Tanggapan terhadap Huru-hara #KenaikanBBM

Entah bagaimana cara berpikir para warga dan/atau mahasiswa anarkis yang sering dibahas di televisi hari-hari ini. Pendemo-pendemo itu kelihatan sekali pikirannya pendek, reaktif, dan provokatif. Sudah lama kehidupan saya tenang tanpa berita demikian, tapi eh tiba-tiba terusik lagi, geregetan lagi. Astaghfirullah. Memang sebaiknya nggak punya TV saja daripada semakin terbebani tiap lihat berita. Satu, terbebani karena kasihan melihat sekelompok bangsa sendiri yang tidak bisa berpikir. Dua, terbebani karena tentu saja kita tidak bisa hanya mengecam tanpa melakukan sesuatu atau ikut rembug solusi. Okelah, kita masih bisa menemukan berita serupa di internet, tapi efeknya tidak seberapa dibandingkan melihat langsung rekamannya di TV. Ditambah respon media itu sendiri yang menggiring massa makin anti pemerintah. Noted: terutama TV spesialis berita ‘itu’. Ck.. ck.. ck..

Kenapa sih massa kok sekarang jadi suka demo tak berbobot begitu?
Hampa, tak berarti, tak menarik simpati, tak mampu menyampaikan aspirasi.

(more…)

Advertisements

Duit Riset

Halo! Di Jepang sudah hari Jumat sekarang. Udah lama saya nggak cerita kehidupan mahasiswa nih.. biar kelihatan kalo emang serius kuliah di sini (hayoo :grin:) eh.. nggak ding, biar gaya aja kaya pak DIS gitu. Kerja ada laporannya. Haha.. Anyway, here I am, in the middle of first and second grade.

Seminggu ini saya agak repot melakukan sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya, yaitu membelanjakan anggaran riset dalam jumlah yang tidak sedikit. Sebagai warga negara dunia ketiga, lebih spesifiknya Indonesia, yang punya alokasi dana untuk riset paling irit sedunia, tentu menghabiskan dana riset bukan pekerjaan yang mudah bagi saya. Belum pengalaman sih. Halah, padahal yo nggak pernah riset kecuali pas skripsi :mrgreen:. Terlebih lagi, mayor saya kan serba virtual gitu (baca: informatika atau gampangnya sebut saja mawar IT) jadi nggak perlu banyak benda fisik. Lain halnya kalo saya ini anak biologi atau tata boga.. waduh, dengan uang segitu saya bisa beli rumah kaca setanaman-tanamannya atau gudang penyimpanan bahan masak. Kyaaa. Karena sementara butuhnya cuma komputer (yang udah ada) dan beberapa software (yang bisa cari gratisan, tapi nggak bajakan), jadinya saya perlu mikir juga biar realistis dan benar-benar kepakai.
(more…)

What’s the Update?

Oktober hampir berakhir. Tabu bagi saya meninggalkannya tanpa goresan di blog (caila..). Update kabar aja kali ya 🙂

Saya suka suasana di luar rumah bulan ini. Musim gugur sudah tiba. Walaupun belum bisa menikmati momiji, hawa sejuk cenderung dingin dan pepohonan yang kecoklatan kerap membawa memori saya kembali ke masa-masa awal tinggal di Jepang. Saya datang saat transisi musim dingin ke musim semi, jadi mirip-mirip sama sekarang. Memulai sesuatu yang baru memang selalu menyenangkan. Itulah sebabnya saat saya kembali ke Jepang dari libur mudik di tanah air, saya menikmati setiap detik di bandara Narita dan memaksa diri agar bisa merasa seperti baru datang untuk pertama kali. Namun, ya.. sudah pasti gagal. Sensasi naik keretanya sudah tidak sama seperti dulu. Sudah bosan. Hehe. Anyway, saya tetap suka musim ini dan cukup menyesal ternyata belum punya foto-foto khusus edisi musim gugur :razz:.

yang sempat terabadikan dari autumn (atas+kanan bawah: dekat rumah, kiri bawah: kampus)

