A Lesson from “5cm”

I’ve just finished read “5cm” novel two days ago. Overall, the story inside it was not impressive for me, but the five-centimeters concept would be another my favorite philoshopy. Told that the mates in this novel has a spirit quote

Put it at your forehead!

“It” has a lot of meaning, it can be your dreams, your will, your passion, or something like that. They use it in every challenging moment and symbolize that their “it” won’t escape from their head, their brain. If your brain always remember what do you want to gain, so all the parts on your body will follow it, consciously or not. That’s what they believe. Have you read any stuff about the strength of a suggestion? yeah, such a thing.

However, the main idea of “5cm” novel is described in almost last chapter.

Put it at your forehead!

is not enough. You need to put “it” five centimeters from your forehead, that you will also can SEE it. Then, don’t (or you can’t) take your eyes off of it 🙂

Conclusion: if you seldom read motivation books, it may help you to get some lessons from “5cm”, but if you are a fans of any motivation book or self developing book, trust me…you don’t need to read this book, except you wanna have a little refreshing…hehe

All You Need is (Not) Love, but Commitment

Ya, malam ini saya harusnya mengerjakan TA. Namun, apa daya passion saya terhadap hal-paling-sentitif-bagi-mahasiswa-tingkat-akhir ini sedang tidak ada. Hihi. Jadilah saya menyabet sebuah novel yang lagi nganggur di kasur teman sekamar saya. Saya baca beberapa bab di siang hari, kemudian dilanjutkan beberapa bab sampai tamat di malam harinya. Cepet kok, paling totalnya cuma tiga jam. Sebenarnya udah lama saya tahu “bahwa novel itu ada” (bukan “bahwa cinta itu ada”), tapi kasihannya, saya baru bisa baca hari ini. Judulnya “Test Pack”, another novel from Ninit Yunita.

Novel tersebut cukup mengharukan dan sukses membuat saya menitikkan air mata di beberapa ‘adegan’. Merindukan kehadiran seorang anak selama tujuh tahun tentu bukan perkara yang ringan bagi seorang wanita berumur 32 tahun, tetapi itulah yang menjadi topik dalam novel ini. Saat sang tokoh minder dengan dirinya, saat dia sensitif dengar kabar kehamilan orang lain, saat dia hampir putus asa berusaha, atau saat dia berteriak “it’s not fair!”… semuanya sangat manusiawi menurut saya. Mungkin sama halnya bagi seorang wanita yang sudah sangat ingin menikah, tetapi belum bisa. Mereka berpotensi besar untuk minder (apalagi kalo udah berumur), sensitif dengar kabar orang lain nikah, suatu kali merasa putus asa, dan juga berteriak “it’s not fair!”… well, ini pun sangat manusiawi. Kenyataannya, Tuhan memang sudah mengatur rezeki manusia, termasuk soal jodoh dan anak. Kenyataannya, di antara tak terbilangnya manusia yang pernah tercipta, harus ada yang berbesar hati untuk tidak diberikan anak dan jodohnya di dunia.
(more…)

Laskar Pelangi The Movie: Mahar, I’m in Love!

Keturutan juga akhirnya nafsu saya untuk menyaksikan hasil kerja keras kru Laskar Pelangi The Movie di mahakarya mereka tahun ini (cailah, mahakaryaaa…). Saya bilang ‘tahun ini’ karena di salah satu surat kabar kepercayaan keluarga saya, Mira Lesmana dkk. segera menggarap sekuel selanjutnya dari tetralogi LP, Sang Pemimpi, ya prediksi saya sih tahun depan udah rilis. Walaupun harus nonton sambil teruhuk-uhuk dan terhacing-hacing, saya seratus persen menikmati film ini.

Puas.

Itu kesan pertama saya setelah nonton film ini. Rasa kecewa yang sering saya rasakan tiap kali nonton film adaptasi dari suatu novel nggak saya dapat kali ini. Memang ada beberapa perbedaan antara film dan novel yang sempat bikin saya mengernyitkan dahi, tapi semua itu terbayar dengan keelokan-keelokan lainnya. Dari segi cerita sih, nggak usah dibahas lagi lah ya…luar biasa menginspirasi. Cuma dari segi yang lain itu loh…subhanallah, berkualitas banget lah untuk ukuran film Indonesia. Mulai dari setting tempatnya, skenarionya, pengambilan gambarnya, backsound-nya, soundtrack-nya, propertinya, pemainnya…nendang banget pokoknya. Anda harus lihat sendiri untuk mengatakan setuju atau tidak dengan saya. Hehe. Di antara semua hal yang berkesan dari film ini buat saya yang paling berkesan adalah visualisasi tokoh Mahar. Wuah..akting pemerannya oke banget. Dari tampang aja udah ketebak dia Mahar. Penghayatannya dua jempol lah. Pinter deh yang ngasting bisa nemuin anak-Belitong-pemeran-Mahar-yang-saya-nggak-tahu-namanya-ini. Kok saya punya feeling nanti dia bakal dapat tawaran main film lagi ya. Hahaha…

Nih, saya pajang fotonya di sini:

Udah ah, saya nggak akan bahas banyak-banyak tentang anak ini di sini. Nanti dikira naksir beneran,lagi 😀

Hidup adalah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya 🙂