Mudik 2012: 10 Hari, 8 Kota (Part 2 – Tamat)

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari bagian pertama. Ya, ya, ya.. emang kelamaan sih rilisnya, jadi maaf ya kalo agak basi >.<

Day #2 (2012/08/13): Bandung (BDG) and see the twins

Mumpung dekat dari Jakarta, hari kedua kami menyempatkan diri main ke Bandung. Bandung adalah kota kenangan bagi kami karena di sinilah kami dipertemukan dan melewati banyak kegiatan bersama (ehem..). Namun, motivasi utama bukan untuk napak tilas masa-masa itu.. maybe someday :grin:. Ada keluarga paman (kakak ibu) yang tinggal di sana dan dulu saya pernah tinggal di rumah mereka setelah lulus kuliah. Mereka baru saja pindah rumah dan cucu barunya yang kembar dari Depok sedang ada di sana. Jadi, saya pengen lihat dua-duanya, rumah dan keponakan kembar. Kalo kemarin di JKT perjalanan lancar, di BDG justru kami langsung stres.. MAACEET! Sebal juga karena kami dapat taksi yang sopirnya berlagak bego nggak tahu sikon lalu lintas dan malah nanya mau lewat mana.

Sejak di JKT, kami udah sepakat, “Jangan milih taksi selain BB!”. Sesampainya di BDG, dalam kondisi jalan ramai, travel menurunkan para penumpang-yang-tidak-ikut-sampai-agen di dekat pangkalan taksi. Kata sopir saat ditanya, “Taksinya cuma di sini aja”, dan seorang penumpang travel lain yang tampak lebih berpengalaman dari kami pun tanpa babibu langsung ambil taksi di situ. Saya masih ngotot mau naik BB, tapi nggak ada satu pun yang kelihatan ada di situ tau sekedar lewat. Akhirnya si bos ambil keputusan tanya, “Pakai argo kan, Pak?” dan dijawab, “Iya, Mas”. Okelah, kami naik taksi merk lokal itu, yang saya tahu masih satu di antara yang masih bisa dipercaya di BDG. Nyatanya, pakai argo bukan berarti Anda aman. Ada faktor lain yang perlu Anda waspadai: mental sopir taksi yang kaya sopir angkot, kejar setoran, cari rute sepanjang dan semacet mungkin and poor us.. we got such driver! Alhasil, kami harus melototin GPS di hape sambil menggali ingatan yang tersisa samar-samar tentang kota ini demi ‘memaksa’ sopir ke jalan yang benar :roll:.

Singkat cerita, kami sampai di tujuan dengan selamat, tapi sedikit kesal. Haha. Di rumah bude, kami lebih seperti melepas penat saja. Tidak ada makan-makan atau minum-minum (ya iyalah puasa :razz:), tapi foto-foto dan masak-masak teuteuppp ada. Bude ini paling jago masak di keluarga saya, jadi kami dibekali banyak sekali untuk buka, sahur, dan lebaran! Alhamdulillah.

Bandung (dari kiri atas ke bawah): demam hijabers udah nyampe ponakan saya yang balita, gendong keponakan kembar dan foto bareng bude serta sepupu, keponakan kembar dan kakak-kakaknya

Pertanyaan: Udah pantes belum yak gue nggendong bayi? #lupakan
(more…)

Mudik 2012: 10 Hari, 8 Kota (Part 1)

Seperti biasa, akhir bulan berasa dikejar setoran buat nge-blog.. haha :razz:. ‘Sesuatu’ terbaru yang belum sempat ditulis ulasannya adalah mudik, so.. here we go!

Tanggal 11-21 Agustus lalu saya dan suami alhamdulillah masih berkesempatan pulang ke Indonesia untuk mudik. Meskipun hanya sebentar, mudik kali ini bersejarah sekali bagi saya karena untuk pertama kalinya saya tidak berlebaran dengan keluarga saya, tapi dengan keluarga suami yang kebanyakan baru saya kenal saat itu juga. Selain itu, saya juga benar-benar merasakan suka-duka orang mudik yang menempuh perjalanan jauh demi berkumpul dengan keluarga. Maklum, selama ini rumah saya malah yang selalu didatangi saudara karena ada kakek-nenek di rumah. Kalo pun pergi, biasanya hanya mengunjungi saudara-saudara di Jawa Timur yang cuma 2-3 jam perjalanan.

Sedikit kilas balik, sebenarnya saya sudah berencana tidak mudik tahun ini karena (1) Jauh, butuh dana dan tenaga ekstra (2) Tahun lalu sudah pulang lebaran (3) Belum lama ini baru saja pulang untuk menikah (4) Saya sudah mau semester terakhir jadi harus fokus ke akademik. Namun, rencana berubah setelah menikah, ternyata suami punya pertimbangan lain sehingga kami harus mudik. Akhirnya dengan pemilihan maskapai yang agak maksa karena suami harus memanfaatkan tiket lama yang gagal dipakai, kami pulang seminggu sebelum lebaran, bertepatan dengan weekend pertama liburan obon di Jepang. Meskipun lebih enak kalo bisa lama di kampung setelah lebaran, gimana pun udah bersyukur lah dapat liburan pas moment lebaran. Jadi, suami cuma perlu cuti tiga hari setelah hari-H lebaran. Saya sendiri nggak perlu bolos karena liburan summer masih panjang sampai minggu ketiga September :grin:.
(more…)

Cerita Mudikku Tahun 2011

Haihai! Ketemu lagi di kategori “Jalan-jalan, rek!” :smile:. Menyambung tulisan sebelumnya, From Flight to Flight, kali ini saya mencoba mengabadikan pengalaman mudik yang penuh perjuangan. Kenapa penuh perjuangan? karena saya pakai acara aneh-aneh mampir ke dua negara tetangga dulu, sendirian, sambil bawa isi bagasi. Jadi kalo dihitung, dalam kurun waktu kurang dari 36 jam saya berada di empat negara yang berbeda, yaitu Jepang, Malaysia, Singapura, dan Indonesia. Capek parah, tapi untungnya pas lagi “libur” puasanya. Hehe. Dari perjalanan tersebut saya akhirnya tahu kalau wajah Malaysia, Singapura, dan Indonesia sebenarnya mirip. Saya kira Singapura itu udah kelihatan ‘megah’ kaya Jepang atau Eropa gitu, ternyata tidak juga. Hanya saja, sebagaimana pernah saya tulis di Facebook, ada perbedaan yang terasa sekali saat keluar Jepang. Saya baru sadar bahwa stereotip yang ditanamkan ke kita dari kecil bahwa bangsa Indonesia itu ramah-tamah menjadi tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan ramahnya masyarakat Jepang. Penduduk dua negara tetangga pun demikian halnya seperti Indonesia. Nanti deh saya ceritakan lebih lengkapnya :wink:. Di sini saya akan bercerita dengan style narasi.

rute penerbangan saya

(more…)