Ngomong-ngomong soal foto, sebulan belakangan memang ada degradasi dalam produktivitas. Salah satu penyebabnya karena smartphone saya hilang. Kehilangan ini benar-benar membuat saya shock sampai berhari-hari *lebai*. Gimana enggak, di Jepang yang relatif aman kok ya masih aja hape hilang, di dalam toko pula. Udah kurang ceroboh apaaa coba saya naruhnya.. kali ini gara-gara jatuh dari kantong :cry:. Cerita dikit ya..
(more…)

Ikkagetsu no Ato

Menyambung tulisan sebelumnya kali ini cerita beralih ke belahan dunia baru nggak jauh dari Indonesia..
Highly recommended to read Bagaimana ke sini? dulu biar suhunya sama 🙂

*Behind the scene*
Setelah beasiswa diputuskan, saya ngebut beresin kerjaan proyek yang masih tersisa, booking tiket pesawat, packing benda-bendi di kosan, dan obral ‘harta’ seperti BB, CPU, handphone, TV tunner, serta printer multifungsi. Lumayan kalo kejual bisa buat nambah uang saku :grin:. Kebetulan, bulan Maret itu, sebelum ada kepastian beasiswa, memang saya dan beberapa teman ITB nekat akan berangkat ke Jepang untuk konferensi. Konferensi digelar tanggal 19-20 Maret jadi kami pesan tiket untuk departure tanggal 17 Maret malam. Ketika beasiswa dinyatakan lulus, saya memantapkan diri untuk sekalian menetap di Jepang setelah konferensi itu. Praktis, sejak pesan tiket, saya hanya punya waktu sepuluh hari untuk persiapan dua tahun tinggal di Jepang dan belum pulang ke “Jawa”. Betapa pusingnya waktu itu karena visa belum dibuat, keperluan kaya koper raksasa-jaket tebel-sepatu-dsb. belum beli, barang di kosan masih rapi di tempatnya, tempat tinggal di Jepang belum pasti, dan seterusnya. Saya memutuskan pulang ke “Jawa” dulu sebentar barang 2-3 hari demi pamit ke keluarga. Syukurlah paspor sudah ada karena saya urus bersamaan dengan saat mempersiapkan aplikasi pendaftaran S2. Butuh waktu seminggu untuk mengurus paspor dan visa, tapi meminta waktu kita seharian.

Namun, Allah memang Maha Tahu. Di tengah mepetnya persiapan, tiba-tiba ada alasan bagi saya untuk mengundur keberangkatan dengan adanya bencana gempa dan tsunami. Faktor yang paling memberatkan saya untuk berangkat pada jadwal semula adalah krisis nuklir pascagempa. Hanya H-2 sebelum berangkat, kondisi PLTN di Fukushima semakin tidak menentu. Sensei di Jepang juga mengabarkan ada kemungkinan kuliah diundur karena kampus masih kena blackout bergilir. Waktu yang tersisa saya manfaatkan untuk pulang kampung lebih lama.

(more…)

We Will Not Go Down, Mrs. Kaprodi

(more…)

Setuju!Mahasiswa Nggak Boleh Ngamen.

Sepertinya sudah jadi rahasia umum kalo mahasiswa zaman sekarang punya cara baru untuk mendapatkan uang dalam jumlah besar dengan mudah demi sebuah pengadaaan acara organisasi atau komunitas mereka: ngamen. Ngamen in this case dalam arti yang sebenarnya tentu, saya spesifikkan lagi bahwa yang saya maksud ‘ngamen’ di sini adalah nyanyi-nyanyi dan genjrang-genjreng di jalan lalu meminta uang ‘tanda jasa’ ke pengguna jalan yang sedang lewat atau berhenti di lampu merah. Yeah, that is. Oya, ada lagi ciri yang membedakan mereka dengan pencari nafkah jalanan lainnya, yaitu biasanya mereka nongol dalam jumlah personil yang besar, bawa kardus bertuliskan judul acara yang sedang mereka perjuangkan, dan pake dresscode tertentu. Ada juga sih yang niat banget sampai bawa alat-alat musik yang nggak ‘jalanan’, nampilin atraksi tertentu, ngasih suvenir ke para dermawan, jualan barang…macem-macem lah. Yang jelas, saya baru lihat fenomena seperti itu di Bandung ini. And it’s hard for me to say kalo sebagian dari mereka yang saya lihat adalah rekan-rekan kampus saya sendiri.
ngamen
(more…)