Andai SO Kita Depresi

Ada yang menarik dari perjalanan mudik akhir tahun kami kemarin. Meskipun cerita lengkapnya belum dirilis di blog sebelah akibat keasyikan upload di Insta Story doang, saya ingin berbagi episode nonton film Jepang di dalam pesawat keberangkatan. Karena ulasan JDorama dan yang bukan drama udah pakem di blog ini, sayang rasanya kalo saya melewatkan review movie adopsi manga (dan kisah nyata) satu ini: Tsure ga Utsu ni Narimashite (ツレがうつになりまして)diterjemahkan jadi My SO Has Got Depression. Di IMdB atau lapak-lapak rating asal Jepang sebenarnya skor film ini tidak cum laude, sebatas di atas rata-rata, tapi di hatiku cukup mendapat tempat yang spesial karena mengingatkan akan komitmen suami istri. Cailaaa..

Jadi yang menarik apa, dong? Nah, ceritanya kan saya mudiknya duluan sama anak saya, Musa (2 thn), kemudian suami nyusul empat hari setelahnya. Setelah beberapa hari ketemu, barulah tak sengaja ada pembicaraan seputar “film apa yang kita tonton di pesawat”. Wkwk.. nggak penting dan tumben banget itu. Eh, ternyata dari sekian banyak pilihan, kami sama-sama nonton film Jepang ini! Haha.. walaupun suami as usual gengsi ngakuin seleranya dengan statemen, “Futsuu” (bahas Jepang “biasa”, maksudnya filmnya biasa aja), toh dia katanya lihat sampai selesai juga :meh:.

Selain di hati kami, tampaknya film ini juga punya ruang tersendiri bagi para penggemar manga dan Youtuber. Kalo dilihat-lihat banyak yang upload potongan filmnya dan komentar-komentar. Salah satu komentar yang saya like bilang “Kore dake de naketa” (Ini aja udah bikin nangis) di trailer-nya. Emang bener banget, sih :cry:, tapi bagian favorit saya ada dua.. (more…)

Seandainya Hidup Tinggal Dua Bulan Lagi

Ok, one spoiler: I always prefer family genre, if any, for Japanese movie. It’s clearly shown in the reviews of J-dramas and movies I’ve posted here before. This movie has unusual words in a long title: Yu wo Wakasuhodo no Atsui Ai (湯を沸かすほどの熱い愛), even the English version still sounds weird for me, Her Love Boils Bathwater, but anyway… who cares with the title if the story dragged me into a deep contemplation as a mother?

Yu wo Wakasuhodo no Atsui Ai

Terlihat seperti cover film komedi, padahal isinya merontokkan hati 😀

Film ini saya tonton dalam penerbangan menuju Jerman menjelang ulang tahun saya. Tema hidup dan matinya ternyata pas banget sebagai bahan perenungan walaupun jujur aja waktu milih nonton ini nggak yakin bakal bagus, tapi nggak ada pilihan lain 😛

Berita mengejutkan, yang biasanya ada di tengah film, ditaruh di awal film ini untuk kemudian menunjukkan betapa luar biasa respon sang lakon utama terhadapnya. Gimana rasanya didiagnosis kanker stadium empat dan diprediksi dokter bahwa hidup kita tinggal beberapa bulan lagi? Runtuh dunia rasanya, kan.. Namun, apa yang dilakukan Futaba, wanita yang jadi sentral film ini, adalah life goal: berhasil memaksimalkan manfaat dirinya buat banyak orang. Alih-alih depresi, merasa hidup tak berarti lagi, dia justru berjuang dengan sisa-sisa tenaganya demi menyiapkan anak-anak dan suami yang kuat setelah kepergiannya nanti.  (more…)

Ortu Faktual VS Ortu Sejati

I’ve done watching this dorama three days ago: 明日、ママがいない (Ashita, Mama ga inai / Tomorrow, Mama won’t be here), another touching “dorama”, recommended for parents to be, reminded me that being mother (or father) is a honor, so take its responsibility seriously the best we can or someone else will replace our role. As usual, I always love Japanese dramas for those abundant words of wisdom. This time I was hooked on one below. It may sound controversial, but somehow the quote

「事実の親と真実の親は違うんです!」- Jijitsu no oya to shinjitsu no oya wa chigaun desu – “Parent who give a birth (factual parent) and the real parent is different”

has made me think deeply, that in fact some parents are absent or unable to take care of their child/children, while there are couples still struggling to have child on their own. Since learning and practicing parenthood is a never ending journey, hope we can be both jijitsu and shinjitsu parent.

I watched the full series here (English sub): www.gooddrama.net/japanese-drama/ashita-mama-ga-inai. Make sure your browser has flash plug-in enabled. Prepare plenty of tissues and enjoy!

