Bagaimana (Pendaftaran) e-KTP?


(more…)

Advertisements

Tips Memasak

Hidup di Jepang memaksa saya untuk rajin memasak. Setahun belakangan ini juga ada perubahan besar yang terjadi di halaman berita FB saya, yaitu isinya ramai oleh foto makanan hasil masakan teman-teman Indonesia yang tinggal di Jepang. Meskipun sudah mulai tertarik memasak dan rajin praktek sejak bude (bibi) yang terkenal jago masak pindah ke Bandung, proses belajar masak yang sesungguhnya saya jalani saat tinggal di negeri sakura ini. Lama-lama saya ketularan juga upload foto masakan di FB :grin:. Ternyata ada gunanya: kalo mau masak lagi makanan yang sama tinggal buka resepnya di FB. Hehe. Kalo harus googling lagi kan nggak tahu dulu pakai resep dari sumber yang mana. Selain itu, bahan yang dipakai pun sering tidak sama persis dengan resep karena sulit dapatnya, lagi nggak punya, atau memang sengaja diabaikan. Nah, dari situ, saya dapat usul dari Ananti untuk menulisnya di blog dan membuatnya satu kategori khusus memasak. Sebagai syukuran, mari kita isi kategori baru ini dengan tulisan simpel dulu tentang tips memasak. cook

Tips-tips di bawah ini mungkin meliputi kegiatan pra dan pasca menyalanya api atau listrik seperti mempersiapkan bahan mentah dan memperlakukan sisa ‘peperangan’.

  • Setelah beli daging (ayam, sapi, kambing, dsb.), cuci bersih dan kukus dengan api kecil sampai empuk dan berubah warna. Ini dimaksudkan untuk meluruhkan lemak-lemak berlebih yang bisa memicu kolesterol. Dengan langkah inisialisasi ini (halah), daging juga bisa lebih cepat diolah karena tidak perlu susah-susah mengempukkan daging dulu. Ingat, dikukus ya bukan direbus..
  • Yang paling penting dalam kamus memasak saya adalah tidak pakai MSG. Just believe that it can kill you :razz:. Walaupun ada yang bilang dalam kadar tertentu masih aman buat tubuh, lebih baik pilih untuk menghindarinya. Lha wong memang Allah sudah menyediakan hasil alam untuk dipakai sebagai bumbu kok.. bawang merah, bawang putih, bawang bombay, daun bawang, merica, ketumbar, kemiri, cabai, daun salam, daun jeruk, serai, daun pandan, jahe, kunyit, dan sebagainya.
    (more…)

Writing Tips

I found these old tweets when trying a tweet search engine. A writing-tips note from “Academic Writing” class last term :smile:. Hope it can inspire you!

Instruction: Read from the bottom to the top :mrgreen:

#10 spend time with yourself, just yourself, each you are in the middle of writing, don’t care with others (eg: soc.media) #academicwriting Fri May 20 13:15:11 +0000 2011

#9 be careful with data..you may know how much data has been fabricated in nowadays, so you have to very objective #academicwriting Fri May 20 13:07:59 +0000 2011

#8 if the references you have too many, probably you need to group it based on similarity of topic before summarizing #academicwriting Fri May 20 13:05:10 +0000 2011

#7 researchers must be able to take time for (bagian ini saya missed bgt tp kayanya msh berhub.sm nulis) writing on sheet #academicwriting Fri May 20 13:01:18 +0000 2011

#6 regarding prev. tweet, what happens when you turn on you computer? do you focus on your work? how about FB, Twitter, etc #academicwriting Fri May 20 12:58:43 +0000 2011

#5 don’t rely on computer, writing on the paper will give different effect than typing on wordprocessor #academicwriting Fri May 20 12:54:58 +0000 2011

#4 memorizing source also an important thing, if possible remember about author, title, published time, etc even the pages! #academicwriting Fri May 20 12:51:52 +0000 2011

