Seperangkat Alat Shalat Dibayar Tunai

Tadi sore, mentoring AAEI kami membahas tentang shalat. Mungkin Anda berpikir “ngapain sih shalat aja dibahas?bukannya udah otomatis ya semua muslim tahu itu wajib dan ngerti cara ngelakuinnya?”. Well, cobalah berkumpul dengan saudara seiman dan membahasnya, pasti tetap akan banyak ketemu hal baru yang menarik untuk dibahas. Kali ini, salah satu topik yang mencuat ke permukaan saat kami membahasnya adalah kebiasaaan memberikan maskawin berupa seperangkat alat sholat dibayar tunai. Lho, what’s wrong?

Begini ceritanya…secara kebetulan semua setuju kalo maskawin macam begitu agak-agak gimanaaa gitu lho, kesannya ngegampangin, nggak spesial, kurang usaha, dan apa ya? oh iya, kata istri saudara saya juga berat pertanggungjawabannya. Bukan soal matre ya, sumpah bukan…tapi soal esensi mahar itu sendiri. Asal tahu saja, Rasulullah itu maharnya ke Khadijah adalah 100 ekor unta, padahal zaman dulu harga seekornya sekitar 10 juta, jadi hampir 1 M dong! Nah lho…maksimal banget kan? emang harus maksimal… dan ternyata sudah ada yang membahasnya di sini. Saya salin deh sebagian isinya…

Pertanyaan

Saya ingin menanyakan perihal seperangkat alat sholat dan Al-Qur’an yang dijadikan sebagai maskawin saat pelaksanaan akad nikah. Ada yang mengatakan bahwa jika seperangkat alat sholat dan Al-Qur’an dijadikan maskawin bisa memberatkan bagi si suami dan si istri jika kedua alat tersebut tidak diamalkan.. bisa dikatakan keduanya akan berdosa sehingga jika kedua mempelai merasa berat, jangan menjadikan kedua alat tersebut sebagai maskawin. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa hal tersebut hanya sekedar simbol, dan bisa diamalkan kapan saja. Pertanyaan saya:Bagaimana jika salah satunya tidak diamalkan, contohnya Al-Qur’an tersebut baru dibaca/diamalkan setelah 5 tahun perkawinan, yang mana sebelumnya Al-Qur’an tersebut hanya sebagai penghias lemari buku. Bagaimana dengan dosa yang ditanggung oleh si suami dan si istri apakah selama Al-Qur’an tersebut tidak diamalkan mereka sudah menanggung dosa?

Kiranya itu saja yang ingin saya tanyakan. Atas perhatian dan jawaban Bapak Ustadz saya ucapkan terima kasih. (Mery Sukanto)

(more…)

Laskar Pelangi The Movie: Mahar, I’m in Love!

Keturutan juga akhirnya nafsu saya untuk menyaksikan hasil kerja keras kru Laskar Pelangi The Movie di mahakarya mereka tahun ini (cailah, mahakaryaaa…). Saya bilang ‘tahun ini’ karena di salah satu surat kabar kepercayaan keluarga saya, Mira Lesmana dkk. segera menggarap sekuel selanjutnya dari tetralogi LP, Sang Pemimpi, ya prediksi saya sih tahun depan udah rilis. Walaupun harus nonton sambil teruhuk-uhuk dan terhacing-hacing, saya seratus persen menikmati film ini.

Puas.

Itu kesan pertama saya setelah nonton film ini. Rasa kecewa yang sering saya rasakan tiap kali nonton film adaptasi dari suatu novel nggak saya dapat kali ini. Memang ada beberapa perbedaan antara film dan novel yang sempat bikin saya mengernyitkan dahi, tapi semua itu terbayar dengan keelokan-keelokan lainnya. Dari segi cerita sih, nggak usah dibahas lagi lah ya…luar biasa menginspirasi. Cuma dari segi yang lain itu loh…subhanallah, berkualitas banget lah untuk ukuran film Indonesia. Mulai dari setting tempatnya, skenarionya, pengambilan gambarnya, backsound-nya, soundtrack-nya, propertinya, pemainnya…nendang banget pokoknya. Anda harus lihat sendiri untuk mengatakan setuju atau tidak dengan saya. Hehe. Di antara semua hal yang berkesan dari film ini buat saya yang paling berkesan adalah visualisasi tokoh Mahar. Wuah..akting pemerannya oke banget. Dari tampang aja udah ketebak dia Mahar. Penghayatannya dua jempol lah. Pinter deh yang ngasting bisa nemuin anak-Belitong-pemeran-Mahar-yang-saya-nggak-tahu-namanya-ini. Kok saya punya feeling nanti dia bakal dapat tawaran main film lagi ya. Hahaha…

Nih, saya pajang fotonya di sini:

Udah ah, saya nggak akan bahas banyak-banyak tentang anak ini di sini. Nanti dikira naksir beneran,lagi 😀

Hidup adalah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya 🙂