(more…)

Change, We Support!

Saya sebenarnya udah moved on dari presiden-presidenan sejak awal bulan ini selain karena sibuk pindahan, ya semuanya saya anggap udah beres. Hanya ada sebagian kecil aja yang masih ngajak ribut, jumlahnya paling tidak sampai 10% penduduk Indonesia :mrgreen:. Akan tetapi, belakangan ini rupanya timeline saya ramai lagi.. kebijakan biasa sih, cuma karena presidennya orang baru yang sebelumnya banyak haters-nya, jadi pada semangat nge-buli 😛

Bahasa Inggris dihapus protes, subsidi BBM dihapus protes juga.. kalo di Amrik semangatnya udah “Change, We Can!”, di Indonesia mau “Change, We Support!” aja susahnya minta ampun. Memang yang namanya perubahan itu wajar kalo di awal bikin ‘sakit’. Ibaratnya kaya kita diet, pasti nggak enak bingits makannya jadi dibatasin, tapi kan dengan mengubah pola makan kita itu ada tujuannya, misal biar lebih kurus, lebih gemuk, lebih sehat, dsb., daaan kalo itu udah tercapai, wow manfaatnya lebih besar daripada sebelum berubah. Kalo tetap ingin merasa nyaman dan aman, para tokoh inspiratif yang ilmu / karyanya itu tak perlu bersusah payah mengadakan perubahan untuk dirinya hingga akhirnya ia bisa mengubah peradaban.

Pernah nggak bikin revolusi tahun baru yang rada ekstrim terus dijalanin? Bersyukurlah kalo cuma hati kita yang protes karena bukan tak mungkin orang di sekitar kita ikut bereaksi, padahal itu baru buat diri sendiri ya? Apalagi kalo benerin sistem yang udah lama nggak bener buat mecahin masalah bangsa yang puluhan tahun nggak terselesaikan dan berdampak ke manusia senegara.. wuih, salut lah kalo ada orang yang ngebeeet banget jadi presiden (uhukk..).

(more…)

An Inspiring Wedding Speech from “My Neighbors The Yamadas” Movie

Congratulations to all of my friends who just opened the gate of a new life with his/her spouse or those who’re about to get there soon.

Baarakallaahu laka wa baaraka ‘alayka wa jama’a baynakumaa fii khair

May Allah’s blessings are always be around you and your family.
Here I’d like to share a very beautiful message about marriage, which has inspired me, and hope you’ll find something meaningful too. Taken from “My Neighbors The Yamadas” scene, a movie by Studio Ghibli, this message is told as speech of an old woman in the main-figures’ (Takashi-kun and Matsuko-san) wedding. I removed the figures’ name or replaced it with the term “you”.

CatatanWedding speech (pidato pernikahan) yang dimaksud dalam tulisan ini juga tersedia dalam Bahasa Indonesia. Kata dalam tanda kurung merupakan bagian tambahan dari saya sendiri agar terjemahannya tidak kaku walaupun secara keseluruhan masih tetap aneh juga sih.. hahaha, mohon maaf selain level masih cupu, kosakata english saya juga terbatas jadi kadang susah cari padanan katanya :mrgreen:
(more…)

Mensyukuri Makanan

Suatu hari Rasulullah SAW mengajak Khalid bin Walid ke rumah istrinya yang juga merupakan bibi sahabatnya itu, Maimunah ra. Maimunah menjamu mereka makan dengan lauk daging dhab (sejenis biawak). Melihat makanan terhidang didepannya, Rasulullah segera mengulurkan tangannya ke meja, siap untuk menjamah makanan yang ada. Pada waktu bersamaan, seorang wanita dari balik bilik mengatakan kepada Maimunah agar memberitahukan kepada Rasulullah tentang daging tersebut. Setelah Maimunah menjelaskan bahwa itu daging dhab, Rasulullah serta-merta menarik tangannya kembali. Melihat hal tersebut, Khalid bertanya, “Apakah daging ini haram?”, kemudian beliau menjawab, “Tidak. Hanya saja, daging ini tidak terdapat di antara kaumku, jadi aku tidak berselera memakannya”.

Kisah di atas saya dengar dari radiopengajian.com siang ini. Rasulullah SAW berkata demikian agar tidak menyakiti hati istrinya yang sudah memasak makanan tersebut. Konon, beliau dikenal tidak pernah menghina makanan. Jika ada makanan yang disukainya, beliau memakannya. Sebaliknya jika ada makanan yang tidak disukainya, beliau meninggalkannya. Kalau pun berkomentar, beliau selalu menyampaikannya dengan santun seperti contoh kisah tadi.
(more…)