Cerita Rasulullah SAW tentang Sebuah Perjalanan Malam nan Agung

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
[Alquran surat Al-Isra’ (Perjalanan Malam)/17 ayat 1]

Allah menunjukkan kekuasaan-Nya melalui Isra’ Mi’raj, sebuah peristiwa yang tidak bisa diwujudkan oleh selain-Nya, yang menegaskan bahwa Tiada Tuhan (God) Selain-Nya dan Tiada Penguasa / Raja (Lord) Selain-Nya. Peristiwa itu adalah ketika Dia membawa seorang hamba-Nya, Muhammad, dalam keheningan malam, dari Masjid Al-Haram di Mekkah ke Masjid Al-Aqsa, sebuah rumah yang disucikan di Yerusalem, tempat asal para Nabi sejak masa Ibrahim Al-Khalil (Al-Khalil = sahabat dekat, kesayangan Allah). Para Nabi dikumpulkan di sana, di Yerusalem, dan Muhammad memimpin mereka dalam hal sembahyang (prayer) di tanah kelahiran mereka. Hal ini mengindikasikan bahwa Muhammad Shalallahu ‘Alayhi Wa sallam adalah pemimpin paling agung di antara para Nabi. Di sekeliling tanah itu terdapat hasil-hasil pertanian dan buah-buahan yang Allah berkahi agar tampak pada Muhammad tanda-tanda kebesaran-Nya. (more…)

Rileks dengan Panggilan Sayang

Saya sedang merapikan file di komputer dan mem-backup beberapa file di cloud service, kecuali catatan-catatan kecil seperti ini. Penulis aslinya sudah tidak terlacak, tapi begitu ketemu, nanti saya tambahkan :smile:. Di sini sana tulis ulang dengan koreksi tata bahasa dan EYD. Inspiratif lho ^_^

Suatu sore seorang kakek bersandar di atas kursi di teras rumahnya. Sambil membaca koran, ia lamunkan pikirannya tentang berbagai persoalan yang pernah melintas dalam hidupnya. Tak lama kemudian secangkir kopi dihidangkan seorang wanita seumur yang tak lain adalah sang istri tercinta. Kopi itu diseruputnya sambil menyeringai kepanasan.

Istrinya melihat lelaki itu masih belum berubah kecuali usianya yang sudah sangat tua. Tak terasa ia telah hidup bersama selama hampir lima puluh tahun, suatu masa yang tidak sedikit tentu saja. Mengawali pembicaraan sore itu, secara mengejutkan sang istri memanggil suaminya dengan kata “Mas”, suatu sebutan yang telah lama tidak terdengar lagi. Yang biasa didengar adalah panggilan eyang kakung atau kakek. Panggilan itu telah diberlakukan oleh semua keluarganya, baik oleh cucu, cicit, anak, maupun istrinya sendiri. Betapa kagetnya sang kakek pada sore itu ketika mendengar panggilan “Mas” dari istrinya.
(more…)

Seperangkat Alat Shalat Dibayar Tunai

Tadi sore, mentoring AAEI kami membahas tentang shalat. Mungkin Anda berpikir “ngapain sih shalat aja dibahas?bukannya udah otomatis ya semua muslim tahu itu wajib dan ngerti cara ngelakuinnya?”. Well, cobalah berkumpul dengan saudara seiman dan membahasnya, pasti tetap akan banyak ketemu hal baru yang menarik untuk dibahas. Kali ini, salah satu topik yang mencuat ke permukaan saat kami membahasnya adalah kebiasaaan memberikan maskawin berupa seperangkat alat sholat dibayar tunai. Lho, what’s wrong?

