Master of Use Case

Empat belas use case
Empat puluh block
Empat orang pria…
Ditambah seorang wanita…

Sudra System menutup kuliah Rekayasa Perangkat Lunak semester dua tahun 2007-2008 di teknik Informatika <itebeh> dengan presentasinya tentang desain perangkat lunak berorientasi objek yang mencengangkan dunia. Hahaha.  Ini dia fotonya setelah presentasi:

Hari ini cukup menarik bagi saya. Setelah kurang lebih tiga bulan bekerja sama membuat laporan seputar analisis dan desain perangkat lunak, kelompok saya akhirnya tampil presentasi juga. Presentasi dalam kuliah empat SKS saya ini agak beda, pemirsa. Sang dosen adalah orang yang lumayan cerewet soal kostum. Jadilah setiap tiga minggu sekali, setiap kelompok berlomba-lomba untuk tampil sekeren mungkin saat presentasi. Nah, kebetulan saya dan teman-teman setuju buat make batik. Taraaa…persis dah kami kaya orang mau kondangan bareng. Selain itu, karena kelompok pertama yang tampil sebelum kami memiliki topik yang sama dengan kami, akhirnya bu dosen menawarkan kami tampil terlebih dahulu kemudian baru sesi tanya jawab untuk kedua kelompok dijadikan satu. Berhubung forum kelas menerima dan dua kelompok terkait menerima tawaran tersebut, yeah..maka acara presentasi hari ini langsung berubah jadi seminar. Seminar object oriented design in salon-operational software. Wih, keren kan 🙂 Hehehe.

(more…)

Gado-gado Tengku Angkasa

Berawal dari kuliah Rekayasa Genetika Perangkat Lunak hari Kamis lalu, sampailah saya di rumah makan ini :

poto002.jpg

Lho, apa hubungannya kuliah RPL sama gado-gado? Oho, jelas ada donk…ketika itu, dosen saya, Bu Christine Suryadi, sedang menjelaskan tentang Data Flow Architecture (salah satu jenis Architectural Styles dalam Software Engineering). Nah, dalam arsitektur aliran data ini, cara pengolahan data terbagi menjadi dua macam pola, yaitu pipes and filter dan batch sequential. Sesaat sebelum menjelaskan perbedaan keduanya, bu Christine tiba-tiba nyeletuk, “Wah, kalo membahas hal ini entah kenapa saya langsung ingatnya sama gado-gado Tengku Angkasa.”

Batch sequential dianalogikan bu Christine dengan cara mencampur bahan-bahan dalam sepiring gado-gado secara bertahap namun sekaligus. Dalam “batch sequential ala menjual gado-gado”, bahan-bahan seperti lontong, tahu, kentang, telur, sayuran, dan sebagainya ditaruh secara bertahap pada piring pesanan. Misalnya, semua piring diisi lontong dulu, kemudian (masih untuk semua piring) tahu dimasukkan, diikuti kentang, bawang goreng, dan bahan-bahan lainnya. Jadi, banyak pesanan dapat diselesaikan sekaligus dalam satu waktu. Sedangkan pada pipes and lines-nya penjualan gado-gado, satu pesanan gado-gado diselesaikan dulu baru mengerjakan pesanan yang lain.

*kembali ke kuliah RPL*

(more…)