#3 when you’re reading a paper, you should only adsorbing, not thinking, juat read, then once again.. go to summary note! #academicwriting Fri May 20 12:48:48 +0000 2011

#2 each reference you read, summarize it only in one paragraph..how about data in graphic or table? separate it #academicwriting Fri May 20 12:46:28 +0000 2011

#1 summary is the central point of your research, don’t write too much on your thesis, just simplify vocabulary #academicwriting Fri May 20 12:43:20 +0000 2011

many important things I got from #academicwriting course today, some next tweets are one way in practicing what I learned.. yonde kudasai Fri May 20 12:40:26 +0000 2011

Belajar Menyikat Gigi (lagi) dengan Benar

Hari ini saya datang ke dokter gigi untuk ketiga kalinya (selama di Jepang) dengan agenda “latihan gosok gigi” dan sterilisasi dari tindakan bongkar-tambal gigi pada kunjungan sebelumnya. Nah, karena belajar menyikat gigi di usia 20++ seperti saya ini menarik dan mungkin akan berguna juga buat Anda. Setidaknya mengingatkan untuk “kembali ke jalan yang benar” dalam gosok gigi :razz:, jadi saya bagi nih.. eh tapi mau cerita dulu soal pengalaman ke dentist-nya.

Sejak sekitar bulan September ketika saya merasakan ngilu setiap mengkonsumsiย makanan atau minuman yang panas atau dingin. Saya menyadari, dulu selepas kuliah di Bandung memang ada rangkaian kontrol ke dokter gigi yang belum selesai karena harus pindah ke sini. Sebenarnya saya malas pergi ke dokter karena dengar-dengar dari senior, dentist di Jepang itu detil sekali sehingga kita harus sering bolak-balik (perasaan di Indonesia juga gitu kan, ya?). Bukan cuma itu saja isunya.. katanya juga walaupun cuma satu gigi yang sakit, si dokter akan mengubek-ubek mulut kita untuk mengecek gigi-gigi lainnya. Semua gigi diperiksa dan kalo ketahuan ada yang tidak beres meskipun kita tidak mengeluhkan, ya akan ditindak (mereka nanya dulu sih sebelumnya :grin:). Ternyata isu-isu tersebut saya buktikan sendiri kemudian. Jauh lebih seram di sini, banyak alat masuk mulut dan suaranya kaya tukang bangunan. Haha.
(more…)

Tempe Crispy Tanpa Tepung

Malam ini mau tak mau saya harus masak tempe karena masih ada ‘sebongkah’ tempe milik saya yang udah ngendon seminggu di kulkas (yaiks). Tenang, belum busuk kok ๐Ÿ˜€ Nah, berhubung nggak ada bahan lain selain garam dan bawang-bawangan, saya pun cuma punya pilihan untuk menggorengnya. Sekalian mempraktekkan resep Umi, ibu-ibu yang masak di asrama saya, biar tempe bisa crispy tanpa tepung. Untungnya masih ada sambal kacang yang tinggal dilumatkan…udah enak banget kan tuh dimakan sama nasi dan tempe goreng. Jawa abisss!

Oke, langsung aja ke inti cerita. Jadi, ceritanya hampir tiap hari si Umi masak tempe goreng, tahu goreng, dan telur dadar. Menu itu memang paling cepat dibikinnya, jadi sangat membantu mereka yang mau masuk kuliah pagi dan pengen sarapan dulu…atau mereka yang lagi nggak selera sama menu “inti” hari itu. Nah, yang istimewa, saya perhatikan (dan rasakan) tempe gorengnya itu nggak kaya tempe goreng biasa. Kalo digigit gitu bisa “krius-krius” pinggirnya, bahkan walaupun sudah lama, misalnya sore atau malamnya, tetap saja masih “krius-krius”…padahal nggak pakai tepung lho. Saya pernah tanya, katanya resepnya itu gini…

tempe crispy tanpa tepung

“Cuma pake bawang putih kok, neng…”
“Hah, serius, Mi? kok bisa?”
“Iya, bawang putihnya dikeprok aja terus dicemplungin ke minyak”
“Hah, cuma dikeprok? nggak diirisin atau dihaluskan atau dicampur ke bumbu gitu?”
“Iya, gitu aja. Bumbunya sih cuma air garam.”
“Ooo gitu ya, kapan-kapan nyoba deh…”

