[Road to Hajj] Misi Besar 2013: Haji

Sebagai pendahuluan, saya ingin berbagi garis besarnya dulu tentang milestone yang sedang berusaha kami capai saat ini. Sebutlah namanya: haji. Inginnya nanti saya buat tulisan berseri yang bisa mengurai episode per episode atau by topic agar bisa jadi referensi bagi teman-teman dengan mimpi sama. Mudah-mudahan bisa terwujud. Aamiin. Ayo, pada doain saya terlindung dari niat yang bambang (BAsi MBANGet) :razz:.

Wangsit 2011

Mulai dari mana ya? bingung juga. Ohya, mulainya dari tahun pertama saya di Jepang. Saya yang nggak pernah kepikiran haji muda (minjem istilah “kawin muda” :mrgreen:) waktu itu tiba-tiba dapat info kalo haji dari Jepang bisa berangkat di tahun mendaftar. Ditambah ‘kompor’ dari teman sana teman sini bahwa:

  • pendapatan standar di Jepang, baik dari gaji maupun beasiswa (yang normal), kehitungnya mampu haji, tinggal bagaimana mengalokasikan dananya
  • mumpung di Jepang, usahain haji, kalo udah pulang ke Indonesia nunggunya lama
  • haji itu sebenarnya mudah, yang namanya menuhin rukun Islam itu juga sebenarnya biasa aja, hanya  kesempatan yang mahal harganya

Saya pun jadi tersulut pengen haji, tapi nggak cuma saya aja.. soalnya ortu belum haji. Betapa bahagianya kalo bisa bareng.

Nah, entah gimana ceritanya, ternyata saat mudik saya nemu salah satu tulisan di diary ini. Ketika itu, saya tengah menunggu pengumuman beasiswa kuliah ke Jepang dan suami sedang mengikhtiarkan proposal nikah. Uhukkk.. jadi malu :grin:

Nah, entah gimana ceritanya, ternyata saat mudik saya nemu salah satu tulisan di diary ini. Ketika itu, saya tengah menunggu pengumuman beasiswa kuliah ke Jepang dan suami sedang mengikhtiarkan proposal nikah. Uhukkk.. jadi malu :grin:. Danang itu sepupu saya yang punya Soerabaia Network.

2012 Dapat Partner in Crime

Tahun berikutnya, alhamdulillah nikah sama suami yang sevisi: sebisa mungkin sebelum ninggalin Jepang haji dari sini. Setelah menikah, kami mulai mewacanakan “haji dari Jepang” kepada papa mama saya. Sebenarnya ingin berangkat tahun itu juga, tapi rasanya impossible mengingat waktunya sudah mepet untuk persiapan segala sesuatunya (nikah bulan Mei, haji September) dan ditambah saya masih kuliah. Udah cukup bandel kayanya saya minta cuti kuliah sebulan buat persiapan nikah.. tahu diri lah :grin:, maka kami rencanakan berangkat tahun berikutnya saja. Efek sampingnya, kami harus menimbang-nimbang sampai akhirnya memutuskan untuk menunda punya momongan. Ini pilihan sulit, sodara-sodara.. biasanya orang Indonesia suka bertanya perihal hidup orang lain seperti: Udah isi? Kok belum isi? dan sebagainya, jadi kuping tebal aja dan nggak ambil hati karena kekuatan kami adalah kesimpulan bahwa haji itu kewajiban (bagi yang mampu), sedangkan buru-buru punya anak itu bukan kewajiban kok, lagipula terserah Allah ngasihnya kapan, Dia tahu waktu yang terbaik :wink:. (more…)