Keluarga 5AH

Tulisan ini masih bertema cinta, saudara-saudara.. meskipun tidak sepenuhnya berisi lanjutan seri postwedding sharing seperti tulisan pertama, mudah-mudahan ada yang bisa dipetik dari celotehan ini :smile:.

Adalah biasa kalau kita mengucapkan “semoga sakinah, mawaddah, warahmah” kepada pasangan yang baru menikah. Doa yang diambil dari kandungan Al-Qur’an surat Ar Rum ayat 21 ini sekarang sudah bukan ucapan milik aktivis dakwah aja *jiah*, tapi juga seluruh kalangan, bahkan kadang nonmuslim pun ikut mengucapkannya. Bisa jadi ucapan “selamat menempuh hidup baru” justru sudah kalah populer dari doa yang sering disingkat jadi “SAMAWA” atau “SAMARA” ini.

bukan narsis, hanya memberi contoh kasus :mrgreen:


(more…)

Advertisements

Nikah di Jepang

Ehem.. sebelumnya maaf nih, bukannya mau ngasih pengumuman kok, apalagi undangan :lol:.
Mau cerita aja satu hal lain tentang Jepang, kali ini terkait budaya masyarakatnya dalam hal yang uhuk-uhuk: menikah. Kebetulan tadi sore saya mendapat ‘kuliah’ soal itu dari sensei *loh sebenarnya kamu jurusan apa toh, Ga* :eek:.

Saya memang pernah dengar dari senior bahwa pernikahan di sini itu biayanya mahal, tapi perayaannya sekaligus jadi ajang buat “balik modal”. Nah, tadi tuh dapat penjelasan lebih lengkap, langsung dari orang Jepang. Cerita bermula saat saya menanyakan sebuah kalimat di buku teks bahwa orang Jepang umumnya memberi uang atau barang elektronik saat menghadiri pernikahan.
(more…)

All You Need is (Not) Love, but Commitment

Ya, malam ini saya harusnya mengerjakan TA. Namun, apa daya passion saya terhadap hal-paling-sentitif-bagi-mahasiswa-tingkat-akhir ini sedang tidak ada. Hihi. Jadilah saya menyabet sebuah novel yang lagi nganggur di kasur teman sekamar saya. Saya baca beberapa bab di siang hari, kemudian dilanjutkan beberapa bab sampai tamat di malam harinya. Cepet kok, paling totalnya cuma tiga jam. Sebenarnya udah lama saya tahu “bahwa novel itu ada” (bukan “bahwa cinta itu ada”), tapi kasihannya, saya baru bisa baca hari ini. Judulnya “Test Pack”, another novel from Ninit Yunita.

Novel tersebut cukup mengharukan dan sukses membuat saya menitikkan air mata di beberapa ‘adegan’. Merindukan kehadiran seorang anak selama tujuh tahun tentu bukan perkara yang ringan bagi seorang wanita berumur 32 tahun, tetapi itulah yang menjadi topik dalam novel ini. Saat sang tokoh minder dengan dirinya, saat dia sensitif dengar kabar kehamilan orang lain, saat dia hampir putus asa berusaha, atau saat dia berteriak “it’s not fair!”… semuanya sangat manusiawi menurut saya. Mungkin sama halnya bagi seorang wanita yang sudah sangat ingin menikah, tetapi belum bisa. Mereka berpotensi besar untuk minder (apalagi kalo udah berumur), sensitif dengar kabar orang lain nikah, suatu kali merasa putus asa, dan juga berteriakย “it’s not fair!”… well, ini pun sangat manusiawi. Kenyataannya, Tuhan memang sudah mengatur rezeki manusia, termasuk soal jodoh dan anak. Kenyataannya, di antara tak terbilangnya manusia yang pernah tercipta, harus ada yang berbesar hati untuk tidak diberikan anak dan jodohnya di dunia.
(more…)

“No,no,no,no..Tunggu dulu! Nikah jangan buru-buru…”

Hore, akhirnya setelah sekian lama nggak ngeblog, sekarang saya bisa nulis lagi. Menjelang akhir semester ini (yang tak terasa begitu cepat ditemui), jadwal tugas dan kuis mahasiswa 135 emang luar BINASA, sampai tenaga saya hampir BINASA ;D

Sodara-sodara, dalam kurun waktu tiga bulan ini, saya dibikin terkejut berkali-kali. Lho, what’s happen? Sebenarnya bukan karena soal ujian Orkomp yang aneh bin ajaib*, atau karena Mukrab IF berhasil digelar dengan amat sukses**, tapi karena berita-berita penting di keluarga besar saya yang akhirnya merubah status saya jadi

    “satu-satunya cucu perempuan nenek berusia 17+ yang belum akan menikah”.

Gulllk…glek…glek…(menelan ludah)

Inilah yang terjadi…
Di keluarga besar saya, ada sembilan cucu perempuan dari total cucu nenek yang berjumlah 27 orang. Dari sembilan itu, tiga orang saat ini umurnya masih 17-, dan seperti yang sudah dijelaskan di atas, kenyataannya adalah sayalah satu-satunya cucu perempuan nenek sisanya (karena sudah 17+)yang belum nikah”…

Yang bikin saya terkejut adalah…
(more…)