Meskipun masih bertanya-tanya, misalnya kalo seandainya gitu doang pas bawang putihnya udah kering alias gosong apa masih ngefek, saya percaya sama Umi. Sayangnya, saya nggak pernah jodoh melihat proses penggorengannya dan belum sempat mencoba sampai beberapa bulan lamanya. Baru malam ini saya coba dan ternyata terbukti, gan! Beneran cuma dimemarkan aja bawang putihnya, masih bongkahan gitu juga nggak apa-apa, terus dimasukkan ke minyak gorengnya, masukkan tempenya…jadi deh! Selamat mencoba…

Bersih-bersih ++

Bersih-bersih adalah kegiatan yang menyenangkan bagi saya.

Stop! Tapi jangan minta saya membersihkan rumah atau kamar Anda…tidak akan saya terima walaupun digaji semilyar.

Dengan membersihkan ruangan dan perabotan didalamnya, kita tidak hanya akan merasa lebih nyaman nantinya, tetapi juga membuka pintu rezeki. Seringkali saya menemukan barang-barang yang telah lama raib (terutama dokumen dalam lembaran kertas), tahi-tahi hewan (ini juga rezeki lho :P), telur-telur hewan (kalo dimasak bisa nambah lauk makan), dan mengingatkan saya akan episode-episode hidup yang pernah dilewati dengan barang-barang tersebut. Somehow, it’ll give me many inspiration and spirit to through my life ahead!

Nah, hari ini, di hari Ahad yang cerah, saya kembali dipertemukan dengan kegiatan bersih-bersih. Bukan karena keinginan sendiri, tapi lagi kebagian jadwal piket asrama -_-. Saya amati teman-teman seperjuangan saya yang lain, tampaknya tiap orang punya standar berbeda terhadap ukuran “bersih”. Berawal dari pengamatan tersebut, dalam tulisan ini saya akan berbagi tips bersih-bersih menurut parameter “bersih” saya ๐Ÿ˜€ Tampak tidak penting untuk ditulis? Ya, saya tahu, semua orang bisa bersih-bersih, tapi saya ingin membuat semacam job checklist yang semoga dapat membantu Anda dan saya sendiri untuk mengontrol kegiatan ini…Hehehe. Check it out!

Lingkup aplikasi: Semua jenis ruangan ‘kering’, tidak termasuk kamar mandi, dapur, dan halaman rumah.

1 |

Preparation

Siapkan peralatan perang komplit: kemoceng a.k.a. sulak*, sapu, lap, air, kain pel, obat pel, pengki a.k.a. cikrak*, sapu lidi indoor a.k.a. tebah kasur*, dan masker untuk menutup hidung Anda.

*istilah versi orang Jawa

2 |

One by one

Fokuskan per area, misalnya meja belajar dulu baru kasur. Ini biasanya lebih efisien. Mulailah dari tempat yang paling jauh dari pintu sehingga Anda tidak bolak-balik menyapu. Kan nanti kotorannya keluar lewat pintu…

3 |

Moving items

Pindahkan barang-barang dari lokasinya, jauhkan dari tempat jatuhnya debu atau tutupi dengan koran/kain. Prinsipnya, jangan malas mengangkat. Apalah artinya bersih-bersih kalo cuma ‘menjatuhkan debu-debu’. Bekerjalah dengan level mahasiswa, bukan pembersih mobil jalanan (lho emang ini tips buat mahasiswa doang? hehe).
(more…)