencari tulisan dengan topik serupa, mungkin saja ada. Tujuannya sih selain pengen tahu pandangan orang lain, saya juga berharap menemukan hasil dari sebuah penelitian ilmiah yang mungkin (lagi) pernah dilakukan untuk membuktikan hal tersebut. Tapi ternyata nggak ketemu. Hehe. Yang saya temukan kebanyakan malah guyonan-guyonan garing seputar “suami programmer” seperti ini:

Husband(returning late from work): Good evening dear, I’m logged
Wife: Have u brought the groceries?
Husband: Bad Command or file name.
Wife: But I told u in the morning.
Husband: syntax error. Abort?
Wife: what about my new T.V?
Husband: Variable not found..
Wife: At least, give me your credit card; I want to do some shopping.
Husband: sharing violation, access denied.Wife: Do u love me or do u love computers or are u just being funny.
Husband: Too many parameters.
Wife: It was a great mistake that I married an idiot like u.
Husband: Type mismatch.
Wife: U r useless.
Husband: It’s by default.
Wife: Wt about your salary.
Husband: file in use…try later.
Wife: Wt is my value in this family.
Husband: Unknown virus…

Tulisan ini terinspirasi dari fenomena berseminya cinta sesama programmer yang saya lihat makin marak, setidaknya di lingkungan kuliah saya sendiri. Anak informatika jadiannya sama anak informatika juga. Beberapa kakak angkatan saya menikah sesama mereka. Lalu, cerita yang menarik juga adalah dari dosen-dosen kami sendiri, tidak sedikit dari mereka yang memiliki pasangan dengan background di bidang programming. Bahkan dosen Intelejensia Buatan kami yang masing-masing mengajar kelas satu dan kelas dua, keduanya bersuamikan teman seangkatan mereka sendiri semasa kuliah. Lucunya, sang dosen kelas dua konon sering bercerita (di kelas lain) tentang kehidupan rumah tangganya mulai dari kegiatan meng-coding bersama suami sampai ngajarin anaknya ngerjain program aritmatika sederhana. Haha.

Programmer
sering diidentikkan dengan sosok orang anti-sosial yang hampir seluruh waktu bangunnya dihabiskan di depan komputer. Komputer bagi mereka sudah seperti belahan jiwa saja. Tapi, saya kurang yakin dengan asumsi kebanyakan orang juga yang mengatakan bahwa mereka sampai-sampai tidak punya waktu untuk memikirkan wanita (atau pria). Tidak kok. Mungkin fakta yang sebenarnya adalah seorang programmer lebih pemilih dalam hal mencari pasangan. Kira-kira kenapa bisa begitu ya? jawabannya mudah saja: programmer butuh orang yang bisa memahami pekerjaannya. Mereka butuh diperhatikan, butuh dipahami bahwa memang “begini lho kerjaan kita, nangkring di depan layar sambil mencet-mencet keyboard memikirkan algoritma yang bisa buyar seketika alurnya kalo ada interupsi dari dunia luar” 😉

Begitulah.
Tidak heran kalau seorang programmer cenderung tertarik untuk menjalin hubungan dengan seseorang yang mengerti akan dirinya, pekerjaannya, dunianya…Cailah. Wajar kalau programmer maunya sahabat atau pasangannya nyambung ketika diajak berbicara tentang software development, web design, web programming, effective algorithms, intenet, hardware, dan sebagainya. Saya kira itu sifat naluriah setiap orang, bahwa ontologi yang sama akan membuat orang lebih nyaman dalam bergaul karena komunikasinya pun akan lebih nyambung dibandingkan dengan mereka yang berbeda ontologi. Walaupun begitu, sebagian orang justru lebih merasa tertantang jika berkumpul dengan orang-orang dari latar belakang berbeda. Jangan sampai Anda salah persepsi saja, programmer juga manusia kok. Punya rasa dan punya hati yang bisa mencintai lebih dari ia mencintai laptop-nya. Hehehe…

*di tengah kesibukan mengerjakan tugas Pemrograman Internet, Intelejensia Buatan, dan proposal I-Cup 09*