Begini ceritanya…secara kebetulan semua setuju kalo maskawin macam begitu agak-agak gimanaaa gitu lho, kesannya ngegampangin, nggak spesial, kurang usaha, dan apa ya? oh iya, kata istri saudara saya juga berat pertanggungjawabannya. Bukan soal matre ya, sumpah bukan…tapi soal esensi mahar itu sendiri. Asal tahu saja, Rasulullah itu maharnya ke Khadijah adalah 100 ekor unta, padahal zaman dulu harga seekornya sekitar 10 juta, jadi hampir 1 M dong! Nah lho…maksimal banget kan? emang harus maksimal… dan ternyata sudah ada yang membahasnya di sini. Saya salin deh sebagian isinya…

Pertanyaan

Saya ingin menanyakan perihal seperangkat alat sholat dan Al-Qur’an yang dijadikan sebagai maskawin saat pelaksanaan akad nikah. Ada yang mengatakan bahwa jika seperangkat alat sholat dan Al-Qur’an dijadikan maskawin bisa memberatkan bagi si suami dan si istri jika kedua alat tersebut tidak diamalkan.. bisa dikatakan keduanya akan berdosa sehingga jika kedua mempelai merasa berat, jangan menjadikan kedua alat tersebut sebagai maskawin. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa hal tersebut hanya sekedar simbol, dan bisa diamalkan kapan saja. Pertanyaan saya:Bagaimana jika salah satunya tidak diamalkan, contohnya Al-Qur’an tersebut baru dibaca/diamalkan setelah 5 tahun perkawinan, yang mana sebelumnya Al-Qur’an tersebut hanya sebagai penghias lemari buku. Bagaimana dengan dosa yang ditanggung oleh si suami dan si istri apakah selama Al-Qur’an tersebut tidak diamalkan mereka sudah menanggung dosa?

Kiranya itu saja yang ingin saya tanyakan. Atas perhatian dan jawaban Bapak Ustadz saya ucapkan terima kasih. (Mery Sukanto)

(more…)

Mati Lampu Kok Jadi Tradisi

Sekarang kita sebagai bangsa Indonesia harus siap menghadapi kejadian tak terduga yang sering terulang dan akan terus berulang (konon) sampai akhir tahun 2009, yaitu…jreng-jreng…MATI LISTRIK atau biasa juga di-sinekdoke totem pro parte-kan menjadi MATI LAMPU. Tadi malam kenyenyakan tidur saya terusik oleh suara dengungan nyamuk yang berisik sekali. Ketika saya membuka mata, saya lihat sekeliling saya gelap. Oh, No! Mati lampu lagi. Rupanya nggak cuma banjir sekarang yang jadi tradisi, mati lampu juga.

Fiuh…saya termasuk orang yang paling benci nih dengan fenomena ini. Karena pada saat mati lampu, dua hal yang lumayan saya takuti muncul: kegelapan dan api. Waa…sebalnya. Aslinya sih saya sangat menghindari kesepian (kalo sudah dalam keadaan ini saya harus menciptakan suara, entah dengan menggerakkan sesuatu, ngobrol, nyanyi, ato baca doa :P). Pasalnya, kegelapan tuh identik dengan sunyi, sepi, sendiri, ketiadaan…halah. Andaikan Thomas Alva Edison, sang penemu bohlam lampu tentunya bukan anak Fisika ITB angkatan 2005 yang juara olimpiade Fisika itu, masih hidup, saya pengen banget deh ketemu dan ngucapin “terima kasih banyak” atas penemuannya. Sikap pantang menyerah kang Edison (caila Kang…) yang sampai melakukan ratusan kali percobaan buat nemuin lampu patut banget loh kita teladani. Mungkin banyak orang yang punya mimpi sama dengannya, tapi nggak ada yang segigih dia sehingga hanya dialah yang kemudian namanya dikenang dunia sebagai penemu lampu. Kang Edison pun berhasil ‘menyamai’ predikat Rasulullah SAW, tokoh paling berpengaruh sedunia versi Michael Hart nomor satu, yaitu sebagai “pembawa manusia dari kegelapan menuju cahaya”. Bedanya, kalo kegelapannya Edison dalam arti denotasi, Rasulullah dalam arti konotasinya. Hehehe, maksa pisan. Nah, kalo api, kan pasti dibutuhkan tuh saat mati lampu buat nyalain lilin atau lampu teplok (bahasa Indonesianya kalau nggak salah lampu minyak). Padahal saya ini agak trauma dengan api gara-gara dulu pernah liat kebakaran. Jadi, menggesekkan korek api dan menyalakan lilin adalah saat-saat paling menegangkan buat saya. Hahaha. (more…)