Enaknya TA di Informatika?

Kemarin, lima hari sebelum sidang, saya mengunjungi dosen biologi yang menjadi sumber ide topik tugas akhir (TA) saya sekaligus pernah membimbing pengerjaan TA I saya. Sejak dosen pembimbing II saya bukan beliau, saya belum pernah ketemu lagi, kira-kira sekitar satu semester lebih. Pertanyaan pertama beliau adalah “Gimana, udah lulus?”, ehehe…”Belum, Pak, sidangnya baru minggu depan”, sensitif juga dengan pertanyaan macam ini. Kami pun mulai terlibat obrolan seputar TA saya.

Beliau, sama ketika pertama kali bertemu, langsung corat-coret di kertas…me-review apa yang seharusnya dikerjakan oleh program saya. Saya iya-iya saja, meskipun sedikit menelan ludah karena lingkup program yang saya buat tidak sebesar impiannya. Hehe…selesai beliau menjelaskan, saya pun mulai demo, menjelaskan di sisi mana kebutuhan-kebutuhan yang pernah dia kemukakan ditangani program yang saya kembangkan. Selesai demo, saya jelaskan beberapa poin penting yang ditulis dalam dokumen TA saya ke beliau, terutama latar belakang. Di latar belakang itu, seperti biasa, saya tulis cerita tentang solusi yang sudah ada sekarang, penelitian-penelitian terkait yang pernah dilakukan pihak lain, posisi tugas akhir saya, dan apa yang mau saya buat. Salah satu paragraf penting di bagian itu adalah sebuah paragraf dengan kata pertama “Idealnya” karena disanalah letak batasan pembahasan dan tujuan tugas akhir saya. Untung dosen saya itu paham dan tidak menuntut lebih untuk tugas akhir saya.

TA, kata banyak orang, memang tentang bagaimana kreativitas kita memahami masalah dan merumuskan bagian apa saja dari masalah itu yang akan kita selesaikan. Tidak penting apakah topik yang Anda ajukan berasal dari diri sendiri atau orang lain, Anda tetap yang harus memutuskan bagian mana saja yang akan Anda kerjakan, tentunya dengan pertimbangan kemampuan, contoh: skill, fisik, dana, lokasi, izin, ketersediaan narasumber, dll. Ada juga yang bilang hal serupa, bahwa TA itu adalah soal bagaimana pintar-pintarnya kita berkompromi dengan dosen pembimbing. Dalam satu periode pengerjaan TA, misalnya satu tahun, bisa saja batasan masalah yang kita definisikan di awal mengalami banyak revisi. Revisi itu tentunya jadi anugrah kalo memperkecil batasan masalah, tapi jadi musibah juga kalo lingkupnya meluas. Hehe…kalo udah gini, biasanya kembali ke diri masing-masing, mau lulus cepat atau lulus puas? *BTW, pertanyaan ini dikutip dari quote seorang profesor di prodi saya* Dengan bahasa lain, ada juga yang bilang: jangan terlalu idealis saat mengerjakan TA.

Nah, balik lagi ke dosen tadi, di akhir pertemuan beliau mengeluarkan statement yang entah bikin saya harus senang atau tersinggung. Katanya, “Kok kalo saya lihat teman-teman Informatika itu enak ya, TA apa-apa bisa bikin batasan, kalo di biologi mana bisa seperti itu.” Err…dalam hati saya jawab, “Nggak juga sih, Pak, kan tiap keilmuan pasti ada enak nggak enaknya sendiri pas TA, kadang iri juga sama yang ‘cuma’ nyebar kuesioner udah bisa jadi TA…atau ‘cuma’ simulasi berkali-kali terus dapat hasilnya, terus dianalisis.”

Badly in Love with Vannacues

Para pembaca blog yang setia (halah), saya mohon doa paling tulus dari hati Anda semua agar saya mampu mengemban misi suci mencari kitab suci *eh, salah, itu kan Kera Sakti*

Hah, apa sebenarnya?

Dua huruf sakti itu ya?

Iyaaa, itu dia !!!

Dari dua huruf (T dan A) *, oleh dua huruf (E dan M)** , dan untuk dua huruf (S dan T)***

*halah demokrasi*

Begitulah, saya harus belajar agar dapat mengatakan “I’m badly in love with Vannacues”

Vannacues itu nama keren sang makhluk berhuruf dua ini. Sekarang dia masih di inkubator, belum boleh dilepas…nanti kalo sekiranya sudah siap menghadapi dunia luar, saya kenalin deh sama Anda. Doain ya biar Vannacues-nya ‘sehat’ terus sampai masa keluarnya dari inkubatooooor…Amin…

and I think I’ve got crazy

Footnote
* : T=Tugas, A=Akhir
** : E=inisial nama saya, M=inisial dosen pembimbing saya 😀
*** : S=Sarjana, T=Teknik

Pesan Laporan TA Satu, Ya!

Semalam ketika saya pulang dari kampus, saya mampir sebentar ke warung bubur kacang ijo di dekat asrama saya untuk menikmati semangkuk burjo (begitu sebutan makanan ini kalo di Jogja) favorit saya. Tak lama setelah pesanan saya diantarkan, datanglah seorang bapak tua berusia kira-kira lebih dari 60 tahun. Dia duduk di depan saya persis dan saat itu hanya kami yang sedang di dalam warung.

Beberapa menit berlalu tanpa percakapan, tiba-tiba bapak itu bertanya, “Dek, boleh nanya sesuatu nggak?”

Saya menghentikan makan sejenak, “Ya, Pak?”

“Klik link itu maksudnya apa ya?”, tanyanya.

“Oh, bapak sedang buka internet?”, tanya saya.

“Bukan, ini sms”, katanya sambil menunjukkan layar ponselnya ke saya.

Saya baca isinya, oh cuma pemberitahuan untuk aktivasi sesuatu kok. Sepertinya dia baru saja mendaftar sesuatu, maka saya tanya apa yang habis dilakukannya. Well, cerita dari si bapak selanjutnya tidak menarik untuk saya ceritakan. Intinya, dia baru daftar layanan SMS Gratis dari operatornya yang tidak saya mengerti.

“Maklum, kalo udah tua-tua gini nggak ngerti beginian”, celetuknya lagi.
(more…)