Jangan Nolak Jadi Wanita

Aku lebih baik nggak bisa punya anak daripada harus tersiksa tiap kali mens

“Dulu sampai pernah keluar kata-kata seperti itu, teh, ketika nggak tahan sakitnya. Ibu saya sampai nangis dengarnya,” kata seorang perempuan berumur kira-kira empat tahun di bawah saya. Dia bercerita bahwa sampai sekarang siklus menstruasinya masih tiga bulan sekali dan tiap kali “dapet” sakitnya luar biasa. “Kalo biasanya cewek lain sakit cuma di perut aja, saya nih dari ujung kepala sampai ujung kaki sakit semua, rasanya pengen ngumpet aja di gua,” tambahnya. Setelah menyemangatinya dan memberi beberapa tips seperti mulai mencatat siklus untuk persiapan periksa ke dokter nantinya, seorang temannya nyeletuk, “Iya gih, periksa ke dokter, kita kan akan jadi ibu. Jangan nolak jadi wanita” :smile:.

Ya, saya sedikit bisa membayangkan gimana sakitnya dia. Saya, seperti kebanyakan wanita, juga merasakan sakit perut yang ‘khas’ di awal-awal menstruasi (mens) datang. Pokoknya tiga hari pertama itu masa kritis deh, entah hari pertamanya, keduanya, atau ketiganya. Dulu saat masih sekolah, saya sering bolos atau cabut pelajaran dan ke UKS kalo sakit perut lagi kumat. Habisnya nggak bisa dipakai apa-apa, pengennya mlungker di atas kasur :grin:. FYI, yang namanya sakit mens itu nggak cuma masalah perut, tapi kadang disertai juga dengan pusing, badan pegal-pegal, anemia, jerawat, emosi tinggi, sakit punggung, atau “tegang” di beberapa bagian tubuh.
(more…)

Antara “dan” dan “atau”

Suatu ketika, saya dan dua orang teman seperjuangan saya di sebuah lomba (blognya bisa Anda lihat di sini dan sini) sedang berjalan menelusuri gang-gang sempit di sebuah daerah di Bandung yang sempat heboh beberapa waktu lalu karena rencana pengalihan lahan hijaunya. Tidak sengaja, kami berhenti di depan sebuah rumah dengan warung kecil di depannya dan menangkap ‘sepotong’ iklan singkat ini:

mencurigakan...

mencurigakan...

Kami pun bengong sebentar sebelum akhirnya menyadari bahwa ada keanehan dalam kalimat iklan tersebut. Mungkin redaksinya yang kurang pas. Kata “dan” lebih tepat digantikan “atau”. Atau…pemilik rumah tersebut memang “sengaja” menulis seperti itu dan dengan maksud “seperti itu”? Lalu kenapa ‘header’ dan ‘footer’-nya ada gambar smile banyak dan kalimatnya diakhiri titik-titik panjang yang semakin membuat interpretasi orang negatif? Wallahu ‘alam bish showab 😀